
Cuaca hari ini sedikit mendung, awan gelap menutup sinar matahari, yang baru saja terbit. Hembusan angin yang cukup kuat, merontokkan dedaunan yang mulai mengering.
"Nona, sudah bisa pulang hari ini."
Arshila hanya mengangguk, pikirannya tertuju pada sebuah rumah, tempat ia akan tuju hari ini. Rumah yang awalnya terasa nyaman, kini seperti sebuah rumah hantu yang enggan ia tinggali.
"Saya akan mengantar, Nona. Tuan muda masih ada urusan."
Dia kembali mengangguk, sebagai jawaban.
Saatnya pergi, Grace sudah memegang tas Arshila, sementara wanita itu berjalan didepannya.
Ada apa dengannya. Apa karena Dave tidak menemuinya selama dua hari. Grace menerka-nerka sendiri dalam hati. Kedua matanya, masih memperhatikan Arshila yang masuk dalam lift. Kenapa dia tidak bertanya padaku. Apa dia merasa malu, Grace terus saja bertanya dalam hati, sampai mereka tiba diparkiran.
Arshila masuk dalam mobil, sedangkan Grace duduk disebelah supir.
"Nona, apa Anda ingin membeli sesuatu?"
"Tidak, manager. Kita langsung pulang saja."
Mobil pun, perlahan meninggalkan halaman rumah sakit. Diluar sana, hujan mulai turun. Tampak, beberapa orang berlarian mencari perlindungan. Ada yang berteduh di depan ruko, ada juga yang masih berjalan, dengan membiarkan hujan menerpa tubuhnya.
"Manager Grace, tolong belok kiri."
Supir yang mendengarkan, langsung berbelok. Tiba disebuah perempatan jalan, lalu kembali belok kanan, sesuai arahan Arshila.
"Tolong berhenti!"
Arshila menatap dari kaca mobil, sebuah rumah bercat abu-abu. Rumah yang ingin menjadi tujuannya.
Aku ingin pulang.
Arshila masih menatap, membisu, dengan air mata yang mengalir jatuh. Ia mengusap kaca jendela, seakan menyentuh rumah dengan tangannya.
Aku merindukan keadaan kita dulu, aku lelah, aku kesepian.
"Hiks ... hiks ..." Akhirnya, suara tangis yang ia tahan, pecah juga.
"Pak, ayo, jalan!" perintah Grace.
Di kursi belakang, Arshila masih menangis, sorot matanya masih memandang rumah itu. Perlahan mulai menjauh, membuatnya semakin terisak.
Aku hanya ingin pulang. Tapi, kenapa tidak ada satupun rumah untukku.
Grace merasa iba, meski tidak mengerti, kenapa gadis itu ingin melihat rumah mantan suaminya. Apa ia masih mencintainya. Apa ia belum melupakannya, Grace terus bergumam.
"Kita sudah sampai."
Arshila menghapus air matanya, saat supir berkata.
Di kursi depan, Grace sudah turun lebih dulu. Sementara, Arshila masih merasa enggan.
__ADS_1
"Nona, silahkan!"
Pintu mobil terbuka, tapi Arshila masih tidak bergerak dari tempatnya.
"Nona, Anda baik-baik saja? Apa Nona ingin pergi ke tempat lain?"
Arshila menggeleng, ia tidak memiliki tujuan lain dan tidak punya siapa-siapa untuk dia tuju. Seperti seorang teman, yang mungkin bisa menawarinya untuk menginap di tempatnya.
Jika saja mereka semua tidak pergi, aku bisa berlari untuk sementara.
Menghindari keadaannya sekarang, seperti tidak berguna. Karena, pada akhirnya, kedua kakinya harus melangkah masuk ke tempat yang disebutnya rumah hantu.
Pintu rumah terbuka, seperti ada yang berbeda setelah ia tidak sadarkan diri, malam itu.
"Ini ...."
"Semua perabotan, sudah diganti, atas perintah tuan muda."
"Sampaikan ucapan terima kasihku."
Arshila berjalan masuk dalam kamar, semuanya sudah berbeda. Dari tempat tidur, lemari dan meja, semuanya sudah diganti.
"Nona, apa Anda butuh sesuatu?"
Ia tidak butuh apa-apa, dia hanya ingin ada seseorang yang tinggal bersamanya. Tapi, ia terlalu sungkan untuk mengatakan itu, dia siapa, harus meminta pada wanita didepannya, yang bukan siapa-siapa baginy.
"Tidak ada, saya hanya ingin istirahat."
Arshila mengangguk, meski dalam hati tidak rela, jika Grace meninggalkannya seorang diri. Terdengar, suara pintu rumah tertutup, Arshila menegang. Suasana sepi, menyapu seluruh isi rumah.
Ia memejamkan mata, jangan takut. Ini tidak akan terjadi lagi. Mereka tidak akan datang kembali. Mereka tidak akan kembali. Ia terus menenangkan pikirannya.
Tapi, sekeras apapun ia mencoba, tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Keringat dingin mulai membasahi wajah dan telapak tangan. Mereka tidak akan kembali, mereka tidak akan kembali. Terus bergumam dengan air mata yang sudah mengalir.
Derit pintu terdengar, suara langkah kaki perlahan terdengar memasuki rumah. Arshila tersentak, rasa takut yang sudah menjalar, semakin membuatnya tercekik.
Aku mohon, tolong lindungi aku! Dengan mata terpejam, ia terus berdoa. Aku mohon lindungi aku! Air matanya semakin tak terbendung, ia memilih bersembunyi dibalik selimut.
Suara langkah kaki, terdengar berhenti didepan pintu kamar.
Ceklek. Pintu terbuka.
Arshila yang berada dibalik selimut, semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar, bahkan air matanya sudah bercampur dengan keringat dingin, di wajahnya.
"Sayang."
Itu Dave! HIks ... hiks .... Ia menangis histeris saat selimutnya dibuka oleh Dave.
"Kamu kenapa?"
"Hiks ... hiks ... Aku takut. Aku takut mereka kembali."
__ADS_1
Arshila terisak saat ia berada dalam pelukan Dave. Ia memeluk erat tubuh atletis itu, rasa aman perlahan meredakan tangis dan ketakutannya.
"Jangan takut, mereka tidak akan kembali."
Dave mengelus rambut Arshila dengan lembut. Ini tidak sebanding dengan kematian Clarisa dan bayiku. Aku akan membuatmu merasa enggan untuk hidup lagi. Dave menyeringai licik, mendaratkan kecupan di kepala Arshila.
"Kamu mau makan sesuatu?"
Arshila menggeleng, masih dengan posisi memeluk Dave.
"Ini sudah siang. Aku membawakanmu makanan. Kamu harus makan dan minum obat."
"Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Apa?"
"Apa boleh, aku meminta Grace menemaniku malam ini?"
Dave melepaskan pelukan Arshila, ia menjatuhkan pandangan, pada wanita yang didalam hati begitu dibencinya.
"Grace juga perempuan. Ia tidak bisa melindungimu. Bagaimana jika aku saja yang menemanimu malam ini?"
Arshila membalas tatapan pria yang menawarkan diri, untuk melindunginya. Tatapan yang begitu teduh dan membuatnya merasa nyaman.
"Sebaiknya, tidak. Aku tidak mau, warga disini salah paham dan melakukan kekerasan."
"Kamu yakin?" Mengelus wajah Arshila. "Kata dokter, kamu mengalami trauma dan syok. Kamu butuh seseorang untuk menemanimu."
Arshila hanya mengangguk, meski dalam hati berkata sebaliknya.
Aku pasti bisa, ini hanya trauma. Aku pasti bisa melaluinya. Arshila menguatkan hati.
"Sebaiknya, kita makan sekarang."
Dave meraih tangan Arshila, meminta mengikuti langkah kakinya.
Diatas meja, ada banyak bungkusan makanan. Dave mengambil pring, lalu memindahkannya.
"Ini buatan, Mama," ujarnya, saat mengambil lauk untuk Arshila.
"Aku minta maaf, karena sudah banyak merepotkanmu."
"Tidak apa."
Arshila menyendok makanan dalam mulutnya, bersama Dave yang melakukan hal yang sama.
"Beliau, pandai memasak. Makanan ini sangat enak."
"Tentu saja, ibuku orang yang mahir dalam bidang ini."
Arshila kembali menyendok makanannya, lalu menuang air di gelas untuk diberikannya pada Dave. Ia sangat menikmati hidangan yang dibawa pria itu.
__ADS_1
Tidak seru, jika aku langsung meracunimu, bukan! Lebih bagus seperti ini, membawamu perlahan naik ke surga. Lalu, menghempaskanmu dengan keras ke dalam neraka. Itu lebih seru!