Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 98. Berpisah dengan syarat


__ADS_3

Di sebuah apartemen, yang baru saja dihuni beberapa hari yang lalu.


Nadia baru saja tiba, bersama putri kecilnya. Karena tuan dan nona muda, pergi ke kampung halaman, nona muda. Jadi, Nadia memutuskan untuk pulang diapartemen.


Apartemen berada digedung yang sama dengan sekretaris Tian. Bahkan, mereka bertetangga. Entah mengapa, pria itu mencari apartemen, yang justru berdekatan dengannya.


"Selamat pagi, bik."


Nadia disambut oleh pengasuh putrinya, yang beberapa hari ini ditinggal sendirian, sejak ia memutuskan untuk tinggal di apartemen.


"Pagi, Non. Baguslah, Anda sudah pulang. Saya takut, Non. Sendiri di rumah."


"Iya, bik. Maaf. Saya harus menemani ibu kandung Nadin." Nadia langsung membawa sang putri untuk tidur dikamar. Karena gadis kecil itu, masih terlelap, saat keluar dari kediaman Dave. "Apa ibu kemari?"


"Iya, Non. Ibu membawa pakaian dan beberapa barang."


"Baiklah. Terima kasih, bik."


Nadia ikut membaringkan tubuhnya, disamping sang putri. Pikirannya berkeliaran, tanpa pasti. Ia bingung dengan statusnya, saat ini. Ingin bercerai tapi tidak mudah. Karena, ia tidak memiliki alasan yang kuat. Satu-satunya cara, ialah menunggu sampai Dimas menceraikannya. Tapi, pria itu sama sama sekali tidak berniat berpisah.


Bel apartemen berbunyi. Nadia langsung bangkit, untuk mengecek siapa yang begitu pagi, datang berkunjung.


"Ibu," sapa Nadia.


"Kamu membuat ibu, seperti seorang buronan. Tiap pergi, harus waspada."


Ibu mengomel dulu, sebelum akhirnya masuk.


"Maaf, bu. Aku belum siap, menghadapi mas Dimas."


"Mau sampai kapan, Nadia? Ibu stress terus meminta bibik untuk berbohong. Bahkan, ibu harus bersembunyi di rumah ibu sendiri.


"Aku mengerti, bu. Beri aku waktu."


"Ibu dengar, Dimas dan keluarganya sudah pindah rumah. Dan ibunya, ditahan dikantor polisi."


"Ap-apa?" Nadia menatap ibu, meminta penjelasan lebih.


"Ibu juga tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Ibu hanya mendengar dari para tetangga. Tapi, sepertinya itu benar, karena rumah mereka sudah kosong."


Nadia kembali ke kamar, mencari ponselnya. Ia akan menghubungi pengacara dan mengajaknya bertemu. Selesai, Nadia menyambar tasnya diatas meja.


"Kamu mau kemana, Nad?"


"Aku ada urusan, bu. Titip, Nadin."

__ADS_1


Nadia sudah melesat keluar, tanpa mempedulikan sang ibu yang masih memanggilnya.


Disebuah cafe, masih sekitar kompleks gedung apartemen. Nadia memesan jus alpukat, seraya duduk menunggu. Ia membuat janji dengan pengacara, untuk bertemu.


"Maaf, bu. Saya terlambat."


"Tidak apa, silahkan duduk. Anda mau pesan apa?"


"Jus jeruk saja, Bu "


Nadia memanggil pelayan, memesan sesuai permintaan sang pengacara.


"Ada apa, Bu?"


"Bagaimana dengan berkas perceraianku?"


"Semua sudah lengkap, hanya suami Anda tidak mau menandatanganinya. Jika lewat pengadilan, hakim akan menolak gugatan ibu. Karena tidak memiliki alasan yang kuat."


Nadia menghela napas berat. Sebenarnya, apa mau Dimas, hingga tidak mau bercerai. Jika alasan cinta, itu terlalu omong kosong, karena dari awal dia telah menipunya.


"Aku harus bagaimana?"


"Sebaiknya, ibu bertemu dengan suami Anda dan membicarakannya."


"Baiklah. Terima kasih."


Nadia memarkir mobil, didepan pagar rumah. Melangkah masuk dengan pasti.


"Kau masih ingat pulang?" Suara mengintimidasi menyambutnya. Pria yang tampak sudah tidak pernah lagi, memperhatikan penampilannya.


"Karena kita masih memiliki urusan."


Dimas menarik tangan Nadia dengan kasar, masuk dalam rumah. Ia menghemoaskan tubuh wanita uang masih berstatus istrinya itu.


"Kenapa? Apa karena aku sudah tidak memiliki apa-apa? Kau ingin membuangku?"


"Mas tahu pasti, kenapa aku ingin berpisah?"


"Yah, aku tahu." Dimas mengeraskan rahangnya dengan wajah memerah. "Karena kau sudah tidur, dengan sekretaris sialan itu." Suara Dimas meninggi, Nadia mundur selangkah karena tersentak. Ini pertama kalinya, Dimas berteriak padanya.


"Apa maksudmu?" Tidak terima, Nadia ikut meninggikan suaranya.


"Jangan berpura-pura bodoh, Nadia. Kau pikir aku tidak tahu kelakuanmu. Kau menginap di apartemennya dan berpura-pura polos didepanku. Dasar murahan!!"


Nadia mendongak, menahan air matanya. Ia tidak mengerti, kenapa suaminya, berpikiran sampai sejauh itu? Tapi, karena ingin berpisah, Nadia akan mengiyakan, agar Dimas merasa jijik padanya.

__ADS_1


"Kalau kau sudah tahu, maka mari berpisah."


"Hahahaha." Dimas tertawa hambar, sorot matanya yang tajam kembali menatap istrinya. "Semudah itu? Jangan mimpi. Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu. Hiduplah dengan status yang tidak jelas, hahahaha."


Nadia membeliak. Dimas yang selalu lembut padanya, bisa bersikap seperti ini? Apa selama ini adalah topeng yang ia gunakan?


"Maka, hiduplah dengan sengsara," balas Nadia yang tidak kalah pedasnya.


"Kau, ..." Dimas menatap nadia dengan nyalang.


"Aku akan membantumu, menebus rumah dan mengembalikan uang presdir. Apa itu cukup?"


"Kau sedang tawar menawar, Nadia. Apa kamu sangat ingin hidup bersama dengannya?"


"Jangan bertingkah, seolah kau sangat mencintaiku. Bukankah, itu alasanmu untuk mempertahankan hubungan kita. Kau membutuhkan bantuanku? Apa aku salah?"


Dimas membuang muka. Memang benar, tapi ia tidak ingin mengakuinya. Sudah cukup, memalukan dengan keadaannya sekarang. Ia tidak mau, harga dirinya semakin jatuh terinjak.


"Baiklah, sampai ketemu dipengadilan." Nadia beranjak pergi. Tapi, langkahnya tertahan, oleh Dimas yang meraih tangannya


"Oke. Kita berpisah dengan syarat itu."


"Aku masih ada permintaan?"


"Apa itu?"


"Aku ingin hak asuh anak," tegas Nadia, yang tidak mau kehilangan putri kecilnya.


"Apa kau gila? Dia bukan putrimu. Aku tidak bisa menerimanya."


"Lalu, bagaimana kau akan menghidupinya dengan keadaanmu yang seperti ini? Berpikirlah, dengan realistis."


Dimas tertunduk dalam. Tersadar akan kehidupannya sekarang, yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan, ia akan kesusahan mencari pekerjaan. Semua anggota keluarganya, bersandar padanya, yang sendiri bingung harus berbuat apa. Tapi, putri kecilnya? Mana mungkin, ia membiarkannya diasuh orang lain. Yang tidak memiliki hubungan darah, dengan anaknya.


"Dia bukan darah dagingku, tapi kau tahu dengan jelas, bagaimana aku menyayanginya!" ujar Nadia lagi.


Dimas masih membisu dengan pikiran dilema. Semua yang dikatakan Nadia, tidak ada yang salah. Tapi, hatinya sungguh berat, untuk memutuskan. Nadin adalah anak satu-satunya. Ia bukan yatim piatu, tapi kenapa harus diasuh oleh orang lain.


"Aku memberimu waktu sampai besok. Pikirkanlah!" Nadia memutar badan. "Temui aku dikantor pengacaraku, jika keputusanmu sudah bulat."


Dimas masih membisu, bahkan setelah Nadia pergi, dia masih membisu. Ia jatuh terduduk diatas lantai, dengan pikiran blank.


Keputusan berat harus ia ambil, tapi?


Dimas berteriak frustasi. Ingin rasanya, ia menghancurkan barang-barang disekitarnya. Tapi, sekali lagi, ia hanya bisa tertunduk dalam. Ia bisa apa, dengan keadaannya yang seperti ini?

__ADS_1


Aku hancur. Apa ini hukuman untukku?


__ADS_2