
Di tempat berbeda, sebuah cafe yang berada dikawasan perkantoran. Tempat nongkrong para karyawan, yang sekedar menghabiskan waktu makan siang.
Dua orang, yang tidak saling mengenal, duduk berhadapan. Ditemani secangkir kopi dan roti lapis, sebagai sarapan. Ellino dengan setelan jasnya, sementara Alexa seperti biasa selalu berpakaian santai dengan celana jeans.
Mereka berdua bertemu, setelah Ellino meminta Alexa.
"Ada apa?" Alexa menggoyangkan cangkirnya, mengeluarkan uap panas.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau banyak mengetahui tentang Clarissa?" Ellino menatap dengan penuh selidik, gadis didepannya yang tampak tenang dan santai.
"Kau mengajakku bertemu, hanya untuk menanyakan itu?"
"Tidak. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Tentang, Dave tunangan Clarissa. Apa dia sudah mengetahui semuanya?"
Alexa mengulas senyum, menyesap kopi hangatnya. Meletakkan cangkir dengan asal.
"Aku sudah memberitahunya. Tapi, entahlah. Aku belum mendapat kabar."
"Ah, sial!" umpat Ellino. "Aku akan membunuhnya, jika ia masih menyiksa istrinya."
"Istri?" Alexa menautkan alisnya. Sepengetahuannya, Dave belum menikah.
"Dia sudah menikah dan menyiksa istrinya sebagai pelampiasan dendamnya karena kematian Clarissa. Wanita itu adalah pelaku tabrak lari. Padahal, dia sudah mendapatkan hukumannya."
Duaarr.
Seperti ada suara petir, yang memekakkan telinga Alexa. Jantungnya berdegup tidak karuan.
Istri!! Jadi, dia menikahi Arshila, bukan dijadikan pembantu. Tapi, kenapa? Apa alasan Dave melakukannya? Jika Arshila, hanya menjadi pembantu. Alexa dengan mudah, mengeluarkannya dari rumah itu. Tapi, dengan status nyonya Dave Alehandra. Semuanya sangat sulit, bahkan tidak ada jalan sama sekali.
"Kamu mengetahuinya dari mana?"
"Arshila adalah temanku. Kami tidak sengaja bertemu dan akhirnya menjadi teman yang sangat dekat."
Bahkan Ellino, mengetahui nama Arshila. Jadi, sudah pasti, Arshila adalah orang yang sama dalam pikiran Alexa.
"Mengenai Dave, apa benar?" tanya Alexa sekali lagi, untuk meyakinkannya.
"Aku pernah bertemu Arshila, saat dirumah sakit. Wajahnya lebam dan dan ada sebagian yang tertutupi perban. Tanpa bertanya pun, aku tahu memar seperti itu. Dia tersenyum padaku, tapi aku tahu dia sedang menagis."
Alexa menutupi wajahnya, dengan kedua telapak tangan. Ia menyembunyikan air matanya yang mengalir. Alexa berpikir, Arshila hanya menjadi seorang pembantu. Mungkin, Dave hanya membebaninya dengan pekerjaan yang dua kali lipat. Ia tidak menyangka, jika Arshila benar-benar menderita.
"Dia juga sahabatku," isak Alexa. "Tapi, tidak tahu apa yang sudah dialaminya. Semua penderitaannya adalah salahku. Aku yang demi menepati janji, membuatnya menanggung semua luka dan kesalahan, yang tidak dilakukannya."
Alexa menceritakan, awal pertemuannya dengan Arshila dalam penjara. Seorang wanita, yang tengah mengandung, harus dihukum karena menggantikan suaminya. Ia tidak bisa berkata jujur atau membela diri, karena tidak seorang pun yang akan mempercayainya. Mantan suami dan ibu mertuanya, bersaksi menyalahkannya. Jadi, siapa yang akan percaya padanya?
__ADS_1
Arshila yang memilih diam dan menerima nasib, menjalani hidupnya. Alexa merasa bersalah saat itu, jadi ia memutuskan untuk menjadi pelindung bagi Arshila. Penderitaan sahabatnya, belum berakhir, saat sang mantan suami meninggalkannya dan menikah lagi. Janji untuk menebus kesalahan dan memberikan hidup yang lebih baik, tinggallah janji. Arshila dicampakkan dengan perut membuncit. Dan parahnya, anak yang susah payah ia lahirkan, diambil begitu saja. Ia tidak beri kesempatan untuk melihat putrinya.
Alexa tidak mampu menyembunyikan air matanya lagi. Ia menangis pilu, saat cerita itu mengalir dari bibirnya. Belum lagi, kenyataan yang baru saja ia ketahui. Sang sahabat, menjadi istri dari pria yang hanya ingin membalas dendam padanya.
Penderitaan ini, terasa menyakitkan bagi Alexa. Bagaimana sahabatnya, akan menjalani ini semua? Kenapa nasibnya begitu menyedihkan?
Sakit hati, dirasakan Ellino. Entah mengapa, hatinya seperti teriris pisau, saat mengetahui tentang Arshila. Hubungan mereka sebatas teman, tapi mengapa ia sangat marah sekaligus sakit yang bercampur aduk. Ia seperti terbakar oleh sesuatu. Hatinya tiba-tiba, menaruh dendam pada mantan suami Arshila.
"Hiks, hiks, sekarang, aku harus bagaimana?" isak Alexa, seolah mengadu pada Ellino. "Bagaimana nasibnya sekarang? Bahkan, aku tidak bisa bertemu dengannya."
Ellino berpindah tempat. Duduk disamping Alexa, mengusap punggung gadis, berambut pendek itu.
"Aku akan membantumu. Kita berdua menyayanginya. Aku akan membuatnya keluar dari rumah itu."
"Tapi, bagaimana? Statusnya, sekarang berbeda."
"Alex. Apa kamu sudah memberitahu, Dave semua tentang Clarissa?"
"Aku sudah memberitahu semuanya. Tapi, aku tidak tahu, apa dia percaya atau tidak."
Alexa membenturkan kepalanya, diatas meja. Sementara, Ellino masih menenangkannya. Karena, semua mata tertuju pada mereka. Seperti, pasangan yang sedang bertengkar dan Ellino terlihat bak sedang menenangkan sang kekasih.
"Alex. Sudahlah, mereka semua menatap kita."
"Kita ke kediaman Alehandra, sekarang." Ajak Ellino.
Alexa langsung mengangkat kepalanya, menatap Ellino, meminta pria itu mengulangi kalimatnya.
"Kita menemui Arshila."
"Bagaimana caranya?" tanya Alexa sedikit ragu.
"Kita pikirkan nanti."
Ellino sudah meraih tangan Alexa, agar segera bangkit. Ia tidak ingin, menunda waktu lebih lama lagi.
Diperjalanan, dua orang yang semula tidak saling mengenal. Kini lebih akrab, dan tidak merasa canggung, satu sama lain. Alexa duduk disamping Ellino, yang tengah menyetir. Mereka berdua, memikirkan hal yang sama. Bagaimana cara menemui Arshila? Mereka yakin, Dave tidak mengijinkan mereka berdua.
"Dave, pasti tidak akan mengijinkanku bertemu. Bagaimana denganmu?" Alexa menatap Ellino sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan didepannya.
"Ia juga tidak akan mengijinkanku. Kamu tahu betul, bagaimana keadaan kami dulu. Bahkan, ia tahu, aku dekat dengan Arshila."
"Dia tahu?" Alexa menoleh.
"Hmm, dia bahkan hampir memukulku. Seperti, seorang pria pencemburu."
__ADS_1
Ellino berhenti, saat lampu merah. Sedangkan, Alexa seolah masih meminta penjelasan lebih, terlihat dari sorot matanya.
Lucu sekali!!
Erlino tersenyum, gemas sendiri dengan wajah kucing yang terlihat memelas.
"Sebenarnya, aku berteman dengan Arshila, karena memiliki nama yang sama, dengan saudariku. Tapi, setelah mengetahui hubungannya dengan Dave, aku berniat untuk memanfaatkannya." Ellino menghela napas. Kembali, mengendari mobil, saat lampu berubah hijau. "Aku sadar, aku salah dan berniat murni berteman dengannya."
"Kamu punya saudara? Sepengetahuanku, kamu anak tunggal."
"Aku akan menceritakannya, saat kita lebih dekat." Ellino menyalip kendaraan didepannya.
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan itu. Ini adalah rahasia keluargaku, jadi maaf."
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu."
Ellino menurunkan kecepatan, saat rumah mewah berlantai tiga sudah terlihat dari kejauhan. Beberapa petugas keamanan, juga terlihat siaga didepan pintu pagar rumah.
"Sekarang, bagaimana?" Alexa ikut memperhatikan keadaan rumah Dave.
"Dia tidak akan mengijinkanku bertemu dengannya. Jadi, sebaiknya kamu yng melakukannya. Aku akan menunggumu."
"Kamu yakin, Dave mau mempertemukan kami?"
"Kita harus mencobanya, untuk mendapatkan jawaban."
Ellino sudah menghentikkan mobilnya dan membuat petugas keamanan berjalan ke arahnya. Alexa menurukan kaca mobil.
"Aku ingin bertemu Dave Alehandra," ujar Alexa pada salah seorang petugas keamanan.
"Nama Anda?"
"Alexa Vander Santara."
"Silahkan tunggu!"
Petugas keamanan itu, pergi menuju pos untuk melapor dalam rumah.
"Bagaimana?"
"Kalian bisa masuk!" ujar petugas keamanan.
Ellino dan Alexa saling menatap. Mereka berdua diizinkan masuk, tapi kenapa merasa ada yang aneh.
__ADS_1