
Hari terakhir, sebagai hari yang dikatakan Dave. Hari, dimana Arshila bisa mengelus janinnya untuk terakhir kali. Wanita itu, seharian menangis, mengelus perutnya yang rata. Bergumam yang hanya terdengar olehnya sendiri.
Jika ditanya tentang perasaannya saat ini, suara tangisan yang menyayat pilu, sudah sebagai jawabannya. Ia merasa hancur, hatinya terkoyak tak berdarah. Tekanan batin sungguh membuatnya mulai berpikir pendek. Apa gunanya ia hidup, tanpa sang buah hati yang menjadi alasannya untuk bertahan. Dunia ini sangat kejam, untuknya. Nasib tidak pernah berpihak padanya. Jadi, untuk apa bertahan lebih lama?
Ia sudah memohon dan bersujud di kaki suaminya. Tapi, pria yang sempat ragu, kembali pada keputusan awalnya.
"Ini anakmu, kumohon percaya padaku. Biarkan dia hidup. Kau bisa tes DNA, setelah dia lahir."
"Aku tidak ingin membuang waktu dan uangku, untuk membuktikan anak harammu. Diantara kalian berdua, aku memilihmu untuk tetap hidup dan menangisi anakmu sebagai hukuman, karena bermain dibelakangku."
Arshila sudah seperti wanita pendosa, yang berselingkuh dan hamil dengan pria lain. Hukuman yang terlalu berat dari selama ini yang ia terima. Ia menjadi pelampiasan dendam, untuk perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Sekarang, anak dalam rahimnya pun menjadi korban.
Sudah cukup, ia tidak sanggup menahan tekanan lagi. Batinnya berteriak, membuat tenggorokannya tercekat.
Dalam kesengsaraan hidupnya, tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan padanya. Ia terkurung dengan penjagaan ketat. Dokter yang merawatnya sudah diganti, karena ketahuan membantunya mencoba melarikan diri. Begitu juga, ibu Lin dan Grace, sudah tergantikan dengan pelayan baru.
Pelayan yang memiliki umur hampir sama dengan mereka, tapi terlihat lebih tegas. Wanita itu melakukan tugasnya, tanpa banyak bicara. Mungkin, karena mendapat perintah atau tidak, Arshila tidak peduli.
"Nona, kami akan memeriksa kondisi Anda." Dokter wanita, tapi sepertinya memiliki usia hampir sama dengannya.
Arshila membisu, menatap dokter didepannya dengan mata sembab. Yah, seperti dirinya yang tidak bisa menolak, wanita didepannya juga sama.
"Nona, kami akan melakukan prosedurnya, siang nanti." Dokter itu berkata tanpa menatapnya. Sebagai sesama perempuan, ia merasa bersalah. Tapi, ia hanyalah seorang bawahan yang mengikuti perintah.
Arshila masih terus membisu, dengan mata terpejam rapat. Hatinya berdenyut perih dan terasa sesak, akan sesuatu yang sungguh tidak mampu ia tahan lagi. Ia mengelus perutnya yang masih rata. Berulang kali, tanpa menyadari air matanya jatuh menetes tanpa permisi. Ia kembali terisak, tanpa melepaskan kedua tangannya dari perutnya.
"Dokter, aku mohon. Selamatkan bayiku! Ia tidak tahu apa-apa, ia tidak bersalah."
Arshila memohon, menangkupkan kedua tanganya didepan, dengan berderai air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Nona, maafkan saya. Tolong, maafkan saya." Dokter itu menunduk, tidak sanggup menatap wajah putus asa dan tidak berdaya didepannya. Ia tidak ingin bernasib sama, dengan dokter sofia dan dokter yang pernah menangani Arshila. Ia hanya seorang manusia, yang membutuhkan pekerjaan, untuk bertahan hidup demi keluarganya.
Sang dokter telah pergi, tanpa memberikan bantuan, meski ia memohon berkali-kali. Dokter itu, hanya bisa meminta maaf. Arshila seperti berpijak, diatas kaca yang retak. Sekali bergerak, kacanya hancur dan membuatnya jatuh kedalam dasar yang tak berujung. Tidak seorang pun, yang bisa menolongnya, selain dirinya sendiri.
Anakku, maafkan ibumu yang terlalu lemah. Tolong, bantu ibu untuk mempertahankanmu!
__ADS_1
Suara denting jam dinding, yang terus bergerak, membuat Arshila mulai cemas. Sebentar lagi, apa yang harus ia lakukan? Ia terus berdoa, memohon pada sang pencipta agar menolongnya. Ia terlalu lemah dan tidak berdaya.
Arshila melirik, sebuah keranjang buah yang masih terisi penuh, diatasnya bertengger sebuah pisau. Ia bangkit, menyambar buah apel dan pisau bersamaan.
"Nona, tolong, letakkan pisaunya. Biar saya yang mengupasnya."
Arshila hanya menggeleng, suara tangis yang belum reda, membuatnya enggan menjawab. Ia terus menggerakkan tangannya, mengupas buah untuk dimakan terakhir kalinya.
"Nona."
Empat orang berseragam putih mendekat, dengan membawa kursi roda. Perempuan, salah satu diantara mereka berjalan ke arahnya.
"Nona, silahkan."
Arshila bergeming, ia fokus memakan buahnya. Para dokter, masih menunggu. Mereka, membiarkan Arshila menghabiskan buahnya.
"Nona, apa Anda butuh sesuatu lagi?"
Pelayan itu membuka suara, karena Arshila tidak kunjung bergerak meski buah ditangannya sudah habis.
"Nona." Mereka menjerit bersamaan, saat Arshila mengarahkan pisau dihadapan mereka.
"Nona, saya mohon. Tolong, letakkan pisaunya! Anda bisa terluka."
Pelayan itu mengulurkan tangan, tapi tak disambut. Hingga akhirnya, ia berlari keluar meminta bantuan pengawal.
"Nona, tolong. Kita bisa membicarakannya."
Para dokter, ikut menenangkan. Tapi, wanita didepannya sama sekali bergeming. Pisau sudah berpindah, mengarahkan pada lehernya sendiri.
"Nonaaa." Mereka berteriak bercampur panik.
Para pengawal tidak bisa berbuat banyak, satu goresan saja, sudah membuat hidup nona mereka terancam.
Arshila tertawa bercampur tangis. Ia menertawakan hidupnya yang begitu tragis. Orang-orang didepannya, takut ia terluka. Padahal, hati dan batinnya sudah berdarah-darah.
__ADS_1
"Nona, kami mohon!"
"Mundur!"
Sreettt.
Arshila menggores telapak tangannya, hingga darah bercucuran.
"Nona." Mereka semakin panik dan takut, tapi Arshila menatap mereka tanpa ekspresi.
Pelayan baru, langsung menyambar ponselnya. Menghubungi tuan muda, yang menjadi sumber masalah.
Dokter perempuan, mengarahkan temannya untuk pergi, mengambil peralatan. Mereka harus bersiap dengan segala kemungkinan. Wanita yang sudah putus asa, tidak dapat berpikir jernih, sekuat apapun mereka mencegahnya.
"Nona, kami akan membatalkan prosedurnya. Tolong, sadarlah! Saya akan membantu Anda."
Dokter wanita itu, maju selangkah. Tapi, Arshila kembali mengarahkan pisau di lehernya.
"Nona." Dokter itu, kembali mundur.
Arshila tidak sedang main-main atau sekedar mengancam. Ia tidak bisa lagi menanggung sesuatu yang membuatnya tersiksa dan mati perlahan. Jalan kematian adalah cara untuk mengakhiri penderitaannya. Ia bisa hidup bersama dengan bayinya diakhirat sana. Begitulah, pikirannya saat ini. Kehidupannya tidak berhenti hanya karena ia sudah mati. Ada kehidupan lain, yang diyakininya lebih baik.
Di kediaman Dave.
Pria itu, menjatuhkan dirinya diatas lantai. Wajahnya pias, ditambah air mata yang menganak sungai dipelupuknya. Ia menggeleng, menghalau fakta didepan matanya. Ia memukul dadanya berulang kali, yang terasa kekurangan oksigen.
Mendapat dua kejutan sekaligus, ia seperti terjun bebas dari sebuah gedung pencakar langit. Jiwanya seakan mati, begitu juga raganya yang dingin membeku. Ia tak termaafkan, mati sekali pun, ia tetap tidak termaafkan. Tangisan sang istri, membayangi pikirannya.
"Oh, tidak! Anakku!! Anakku!!"
Dave langsung bangkit, berlari secepatnya. Ia disusul sekretarisnya, yang selalu mendampingi.
"Dia anakmu! Anak kita!" Suara Arshila terngiang dipikirannya.
"Aku mohon, biarkan dia hidup. Kamu bisa tes DNA, setelah dia lahir."
__ADS_1
Dave menangis, dadanya terasa sangat sesak. Ia seperti lupa cara menghirup oksigen. Ia ingin berteriak, mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Anakku! Anakku!!"