Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 25 Lamaran tiba-tiba.


__ADS_3

Suasana pagi yang berbeda, Arshila membuka mata, tersentak, saat melihat lima orang pelayan wanita berdiri dihadapannya.


"Selamat pagi, Nona."


Mereka serentak memberikan salam, dengan menundukkan kepala.


"Pa ... pagi." Arshila terbata, bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan.


"Tuan, meminta kami untuk membantu Anda bersiap-siap."


"Bersiap-siap?" Bingung dengan arti kata itu. Karena, ia bukan pergi untuk menghadiri pesta. Tapi, untuk bekerja seperti biasa.


"Kami sudah menyiapkan baju, untuk Nona pakai. Sebaiknya, Anda segera membersihkan diri."


"Ba ... baiklah. Tapi, maaf. Apa kalian bisa menunggu diluar?"


"Maaf, Nona. Kami akan membantu Anda membersihkan diri dan merias penampilan Anda."


"Apa?" Mata Arshila membulat, cukup memalukan, membiarkan para pelayan membersihkan tubuhnya. Ia bukan ratu atau anak konglomerat. "Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri."


"Tuan berkata, jika Nona menjawab seperti itu. Tuan yang akan membantu Anda sendiri."


Arshila langsung bangkit, menyibak selimut yang masih menutup tubuhnya. Berjalan menuju kamar mandi, diikuti dua pelayan dibelakangnya.


Ini gila!! Hubungan kami belum terhitung hari, tapi sudah membuatku tidak nyaman.


Arshila sudah membuka baju, menggunakan pakaian dalam ia berendam dalam bathtub. Ia berencana membuka semua pakaiannya, saat tubuhnya sudah terendam air.


Dua pelayan wanita, menggosok punggungnya. Ia sedikit rileks dan nyaman, ditambah aroma yang begitu wangi seperti meresap dalam tubuhnya.


Di luar, pelayan lainnya sudah menyiapkan pakaian dan kosmetik. Sepatu dan tas, juga sudah disediakan agar serasi dengan pakaian yang akan digunakan.


Arshila sedikit heran, ia menghabiskan waktu satu jam hanya untuk mandi. Padahal biasanya, tidak sampai lima menit ia sudah selesai. Kini ia harus berpasrah, saat para pelayan mulai merias wajahnya. Memakaikan pakaian, yang bisa ia gunakan sendiri.


"Terima kasih."


Para pelayan undur diri, meninggalkan calon nyonya besar yang masih duduk menatap penampilannya dari cermin.


"Aku hanya pergi bekerja, tapi penampilanku saat ini seperti akan ke pesta."


Arshila menyambar tas yang sudah disediakan, lalu berjalan keluar menuruni anak tangga.


"Cantik."


Pujian keluar dari mulut Dave, saat menatap Arshila yang masih menuruni anak tangga.


"Terima kasih," balasnya, dengan menerima uluran tangan pria yang tersenyum simpul didepannya.


Genggaman erat, membawanya dimeja makan. Berbagai hidangan, yang baru pertama kali dilihat Arshila.


"Sebanyak ini?"


"Iya, sayang. Aku sarapan sebanyak ini."


Dave mengulum senyum, tapi tentu saja mulut dan hatinya tidak berjalan searah. Banyak makna yang dilakukan untuk wanita didepannya.

__ADS_1


Arshila mulai menikmati sarapan, ia merasa risih dengan kehadiran para pelayan, yang berdiri mematung dibelakang mereka.


Apa mereka tidak sarapan? Kenapa harus menunggu kami? Aku merasa tidak enak dengan mereka. Arshila terus membatin, menikmati makanan dengan perasaan yang mengganjal dalam hati.


"Hari ini, ikut aku sebuah tempat."


"Tapi aku harus bekerja."


"Kita hanya mampir, tidak akan lama. Aku akan mengantarmu kembali bekerja."


"Baiklah."


Dave membawa Arshila, ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Bahkan, pria itu menutup kedua matanya seolah akan memberikan kejutan. Entah berapa lama, waktu perjalanan yang mereka tempuh.


"Kita sudah sampai, Tuan."


Suara Tian terdengar dari depan, dari balik kain yang menutup kedua matanya, Arshila mulai menebak-nebak tempatnya berada.


Suara deru ombak seperti memecah karang, hembusan angin yang cukup kuat. Arshila menduga, mereka sedang berada dipinggir pantai.


Sebuah tangan menggenggamnya, meminta untuk mengikuti langkah kakinya.


"Ini dimana, Dave?"


"Sedikit lagi, sayang."


Langkah Dave terhenti, lalu membuka kain penutup mata Arshila.


Wanita itu mengedipkan mata beberapa kali, karena merasa silau.


Ia menatap Dave tidak percaya dengan penglihatannya. Sebuah rumah, berbentuk seperti vila. Rumah dengan hampir keseluruhannya, dipenuhi dinding kaca, hingga dapat melihat pemandangan laut dari dalam.


"Hadiah pernikahan."


Dave menekuk salah satu lututnya, salah satu tangannya memberikan sebuah cincin.


"Menikahlah denganku."


Arshila terharu, mendapat perlakuan istimewa. Air mata menitik kebahagiaan, jatuh begitu saja. Ia langsung menganggukkan kepala tanpa berpikir lagi. Baginya, Dave adalah jodoh yang dikirimkan tuhan untuknya.


Dave menyematkan cincin dijari manis Arshila, mengecup dahi sebagai tanda terima kasih telah menerimanya. Moment ini, terekam jelas dalam kamera Tian.


Setelah adengan romantis penuh dengan keharuan, mereka masuk dalam vila. Langkah demi langkah, kaki mereka menapak diatas pasir. Dave membuka pintu rumah, dan benar saja pemandangan laut begitu nyata dari balik dinding kaca.


Arshila mengedarkan pandangan, satu foto berukuran besar kembali dilihatnya. Foto yang sama, dirumah Dave.


Ternyata, dia sangat menyayangi adiknya. Tapi, aku penasaran, kemana gadis itu.


"Aku akan mengajakmu, tempat favorit aku di rumah ini."


Tangan Dave meraih pinggang Arshila, menyamakan langkah, menapaki anak tangga satu demi satu.


Balkon dengan ukuran yang begitu luas, ada kursi pantai dan meja kecil. Dari luar, tampak, pohon kelapa bergoyang terbawa hembusan angin.


Benar-benar tenang, tempat ini membuat hatiku begitu tenang. Arshila bergumam sembari memejamkan mata, membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya.

__ADS_1


Dave memeluk tubuhnya dari belakang, membuat Arshila semakin nyaman. Mungkin ini adalah kebahagiaan yang pantas didapatkannya, setelah hidup penuh dengan air mata.


"Aku mencintaimu."


Bisikan yang begitu lembut ditelinganya.


"Aku juga."


"Besok kita akan menikah."


"Besok?"


Arshila memutar tubuhnya, pernikahan yang terlalu cepat. Dalam pikirannya, mereka akan menikmati hubungan ini terlebih dahulu sebelum menikah. Apalagi, Arshila sama sekai tidak tahu apapun tentang kehidupan Dave.


"Iya, besok. Aku sudah mempersiapkannya. Kita menikah secara agama terlebih dahulu, untuk pesta pernikahan, kita harus menunggu orang tuaku kembali dari luar negeri."


"Tapi, apa mereka mengetahui hubungan kita?"


"Tentu saja. Aku tidak mungkin mengajakmu menikah tanpa restu mereka."


Lagi-lagi Arshila hanya mengangguk, tanpa berpikir atau merasa curiga. Baginya, Dave adalah pria penyelamat hidupnya. Pria yang begitu ia percayai, daripada mantan suaminya dahulu.


"Terima kasih, karena sudah mau menerimaku."


Dave membawa Arshila dalam pelukannya. Tersenyum penuh makna yang hanya diketahui olehnya.


Setelah, momen lamaran yang begitu tiba-tiba, Dave mengantar Arshila kembali bekerja di butik yurika.


"Shi," Menggenggam erat tangan Arshila, sebelum wanita itu turun dari mobil. "Aku ingin, kamu mengundurkan diri dari pekerjaanmu."


"Tapi, aku butuh pekerjaan."


"Aku bisa membuka butik, bahkan pusat perbelanjaan untukmu. Apa kamu bisa melakukannya untukku?"


Arshila tampak berpikir, ia belum cukup sebulan bekerja. Apa yang harus ia katakan pada bosnya? Tidak mungkin, ia mengatakan kalau ia akan menikah.


"Baiklah, aku akan melakukannya."


Dave memeluknya, lagi-lagi mendaratkan kecupan hangat.


"Terima kasih. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu."


Arshila akhirnya, turun dari mobil. Berjalan masuk dalam butik.


"Selamat pagi, mbak Vina."


"Selamat pagi. Kamu sudah sehat?"


"Sudah Mbak."


"Baguslah."


"Saya ke atas dulu Mbak."


Arshila naik dilantai dua, tempat ia bekerja. Membantu di ruang jahit, meski hampir tidak ada yang ia lakukan, selain perintah dari karyawan lain.

__ADS_1


__ADS_2