
Setelah, tiga pengacara meninggalkan rumah. Dimas merosot diatas lantai. Masa depannya hancur, begitu juga hidupnya. Sang istri, meminta cerai, disaat ia membutuhkan dukungan. Kenapa? Apa karena sudah tidak memiliki apa-apa?
Diatas sofa, ibu menangis histeris. Ia memperhatikan langit-langit rumahnya. Rumah ini adalah peninggalan sang suami, jika mereka mengambilnya, kemana keluarganya akan tinggal.
Dimas mendongak menatap ibunya. Ia memegang lutut sang ibu.
"Bu, uang itu masih ada, kan? Ibu tidak menggunakannya, kan?" Dimas menggoyang kaki ibunya.
Ibu justru semakin menangis. Ia takut menghadapi kemarahan putranya. Uang itu, diberikan setahun lalu. Mana mungkin, masih disimpannya dengan utuh.
"Ibu," teriak Dimas. "Masih ada, kan, bu? Ibu tidak menghabiskannya, kan?"
"Ibu, sudah menggunakannya sebagian," jawabnya sambil terisak.
"Sisa berapa? Ibu tahu, Dimas tidak memiliki banyak tabungan. Semua digunakan untuk kebutuhan rumah."
Ibu tidak menjawab. Ia justru semakin menumpahkan air matanya. Memukul-mukul dadanya, yang terasa sesak.
"Kenapa? Kenapa mereka meminta uangnya kembali? Apa bosmu itu, sudah mengetahui semuanya? Hiks ... hiks .... bagaimana nasib kita sekarang?"
Dimas membisu. Yah, sang presdir sudah mengetahui semuanya. Jika tidak, untuk apa ia meminta kembali uang hadiah dan memecatnya.
"Kita akan tinggal dimana, Dimas? Rumah ini peninggalan ayahmu. Ibu tidak rela, mereka mengambilnya. Kenapa nasib kita begitu buruk? Bahkan, istrimu meminta cerai dalam keadaan begini."
Tangisan ibu semakin kuat, menyalahkan keadaan yang tidak adil pada mereka. Ia terus memukul-mukul dadanya, berteriak meratapi nasib.
"Ini semua, pasti ulah wanita sialan itu! Dia pasti memberitahukan atasanmu. Hanya kita bertiga, yang mengetahui kejadian itu. Kalau bukan dia, siapa lagi!"
Tangan Dimas terkepal. Rasa penyesalan untuk Arshila, beberapa waktu lalu, lenyap sudah. Hidupnya hancur, dan wanita itu yang bertanggung jawab, akan semua hal yang menimpanya.
Dimas teringat, jika Nadia pernah memberitahu mereka. Arshila tinggal di rumah presdir, entah apa alasannya hingga wanita itu berada disana. Tapi, ia yakin seratus persen, jika sang mantan istri, pasti menjadi pembantu.
Tidak mungkin, seorang presdir mau menampung seorang pembunuh calon istrinya. Yah, dia pasti balas dendam pada Arshila, hingga wanita itu tidak sanggup dan akhirnya membuka mulut.
Sial!! Seharusnya, aku mengirim Arshila kembali dikampung halamannya. Dimas memijit pelipisnya. Suara tangis sang ibu, membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Ibu, berhenti menangis!" ujar Dimas, yang sudah bangkit dari posisinya.
"Kau mau kemana?"
"Berikan buku rekening ibu. Aku harus tahu berapa uang yang ibu habiskan. Kita harus menyelamatkan rumah ini."
"I .... ibu." Kalimat ibu menggantung. Ia takut akan reaksi sang anak saat melihat buku rekeningnya.
"Jangan menghabiskan waktuku!"
__ADS_1
Dimas melangkah lebih dulu, menuju kamar ibunya. Disusul, wanita paruh baya itu, yang menyeret langkahnya.
Ibu membuka lemari, mengambil sesuatu dibawah lipatan baju. Lalu, memberikannya ada Dimas.
"Hanya ini?" Dimas membelalak. Buku rekening ditangannya jatuh diatas lantai. "Bu, selama ini, Dimas memberi uang yang cukup, untuk keperluan ibu. Tapi, kenapa? Ibu menghabiskan uang sebanyak itu, untuk apa?" Suara Dimas bergetar, menekan amarah.
"Ibu tidak tahu, hal seperti ini akan terjadi. Ibu pikir, semua akan baik-baik saja. Ibu pikir, wanita itu tidak akan membuka mulutnya." Ibu tertunduk menyalahkan nasib dan mantan menantunya.
Dimas mengacak rambutnya, frustasi. Kemana ia akan mencari tambahan uang, sebanyak itu. Tabungannya pun, tidak akan cukup.
Buku rekening, kembali diambil Dimas. Berjalan keluar, tanpa mengatakan apa-apa. Ia menyambar kunci motor, pergi tanpa berpamitan.
Dimas kembali menuju rumah orang tua Nadia. Menyalip kendaraan didepan, dengan kecepatan tinggi. Padahal lalu lintas, sedang padat. Karena, jam pulang kantor di sore hari.
Tiba dihalaman, Dimas memperhatikan mobil sang istri masih terparkir, seperti terakhir kali, ia datang.
Tok, tok, tok.
Dimas mengetuk dengan keras, menuntut agar pemilik rumah segera keluar. Belum terbuka. Dimas mengetuk sambik berteriak memanggil nama istrinya.
"Den, Dimas?" Pelayan rumah, baru saja membuka pintu. Dimas langsung masuk tanpa menjawab.
"Mana, Nadia?" tanyanya dengan nada kasar.
"Saya tidak tahu. Non Nadia, tidak pernah pulang ke rumah. Bahkan, tidak datang mengambil mobilnya. Ibu juga pusing, karena non Nadia, tidak memberi kabar."
Kamu kemana, Nadia? Bersembunyi dariku. Lihat saja! Aku tidak akan menceraikanmu. Brak! Pintu lemari, tertutup dengan suara nyaring.
"Ibu kemana?" tanya Dimas lagi.
"Ibu pulang kampung. Katanya, ada urusan keluarga."
Cih!! Bisa-bisanya, wanita itu pulang kampung, mengurus urusan keluarganya. Ketimbang, putrinya yang kabur dan meminta cerai.
Dimas keluar rumah, tanpa berpamitan. Ia langsung mengambil motornya. Dan kembali melaju, tanpa tujuan. Berhenti sebentar, ditepi jalan.
Aku harus mencarinya, kemana? Aku butuh uang, untuk mengembalikannya pada presdir. Dimas mematikan, mesin motornya. Pikirannya kalut, dengan beban yang menggunung. Ia butuh Nadia, untuk membantunya dan juga ingin mempertahankan pernikahan mereka.
Ia dipecat, bahkan namanya di blacklist. Ia kesulitan mencari pekerjaan nantinya. Beda dengan Nadia, sang istri masih bisa mencari pekerjaan lain. Itulah kenapa, ia mati-matian mencari sang istri.
Andai saja, aku tidak mengikuti saran ibu, mungkin semua akan baik-baik, saja. Meski, ia dipenjara, hidupnya tidak akan sesulit sekarang.
Tinggu!!
Semua karena Arshila. Wanita itu!! Amarah Dimas terpantik, saat ingatan sang mantan istri terlintas.
__ADS_1
"Kita berdua, sudah hidup dengan baik. Tapi, kau membuka mulut sekarang, untuk apa? Aku ingin mendengarnya Arshila!! Seharusnya, kau bertahan demi putri kita. Tapi, kau memikirkan hidupmu sendiri?" Dimas berteriak dengan kerasnya. Ia mengeluarkan kebencian pada wanita itu. Wanita yang menjadi penyebab kehancuran hidupnya sekarang.
Setelah puas, ia kembali menyalakan mesin motornya. Melaju dengan kencang dan menyalip, diantara kendaraan.
Sebuah rumah, mewah berlantai tiga, terlihat dari kejauhan. Dimas berhenti sesaat, memperhatikan keadaan depan rumah. Pagar menjulang tinggi dan beberapa petugas keamanan.
Aku tidak peduli. Aku sudah dipecat. Dia bukan atasanku lagi! Dimas mendoktrin pikirannya. Ia harus menemui mantan istrinya itu. Melihat seberapa baik hidupnya sekarang, hingga ia membuka rahasia yang sudah lama tersimpan dengan rapi.
Dimas memarkir motornya, tepat didepan pintu pagar.
"Pak, tolong jangan parkir didepan!" Petugas keamanan, memintanya memindahkan motornya.
Dimas tidak menggubris. Ia berjalan menuju pintu pagar.
"Anda mencari siapa?"
"Aku mencari Arshila. Aku ingin menemuinya. Katakan, padanya untuk keluar!"
Para petugas keamanan, saling berpandangan. Salah satu dari mereka menunu pos untuk melapor. Yang lainnya, meminta Dimas untuk pergi.
"Maaf, tidak ada nama Arshila, disini. Silahkan pergi!" Petugas itu, menarik tubuh Dimas agar pergi.
"Jangan membohongiku! Aku tahu dia didalam." Dimas meronta. "Arshila. Shila. Keluar kamu!!" teriak Dimas, hingga mereka menyeret tubuhnya hingga ke tepi jalan.
Pintu pagar, terbuka. Dimas tersentak, melihat siapa yang keluar menyambutnya.
"Presdir. Maaf, jika aku mengganggu. Biarkan, aku bertemu Arshila. Dia bekerja disini, kan? Aku mantan suaminya. Ada yang perlu, aku katakan."
Liam bergeming. Ia menatap lurus, sembari memperhatikan Dimas.
"Pak Yus," panggil Liam. "Panggil Arshila, keluar! Aku tidak mau ada keributan dirumah."
"Baik, Tuan."
Pak Yus berlari masuk dalam rumah. Sementara, Dimas mengucapkan terima kasih, dengan raut wajah cerah.
Pak Yus datang. Dibelakangnya, ada dua wanita dengan seragam pelayan.
"Yang mana, mantan istrimu?" tanya Liam.
Dimas memperhatikan kedua wanita itu. Mereka bukan wanita, yang ia cari. Sebenarnya, apa sedang terjadi? Jelas-jelas, Nadia mengatakan melihat Arshila di rumah ini. Apa presdir sedang membohonginya dan menyembunyikan mantan istrinya itu? Tapi, untuk apa? Tidak ada untungnya, bagi keluarga mereka.
"Maaf, Presdir. Tapi, bukan mereka yang saya cari."
"Mereka berdua bernama Arshila dan bekerja disini baru setahun," jelas Liam
__ADS_1
Dimas membeku, bingung harus menjawab apa. Sepertinya, ada yang salah. Tapi, tidak tahu dimana kesalahan itu!