Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 60. Bukan siapa-siapa


__ADS_3

Sudah jam enam pagi, tapi suasana masih gelap. Diluar, hujan belum juga reda, padahal sudah turun dari semalam. Udara dingin yang menusuk, membuat Arshila menaikkan selimut hingga menutup kepalanya.


Para pelayan berseliweran, menggunakan jaket. Mereka sudah terbangun sejak subuh, melakukan pekerjaan agar cepat selesai, tepat waktu.


Koki di rumah juga sudah memasak beberapa menu sarapan, termaksud pesanan nona muda semalam, yang ingin sarapan sop daging.


Waktu terus bergulir, meski masih tampak gelap, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Diluar, hujan sudah rintik-rintik dengan angin yang sedikit bertiup.


Rachel sudah duduk di meja makan, tapi belum memulai sarapan. Ia masih menunggu Arshila, yang dibangunkan oleh ibu Lin.


"Pak Yus, hari ini kamu ikut denganku. Kita akan ke rumah sakit dan kamu menggantikan Tian sebentar, untuk merawatnya. Anak itu harus beristirahat dan Dave tidak suka dilayani perempuan."


"Baik, Nyonya. Saya akan bersiap-siap."


"Ica," panggil Rachel.


"Iya, Nyonya."


"Beritahu koki, membuat sarapan untuk Tian. Jangan lupa, bubur untuk Dave."


Ica langsung membalikkan tubuh, menuju dapur.


Dari arah lift, yang sudah terbuka. Arshila melangkah dengan merapatkan jaketnya. Dia sudah mandi, terlihat dari wajahnya sudah menggunakan make up tipis dan wangi parfum yang sama.


"Ayo, sarapan. Hari ini, kita akan ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


Arshila mengambil semangkuk penuh, sop daging yang masih panas.


"Dave sakit, ia sudah pulang dari semalam."


Arshila yang sedang meniup sendoknya, tiba- tiba berhenti.


"Maaf, Ma. Apa aku harus ikut?"


"Tentu, sayang. Mama juga sudah membuat janji dengan dokter untuk memeriksamu."


"Tapi, aku tidak sakit."


"Mama tahu. Apa salahnya, kita cek up!"


Arshila tidak membantah, ia kembali menyendok sop daging dari mangkuknya.


Rachel sudah bangkit, meminta Arshila untuk menunggu. Karena, dia belum mandi dan berdandan.


"Ibu Lin, tolong buatkan bekal untukku?"


"Bekal? Tapi, Nona bisa makan siang diluar hari ini."


"Aku mau potongan buah yang seperti kemarin, tambahkan sedikit garam kasar."


"Baik, Nona. Saya akan menyiapkannya."

__ADS_1


Arshila kembali ke kamar, mengambil tas dan ponselnya. Belum mencapai pintu, ia kembali berbalik, mengambil sesuatu didalam lemari, lalu menyimpannya dalam dompet.


Turun dari kamar, Arshila langsung menuju dapur, membuka kulkas. Masih ada es krim, yang dibeli Ica kemarin. Ia mengambil satu, lalu memakannya, sembari menunggu Rachel diruang tengah.


Hampir satu jam, Nyonya besar terjebak dalam kamar. Pak yus sudah bersiap, begitu juga ibu Lin. Arshila yang tadi duduk menunggu diruang tengah, berpindah tempat di teras depan. Ia sudah menghabiskan tiga es krim sekaligus.


"Shi. Ayo, masuk mobil!"


Rachel sudah menggandeng tangan menantunya, berjalan beriringan. Keduanya duduk bersebelahan, di kursi penumpang. Pak Yus, duduk dibelakang kemudi dan ibu Lin duduk disebelahnya.


Pak Yus berkendara, dengan kecepatan sedang. Dengan lalu lintas, yang padat merayap, mereka berada diperjalanan cukup lama.


Tangan Rachel, masih menggandeng sang menantu. Dibelakang, ibu Lin dan pak Yus berjalan, dengan tangan penuh. Kedatangan mereka, disambut direktur rumah sakit dan beberapa dokter.


"Selamat datang, Nyonya."


"Bagaimana putraku?"


"Tuan muda, sangat lemah, dia belum bisa makan, karena selalu mual."


"Hasil pemeriksaan, bagaimana?"


"I ... itu, ...."


Langkah Rachel terhenti, menatap sang dokter yang tiba-tiba, terdiam.


"Kenapa? Apa kau mau mengatakan dia sakit maag?"


"Nyonya." Direktur rumah sakit, maju selangkah. "Sebenarnya, ...."


"Baik, Nyonya."


Mereka berpisah di lobi rumah sakit. Rachel masuk dalam lift khusus petinggi, sedangkan sang menantu masuk dalam lift pengunjung.


Rachel tiba dilantai tiga, tempat ruangan direktur dan petinggi rumah sakit, lainnya.


"Katakan langsung, tidak usah basa basi."


Rachel sudah duduk di sofa panjang.


"Begini, Nyonya. "Direktur ikut duduk, di sofa yang menghadap Rachel. "Sebenarnya, kami tidak menemukan penyakit apapun, di tubuh tuan muda. Dia sehat dan baik-baik saja. Mengenai, dia mual dan muntah-muntah, kami berkesimpulan tuan muda mengalami kehamilan simpatik. Tapi. kami tidak bisa menyampaikannya, mengingat beliau belum menikah."


"Jadi, kalian mengatakan apa padanya, untuk menyelamatkan diri?"


"Kami mengatakan, gejala maag ringan."


"Cih!" Rachel sudah bangkit. "Ya, sudah. Jangan katakan padanya."


Dilantai berbeda, tepatnya dilantai lima. Ruang perawatan VVIP, didepan pintu sudah dua penjaga yang berjaga, dengan pakaian hitam. Mereka mengenali, pak Yus dan ibu Lin, jadi langsung membiarkan mereka masuk.


Saat pintu kamar perawatan terbuka, sosok wanita paruh baya, duduk disisi brankar. Wanita itu menoleh, detik berikutnya ia membelalak dan langsung bangkit dari tempatnya. Ibu Lin mengambil posisi siaga, langsung menghadang ibu Clarissa, yang sudah maju beberapa langkah.


Tidak ketinggalan, sekretaris Tian dan pak Yus, yang juga mengambil posisi berbaris didepan nona muda.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Kenapa wanita pembunuh itu, berada disini?" Tatapan Fira bergeser pada Dave yang tengah berbaring lemah.


"Dia bukan siapa-siapa."


Jawaban Dave, membuat mereka semua menatapnya, termaksud Arshila yang tidak dianggap sebagai istri. Dia memang bukan siapa-siapa, bagi Dave. Tapi, apakah harus mempermalukannya didepan umum?


"Lalu, kenapa dia berada disini? Dia wanita yang melenyapkan Clarissa dan bayimu."


"Aku sudah bilang, dia bukan siapa-siapa. Aku lelah, tolong ibu, biarkan aku istirahat."


"Aku tidak akan pergi, sebelum semuanya jelas. Ibumu mengatakan dia istrimu, kau sedang mempermainkanku? Apa kalian berdua, memang sudah berhubungan dan berencana melenyapkan putriku?"


Dave tidak menjawab, dia terlalu lemah sekarang. Jawaban singkat, sengaja diberikan agar wanita itu segera pergi dan tidak membuat masalah. Ternyata, dia masih bertahan ditempatnya.


"Aku bukan istrinya, aku hanya pembantu." Arshila membuka suara dengan gemetar, menahan tangis.


"Nona," tegur ibu Lin.


"Kenyataannya, begitu ibu Lin. Tidak perlu, menyembunyikannya. Dave menikahiku hanya untuk membalas kematian putrimu. Jadi, jangan takut posisi putrimu tergantikan."


"Benarkah itu? Fira kembali menatap Dave, dengan senyum yang sudah mengembang.


"Benar, Nyonya. Saya akan pergi, jika Anda merasa teganggu."


Dave yang terbaring lemah, berusaha bangkit. Ia merasa kesal dengan kondisinya, karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sekedar untuk berbicara. Ia hanya memberikan isyarat pada Tian, agar membawa ibu Clarissa pergi.


"Nyonya. Saya akan mengantar Anda." Tian mengangkat tangannya, menunjuk arah pintu.


Fira tidak menjawab, ia masih menatap Arshila dengan intens. Sebenarnya, ia ingin sekali menampar wajah itu, tapi posisi ibu Lin dan pria paruh baya, yang berdiri tegap melindungi Arshila.


"Dengar, perempuan iblis. Aku akan mencarimu untuk menagih utang nyawa putriku. Jangan berpikir, bisa bersembunyi didalam rumah mewah menantuku."


"Nyonya." Suara Tian meninggi.


"Baiklah. Aku pergi. Tapi dengar, Dave. Aku tidak akan tinggal diam, jika kau memiliki perasaan pada wanita yang melenyapkan putriku. Ingat itu!!"


Fira menyambar tasnya, sebelum mencapai pintu. Ia menatap sinis Arshila, lalu akhirnya melangkah pergi.


Arshila belum beranjak dari tempatnya, ia masih menatap sang suami yang duduk bersandar membalas tatapannya.


Pak yus sudah memberikan bekal sarapan pada Tian dan meletakkan kotak makan berisi bubur.


"Ibu Lin, aku harus keluar sebentar." Arshila sudah melangkah.


"Berhenti! Kau mau kemana?" ujar Dave, yang memaksakan suaranya untuk keluar.


"Aku mau menghirup udara, aku merasa sesak."


"Kemarilah, kita perlu bicara!"


"Tidak perlu, aku bukan siapa-siapa untuk bicara terlalu dekat denganmu." Arshila berlari keluar, disusul ibu Lin.


Air mata yang susah payah ditahannya, akhirnya jebol juga. Arshila duduk dengan kedua kaki tertekuk.

__ADS_1


Sampai, akhir! Aku bukanlah siapa-siapa. bagimu!


__ADS_2