
Dua hari sudah berlalu, seperti biasa Arshila masih bekerja di butik, membereskan barang dan membantu karyawan lain, memasang pakaian digantungan dan manekin. Setelah selesai, ia berpindah diruang jahit, yang letaknya dilantai dua. Di tempat ini, ia akan menghabiskan waktu sampai sore.
"Shi."
"Iya, Mbak."
"Bantu aku menggunting kain."
Arshila belajar menjahit di tempat ini, meski hanya cara menggunakan mesin jahit. Jika ada waktu, ia mempelajari cara membuat pola.
Hari-hari dilaluinya dengan baik, tidak ada lagi tangis atau kesedihan, yang tersisa hanya kerinduan pada sang buah hati.
Pukul empat sore, Arshila sudah bersiap pulang ke rumah. Merapikan tas dan kotak makannya, ia berjalan keluar, setelah berpamitan pada karyawan lain.
Didepan butik, ojek online yang dipesannya sudah menunggu sambil menyerahkan helm padanya.
Perjalanan yang setiap hari dilaluinya dengan menggunakan jasa ojek, yang lebih cepat dan murah menurutnya.
Di belakang, sebuah sedan mewah ikut menyusul. Tian mengendarai dengan hening, tanpa bertanya pada penumpang dibelakang. Karena, sudah tiga hari sepulang kerja, ia terus membuntuti wanita itu.
"Tian, tabrak mereka."
"Baik, Tuan."
Sekretaris yang selalu patuh, meski perintah yang keluar dari mulut atasannya sering tidak masuk akal dan bertentangan dengan hati nurani.
"Tapi, jangan terluka. Cukup, buat mereka terjatuh."
Tian menancap gas, belok kanan, mobil menyambar pengendara motor hingga terjatuh, ditepi jalan. Tian mengerem, menepikan mobil. Sementara Dave turun, membantu keduanya.
"Kalian tidak apa-apa? Maaf, saya sedang terburu-buru."
Dave membantu berdiri sang pengendara ojek. Pria itu terlihat baik-baik saja, ia bangkit mengangkat sepeda motornya dibantu oleh Tian.
Sementara, Arshila masih terduduk diatas rerumputan. Meringis kesakitan, dengan luka dan memar di kaki dan lengannya, meski tidak parah.
"Coba, aku melihat lukamu."Dave memperhatikan, luka Arshila. "Kita ke rumah sakit."
"Tidak perlu, Tuan. Saya baik-baik saja." Arshila bangkit, mencari pengendara ojek yang ternyata sudah pergi meninggalkannya. Tanpa, sepengetahuan Arshila, pengendara itu mendapatkan sejumlah uang dari Tian.
"Aku akan mengantarmu, anggap saja sebagai permohonan maaf."
"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa naik angkot."
Arshila masih menolak, ia berjalan maju, mencari angkot yang lewat.
"Apa kamu pikir aku orang jahat? Kita sudah pernah bertemu sebelumnya."
Arshila menoleh, memperhatikan pria didepannya. "Di Butik Yurika." Sambung Dave lagi.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengingatnya."
"Tidak apa. Masuklah, aku akan mengantarmu."
Akhirnya, Arshila menerima tawaran Dave. Masuk dalam mobil, duduk bersebelahan di kursi belakang.
"Apa masih sakit?"
__ADS_1
"Tidak, Tuan."
Itu belum seberapa, aku masih harus membuatmu duduk di kursi roda.
Dalam perjalanan, Dave masih memperhatikan wanita disampingnya. Arshila yang duduk membisu dan memandang keluar. Wanita itu, sama sekali tidak melirik atau membuka pembicaraan diantara mereka.
Sampai akhirnya, mereka tiba. Sebuah rumah mewah, dengan pagar tembok yang menjulang tinggi, mengelilingi rumah.
"Kamu tinggal disini?"
"Saya hanya menumpang, Tuan." Arshila membuka pintu mobil. "Terima kasih, atas tumpangannya."
Arshila berjalan pergi, tanpa menoleh kebelakang. Pintu gerbang terbuka, ia terus berjalan, hingga menghilang dari balik pintu pagar.
"Jalan."
Tian kembali mengendarai, melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda karena drama ditengah jalan.
"Bagaimana dengan putra Nyonya Arthur?"
"Saya sudah mengurusnya, Tuan. Dia sudah masuk rumah sakit siang tadi. Mungkin, Nyonya Arthur akan pergi, malam ini."
"Baguslah. Beri tahu mereka, untuk tetap mengawasi disana. Terutama Alexa dan Nyonya Arthur."
"Baik, Tuan."
Di rumah nyonya Arthur.
Arshila dibuat kaget melihat sebuah koper besar diruang tamu. Dilihatnya Tante Nessa duduk disofa, menunggu kedatangannya.
"Duduk dulu, Shi." Arshila menurut. "Tante harus ke luar negeri. Putraku kecelakaan semalam, dan sekarang ada di rumah sakit."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Entahlah, Shi. Aku sangat cemas, asisten rumah putraku bilang kalau dia belum sadar."
Arshila memeluk tante Nessa, ikut bersedih.
"Tante pergilah. Kasihan dia! Mungkin, anak tante sedang menunggu kedatangan ibunya."
Tante Nessa mengangguk, lalu menyodorkan sebuah amplop.
"Apa ini, Tante?"
"Ini untuk jaga-jaga."
"Tante, seperti Alexa saja. Memangnya, aku mau pergi berperang."
"Bukan itu, Tante punya firasat buruk tentangmu. Ingat Arshila, jangan percaya siapapun selain dirimu sendiri."
"Memangnya, apa yang akan terjadi Tante?"
"Shi, dengarkan aku. Alexa sudah memberitahuku tentang rumah untukmu. Rahasiakan itu, dari siapapun. Jangan pergi ke rumah itu, kecuali kamu sudah tidak memiliki tujuan dan siapa-siapa."
"Saya mengerti, Tante."
Keduanya kembali berpelukan, sebelum berpisah.
__ADS_1
"Tante pergi. Kamu tidak perlu mengantarku, kamu istirahatlah dan ingat pesanku."
Arshila mengangguk, menyusul langkah Tante Nessa yang keluar rumah. Sampai akhirnya, ia melambaikan tangan, saat mobil keluar dari gerbang rumah.
"Nona, mau makan apa?"
"Apa aja, bik."
Arshila menapaki anak tangga, duduk diatas tempat tidur. Ia membuka amplop dan sebuah tas kecil pemberian Alexa, yang belum sempat dibukanya.
Sebuah alamat rumah tertulis pada secarik kertas. Uang tunai dan sebuah kartu debit.
"Alex, kau ini! Memangnya, aku akan kelaparan."
Ia tersenyum, lalu membuka amplop besar pemberian Tante Nessa.
Sebuah surat, yang ditulis dengan tulisan tangan.
...Shi, ini alamat kontrakkan, jika kamu sudah tidak betah di rumah tante. Tante sudah membayar sewanya selama dua tahun....
Arshila kembali tersenyum, dalam amplop ada dua kartu ATM dan kunci rumah kontrakkan. Masih bingung dengan ulah Alexa dan Tante Nessa yang memberikannya uang dan kunci rumah. Seolah suatu hari ia akan kesulitan atau kelaparan.
Ia memasukkanya dalam kotak dan menyimpannya dalam lemari. Jika ini harus rahasia, maka ia akan menyimpannya di rumah tante Nessa.
Setelah selesai, Arshila memasukkan pakaiannya dalam koper. Tidak mungkin ia terus tinggal di rumah ini. Rumah kontrakkan yang disewa tante Nessa sangat dekat dengan butik tempatnya bekerja. Jadi, akan menghemat biaya dengan berjalan kaki.
Ia mengambil kunci rumah kontrakkan dan sedikit uang pemberian Alexa. Ia membutuhkannya untuk membeli perabotan. Karena, waktu gajian masih sangat lama, sebab ia baru seminggu bekerja.
Esok hari, Arshila sudah siap berangkat bekerja dengan mendorong kopernya keluar.
"Nona, mau kemana?"
"Mau ke kontrakkan, Bik. Ngga mungkin, saya numpang terus."
"Saya suruh supir, antar Nona, ya!"
"Tidak usah, bik. Saya sudah panggil taksi."
Arshila menyempatkan sarapan, yang sudah disiapkan. Diatas meja, kotak bekalnya sudah ada seperti biasa.
"Terima kasih, bik, untuk semuanya. Maaf, selama ini saya sudah merepotkan."
"Nona ini bicara, apa. Semua sudah menjadi tugas kami. Harap Nona, jaga kesehatan ditempat yang baru."
"Terima kasih, bik. Saya permisi."
Arshila berjalan keluar rumah, mengangkat kopernya hingga didepan gerbang yang sudah terbuka.
"Kamu mau kemana?"
Suara yang terdengar akrab menghampiri. Pria yang baru kemarin ditemuinya, tanpa sengaja.
"Saya mau pindah, Tuan."
"Panggil Dave."
Pria, dengan wajah tampan dan maskulin mengulurkan tangannya. "Panggil aku, Dave. Arshila."
__ADS_1