Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 97. Syok


__ADS_3

Dihalaman samping rumah, sebuah mobil mewah terparkir. Arshila menoleh, ketika pintu rumah itu, dibuka seseorang.


"Ellino!!" Keduanya tersentak bersamaan, dengan memikirkan hal yang berbeda.


Kenapa pria sialan itu, berada disini? Kamu sudah terlalu jauh, melangkah Ellino Malvinder. Ingin berebut wanita denganku, sampai kau harus berjalan sejauh ini?


Kenapa Ellino, berada dirumah orang tuaku? Apa dia yang membelinya? Tapi,


Dave mencegah Arshila untuk turun dari mobil. Ia tidak ingin, mereka bertemu lagi. Apalagi, Ellino sepertinya sudah bertekad untuk mengejar sang istri. Terbukti, ia bahkan membeli rumah orang tua Arshila. Yang artinya, ia sudah banyak mengetahui tentang sang istri.


"Aku ingin menanyakannya langsung," ujar Arshila.


"Biar, Tian yang melakukannya." Dave mengeratkan genggamannya. Ia memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk turun.


"Apa kamu masih tidak percaya padaku?"


"Bukan itu. Aku hanya tidak ingin, ia melihatmu," kilah Dave.


"Kita turun bersama."


Mau tidak mau, Dave terpaksa membuka pintu mobil. Dimana Tian dan pak Yus, sudah menunggu mereka.


Dari teras rumah, Ellino mengerutkan alisnya. Memperhatikan dua buah mobil berhenti didepan. Ia tersentak saat Tian dan pak Yus turun.


"Kenapa dia ada disini?" ujarnya, karena sudah mengetahui, siapa yang berada dibalik pintu mobil tersebut.


Ellino membeku, saat melihat Arshila turun bersama Dave. Pikirannya sibuk menerka-nerka.


Dave menggandeng tangan sang istri, dengan sorot mata tajam seperti elang, yang ingin mematuk wajah pria itu. Berani sekali, dia!! Batinnya, berteriak emosi.


"Kenapa kalian berada disini?" tanya Ellino.


"Seharusnya, aku yang bertanya." Dave maju selangkah. Dengan rahang yang sudah mengeras. Amarahnya terpantik, ketika melihat wajah Ellino. "Kenapa kau membeli rumah orang tua istriku?"


"O ... orang tua?" Pandangan Ellino bergeser menatap Arshila. Wanita itu, tengah menahan air mata.


"Arsya," ucap Arshila.


Dave memundurkan langkahnya, raut wajahnya berubah drastis. Ia menoleh, menatap Ellino yang mematung.


"Arsya," ujar Arshila lagi, beriringan air matanya yang sudah mengalir.


Ellino tidak menjawab. Air matanya menetes. Sudah lama, ia tidak mendengar nama itu. Dan hanya, sang kakak yang mengetahuinya. Ellino syok dan bingung. Perasaannya bercampur aduk, bahagia dan haru menyelimuti kalbunya.


"Kak Shi." Berhenti dihadapan Arshila, dengan tangan menyentuh wajah yang selama ini, ia rindukan. "Kak Shi, apa benar? Apa benar, ini kamu?"

__ADS_1


Arshila mengangguk, pipinya basah karena lelehan air mata. Ellino ikut menangis, lalu memeluk erat sang kakak.


Keduanya berpelukan erat, sambil menangis.


Dave membeku, menatap pemandangan didepannya. Ia syok sekaligus bingung, harus berbuat apa.


Kenapa harus dia? Diantara, banyaknya manusia, kenapa harus dia, yang menjadi adik iparnya?


Hal yang sama juga dirasakan Tian. Ia juga merutuki kebodohan dan kecerobohannya. Seandainya, ia mau bersabar sedikit saja, semalam. Hal ini, dapat dicegah. Sekarang, sudah terlambat.


Ellino dan Arshila melerai pelukan, keduanya masih terisak.


"Kenapa aku tidak mengenalmu? Padahal, kamu sudah berdiri dihadapanku." Arshila memegang wajah adiknya, dengan kedua tangan merapat dipipi sang adik.


"Maafkan aku, Kak."


"Kakak yang harusnya minta maaf, karena meninggalkanmu."


"Hiks, hiks, waktu itu. Aku hanya ingin membantumu. Tapi, aku tersesat dan tidak tahu arah pulang." Ellino mulai menceritakan, awal dia menghilang dari kampung halamannya.


"Tidak apa. Kita sudah bertemu. Kakak tidak menyangka hidup kamu menjadi lebih baik dan bisa mendapatkan kembali rumah orang tua kita."


"Ayo, masuk, Kak."


Ellino meraih tangan Arshila, masuk dalam rumah. Sementara, Dave memilih untuk duduk diteras rumah. Ia terlalu syok dengan fakta tentang Ellino. Pria yang sangat dibencinya, sampai ke sum-sum tulang.


"Tian." Dave memijit pelipisnya. "Cari tahu, tentang Ellino. Aku mau mengetahuinya, saat ini juga."


"Baik, Tuan."


Dave masih mendengar percakapan Arshila dan Ellino didalam. Mereka menceritakan masa kecil, hingga hidup yang telah mereka lalui.


Sesekali mereka tertawa, lalu kembali menangis. Entah berapa lama, mereka akan melepas rindu? Dave frustasi.


Ia mulai memikirkan hal-hal yang menakutkan. Pikirannya melalang buana. Ellino dan dirinya adalah musuh. Bagaimana seorang adik akan membiarkan saudaranya, hidup bersama dengan musuhnya?


Kenapa harus dia? Ingin rasanya, Dave berteriak. Ia bahkan sudah merasa tidak tenang, dengan status Ellino yang menjadi saudara kandung Arshila.


Dia dulu cemburu, karena Ellino adalah pria yang merebut Clarissa darinya. Sekarang, ia tidak cemburu, tapi takut menguasai pikirannya. Bagaimana jika Ellino mengambil Arshila darinya? Apalagi, pria itu tahu betul, apa yang dialami Arshila, selama menikah dengannya.


"Kak, lihat itu!" tunjuk Ellino pada foto yang menggantung di dinding.


"Aku pikir, mereka sudah dibuang. Dari mana kamu mendapatkannya kembali?"


"Nenek Umi, yang memberikannya. Dia mengambilnya saat rumah ini dijual."

__ADS_1


"Benarkah? Aku ingin bertemu dengannya."


"Dia sedang ke sawah. Sebaiknya, Kakak masuk. Aku ada sesuatu didalam."


Arshila tertegun. Ternyata, Ellino sudah menyiapkan kamar untuknya. Kamar yang bersebelahan dengan kamar orang tua mereka dulu.


"Ini masih sama, Kak. Hanya perlengkapannya saja yang berbeda."


"Terima kasih, Ar. Tadinya, aku hanya ingin mampir sebentar, melihat rumah ini. Tidak disangka, justru kita bertemu. Aku merindukanmu."


"Aku sudah lama membeli rumah ini dan merenovasinya. Aku tidak mengubahnya, agar Kakak bisa mengenalinya."


"Terima kasih, karena sudah melakukan itu. Kakak tidak percaya, kamu adalah adikku. Padahal, kita sudah sering bertemu dan menjadi teman."


Keduanya tertawa, mengingat masa pertemuan mereka. Apalagi, Ellino yang sempat berpikiran untuk memanfaatkan Arshila, untuk membalas Dave.


Arshila masuk dalam kamar. Posisinya masih sama, hanya barang-barang didalamnya saja yang tampak berbeda. Karena lebih mewah.


"Kakak menyukainya?"


"Tentu saja. Apa aku boleh menginap?"


"Kakak, ini rumahmu. Kenapa kamu harus bertanya?"


Didepan pintu kamar, Dave hanya bisa membisu dengan tangan terkepal erat. Ia menahan diri, untuk tidak lepas kendali. Ia marah tapi bukan kepada orang lain. Melainkan pada dirinya sendiri dan nasib yang seolah sedang mempermainkannya.


"Kak, bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Aku baik-baik saja. Dave mengantarku untuk melihat ibu dan ayah."


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik, selama ini?"


Deg.


Jantung Dave terpacu, inilah yang ia takutkan.


"Arsya. Saat ini, jangan membicarakannya. Aku ingin mendengar cerita darimu."


"Tinggalkan dia!"


Duarr.


Dave terasa sesak, jantungnya berdegup kencang. Ia masih membisu, mendengarkan percakapan kakak beradik didalam kamar.


"Aku memang akan meninggalkannya. Untuk itulah, aku kembali."

__ADS_1


Jedaarr.


"Benar, Kak. Tinggallah bersamaku. Kita sudah lama berpisah, sekarang biar aku yang menjagamu."


__ADS_2