Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 104. Tak tersisa


__ADS_3

Meninggalkan keluarga Dave, yang sedang makan malam. Kita berpindah pada keluarga mantan calon istri Dave.


Fira sedang meluapkan marahnya, pada barang-barang dalam rumahnya. Guci-guci dan vas bunga, berserakan diatas lantai, menjadi serpihan kristal.


Para pelayan, memilih untuk menjauh dari pada menjadi sasaran. Siang tadi, nyonya rumah pulang dengan wajah yang memerah.


Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung melempar cangkir, yang berisi teh panas. Hanya napasnya, yang terlihat naik turun karena menahan amarah. Ia terus menelpon seseorang, berulang kali, tapi hasilnya sama. Tidak ada yang mengangkat dan berakhir, dengan ia membanting ponselnya.


"Alexa." Nada rendah, tapi wajah penuh dengan dendam.


Fira baru saja mengetahui, jika anak tirinya, sudah kembali dari luar negeri. Ia juga baru mengetahui, jika saat ini, ia sudah tidak memiliki apa-apa.


Dia yang terlalu sibuk menghabiskan uang. Menjadi lupa diri, akan sesuatu yang penting. Menjadi lengah dan tidak menyadari, jika musuh sudah berbuat lebih jauh, tanpa ia sadari.


Rumah, saham, perusahaan dan properti, atas nama sang suami dan Clarissa, sudah berpindah tangan. Begitu juga saham miliknya. Harta satu-satunya, yang menjadi penunjang hidupnya. Sudah jatuh ditangan anak tiri.


Ternyata, semua penghianat. Tidak menyangka, orang-orang, yang bekerja padanya selama bertahun-tahun adalah orang kepercayaan Alexa. Pengacara, dan asisten pribadinya, adalah orang yang paling ia percaya.


"Hentikan!"


Fira menoleh. Sang suami baru pulang bekerja, berlagak tidak tahu apa-apa.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu padaku?" teriak Fira.


"Apa maksudmu? Dia putriku, pewarisku satu-satunya."


Fira tertawa hambar. Baru sekarang, ia mau mengakui Alexa adalah putrinya. Selama bertahun-tahun, Alexa hanyalah keponakan bukan anak.


"Putrimu? Hahahaha, lucu sekali! Kenapa baru sekarang?"


Bagas membuang muka. Kenapa baru sekarang? Karena, ia sudah menyesali kesalahannya. Meski, sudah terlambat, tapi memberikan warisan pada anaknya adalah hal wajar. Lagipula, ia sudah tidak memiliki penerus lain.


"Aku lelah."


Bagas memilih pergi, tapi sang istri mencegah langkahnya.


"Kau mau membuangku, sekarang? Setelah, bertahun-tahun, kamu mau membuangku seperti sampah, karena tidak berguna lagi."


"Aku tidak pernah mengatakan itu. Lagipula, kenapa kamu mempermasalahkan warisan yang menjadi hak putriku? Kamu masih menjadi ibunya dan mendapatkan hakmu setiap bulannya."


Prangg.


Sebuah vas bunga kembali, mendarat diatas lantai. Bukan itu, yang ia inginkan. Semua harta harus berada dalam genggamannya. Itulah, tujuan hidupnya selama ini.

__ADS_1


"Tapi, kenapa kau memberikan semua padanya? Bagaimana denganku? Aku istrimu!"


"Kita sudah tidak muda lagi. Untuk apa, memiliki harta sebanyak itu. Biar putriku yang mengelolanya. Besok aku akan mengembalikan namanya. Jadi, bersiaplah!"


Bagas melanjutkan langkah. Tidak peduli, dengan air mata bercucuran diwajah sang istri. Toh, hanya harta yang jatuh kepada putrinya, bukan orang lain.


Amarah Fira, tak terbendung lagi. Ia memaki dan mengumpat Alexa. Menghancurkan barang-barang, yang berada didekatnya, sebagai bentuk pelampiasan. Dia yang seharusnya, memiliki segalanya, bukan Alexa.


Andai saja!


Fira mematung, kata andai terlintas dipikirannya. Ya, andai saja, putrinya masih hidup. Ia tidak seperti ini.


Tunggu! Wanita sialan yang menyebabkan awal kehancuran dirinya. Wanita yang statusnya sampai saat ini, belum ia ketahui. Entah dia hidup sebagai pembantu di rumah Dave atau sebaliknya. Sejak mendatangi Dave di rumah sakit. Ia malas untuk mencari tahu, karena Dave memberinya jawaban yang memuaskan.


Tapi, jika dipikir-pikir, sungguh aneh, jika wanita itu bukan siapa-siapa. Tapi, memiliki seorang pelayan pribadi disampingnya.


"Aku melupakan wanita itu!" ujar Fira.


Ia menyeret langkahnya, duduk diatas sofa. Pikirannya teralihkan. Ia akan mendatangi wanita itu. Jika ia ternyata menjadi pengganti putrinya, maka ia tidak akan tinggal diam. Apalagi, dengan keadaannya yang kacau seperti ini.


"Selamat malam, Nona." Suara pelayan terdengar menyambut seseorang. Sudah dipastikan, itu siapa.


Fira mendongak, seseorang yang memancing emosinya, muncul tanpa rasa berdosa. Menarik kopernya, dengan santai. Bahkan, seolah tidak melihat kekacauan dalam rumah.


"Ini sambuatanmu, TAN-TE!" Alexa menyeringai. Jelas sekali ia sedang mengejek wanita ini.


"Murahan!"


"Hahhahaha...., Tante, kenapa? Hati-hati loh, emosi bisa memperpendek umur!" Alexa menghempaskan tangan Fira.


Berjalan pergi, sambil melambaikan tangan tidak peduli.


"Aku akan membalasmu! Lihat saja! Aku akan mengambil semua yang menjadi milikku!"


Fira langsung masuk kamar, menyambar tas dan memanggil pelayan, untuk menyiapkan mobil. Ia harus menemui Dave dan wanita itu. Ia bisa memanfaatkan mantan menantunya. Meminta bantuan, untuk keadaannya yang sedang hancur.


Supir sudah keluar halaman, melaju dengan kecepatan sedang.


"Apa kau bisa cepat? Bisa tengah malam kita tiba, jika kau lambat."


"Maaf, Nyonya."


Fira masih dikuasai emosi, untung dia tidak menyetir. Jika iya, entah bagaimana ia akan melaju saat ini.

__ADS_1


Mereka sudah tiba. tapi tidak dipersilahkan masuk halaman. Bahkan, pintu pagar masih tertutup.


"Buka!" perintah Fira pada petugas keamanan di rumah Dave. Orang-orang, ini pasti mengenalnya dan membuka pagar dengan cepat.


"Maaf, Nyonya. Tuan sedang tidak ada dirumah. Silahkan kembali!"


"Kalian mengusirku!" Fira membanting pintu mobil saat keluar. Amarahnya bertambah dua kali lipat. "Kalian tidak tahu, siapa aku! Aku ibu Clarissa. Sekarang, buka pintunya!"


Para petugas keamanan, hanya saling menatap. Salah satu dari mereka kembali ke pos, untuk melapor dalam rumah.


"Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa masuk!"


"Mana Dave? Panggil dia! Berani memperlakukanku, seperti ini!"


"Tuan sedang tidak ada di rumah. Anda bisa kembali atau menunggu disini."


Kurang ajar! Habis sudah, kesabaran Fira. Napasnya yang naik turun dengan wajah memerah. Suaranya pun hampir habis, karena berteriak. Ia kembali masuk dalam mobil, karena tidak tahu harus berbuat apa.


Ia tidak bisa kembali, dengan keadaan begini. Apalagi, Alexa sudah kebali ke rumah. Gadis itu, sudah tidak seperti dulu, yang penurut dan takut padanya.


Tapi, jika harus menunggu seperti ini. Ia merasa harga dirinya, diinjak-injak. Apalagi, ia sama sekali tidak dipersilahkan masuk.


"Bagaimana, Nyonya?"


"Kita menunggu. Mundurkan mobil, jangan menghalangi jalan."


"Baik, Nyonya."


Fira bersandar, memejamkan kedua matanya. Ia terus menarik napas, seolah meredakan amarahnya.


Tenang, Fira! Tenang! Hanya Dave, yang bisa membantumu. Gumamnya, dengan terus mengatur napas.


Waktu terus berjalan, tanpa terasa. Fira mulai bosan dan lelah menunggu, apalagi dengan posisi yang tidak nyaman. Ia terus menatap jam tangannya.


Hampir tiga jam, ia menunggu. Tidak ada tanda-tanda, Dave akan kembali. Fira turun dari mobil, menemui petugas keamanan.


"Sudah tiga jam, aku menunggu. Kapan dia kembali?"


Bebebp.


Suara klakson mobil, terdengar. Fira menoleh dan sorot lampu mobil, mengenai wajahnya. Fira tidak menyingkir, tetap berdiri didepan pintu pagar yang sudah terbuka lebar. Meski, petugas keamanan, terus memintanya.


Deg.

__ADS_1


__ADS_2