Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 114. Curhat


__ADS_3

Dave dan Elinno, sama sekali tidak beranjak dari samping ranjang pasien. Keduanya, duduk dengan perasaan khawatir. Begitu pula, dengan kedua orang tua mereka, yang duduk diatas sofa.


Sudah hampir setengah jam, Arshila belum siuman. Jarum infus, sudah menancap diurat nadinya.


"Ma. Kalian pulanglah. Biar aku yang menjaganya," tutur Dave kepada dua orang wanita yang kini, dipanggilnya Mama.


"Tidak. Mana mungkin, kami pulang. Arshila belum sadar. Mama bisa stress di rumah." Rachel menjawab, mewakili perasaan ibu Ellino yang pasti, memiliki jawaban yang sama.


"Aku akan menghubungi kalian."


"Tidak, Mama, tidak mau." Rachel bersikeras, yang membuat Dave menyerah dengan cepat.


Tok, tok, tok.


Semua menoleh, saat pintu terbuka. Gadis berambut pendek, dengan pakaian kasualnya. Ditangannya, membawa keranjang buah.


"Selamat siang, semuanya."


"Alexa." Ellino menatap gadis itu, dengan btingung. Untuk apa, gadis itu datang kemari.


"Duduklah. Dia belum sadar," ujar Dave.


Ellino semakin bingung. Wajar jika mereka saling mengenal. Tapi, dengan kakaknya?


Rachel dan ibu Ellino, mempersilahkan Alexa duduk. Mereka menyapa dan berkenalan.


"Adik Clarissa?" Kedua wanita itu tersentak, bersamaan.


Clarissa memiliki saudari, yang sama sekali tidak diketahui. Rachel menatap, ibu Ellino. Kenapa wanita disampingnya ikut terkejut? Apa dia mengenal Clarissa?


Rachel sama sekali belum mengetahui, kisah asmara putranya. Baginya, cerita itu sudah selesai dan ia tidak ingin mengungkitnya. Tapi, saat besannya, terkejut dengan fakta Alexa. Ia dilanda rasa penasaran.


Perlahan, kelopak mata Arshila, bergerak. Ia menyipitkan mata, saat sinar menyilaukan pandangannya.


"Sayang," ujar Dave, yang membuat Ellino ikut berteriak memanggil kakak.


Dua keluarga yang dilanda kecemasan, segera bangkit, mendekati ranjang pasien.


Alexa masih duduk, tidak ingin mengganggu mereka. Tapi, dalam pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan, tentang Ellino, yang berada diantara mereka dan memanggil Arshila dengan sebutan kakak.


"Kamu baik-baik saja? Apa yang sakit? Katakan, sayang?"


Arshila diborongi banyak pertanyaan, dari ibu, mama Rachel dan semua yang berada didekatnya. Ia terharu, dengan semua perhatian yang ia dapatkan.

__ADS_1


Ia mengangguk lemah, sembari senyum. Dave memberikan segelas air putih, yang diminum Arshila sampai habis.


"Kak, masih ada yang sakit? Atau, apa kakak membutuhkan sesuatu?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin baring sebentar."


"Ada yang ingin menemuimu?" ujar Dave, yang memberi isyarat pada Alexa untuk mendekat.


"Alex."


Satu kejutan untuknya, sahabat yang dulu begitu memperhatikannya.


"Kak Shi. Apa kabar?" Alexa mendaratkan pelukan. "Kau menghilang begitu saja, ternyata kau sudah menjadi nyonya muda."


Arshila tersemyum lebar. Ia tidak menghilang, tapi semua kenangan dan nomor kontal, hilang sekaligus dalam ponselnya.


"Kapan kau kembali?"


"Sekitar sebulan. Aku mencarimu dikontrakkan dan dibutik tante Yuri. Tapi, katanya kau membuka usaha sendiri. Aku jadi penasaran, kak Shi membuka usaha apa?"


"Hahahaha....." Arshila tergelak, membuat Dave dan Elinno, ikut senang. Meski, dalam hati, Dave sedikit was-was dengan ucapan Alexa. "Aku kehilangan ponselku, jadi tidak bisa menghubungi kalian. "Bagaimana dengan Jian, Yessi dn tante Nessa?"


"Jian dan Yessi harus menyelesaikan kuliah, sebelum kembali.. Tante Nessa kembali rujuk dengan suaminya, karena setelah kecelakaan, yang menimpa putranya. Mereka menjadi akur kembali."


"Kalian saling mengenal?" Ellino membuka suara, meski dari pembicaraan dua wanita didepannya, sudah ada sedikit penjelasan.


"Dia sahabatku. Kau mengenal Alexa?" tanya Arshila kembali.


"Iya, kami bertemu tidak sengaja," jawab Elinno, menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


Jadilah, cerita panjang, setelah keduanya baru bertemu.


Ibu dan ayah Ellino, serta Liam dan Rachel, pamit pulang. Mereka berencana, akan mengadakan makan malam bersama, dikediaman Dave. Setelah, Arshila pulang ke rumah.


"Kau belum memanjangkan rambutmu?"


"Aku tidak suka. Itu merepotkan!"


Keduanya kembali tertawa. Sementara, Dave dan Ellino duduk disofa. Membiarkan dua wanita itu, bercengkrama melepas rindu.


"Kapan kau akan memperkenalkan kakakku?"


"Secepatnya, setelah ia pulih. Aku sudah meminta sekretarisku untuk mempersiapkannya."

__ADS_1


"Kau sendiri, kapan menikah?"


"Ayolah, jangan membicarakan itu! Kau seperti ibuku!"


Dave tergelak. Perasaan seperti ini, berbeda dengan sebelumnya. Elinno, yang dianggapnya musih bebuyutan dalam segala hal. Kini duduk bersama, membicarakan hal ringan, seperti keluarga.


Ia terlalu dibutakan, rasa cinta, hingga berpikir diluar akal sehat.


"Kau bertemu Alexa dimana?"


"Sebuah rumah makan. Ia mendekatiku lebih dulu. Ternyata, dia mengenalku. Sepertinya, Clarissa banyak membicarakanku padanya."


"Kau belum melupakannya?" tanya Dave, yang ingin mengetahui perasaan Elinno.


"Belum. Kau tahu sendiri, tidak semudah itu. Apalagi, ia mengandung anakku."


Ellino meraih botol mineral, meneguknya perlahan. Lalu, meletakkanya kembali dengan asal.


Dave menoleh, memperhatikan dua wanita, yang masih mengobrol. Kadang mereka tertawa dan terdiam. Lalu, kembali menatap Elinno.


Dia tahu, bagaimana perasaan bersalah, menyerang hati dan pikiran. Sekuat apapun, ia mencoba melupakan Clarissa, saat itu. Ia tetap tidak bisa. Karena rasa bersalah, pada Clarissa dan anak dalam kandungannya. Mengambil alih, semua pikiran dan hatinya.


"Dulu, aku merasa bersalah pada Clarissa dan anak dalam kandungannya. Aku tidak bisa tidur atau makan. Hatiku sakit." Dave menautkan kedua tangannya, diatas lutut. "Saat bertemu Arshila, hatiku menjadi tidak menentu. Kadang aku kasihan, marah dan cemburu, saat dia bersamamu. Tapi, lagi-lagi, hatiku sakit, saat melihat foto Clarissa dalam kamarku."


"Jadi, kau sudah jatuh cinta pada kakakku. Tapi, kau melawan perasaanmu?"


"Mungkin, entahlah. Aku juga tidak mengerti. Tapi yang pasti, saat aku mengetahui kebenarannya. Aku seperti ingin mati, rasa bersalah yang menggorogoti beribu-ribu kali lipat. Aku marah, menyesal, sedih dan banyak lagi."


"Aku juga menyesal. Jika aku tahu dari awal, ia mengandung anakku. Aku akan membawanya pergi."


Keduanya membisu. Mencurahkan isi hati, dari kenangan yang belum mereka lupakan. Dave dan Ellino, memperhatikan Arshila. Wanita yang kini, menjadi sangat penting dalam hidup mereka.


"Kenapa dulu kau mengejar istriku?" tanya Dave akhirnya, yang tersadar akan kisah mereka.


"Hahahaha ..." Elinno tergelak kecil. Lucu juga, jika ia mengingat itu. "Aku hanya ingin berteman, karena dia memiliki nama yang sama dengan kakakku. Tapi, saat aku tahu, kalian memiliki hubungan. Aku berniat untuk memanfaatkannya."


"Kau, ini, ternyata, bajingan!"


"Hahahaha ..."Ellino semakin tergelak, hingga membuat Arshila dan Alexa menoleh pada mereka. "Aku ingat wajahmu, saat aku mencium kening kakakku. Sumpah, aku sangat puas, melihat kemarahanmu!"


Dave memukul bahu Ellino. Adik ipar, sialan! Karena ulahnya, yang membuat ia cemburu. Ia sampai berbuat kasar pada Arshila. Tapi, ia tidak ingin mengatakan itu. Suasana hati mereka sedang bagus, masa lalu yang kelam, bisa merubah keadaan saat ini.


"Terima kasih. Berkatmu, aku uring-uringan dalam kamar dan tidak bisa makan."

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa. Arshila dan Alexa hanya menatap bingung, tanpa berkomentar.


__ADS_2