Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 118. Perasaan semua orang


__ADS_3

Di tempat berbeda, masih dihari yang sama.


Suasana pagi yang sedikit berbeda, dari biasanya. Dave berdiri tegap, didepan awak media yang menyorotinya dengan kamera. Banyaknya wartawan yang duduk dengan, jari diatas keyboard, siap untuk menekan setiap huruf.


"Selamat pagi, semuanya."


Kilatan cahaya kamera, langsung terfokus padanya.


"Sesuai janji saya waktu itu. Hari ini, saya akan mengumumkan, hal yang sangat kalian ingin ketahui." Dave berhenti sejenak. Ia menarik napas, sambil memperhatikan para awak media. "Tentang pemberitaan, mengenai pernikahan saya adalah benar. Mengenai statusnya, yang dulu adalah sebuah kesalahan. Saya pribadi serta keluarga, telah membersihkan kesalahan itu. Saya berharap, tidak ada lagi spekulasi atau pembicaraan yang tidak benar, tentang istri saya."


Suara ketikan diatas papan keyboard terdengar cepat, begitu juga kilatan cahaya kamera yang tidak berhenti.


Para awak media, berlomba-lomba mengangkat tangan, untuk mengajukan pertanyaan.


"Yang berbaju putih, silahkan!" Dave mempersilahkan seorang wartawan untuk bertanya.


"Nona Arshila, adalah pelaku yang ditetapkan setahun yang lalu. Bagaimana Anda bisa tertarik dan menikahinya? Lagipula, beredar kabar, bahwa Anda menikahinya hanya beberapa bulan, setelah dia bebas. Bukankah, ini sedikit aneh?"


"Tuan, Tuan," panggil wartawan lainnya, yang sudah tidak sabar. "Apa benar Anda mencintainya atau Anda punya motif tersendiri? Mengingat, Anda dulu sangat mencintai nona Clarissa, bahkan mengadakan sayembara untuk mencari seorang saksi."


"Saya akan menjawabnya sekaligus." Suasana seketika senyap. "Selama setahun, aku berduka. Selama setahun juga, aku memendam amarah dan dendam pada seorang wanita. Aku menunggunya bebas, untuk meluapkan amarahku yang sudah menumpuk, melebihi bukit." Suara Dave terdengar serak, ia seolah menahan tangis. "Saat dia bebas, aku selalu mengikuti langkahnya, memperhatikan semua yang ia lakukan. Perlahan rasa amarahku, sedikit berkurang. Tapi, aku tidak bisa memaafkan dan menerima kenyataan."


"Tuan, Tuan," teriak para wartawan. Mereka mengangkat tangan meminta kesempatan, saat Dave berhenti berbicara.


"Tuan. Apa Anda menikahinya untuk balas dendam? Apa itu, yang Anda ingin sampaikan?"


"Tuan. Apa benar seperti itu? Bukankah, Anda telah melakukan kejahatan? Melampiaskan, pada orang yang salah?"


Tegang. Itulah yang dirasakan sekretaris Tian. Jika presdir mengaku, maka mata publik akan menyalahkan dirinya. Dan tentu saja, bisa dianggap pernikahan dan rasa cintanya adalah palsu. Jika itu terjadi, maka akan berimbas pada perusahaan. Tapi, bukankah terlalu pengecut untuk berkilah? Dan akan menurunkan rasa percaya nona muda, pada presdir.


"Benar," tegas Dave.


Tian menutup mata. Sementara, para wartawan sudah heboh. Semuanya, tidak sabar untuk melontarkan pertanyaan. Mereka mengangkat tangan sambil berteriak.


"Tuan. Bukankah, Anda sangat keterlaluan?"


"Apa Anda, merasa bersalah sekarang?"


"Lalu, apa maksud Anda mengakui didepan publik?"

__ADS_1


"Aku ingin meminta maaf, pada istriku, dengan benar. Aku ingin dia tahu, penyesalanku dan permohonan maafku yang tulus. Aku ingin menebus semuanya, seumur hidupku. Aku mencintaimu dan maafkan aku, Arshila. Aku ingin, kita memulai hidup yang baru."


Ada rasa haru, bahagia, iri dan sedih yang menyelimuti pada setiap orang yang hadir. Sang presdir mengakui kesalahan, sekaligus meminta maaf dan menyatakan perasaannya pada publik.


"Terima kasih, untuk semua yang sudah hadir ditempat ini. Aku berharap, tidak ada lagi , pemberitaan yang buruk tentang istriku dan tentang keluargaku. Aku meminta maaf, pada kalian semua yang merasa kecewa akan sikapku."


Tian segera maju, memberi isyarat pada para pengawal untuk bergerak.


"Tuan, Tuan. Satu pertanyaan lagi." Seorang reporter berteriak dan berusaha menerobos. Tapi, Dave sudah menghilang dari balik pintu.


Suasana haru, disertai tangis, juga dirasakan Arshila. Ia menonton tv, dalam kamarnya. Pagi tadi, Dave hanya berpesan, agar ia mononton tv. Sebab, ada berita penting. Ia tidak menyangka, jika berita penting itu adalah pengakuan sang suami didepan khalayak.


Ia mengusap-usap perutnya yang masih rata, sembari menghapus air mata.


Aku pikir, semua sudah selesai, dengan permohonan maafmu padaku. Terima kasih, aku berterima kasih dengan kejujuranmu.


Hal yang sama, juga dirasakan Rachel. Ia juga duduk menonton dalam kamar, bersama sang suami. Ia menangis, sambil memaki putranya, jika seandainya ia tidak mau mengaku.


"Mau kemana, Ma?" tanya Liam. Karena, Rachel mendadak pergi, tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku mau melihat menantuku," jawabnya, yang langsung menutup pintu kamar dari luar.


"Sayang," panggil Rachel, yang melangkah masuk dan langsung duduk disebelah sang menantu. "Kamu menangis?"


Arshila mengangguk, tapi tersenyum.


"Aku bahagia, Ma. Aku tidak menyangka, Dave akan melakukan itu, untukku."


"Tentu saja, Nak. Kamu harus bahagia. Putraku bersungguh-sungguh akan penyesalan dan perasaannya padamu. Mama harap, kamu sudah tidak ragu, terhadap perasaannya."


"Iya, Ma."


Hal yang berbeda, justru dirasakan Fira. Wanita itu, sedang menahan amarah sekarang. Tangannya terkepal, dengan napas yang naik turun. Matanya membeliak, menatap layar tv. Saat Dave mengaku, ia sudah melempar gelas, hingga memecah layar tv yang masih menyala.


"Dasar, sial!" teriaknya dengan menggebu-gebu. "Dasar perempuan murahan! Beraninya, menggantikan posisi putriku. Aku tidak terima."


Brak.


Fira menoleh, sosok sang suami menatapnya tajam. Sepertinya, ia mendengar suara barang yang jatuh dari dalam kamar.

__ADS_1


"Sampai kapan, kamu akan terus seperti ini?"


"Aku tidak terima, wanita itu menggantikan posisi putriku. Dia melenyapkannya, agar bisa mengambil kursi miliknya."


Plak.


"Sudah cukup! Kamu sudah melewati batas. 15 tahun, aku melakukan semua keinginanmu. Bahkan, mencoret putri kandungku. Sekarang dengarkan aku!" Bagas mencengkam mulut sang istri. "Aku tahu, selama ini yang kamu lakukan, Fira. Jika kamu mencoba menyakiti putriku, aku akan membuatmu tidak memiliki apa-apa. Ingat itu!"


Fira jatuh terhempas diatas lantai. Wajahnya memucat. Ia tidak bisa melawan balik. Bagas sangat marah, menatapnya nyalang, sudah membuat nyalinya menciut.


"Aku akan membuatmu, tidak memiliki apa-apa."


Apa ini? Apa dia akan menceraikanku? 15 tahun bersamanya, tapi aku tidak mendapatkan apa-apa. Fira menatap kosong sekelilingnya. Jika benar seperti itu, ia akan berakhir menyedihkan. Tapi, ia tidak bisa menerima, Alexa yang menang darinya.


Dilantai atas, Alexa yang ikut menyaksikan melalui layar tv, merasa bahagia. Akhirnya, semua selesai dan berakhir bahagia.


Ia meraih ponselnya, menelpon satu persatu sahabatnya. Mulai dari Yessi, Jian dan tante Nessa. Mereka ikut terharu dan tidak sabar, ingin bertemu Arshila.


"Pulanglah dan kita bisa berkumpul bersama," ujar Alexa pada Jian dan Yessi, melalui panggilan video.


"Beritahu, kak Shi, untuk mengundang kami diresepsi pernikahannya. Kami akan pulang saat itu."


"Baiklah, aku akan memberitahunya. Tapi, janji kalian akan datang."


"Tentu saja, Kak. Tante Nessa, juga akan pulang." Jian tiba-tiba menjadi semangat. "Kak, Kak Alex. Apa sudah pernah melihat anak tanta Nessa?"


"Belum. Memangnya, kenapa?"


Yessi dan Jian sudah menjerit, wajah mereka didalam layar, sudah tersenyum tidak jelas.


"Kak, astaga, dia sangat tampan. Jantungku tidak kuat."


Mereka tertawa bersama, Apalagi, Jian yang wajahnya memerah karena malu.


"Ketampanannya, hampir sama dengan CEO Elf Group," timpal Yessi. "Ngomong-ngomong, apa hubungan kak Shi dengan CEO itu?"


"Dia adiknya."


"APA??"pekik keduanya.

__ADS_1


__ADS_2