
Pagi sudah menjelang, Arshila mengerjapkan mata, setelah seorang pelayan membangunkannya.
"Kamu siapa?"
"Saya pelayan baru, Nona. Saya diperintahkan tuan, untuk membantu Anda bersiap-siap."
Arshila, mengerutkan alisnya, bingung, karena hari ini, ia tidak memiliki rencana apa-apa.
"Hari ini, Anda akan menikah."
Pelayan itu, menjawab kebingungan Arshila yang sudah terlihat dari wajahnya.
"Apa? Hari ini!"
Arshila tersentak, ia berpikir Dave akan memundurkan waktunya. Karena, pria itu tidak pernah menghubunginya. Ia tidak mempersiapkan apa-apa, untuk pernikahan. Apalagi, saat ini kondisi tubuhnya masih terasa lelah.
"Iya, Nona."
"Tapi, kenapa ia tidak memberitahuku?"
"Nona, jangan khawatir. Semua sudah disiapkan, tuan muda."
Arshila menyibak selimutnya, berlari masuk dalam kamar mandi. Setengah jam, ia sudah keluar dengan rambut yang masih basah.
Pelayan membantunya mengeringkan rambut.
"Nona, Anda sebaiknya sarapan terlebih dahulu."
Pelayan itu, memberikannya sepiring nasi goreng.
"Terima kasih. Maaf, karena aku selalu merepotkan kalian."
"Tidak apa, Nona. Itu sudah tugas kami."
Arshila menikmati sarapan, sambil pelayan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Sarapannya sudah habis, ia meminum jus sampai gelasnya kosong.
Arshila membiarkan, pelayan itu melakukan tugasnya tanpa bertanya. Mulai dari merias wajah hingga rambutnya. Cukup lama, hingga ia dapat melihat wajahnya dari pantulan cermin.
Arshila tersenyum, puas dengan polesan make up yang tampak natural.
"Silahkan, Nona."
Pelayan memberikannya baju pengantin.
"Ini, bajunya?"
Arshila sedikit kaget dengan baju pengantin yang diberikan padanya. Baju dengan model kebaya berwarna putih, sangat sederhana. Bahkan, kain yang digunakan seperti dari pasar yang biasa dibelinya dulu.
Arshila tidak keberatan, dengan gaun pengantin yang akan digunakannya. Hanya, ia merasa akan mempermalukan Dave, pada tamu undangan yang memperhatikannya nanti.
__ADS_1
"Apa Nona tidak menyukainya?"
"Bukan, itu. Aku tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, aku tidak ingin Dave kena masalah."
Pelayan itu, tidak menjawab. Ia hanya melakukan tugasnya, tanpa tahu apa-apa. Ia juga tidak mengerti, kenapa tuannya yang terkenal kaya raya, menyuruhnya membeli baju pengantin di pasar.
Sudah selesai, Arshila kembali menatap tubuhnya dalam balutan baju kebaya. Ia lalu menggunakan sepatu yang sudah disiapkan. Sepatu flat, berwarna putih yang serasi dengan baju yang dipakainya.
"Mari, Nona. Saya akan mengantar Anda dilantai bawah. Supir sudah menunggu."
"Baiklah, terima kasih."
Arshila berjalan keluar, dibantu pelayan yang memegang tangannya. Mereka menuruni anak tangga perlahan.
Bayangan Arshila akan pernikahannya kali ini, akan sangat berbeda. Gedung pernikahan atau hotel yang akan menjadi lokasi acara. Banyaknya tamu undangan, yang akan memberi mereka ucapan selamat. Dekorasi mewah diatas pelaminan dan iringan musik, yang akan menambah kemeriahan.
Sepanjang perjalanan, Arshila terus tersenyum. Bayangan akan kemeriahan pesta pernikahan, membuat hatinya berdebar tidak karuan. Tapi, yang lebih penting dari itu semua, Arshila berharap ini adalah pernikahan terakhirnya. Tak lupa, ia terus berdoa agar semuanya berjalan lancar dan pernikahannya langgeng sampai mereka menua bersama.
"Nona, kita sudah sampai."
Arshila, tersadar dari khayalannya, setelah supir mengagetkannya.
"Ini dimana?"
Sebuah rumah sederhana, dengan cat berwarna coklat. Dari jauh, terlihat Tian berjalan mendekat ke arah mobil.
Arshila turun, saat Tian membuka pintu mobil.
"Silahkan, Nona."
Langkah kaki Arshila terhenti, saat melihat Dave menunggunya di dalam rumah. Ada orang lain disana, yang diyakini Arshila sebagai penghulu. Selain itu, ada Grace dan pak Yus yang sudah dikenalnya.
"Dave,"
Arshila menatap Dave, sorot mata yang meminta penjelasan. Ia tidak keberatan jika hanya menikah seperti ini, tapi dimana orang tuanya?
"Duduklah." Dave meraih tangan Arshila. "Aku akan menjelaskannya nanti."
"Aku tidak keberatan, menikah tanpa pesta meriah dan tamu undangan. Tapi, dimana orang tuamu? Aku tidak ingin menikah tanpa restu."
"Mereka masih diluar negeri, mereka sudah merestui kita. Saat mereka kembali, maka resepsi pernikahan, akan kita adakan."
Arshila memandang orang-orang yang hadir saat ini. Terutama Grace, yang mengalihkan pandangannya.
"Apa kalian tidak jadi menikah?"
Pak penghulu, menyela kedua calon pengantin yang terlihat berdebat.
"Jadi, Pak."
Dave menarik tangan Arshila, untuk duduk disampingnya.
__ADS_1
"Wali pengantin wanita, mana?"
"Kami, Pak."
Grace dan pak Yus, menyahut bersama.
"Baiklah."
Ijab qabul pun dilakukan, dihadapan penghulu. Entah mengapa, saat Dave melakukan ijab qabul, tidak ada perasaan haru atau bahagia dalam benak Arshila. Ia tidak tahu kenapa perasaannya berubah. Entah karena pernikahan yang berbanding terbalik dengan khayalannya atau karena ketidakhadiran orang tua Dave.
Setelah, selesai keduanya menandatangani dokumen pernikahan. Arshila mencium tangan Dave yang sudah sah menjadi suaminya. Begitu juga, Dave yang mendaratkan kecupan dikening istrinya.
"Selamat, untuk kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah."
"Amin," sahut Arshila.
Pak penghulu memberikan buku nikah pada Arshila untuk dipegang.
Acara pernikahan yang sangat sederhana, telah usai dilaksanakan. Mereka berjalan keluar rumah, dihalaman Grace mempersilahkan Arshila masuk dalam mobil.
"Saya akan mengantar, Nona."
"Tapi, bagaimana dengan Dave?"
Baru saja Arshila menanyakan pria itu, sudah terdengar deru mesin mobil meninggalkan halaman rumah. Dave pergi tanpa mengatakan apa-apa, padanya.
"Tuan muda ada urusan sangat penting dan mendadak."
Grace memberikan alasan yang mudah dipahami dan diterima Arshila. Tidak mungkin, ia secara langsung mengatakan, pria itu sengaja meninggalkannya tanpa alasan.
Arshila sudah masuk dalam mobil, duduk disebelah Grace yang tengah mengemudi.
"Manajer, apa kalian menyembunyikan sesuatu?"
Grace menoleh, tersenyum sesaat, lalu kembali fokus dengan lalu lintas didepannya.
"Kenapa Anda berkata seperti itu? Apa karena pernikahan yang tidak sesuai dengan pikiran Anda?"
Memang benar, acara pernikahan tidak sesuai dengan apa dalam pikirannya. Semua berbanding terbalik dari apa yang ada dalam angan-angannya. Tapi, bukan itu yang mengganggu pikiran Arshila. Sejak meninggalkan rumah, ia sudah merasa aneh. Rumah tampak sepi, tidak seperti biasanya. Tidak ada pelayan yang berkeliaran, membersihkan rumah.
Begitu juga dihalaman, tidak ada tukang kebun yang selalu memastikan tanaman disiram setiap pagi.
Hanya ada petugas keamanan rumah, itu pun hanya dua orang. Padahal, sejak memasuki rumah, Arshila melihat banyaknya petugas keamanan yang selalu berkeliling.
Kini, keanehan dengan keadaan rumah, bertambah dengan pernikahannya yang sangat sederhana dan ketidakhadiran orang tua Dave. membuat Arshila merasa ada sesuatu.
"Bukan itu. Entahlah, aku merasa ada sesuatu. Tapi, aku sendiri bingung bagaimana menjelaskannya."
"Nona,. mungkin saja, perasaan Anda sedang tidak menerima keadaan Anda sekarang ini. Semua baik-baik saja, jangan khwatir."
Maaf, Nona. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Aku berharap, pria yang sedang bermain api, jatuh dalam api yang dia ciptakan sendiri.
__ADS_1