Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 30. Kisah yang lain


__ADS_3

Alexa masih diluar negeri, menemani sang ibu yang tengah membuka usaha restorant. Sudah hampir sebulan keberadaanya ditempat ini, tapi belum ada informasi tentang sang ayah yang panik karena kehilangan hartanya.


"Wah, orang-orang tante Nessa, sangat hebat." Tulisnya, pada grup chat mereka.


Tak lama, komentar berlanjut.


"Kak, Shi. Udah dua hari tidak komen. Sibuk, yah?" Jian membalas


"Ya, hpnya juga tidak aktif dari kemarin," timpal Yessi.


Alexa pun, ikut penasaran, kemana wanita itu? Ia memang mengirim pesan semalam, tapi tidak dibalas. Alexa masih berpikir positif, mungkin dia sudah tidur.


"Tante Nessa??"


"Tante lagi sibuk, kak. Anaknya yang kecelakaan, katanya sudah sadar tapi tidak ingat apa-apa. Kata dokter, dia amnesia,"


"Yang benar, Jes?"


"Benar, kak. Semalam aku baru mengobrol, karena hp kak Shi tidak aktif."


Alexa mengakhiri obrolan mereka, perasaannya diliputi kegelisahan. Ia mencari kontak tante Yuri, yang sempat dimintanya pada tante Nessa.


"Halo,"


"Halo, tante. Saya Alexa, teman tante Nessa."


"Oh, iya. Ada apa?"


"Maaf, tante. Aku mau tanya, Arshila masih kerja ditempat tante?"


"Oh, dia udah mengundurkan diri dua hari yang lalu."


"Kenapa tante?"


"Katanya, sih. Dia mau buka usaha sendiri, karena mantan suaminya udah kasih uang kompensasi."


"Benarkah?" Alexa sedikit ragu. "Aku telepon ponselnya tidak aktif."


"Mungkin dia sibuk. Kamu tahu sendirilah, orang mau buka usaha gimana, repotnya minta ampun. Mungkin juga, hpnya udah lama lobet. Tapi, lupa dinyalakan."


"Syukurlah, terima kasih tante. Maaf, mengganggu."


"Sama-sama."


Sambungan pun terputus, Alexa cukup lega mendengar kabar Arshila, meski ia belum puas karena tidak mendengarnya langsung dari mulut wanita itu.


Alexa kembali menulis pesan dalam grup obrolan mereka. Memberitahu kabar Arshila, yang tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Syukurlah, kak Shi, udah punya usaha sendiri. Aku pikir suaminya, tidak akan memberi kompensasi."


"Aku juga berpikiran yang sama, soalnya dari cerita kak Alex waktu itu, mustahil ia mau memberikan uang."


"Mungkin, dia sudah sadar. Oh, ya, kapan kalian rencana kembali?"


"Papa bilang, aku tidak boleh pulang, jika kuliahnya belum selesai. Jian juga begitu. Mungkin, masih sekitar dua tahun lagi. Bagaimana dengan kak Alex?"


"Aku belum tahu. Aku masih memiliki beberapa urusan. Alangkah bagusnya, jika kita kembali di waktu yang sama dan memberi kejutan pada kak Shi."


"Ah, aku menantikan hari itu."


"Aku juga, sudah tidak sabar."


Ketiganya saling membalas percakapan, membicarakan hal yang akan dilakukan hari ini dan rencana mereka selanjutnya.


***


Di sisi, belahan bumi yang lain. Tante Nessa tampak sedih dengan keadaan putra semata wayangnya. Bahkan, suaminya yang notabene, hubungan dalam tahap perceraian, terlihat akur. Saling membantu dan mendukung satu sama lain, untuk kesembuhan putra mereka.


Sammy, sudah bangun dari tidurnya yang berkempanjangan. Setelah kecelakaan, ia tidak pernah membuka mata, karena cedera otak yang cukup parah.


Baru seminggu, pria itu mengerjapkan mata. Kedua orang tuanya begitu bahagia, melihat putranya.


Tapi,


Pertanyaan yang membuat, Nessa begitu terpukul.


Anak yang ia rawat berhari-hari tidak mengenalnya, ia juga melupakan nama dan asal usulnya sendiri. Niat Nessa dan sang suami untuk menangkap pelaku yang menyebabkan kecelakaan putra mereka, pupus sudah.


Kecelakaan yang hanya mungkin diketahui Sammy. Karena saat kecelakaan, tidak ada seorang pun ditempat kejadian. Tidak ada CCTV, hingga polisi menyimpulkan, Sammy mengalami kecelakaan tunggal karena mabuk. Terbukti, ditemukan banyaknya minuman alkohol dalam mobil.


Nessa tidak percaya, karena putranya bukanlah seorang pecandu alkohol. Meski, bukti sudah didepan mata, Nessa masih bersikukuh dengan pendiriannya dan berniat mencari tahu sendiri.


"Sam, ini Mama."


Pria itu, hanya menatap tanpa menjawabnya, membuat Nessa merasa sedih. Sammy sudah menganggapnya seperti orang asing. Padahal, setiap kali mereka bertemu, sang putra selalu memeluk karena merindukannya.


"Mama, membawa bubur kesukaanmu. Mama suap, yah!"


Sammy masih tidak menjawab, tapi ia membuka mulut saat ibunya menyuapinya.


Pelan-pelan, ia mengunyah, sambil menatap sang mama yang terlihat menangis.


"Sam, maafkan Mama."


Nessa menghapus air matanya.

__ADS_1


Suara pintu terdengar, Arthur membawa keranjang buah, lalu meletakkannya diatas meja.


"Sam, ini Papa."


Arthur mencium pucuk kepala anaknya. Lagi-lagi, ia hanya menatap tanpa menjawab.


"Cepatlah, sembuh. Papa minta maaf, semua terjadi karena papa meninggalkan kalian berdua."


Penyesalan Arthur yang sudah terlambat, tapi ia berusaha untuk memperbaiki semuanya. Meski, hubungannya dengan sang istri tidak akan kembali seperti dulu.


Arthur yang menikah lagi, mengirim putra semata wayangnya keluar negeri, karena sikapnya yang memberontak. Sammy tidak terima, dengan pernikahannya, yang menurutnya telah mengkhianati sang istri.


Hubungan ayah dan anak pun, semakin renggang, saat Nessa masuk penjara. Istri kedua, melaporkan sang ibu kandung karena telah menganiaya dirinya, hingga cacat pada wajah.


Akhirnya, Sammy memutuskan komunikasi dengan sang ayah. Hubungan mereka pun, semakin menjauh.


Padahal, saat itu Nessa masih bisa bebas dengan mudah. Tapi, ia tidak melakukannya. Dengan alasan, biar putraku semakin membenci ayahnya. Jadi, sikap Sammy yang membenci sang ayah, juga merupakan ulahnya yang sedikit menambahkan bumbu pada derita hidupnya.


"Aku membawakanmu makanan." Arthur memberikannya kotak makan. "Biar aku yang menyuapinya, kamu istirahat saja."


Nessa menerimanya, duduk diatas sofa untuk mengisi perutnya, meski tidak berselera.


Sikap arthur memang tidak berubah padanya, hanya saja bagi Nessa, pengkhianatan adalah dosa yang tidak bisa ia maafkan.


Nessa meraih hp, membaca pesan dalam grup, sekedar membuang rasa letih. Ia mengamati semua pesan yang mereka bicarakan, sebelum berkomentar.


Ah! Akhirnya, Arshila bisa memulai hidupnya dengan baik.


Nessa bernapas lega, salah satu adik yang paling ia cemaskan, sudah memulai hidup barunya dengan baik. Kini, ia bisa fokus untuk memulihkan putranya, agar bisa kembali pulang. Ia juga berharap, setelah Sammy sembuh, ia bisa melanjutkan hidup, tanpa memiliki konflik dengan sang suami.


Mungkin yang terjadi saat ini, merupakan teguran untuknya dan sang suami. Berdamai dengan takdir, mungkin bisa membuat hidupnya merasa damai dan bahagia.


Arthur sudah selesai menyuap sang putra, meski makanan di piring masih bersisa.


"Apa kamu butuh sesuatu?"


"Aku ingin pulang."


Arthur menatap sang istri, isyarat agar Nessa datang menghampiri.


"Dia ingin pulang," ujar Arthur pada sang istri.


"Kita akan pulang, setelah dokter mengizinkan." Nessa membelai rambut putranya. "Mama akan melakukan segala cara, agar kamu sembuh dan kembali seperti semula."


Sammy tidak menjawab, ia memilih berbaring membelakangi kedua orang tuanya. Tidak memiliki ingatan tentang mereka, membuatnya frustasi.


"Aku akan menemui dokter," ujar Arthur.

__ADS_1


Nessa mengangguk, lalu duduk disisi ranjang pasien. Memegang tangan sang putra dengan lembut, sembari berharap akan ingatan Sammy agar segera kembali


__ADS_2