
Pagi menjelang. Seperti biasa, para pelayan dan koki, sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Sementara penghuni rumah, masih terlelap. Tak terkecuali para tamu yang menginap.
Ibu Lin dan pak Yus, juga tak kalah sibuknya. Menginstruksikan ini, itu, agar semua terlihat rapi dan bersih. Apalagi, nona muda sekarang sudah siuman. Jadi, mereka bekerja ekstra untuk mempersiapkan segalanya.
Dilantai atas, dua wanita diatas tempat tidur yang sama, masih terlelap. Sementara, seseorang yang harus tidur di sofa, duduk menatap mereka. Semalam, ia tidak dapat tidur nyenyak. Karena, pikirannya berkeliaran kemana-mana. Meski, sang istri sudah siuman. Ia belum bisa bernapas lega.
Banyak hal, yang menjadi beban pikirannya. Beban yang begitu sulit untuk diangkat, meski ia melakukan segalanya.
"Selamat pagi, sayang." Mendaratkan kecupan, di kepala sang istri. Menaikkan selimut, hingga menutupi leher.
Dave membelai rambut Arshila, menatap hangat wajah yang masih terlelap. Beri aku kesempatan, sekali saja. Ingin rasanya, ia membaringkn tubuhnya, disamping sang istri dan memeluknya. Tapi, ia harus bersabar dan menahan diri, sampai permintaan maaf ia dapatkan.
Mulai detik ini, kamu adalah ratu di istanaku. Semua yang kamu inginkan, akan aku wujudkan, sebisaku. Tolong, beri aku kesempatan.
Cup.
Dave mendaratkan kecupan dipipi kanan. Tubuh Arshila bergerak, karena merasa terganggu. Namun. Kedua matanya masih terpejam.
Dave segera bangkit, masuk dalam kamar mandi untuk memulai hari baru.
Dilantai bawah, kesibukan masih tampak. Pak Yus, mengawasi koki dalam menyiapkan menu sarapan. Nona muda baru siuman, jadi menu makanan harus sesuai instruksi dokter.
"Selamat pagi, Tuan." Pak Yus berjalan mendekat, saat Dave, tiba-tiba muncul di dapur.
"Pagi."
"Anda butuh sesuatu?"
"Tidak. Sarapan untuk istriku, biar aku yang membawanya. Apa sudah siap?"
"Sebentar lagi, Tuan." Kali ini, koki yang menjawabnya sendiri.
"Baiklah,. Aku tunggu, diruang tengah."
Dihalaman depan, Dave menemui beberapa tukang kebun, yang sedang bekerja.
"Aku mau, halaman ini ditanami bunga warna warni. Siapkan lahan, aku akan meminta pak Yus, menyiapkan bibit."
"Baik, Tuan."
Dave duduk dibangku kayu, memperhatikan bagaimana halaman, jika nanti bunganya tumbuh. Pasti sangat indah dan Arshila pasti menyukainya.
Sinar matahari yang masih hangat, menyentuh kulit. Dave mengangkat kepalanya. Menatap langit, ada awan putih dan birunya langit. Tak lupa, burung-burung kecil, terbang melintas dengan bergerombol.
__ADS_1
Pemandangan yang indah, dan entah mengapa membuatnya tersenyum. Selama ini, ia sibuk bekerja, tanpa memperhatikan hal seperti ini. Hal kecil, tapi mampu membuat perasaan menjadi tenang.
"Tuan," panggil pak Yus. "Sarapan untuk nona sudah siap."
"Baiklah."
Dave berjalan lebih dulu. Sebuah nampan sudah siap, diatasnya ada beberapa makanan dan segelas susu, serta potongan buah.
"Biar saya yang membawanya, Tuan." Tawar pak Yus, tapi mendapat penolakan dari Dave.
Didepan kamar. Dave mendorong pintu, menggunakan kaki kiri. Ia memperhatikan seseorang yang rupanya sudah bangun. Ia tidak sendirian, ada perawat yang membuka jarum infus dan dokter yang memeriksa keadaan Arshila. Tak lupa, sang ibu yang duduk mendampingi menantunya.
"Bagaimana dokter?" Dave meletakkan nampan diatas meja.
"Kondisi nona, sudah lebih baik. Nona tidak membutuhkan cairan infus lagi. Yang penting, ia harus makan makanan bergizi dan vitamin."
"Terima kasih, dokter."
"Sama-sama, Nyonya. Kami akan kembali ke rumah sakit. Nona bisa melakukan pemeriksaan kehamilan, minggu depan."
"Ah, baiklah, dokter. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Nyonya. Kami permisi."
Rachel mengantar dokter dan perawat keluar dari kamar. Sementara, Dave mendekati sang istri dengan nampan dikedua tangannya.
Arshila membisu, membiarkan sang suami duduk didepannya.
"Aku akan menyuapimu." Dave mengarahkan sendok yang berisi bubur. Tapi, Arshila justru membuang muka.
"Ini untuk anak kita. Dia bisa kelaparan."
"Anak kita?" desis Arshila, dengan sorot mata tajam. "Bukankah kau tidak mengakuinya dan ingin membunuhnya? Sekarang, kau sedang melakukan apa?"
"Shi." Dave kembali meletakkan sendok diatas piring. "Maafkan aku. Aku salah. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebusnya. Mari kita mulai dari awal."
"Tapi, aku tidak mau!" jawab Arshila dengan tegas. "Aku lelah dengan pernikahan ini. Jika kau ingin menebusnya, ceraikan aku!"
Duarr.
Seperti dugaan orang tuanya. Arshila pasti meminta cerai. Dan hal itu. Yang tidak bisa Dave kabulkan. Jika Arshila memiliki permintaan lain, entah bagaimana banyaknya. Ia akan mengabulkannya, tapi tidak dengan kata cerai.
"Shi." Dave berusaha menggenggam tangan Arshila, yang selalu dihempaskan. "Kamu sedang hamil. Anak kita butuh orang tua yang lengkap. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya."
__ADS_1
Arshila menjawab dengan tangisan. Ia tertunduk sembari berurai air mata. Anakku memang butuh orang tua yang lengkap. Tapi, aku tidak sanggup, menjalani hidup yang sama. Semua terlalu menyakitkan. Hatiku, tubuhku, semua seperti teriris pisau. Aku lelah, aku membencimu.
"Shi." Dave panik, melihat sang istri. "Maafkan aku." Ingin ia membawa tubuh sang istri dalam pelukannya.
Tapi,
"Pergi! Aku bilang pergi!" usir Arshila dengan setengah berteriak.
Dengan terpaksa, Dave keluar kamar. Ia tidak mau membuat Arshila tertekan dan kembali syok. Ia memanggil ibu Lin dan Nadia untuk menemani sang istri.
"Nona, tenanglah." Ibu Lin memberikan segelas air.
"Ibu Lin, maaf. Apa bisa meninggalkan kami?" pinta Nadia.
"Baiklah."
Nadia mendekat, meraih nampan diatas tempat tidur.
"Mbak. Ayo, makan!" Arshila menggeleng. Tapi, Nadia tidak menyerah. "Mbak. Apa Mbak mau kehilangan anak seperti dulu?"
Arshila mendongak, ia menggelengkan kepala. Ia tahu bagaimana rasanya, kehilangan anak. Putri yang ia lahirkan, tapi tidak diberi kesempatan untuk melihat dan merawatnya.
"Nadin, sudah memanggil Mbak, dengan sebutan ibu. Ia berharap, adiknya lahir untuk menemaninya bermain."
Arshila menghapus air matanya. Mengambil nampan dari tangan Nadia. Perlahan menyendok dan menikmati sarapannya.
"Kenapa kamu berada disini?"
"Tuan yang memintaku, untuk membawa Nadin dan menemanimu. Tuan sangat khawatir. Ia tidak tidur berhari-hari, bahkan makan sangat sedikit. Dia tidak pernah beranjak sedikit pun untuk menemanimu."
Sendok ditangan Arshila, tergantung diudara. Bagaimana mungkin, pria itu khawatir padanya? Ia ingat dengan jelas, bagaimana ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya. Sekarang, ia khawatir? Sungguh tidak masuk akal.
"Apa kamu bekerja di perusahaan Dave?" Arshila menatap dengan penuh selidik.
"Iya, Mbak."
"Sebelum, bertemu mas Dimas. Apa kamu sudah lama bekerja disana?"
"Iya, Mbak. Saya dan mas Dimas adalah pasangan kekasih saat masih kuliah. Kami bertemu disebuah restoran, saat diluar kota."
Arshila membisu, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mbak, maafkan aku. Selama ini, aku salah menilai, Mbak Shila. Aku hanya mendengarkan ucapan mas Dimas dan ibu. Aku terlalu dibutakan oleh cinta, hingga menelan mentah-mentah semua ucapan mereka."
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Tapi, aku butuh kejujuran. Apa kamu benar-benar jatuh cinta pada mas Dimas atau kamu diperintahkan seeorang untuk sengaja mendekatinya?"
Deg.