
Setelah makan siang, Arshila meringkuk diatas tempat tidur. Kepalanya begitu sakit, pandangannya buram dan pusing. Ia juga merasa tiba-tiba kedinginan, padahal cuaca diluar sangat panas.
"Mas," igaunya, dengan mata terpejam.
Ditangannya masih memegang ponselnya yang sudah rusak.
Dave berdiri didepan Arshila, menatap dengan tajam tapi bibirnya tertarik ke atas.
"Ck! Baru sehari, kamu sudah merindukan mantan suamimu."
Dave berjalan, memegang dahi Arshila.
"Sangat panas, tapi tidak apa, kamu juga tidak mati, kan!"
"Panggil dokter. Aku ingin dia sudah sembuh besok."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi. Bagaimana pernikahanku besok?"
"Semua sudah sesuai rencana."
"Baguslah."
Dave keluar kamar, sedangkan Tian masih harus menunggu kedatangan dokter.
Beberapa menit menunggu, seorang dokter datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat yang menetes dari wajahnya, menggambarkan ia datang dengan tergesa-gesa.
"Periksa dia. Tuan muda ingin dia sudah bangun besok, meski tidak sembuh total."
"I ... iya, Tuan."
Sebenarnya, perkataan Tian membingungkannya. Dia ingin wanita itu sehat atau apa.
Tapi, ia hanya seorang dokter. Melaksanakan tugas dari seseorang yang menggajinya sangat besar.
"Dia demam dan kelelahan."
"Lakukan saja, apa yang harus dilakukan."
"Baik."
Tian keluar kamar, diambang pintu, ia memanggil seorang pelayan wanita untuk menjaga Arshila.
Dokter sudah melakukan tugasnya, sebelum pergi ia memberikan beberapa obat kepada pelayan rumah.
"Berikan obat ini padanya, diminum setelah makan. Ia juga harus minum vitamin, cukup satu kali sehari."
"Baik, dokter."
"Sementara, biarkan dia istirahat, jangan melakukan pekerjaan apapun."
"Saya mengerti, dokter."
Setelah dokter pergi, pelayan wanita sebut saja namanya, Ica. Mulai, mengompres Arshila.
Ica sedikit tahu tentang kehidupan Dave, ia sudah cukup lama bekerja di rumah ini. Kematian Clarissa, merubah kepribadian tuannya itu.
Sejak kedatangan Arshila di rumah ini, Ica mulai berspekulasi sendiri. Karena, ia sudah tahu siapa wanita yang tengah berbaring saat ini. Keyakinannya tentang Arshila semakin menguat, saat Dave membanting ponsel Arshila di kamar.
__ADS_1
Nona, bersabarlah! Gumam Ica, yang memijit kepala Arshila.
Semua pelayan di rumah ini sudah tahu, status Arshila. Mereka tidak ingin berkomentar, apalagi ikut campur. Cukup, melaksanakan perintah dengan menutup mulut dan telinga. Beberapa dari mereka cukup kasihan, seorang wanita yang bermimpi menjadi nyonya, ternyata jurang kematian sedang menunggu untuk menariknya jatuh ke dasar.
Kuatlah, Nona! Kami tahu, semua bukan salahmu.
Ica terus menemani Arshila, tanpa beranjak sedikit pun. Wanita itu. Masih tertidur pulas sampai hari sudah menjelang sore.
"Nona,"
"Aku haus."
Ica segera memberikannya segelas air. Lalu, Arshila meneguknya sampai habis. Lalu, kembali berbaring.
"Apa Nona sudah merasa lebih baik?"
"Aku hanya merasa sedikit pusing dan tubuhku serasa remuk, apalagi kedua kakiku."
"Saya akan memijitnya."
"Jangan lakukan itu. Jangan menyentuh kakiku."
"Tidak apa, Nona."
Ica mulai memijit kedua kaki Arshila dengan telaten.
"Siapa namamu?"
"Saya Ica, Nona."
"Apa kamu sudah lama bekerja disini?"
"Cukup lama, Nona. Sebelumnya, Ibu dan saya bekerja di rumah utama. Lalu, tuan muda memiliki rumah sendiri. Jadi, ibu meminta saya untuk mengikuti tuan muda."
Ica menunduk, berusaha mencari celah untuk mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin, ia membuka mulut untuk hal yang tidak boleh dibicarakan dalam rumah ini.
"Nona, saya hampir lupa." Ica bangkit turun dari atas tempat tidur, mengambil sesuatu diatas sofa. "Pak Yus, memberikan ini." Ica menyerahkan sebuah ponsel baru.
"Ini untukku?"
"Iya, Nona. Ponsel yang lama Anda, sudah diambil pak Yus, katanya akan diperbaiki."
"Benarkah? Syukurlah! Aku masih membutuhkan ponsel lamaku."
Maaf, Nona. Jangan mengharapkan, benda itu lagi.
"Nona, apa Anda membutuhkan sesuatu? Saya akan turun di lantai bawah, untuk melaporkan kalau Anda sudah bangun."
"Tidak, saya tidak butuh apa-apa. Kamu pergilah istirahat. Saya benar-benar minta maaf, karena sudah merepotkan."
"Sama-sama, Nona."
"Oh, iya. Apa Dave sudah pulang?"
"Belum, Nona. Mungkin, malam nanti."
"Baiklah, terima kasih."
Ica keluar kamar, langkah kakinya seolah tak rela untuk pergi.
__ADS_1
Kuatlah, Nona. Semoga kita bisa bertemu lagi. Setelah ini, Anda akan hidup seorang diri di rumah ini.
Di lantai bawah, Ica sudah memberitahu kepala pelayan rumah. Kalau Arshila sudah bangun.
Pak Yus, segera meminta koki rumah untuk menyiapkan makan malam. Sesuai instruksi Dave. Arshila akan menerima pelayanan istimewa layaknya seorang nyonya besar. Karena, esok hari, keistimewaan ini akan lenyap. Hanya akan ada kegelapan dan kesunyian dalam rumah ini.
Koki sudah mulai memasak berbagai menu utama. Diantara mereka ada yang membuat makanan penutup dan jus buah.
Setelah, memberi tahu pak Yus. Ica mengetuk pintu ruang kerja Dave dilantai dua.
"Bagaimana?"
"Dia sudah bangun, Tuan."
"Lalu?"
"Dia mengeluh, tubuhnya sakit dan kedua kakinya. Dia juga masih mengharapkan ponsel lamanya untuk diperbaiki."
"Yang lain?"
"Dia menanyakan Anda sudah pulang atau belum."
"Hahaha...." Tawa Dave memecah ketegangan yang terjadi diruangan itu. "Apa dia mau mengeluh padaku? Ingin mendapatkan perhatian. Hahaha..... lucu sekali!!"
Ica bergidik ngeri, tawa yang memilki arti tertentu.
"Setelah, makan malam. Kalian, semua kembali ke villa. Kecuali, kamu ica. Kamu kembali dikediaman ibuku, tapi ingat jangan mengatakan apapun. Jika, dia bertanya, katakan aku punya pembantu baru."
"Baik, Tuan."
"Tunggu!" Ica memutar badan. "Beri aku informasi, jika ibuku akan datang kemari. Mengerti!"
"Saya mengerti, Tuan."
Makan malam sudah tersaji diatas meja. Begitu banyak menu, hingga Arshila bingung mau memakannya.
"Pak Yus, ini semua untuk saya?"
"Iya, Nona. Tuan muda berpesan agar kami menyiapkan makanan yang bergizi. Tuan muda, sudah mengetahui Anda sedang sakit, dia akan segera kembali malam ini."
"Terima kasih, maaf merepotkan."
"Tidak apa, Nona."
Arshila mulai menikmati makan malamnya, baru satu suap, ia kembali meletakkan sendoknya.
"Apa kalian tidak bisa menemaniku?" ujarnya, kepada para pelayan yang berdiri tegak di samping meja.
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa melakukannya."
Arshila bangkit dari duduknya, menarik tangan para pelayan satu per satu untuk duduk satu meja dengannya.
"Nona, tolong jangan lakukan ini!" Salah satu pelayan kembali berdiri.
"Sekali ini saja, aku mohon. Makanan ini terlalu banyak dan aku merasa kesepian, jika makan sendiri. Duduklah, Dave tidak ada di rumah, kalian jangan takut."
Tentu saja, para pelayan tidak langsung menerima permintaan Arshila. Mereka menatap, pak Yus meminta persetujuan. Kepala pelayan itu, menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Akhirnya, Arshila dapat makan tanpa merasa sepi. Para pelayan duduk menemaninya, meski mereka hanya makan tanpa bersuara. Sesekali menjawab, jika Arshila bertanya tentang nama dan lama mereka bekerja di rumah ini.
__ADS_1
Kejadian di meja makan, tentu saja diketahui Dave dari layar monitor, tempatnya berada. Menatap tajam dengan ekspresi tidak diketahui.
"Munafik! Kamu terlalu munafik!! Menunjukkan kebaikanmu pada semua orang, tapi tidak akan mampan padaku."