Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 124. The final


__ADS_3

Sembilan bulan, kemudian.


Waktu terus bergulir, tanpa henti. Minggu berganti bulan, tanpa terasa. Perut Arshila semakin membuncit. Ia semakin susah berjalan, karena gampang kelelahan. Belum lagi, ia sering buang air kecil, membuatnya lebih banyak berada dalam kamar.


Dave yang sudah menjadi suami siaga, lebih banyak menemani sang istri. Semua urusan kantor, diserahkannya pada Tian.


Dave sedang menyiapkan pakaian bayi dalam keranjang. Ia ingin mempersiapkannya, jika dalam keadaan darurat.


"Sayang. Aku mau turun, jalan-jalan."


Dave langsung memegang tangan Arshila dengan satu tangannya. Tangan lainnya, menahan pinggangnya.


"Hati-hati." Masuk dalam lift.


"Kenapa? Apa sudah sakit?"


Rachel menyambut mereka dengan cepat. Bahkan, sudah menjatuhkan majalah yang sedang ia baca.


"Dia mau jalan-jalan, Ma. Dihalaman."


"Ya, sudah. Mama temani."


Rachel ikut memegang tangan menantunya. Dihalaman, Arshila berjalan tanpa alas kaki, diatas rerumputan. Momen ini, diabadikan dalam kamera oleh Ica, yang bahagia melihatnya.


Sepuluh menit, Arshila berjalan dan mulai kelelahan. Ia meminta untuk masuk dalam rumah dan duduk diruang tengah.


Diatas meja, Ibu Lin sudah menyiapkan segelas jus buah. Arshila langsung meneguknya hingga habis.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit, sayang?"


"Tapi, ini belum waktunya. Akan membosankan, jika aku harus menunggu disana."


Wajah Arshila tiba-tiba menengang. Ia sudah pernah merasakan sakitnya, menjadi seorang ibu. Jadi, ia tahu, apa yang sedang dirasakannya saat ini. Sakit yang datang tiba-tiba, lalu hilang perlahan. Lalu, kembali menyerang.


"Kenapa?"


"Sa ... Sakit," ujarnya, yang langsung membuat serumah menjadi panik.


"Pak Yus, ibu Lin," teriak Rachel, dengan menggema dan panik.


"Ibu Lin, bawa semua perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Pak Yus, siapkan mobil."


Dave ikut memucat, bahkan ia sempat mematung, karena dilanda kepanikan. Rachel segera menyadarkan putranya.


"Kenapa kau diam? Angkat istrimu!"


Dave membantu Arshila berjalan, karena tidak sanggup mengangkat tubuhnya. Ia takut menjatuhkan, tubuh sang istri.


Ibu Lin sudah berlari lebih dulu, memasukkan tas dalam mobil. Ia kembali berlari masuk dalam rumah, membantu dua majikannya, membopong Arshila.


"Hati-hati, sayang!"


Arshila sudah duduk, dengan wajah meringis menahan sakit. Dave duduk disebelahnya, dengan tangan mengelus kepala sang istri.


"Maaf, maafkan, aku," ujarnya, yang sudah menitikkan air mata.


Yang dilakukan Arshila hanyalah menarik napas dan menghembuskannya. Saat ini, rasa sakitnya belum seberapa. Karena, datangnya yang bertahap.


Mobil sudah melaju, dengan kecepatan normal. Kali ini, ibu Lin yang mengemudi, Rachel duduk disebelah dengan wajah yang diliputi kecemasan.


Ia meraih ponselnya, memberi kabar pada sang suami, yang sedang diperusahaan menggantikan putranya. Tak lupa, ia juga menghubungi Ellino dan ibunya.

__ADS_1


Kepanikan bercampur bahagia, tak kalah dari yang ia alami. Ibu Ellino berkata, akan segera berangkat. Begitu, juga Ellino yang masih bekerja.


"Aaaa." Arshila memegng erat tangan Dave, saat rasa sakit itu menyerang.


"Sabar, sayang. Bertahanlah. Kita akan tiba sebentar lagi." Rachel mencoba menenangkan, padahal ia sendiri sudah mulai takut. Setiap wanita, pasti tahu bagaimana rasa sakit itu.


Mereka sudah tiba dirumah sakit. Dokter yang sudah mendapat kabar, langsung menjemput Arshila turun dari mobil.


"Sabar, sayang!" ujar Rachel yang ikut mendorong brankar.


Dokter yang seorang perempuan, melakukan pemeriksaan. Ia meminta perawat untuk memasang jarum infus.


"Bagaimana dokter?" tanya Dave.


"Masih pembukaan tiga. Kita masih harus menunggu."


Dave menurut. Ia mengusap kepala Arshila yang masih meringis kesakitan. Ia menangis, melihat sang istri.


"Dokter, apa tidak bisa melahirkan sekarang?"


"Maaf, Tuan. Kita harus menunggu sampai pembukaan lengkap."


Dave kembali beralih pada sang istri. Membiarkan tangannya, dicengkram dengan kuat.


"Apa sayang?"


"Aku haus."


Rachel segera memberikan segelas air.


"Masih sakit?"


Arshila hanya mengangguk, lalu kembali membaringkan tubuhnya.


"Sakit, Dok. Aaah."


"Dokter, apa tidak bisa operasi saja?"


"Sebaiknya, tidak perlu, Tuan. Nona, bisa melahirkan dengan normal."


"Hei," teriaknya yang sudah emosi. "Kau tidak lihat istriku kesakitan! Harus menunggu, berapa lama lagi, hah!!"


"Dave, tenanglah!" Liam dan Malvel, langsung menenangkannya.


"Maaf, semuanya. Tolong, silahkan keluar. Biarkan ayah sang bayi yang berada didalam."


"Dave, tenangkan dirimu. Jangan emosi!"


Liam memberi nasehat sebelum keluar ruangan.


Dua dokter dan empat perawat, sudah siap. Arshila yang meringis kesakitan, semakin tidak tahan. Sesuatu yang bergejolak dalam perutnya, meminta didorong keluar.


"Siap, Nona. Tarik napas, buang."


"Sakit," ujar Arshila, dengan ujung mata yang sudah berair.


Dave tak kalah takut, dan cemas. Ia bahkan, tidak merasakan sakit, saat Arshila mencakar lengannya.


"Maaf, maafkan aku. Aku mohon, kuatlah!"


Arshila mulai mengedan, saat dokter memberi aba-aba. Napasnya baik turun karena kelelahan dan menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Sedikit lagi, Nona. Tarik napas, buang. Dorong,"


Arshila berkuat, dengan wajah memerah bercampur keringat. Dave semakin shock, apalagi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Hingga,


Suara bayi memenuhi ruangan. Dave menangis tanpa sadar, menatap bayi mungil dalam pelukan dokter.


"Terima kasih," ujarnya pada Arshila, yang terbaring.


"Bayiku?"


"Laki-laki, sayang. Dia pangeran." Memberikan kecupan.


Arshila menitikkan air mata, saat perawat memperlihatkan bayi itu padanya. Dia masih menagis, terbalut dalam selimut.


"Tuan, bayinya." Dave langsung menggendong bayi, dengan kaku. "Ia perlu di adzankan."


"Baiklah."


Terima kasih, Tuhan. Aku sangat bersyukur dengan hidup yang engkau berikan. Terima kasih, telah memberiku kehidupan yang lengkap.


Suara azan menggema, Arshila menitikkan air mata. Ia bahagia, sangat bahagia. Bahkan, tak mampu lagi, ia ungkapkan dalam kata. Senyumnya, sudah memperlihatkan segalanya.


Keluarga yang menunggu diluar, sudah dipersilahkan masuk. Rachel dan ibu sudah menangis, memeluk putri mereka, yang masih terbaring lemah.


Empat pria, beda usia, senyum-senyum, memperhatikan bayi mungil dalam box. Liam membiarkan tangan kecil itu, menggenggam jari telunjuknya.


"Oh, lucunya!" seru, ibu Ellino.


"Lihat, dia tertawa!" Malvel menempelkan wajahnya dekat kaca.


"Masih sakit?" tanya Dave, dengan wajah yang belum pulih dari rasa cemas.


"Tidak. Semua baik-baik, saja." Arshila bergeser menatap para orang tua. "Lihat mereka!"


"Sepertinya, mereka akan memperebutkannya nanti."


"Hahaha," Arshila sudah tertawa


"Kamu membuatku, takut setengah mati!"


Satu jam berikutnya, ruangan Arshila dipenuhi pengunjung. Mulai dari, teman sosialita Rachel dan ibu Ellino, yang mau memamerkan cucu mereka. Hingga, para sahabatnya yang sudah menetap didalam negeri. Nadia juga ikut serta dengan membawa putrinya.


"Itu adek, sayang!" tunjuk Dave, yang tengah menggendong Nadin.


"Adik pelempuan?"


"Bukan, sayang. Itu adik, laki-laki."


"Bagaimana keadaan, Mbak?"


" Aku baik-baik saja. Terima kasih. Nanti sering-seringlah, berkunjung. Biar Nadin, memiliki hubungan dekat dengan adiknya."


"Baik, Mbak. Akan saya usahakan."


"Terima kasih, Nadia. Karena kamu sudah mau membesarkan Nadin, seperti putrimu sendiri. Aku benar-benar berterima kasih. Jika kau tidak keberatan, aku ingin membantu memberikan biaya untuk putri kita. Jangan tersinggung, aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk putriku."


"Tentu saja, Mbak. Saya tidak keberatan. Bagaimana pun Nadin adalah putri kandungmu."


Momen bahagia dan haru untuk semua orang. Hari itu, Yessi dan Jian banyak mengambil gambar, untuk disimpan sebagai kenang-kenangan. Sebenarnya, mereka mau membagikan di sosial media, tapi karena Dave melarang keras, mereka pun menurut karena ketakutan.

__ADS_1


THE END


__ADS_2