Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 9 Dimas yang bahagia


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, dengan bantuan pengasuh, Dimas dapat merawat putrinya dengan baik. Sudah seminggu juga, hubungannya dengan Nadia semakin lengket. Apalagi, Nadia yang sudah mengetahui kondisi Dimas dan istrinya, meski sedikit dibumbui dengan kebohongan.


Nadia juga sudah tidak sungkan dengan ibu Dimas, yang tentu saja langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Sering berkunjung dan membawa banyak hadiah untuk calon mertuanya, siapa yang bisa menolak.


"Mas, dia cantik, ya."


Nadia kini memeluk bayi Dimas yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Oh, sayangku. Ini Mama, sayang," ujar Nadia lagi yang membuat Dimas mendaratkan kecupan di dahi kekasihnya.


"Nad, kamu sabar sedikit lagi, yah. Setelah, aku menceraikan istriku, kita langsung menikah."


Nadia mengangguk dengan sejuta senyum di wajahnya. Tidak ada rasa bersalah, karena menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Dimas. Menurutnya, ia pantas untuk menggantikan Arshila, wanita yang mendekam di penjara karena perbuatan jahatnya.


"Dimas."


Ibu berjalan menghampiri mereka, membawa potongan buah diatas piring.


"Nadia, kamu makan dulu. Berikan bayi itu pada pengasuh. Ibu mau berbicara dulu dengan Dimas."


"Baik, Bu. Terima kasih."


Ibu menarik tangan putranya, berjalan keluar kamar.


"Ada apa, bu?"


"Cepat, ceraikan istrimu. Ibu tidak enak mendengar omongan tetangga, yang melihat Nadia sering berkunjung."


"Dimas sudah menyerahkannya pada pengacara. Semua akan selesai, jika Arshila menandatanganinya."


"Bagus. Ibu senang mendengarnya. Kamu harus melanjutkan hidupmu, jangan terbebani dengan rasa bersalah. Anggap saja, yang terjadi pada istrimu adalah takdir yang digariskan untuknya."


"Dimas memang merasa bersalah, bu. Shila sudah berkorban untuk keluarga kita. Tapi, semakin Dimas berpikir, Shila memang pantas mendapatkannya. Dimas sudah melakukan banyak hal untuknya, bahkan melunasi semua utang orang tuanya."


"Iya, anggap saja yang dilakukannya saat ini, untuk melunasi semua utang padamu."


Dimas mengangguk, lalu kembali menuju kamar tempat Nadia berada.


"Bagaimana dengannya?"


Dimas mengambil posisi duduk, disamping Nadia.


"Bibi pengasuh sudah menidurkannya. Oh ya, Mas, apa sudah memberinya nama?"


"Belum, aku belum memikirkannya."


"Apa boleh, aku memberinya nama?"


"Tentu saja, dia kan anak kita," ujar Dimas yang membelai rambut Nadia, dan salah satu tangannya menyusup ke pinggangnya.


"Bagaimana jika namanya Nadin Dira Sudrajat. Bagus, kan?"


"Bagus, sangat bagus. Mas menyukainya."


Tangan Dimas kini menyentuh leher Nadia, mengecupnya, hingga bibir keduanya saling beradu.

__ADS_1


"Aaahhh!"


Sebuah kata yang membuat nafsu Dimas, semakin tak terkendali. Ia bangkit mengunci kamar, lalu melanjutkan permainan mereka.


"Aaahhhh, Mas!"


Nadia mencengkam seprai, saat menikmati setiap sentuhan Dimas pada tubuhnya. Hingga akhirnya, keduanya terkulai lemas.


"Aku mencintaimu, Nad."


Dimas menarik selimut, menutup tubuh mereka. Lalu, meraih tubuh Nadia membawanya dalam pelukan.


Keesokan harinya.


Dimas menjenguk Arshila di penjara, ditemani seorang pengacara. Duduk saling berhadapan, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Arshila.


Sudah seminggu sejak, ia melahirkan. Dimas tidak pernah datang berkunjung, untuk memberi penjelasan tentang wanita yang bersamanya malam itu. Bahkan, Dimas membawa anak mereka tanpa menjenguknya di rumah sakit.


"Shila, kenalkan ini pengacaraku."


Arshila yang menatap, tanpa berniat mengulurkan tangannya.


"Dia yang akan mengurus perceraian kita."


Deg!


Arshila membelalak, jantungnya berdegup tidak beraturan.


"Cerai? Mas mau menceraikan aku. Setelah, yang aku lakukan untukmu. Kau membuangku begitu saja."


"Maaf. Tapi, aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku. Anggap saja, yang kamu lakukan ini sebagai pelunasan utang orang tuamu kepadaku."


"Mas,"


Air mata Arshila langsung jatuh, tak percaya dengan perkataan Dimas. Kenapa baru sekarang, ia mempermasalahkannya. Sejak dulu, Arshila berusaha membayarnya, tapi Dimas selalu menolak dengan alasan sudah sepantasnya.


"Sebaiknya, kamu tanda tangan secepatnya. Aku akan memberimu uang kompensasi, sebagai gantinya dan juga sebagai bayaran untuk pengorbananmu."


Dimas menyodorkan secarik kertas dan sebuah pena.


"Mas, kenapa kamu begitu tega? Bagaimana dengan janjimu? Kamu berjanji akan menebusnya jika aku bebas."


Dimas membuang napas dengan berat.


"Aku masih mengingat janjiku, menebusnya dengan memberikanmu ganti rugi."


"Mas, ...."


"Cukup, jangan membuang waktuku lebih lama lagi. "Sela Dimas, "Sekarang tanda tangan." Dimas kembali menyodorkan kertas secarik itu.


Arshila terisak, mengiba dengan bercucuran air mata. Diambilnya pena, menatap Dimas yang masih menunggu goresan pena diatas kertas.


"Apa aku boleh bertemu dengan putriku?" tanya Arshila sekali lagi.


"Tentu saja. Kamu memiliki hak bertemu dengannya."

__ADS_1


Arshila menatap kertas itu, masih berderai air mata.


"Lalu, apa alasanmu menceraikanku?"


"Aku mencintai orang lain. Kami akan menikah. Dia menyayangi putri kita seperti anaknya sendiri."


Dimas langsung to the point, tak ingin berlama-lama dengan istrinya yang terus-menerus bertanya, menyita waktunya.


Sementara Arshila tersenyum getir, semudah itu suaminya mengatakan akan menikah lagi. Janji manis akan kesetiaan, hanya ucapan manis belaka. Sekarang, ia hanya perlu melepaskan statusnya, agar mereka dapat melanjutkan hidup masing-masing.


Arshila menorehkan pena diatas kertas, tiap goresannya, diiringi air mata yang jatuh menetes.


"Mas, sebelum kita berpisah, aku butuh jawaban. Apa Mas sengaja mengirimku kemari, agar dapat membuangku?"


"Bukankah sudah jelas! Lanjutkan hidupmu, aku akan mengirim uang kompensasi untukmu direkening. Kamu bisa menggunakannya setelah bebas."


Dimas bangkit, berjalan tanpa menoleh. Sementara, Arshila hanya menatap punggung mantan suaminya, yang perlahan menghilang.


Ia masih duduk melanjutkan tangisannya, menyandarkan kepala diatas meja.


Jadi, kau sengaja melakukannya. Kau sengaja membuatku menggantikanmu.


Kini sudah tidak ada harapan baginya, hidup baru yang digaungkan mantan suaminya, tidak ada arti untuknya. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup tanpa ada seseorang, yang mendukung dan memberinya cinta.


Cukup bodoh memang, pikir Arshila. Cintanya bukan jaminan untuk dapat hidup menua bersama. Pengorbanannya selama ini, bukan jaminan untuk mempertahankan seseorang disisinya.


Arshila mengelus dadanya, rasa sakit ini lebih parah daripada saat menerima tuduhan seorang pembunuh. Rasa sakit seperti ini, butuh waktu yang sangat lama untuk mengobatinya. Bahkan, menyisakan trauma dan ketidakpercayaan akan cinta.


Aku membencimu, Mas. Aku membencimu.


Arshila hanya bisa mengutuk dalam hati. Tidak memiliki kekuatan untuk membalas.


***


Di PT. DEVAL POWER, Dave tersenyum puas, mendengar laporan dari Tian sekretarisnya. Bukan itu saja, foto-foto Arshila sedang menangis berserakan diatas meja.


"Bagus, sekarang biarkan dia menangisi hidupnya. Aku akan menunggu, setelah dia bebas."


Dave meletakkan salah satu foto Arshila.


"Bagaimana dengan Nadia? Apa dia benar-benar jatuh cinta kembali dengan mantan kekasinya?"


"Sepertinya, begitu Tuan. Dia mengatakan akan menikah dengan Dimas."


"Cih, wanita itu. Aku memintanya berpura-pura, justru terjebak dalam perannya sendiri."


"Lalu, bagaimana Tuan?"


"Biarkan saja. Itu keputusannya, kita tidak perlu lagi ikut campur. Tapi, beritahu dia untuk tidak melupakan tugasnya."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Dave kembali menatap foto Arshila.


Ini belum seberapa, tunggulah setelah kau bebas. Kau akan melihat neraka yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2