
Masih di hari yang sama.
Dave masih duduk dalam mobil, yang terparkir dihalaman rumah sakit. Masih membisu dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana.
Ia sangat yakin, tidak pernah menyentuh Arshila. Berulang kali, mengingat-ngingat kapan momen itu terjadi, tapi tidak ada sedikit pun yang terlintas dalam ingatannya.
Kini hanya ada satu jawaban, istrinya berselingkuh dan tidur dengan pria lain. Lagi-lagi, satu nama pria yang membuat amarahnya meledak sempurna, seperti bom atom yang menghancurkan tanpa sisa.
Tian duduk dibelakang kemudi, memainkan ponsel menunggu sesuatu dari benda pipih itu.
Drt... drt....
"Tuan."
Sekretarisnya langsung menyodorkan ponsel, tanpa membuka isi pesan.
Deg.
Yang duduk di kursi belakang, tertawa sumbang. Suara tawa yang bercampur dengan amarah yang berkobar. Sepersekian detik, ia menendang kursi didepannya. Memaki dan mengumpat, entah pada siapa.
Dave melirik keluar, pak Yus masuk dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Sepertinya, kepala pelayan itu akan kembali ke rumah. Setelah, mobil itu menghilang, Dave keluar dari persembunyian, kembali masuk dalam rumah sakit.
"Apa yang saya bisa bantu Tuan?" Gadis muda dengan seragam putihnya, merasa gugup dengan Dave yang menatapnya.
"Siapkan prosedur aborsi, untuk istriku."
"Apa??" pekiknya tanpa sadar.
"Kau keberatan?"
"Maaf, Tuan. Bukan itu, maksudku. Hanya saja, kondisi nona saat ini, tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti itu. Dia mengalami anemia, akan berbahaya nantinya."
"Aku beri waktu dua hari, untuk memulihkan kondisinya. Setelah, itu lakukan!"
Sang dokter hanya mengangguk, sembari menunduk, menatap ujung sepatunya.
Sampai Dave pergi, ia baru mengangkat kepalanya, karena merasa lega.
"Tinggalkan, kami," perintahnya ada ibu Lin, meski wanita itu tampak keberatan.
Tatapannya terkunci pada Arshila, yang menebarkan senyumam sejak di UGD. Sang istri, bahagia dengan kehadiran buah hati, yang tidak lain hasil perselingkuhannya.
__ADS_1
"Gugurkan!!" ujarnya tanpa basa basi.
Seperti mendengar sambaran petir ditengah cuaca panas. Tidak ada awan gelap ataupun rintik hujan. Senyum Arshila lenyap begitu saja. Tercekat, seolah sebuah batu mengganjal ditenggorokannya.
"Aku akan memberimu kesempatan untuk bersamanya, selama dua hari. Setelah itu, gugurkan." Dave melanjutkan kalimatnya, mengabaikan air mata yang sudah bercucuran di wajah sang istri.
"Dave." Arshila meraih tangan sang suami, memohon dengan isaknya. "Ini anak kita! Tolong, jangan lakukan itu. Aku tahu kau membenciku, tapi tidak dengan anak ini. Aku mohon!!"
"Jangan menyudutkanku, seolah aku yang bersalah disini. Aku tidak ingin membesarkan seorang anak yang bukan milikku!!" Dave menekankan kalimatnya dengan tegas.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah tahu jelas, apa maksudku!" Menuding bahu Arshila, membuat wanita itu mundur selangkah.
"Apa kau meragukan anak dalam rahimku?" Suara Arshila gemetar, menahan sesak dalam dadanya.
"Kau ingin aku mengatakan apa? Kau tidur dengannya dan mengatakan anak itu milikku!"
Plak.
Sudah cukup, batin Arshila menjerit pilu. Ia tidak bisa menahannya lagi. Hatinya remuk menahan lara, yang tak berujung. Apa membencinya belum cukup, sampai mengorbankan anak yang tidak tahu apa-apa? Apa dia tidak ingin benihnya tumbuh, dirahim wanita yang membunuh tunangannya?
"Hahaha ...." Arshila tertawa sekaligus menangis. "Ceraikan aku! Jika kau tidak menginginkannya. Aku tidak akan mengugurkan anakku! Tidak akan!" Arshila terisak, hatinya berdenyut perih.
"Kau kejam!" teriak Arshila. "Aku membencimu. Seumur hidup, sampai kau berlutut, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Air mata Arshila luruh, seiring dengan tubuhnya yang jatuh dilantai. Kebenciannya menjadi berlipat ganda dan tak termaafkan. Tuhan memberinya seorang anak lagi. Anak yang akan memanggilnya ibu. Anak yang jika dipeluknya tidak akan menangis atau memberontak.
Namun, impiannya hancur hanya satu kata dari mulut Dave. Dunianya seakan runtuh, kedua kakinya seolah berpijak pada lumpur hidup, yang menariknya masuk hingga kedasar.
"Nona." Ibu Lin bergegas masuk, setelah tuan muda pergi.
Ia memapah tubuh Arshila untuk bangkit naik diatas brankar.
Tubuh wanita itu bergetar hebat, air matanya meleleh dipipi. Ibu Lin tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi ia bisa menebaknya.
"Bantu aku, pergi dari sini! Aku tidak ingin mengugurkan anakku!"
"Baik, Nona. Kita akan pergi. Istirahatlah, aku akan membereskan barang-barang."
Bagaimana ia bisa beristirahat dengan pikiran yang berkecamuk? Dada yang terasa sesak, menahan sesuatu yang tak sanggup disimpannya lagi.
__ADS_1
Biarlah, ia menjadi gelandangan, asal anaknya bisa hidup. Tuhan sudah memberinya anggota tubuh yang lengkap. Ia bisa menggunakannya, untuk mencari rejeki yang halal.
"Nona, semua sudah siap. Saya juga sudah memesan taksi."
"Saya tidak ingin pulang ke rumah ibu Lin."
"Saya mengerti, Nona. Kita akan pergi ditempat yang jauh, sampai nyonya kembali. Untuk sementara, Anda harus bertahan."
Arshila mengangguk. Sementara ibu Lin membuka pintu, hendak memanggil dokter untuk melepas jarum infus. Namun, ia kembali masuk.
"Ada apa?"
"Sepertinya, tuan muda mengetahui pikiran Anda. Didepan, sudah ada pengawal yang menjaga pintu. Kita tidak bisa, kemana-mana, Nona."
Arshila memutar badannya, terbaring dengan menatap jendela. Ia bahkan sudah kalah, saat belum memulai. Ia kembali pasrah dengan keadaannya yang tidak berdaya. Meski begitu, tekadnya tidak akan berubah. Ia masih harus berpikir dengan matang.
Di ruangan berbeda, dokter yang menangani Arshila tertunduk lesu. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja.
"Kau kenapa, dek?" Dokter sofia yang duduk didepannya, bingung dengan gadis yang dua tahun lebih muda darinya.
"Aku harus bagaimana, dok? Aku bingung." Berbicara tanpa mengangkat kepalanya. "Apa dia manusia? Bisa-bisanya, memintaku melakukan tindakan aborsi." Wajah lesu, kini terlihat emosi.
"Sebenarnya, kau sedang membicarakan apa?"
"Ini tentang si presdir kejam itu!"
"Maksudmu?"
Dokter itu pun, menceritakan dengan menyeluruh, tanpa menambah atau mengurangi kalimatnya. Ia berkata dengan berapi-api dan ditambah kilatan emosi yang terpancar dari wajahnya.
"Waahh! Hatiku menjadi panas, mendengarnya." Dokter sofia ikut emosi, meremas kertas diatas meja kerjanya.
"Sekarang, aku harus bagaimana?"
"Jangan lakukan bodoh! Cari alasan dengan dalih kesehatan ini dan itu. Enak saja, tidak mau tanggung jawab!"
Dua dokter itu, memiliki kesalahpahaman tentang kasus yang mereka hadapi. Meski, mereka tahu, status Arshila adalah istri sah yang tidak diketahui.
"Dia memberiku waktu dua hari. Apa yang harus aku katakan padanya, nanti?"
"Hei, berpikirlah!" Dokter sofia menjitak kepala dokter muda itu. "Bukankah, kau jenius! Menjadi dokter spesialis diusiamu. Jadi, gunakan otakmu!"
__ADS_1
Dokter muda itu, berpindah di meja kerjanya. Mengambil rekam medik Arshila, untuk dibaca ulang. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan perisai, untuk mengulur waktu, entah sampai kapan.
Baca-baca sampai lelah. Lalu, kembali mengambil kesimpulan, dengan wajah penuh keyakinan.