Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 59. Semakin aneh


__ADS_3

Selesai makan siang, yang belum saatnya tiba. Arshila duduk diruang tengah, menikmati es krim yang baru saja dibeli ica. Diatas meja, sudah dua buku yang menumpuk dan belum tersentuh. Tutor bahasa asing yang sudah datang, terpaksa harus kembali pulang. Nona muda hari ini sedang malas belajar, dia hanya ingin bersantai sambil terus mengunyah.


Es krim sudah habis, Arshila mulai mengambil satu buku yang diambil dari perpustakaan. Bukan buku novel atau resep masakan, yang biasa ia baca. Melainkan buku pelajaran mengenai ekonomi. Baca-baca dengan serius, ibu Lin yang berdiri disampingnya, juga menatap serius.


Aneh, sangat aneh. Nona muda hari ini, seperti orang yang berbeda. Dia masih berbicara seperti biasa, rendah hati dan selalu tersenyum. Keanehannya yang adalah dari kebiasaannya yang berubah drastis.


Ica yang mengambil buku diperpustakaan, sempat mengadu pada ibu Lin dan pak Yus. Karena, ia kesusahan mencari buku yang dimaksud. Akhirnya, pak Yus mengambil buku, dari ruang kerja tuan muda.


Arshila masih membaca, sembari mencoret-coret kertas diatas meja, entah apa. Sepuluh menit, berjalan. Ia meletakkan buku. Menengadahkan kepala, menatap ibu Lin.


"Ibu Lin, apa aku boleh keluar jalan-jalan?"


"Maaf, Nona. Untuk sementara, Anda belum bisa keluar, sampai tuan muda kembali."


Arshila menarik napas, ia merasa bosan. Duduk sambil bersandar, menerawang jauh.


"Apa Nona butuh sesuatu?"


"Tidak ada, ibu Lin. Sebaiknya, kamu berisitrahat. Aku akan naik ke atas, untuk tidur."


Arshila sudah berjalan menuju anak tangga. Gerakannya sangat lambat, membuat ibu Lin berjalan mendekat. Ternyata, nona muda berjalan sambil menghitung jumlah anak tangga.


Setelah tiba, Arshila langsung memejamkan mata.


Hari menjelang malam, lampu-lampu jalanan sudah menyala. Diluar, angin bertiup dengan kencang. Kilatan petir dan guntur, seolah meruntuhkan langit.


Arshila masih tertidur pulas, tanpa menyadari sosok yang masuk dalam kamar. Menyelimutinya, menutup jendela dan pintu balkon. Ia juga menutup tirai, lalu menyalakan lampu.


Rachel meletakkan beberapa paper bag diatas meja. Lalu, kembali menutup pintu sebelum keluar.


"Bagaimana menantuku, apa yang dilakukannya hari ini?"


"Nona muda, tidak melakukan apa-apa. Dia melewatkan les bahasa asing."


"Apa dia sedang sakit?"


"Tidak, Nyonya. Sepertinya, nona sedang malas hari ini."


"Hah!!" Rachel sedikit kaget. "Ya, sudah biarkan saja. Mungkin, dia merasa bebas, karena Dave tidak ada di rumah."


"Baik, Nyonya."


Rachel menyesap teh yang masih panas. Membaca tabloid yang baru saja dibelinya pagi tadi.


Drt ... drt ...


"Halo, kenapa, Tian?"


"Nyonya, tuan muda akan kembali malam ini."


"Secepat itu? Bukannya, nanti minggu depan."


"Tuan muda, sakit."


"Sakit? Hahahaha ....." Bukannya, bersimpati atau merasa sedih, justru Rachel menertawakan putranya. " Dia sakit? Aneh sekali. Ya, sudah pulang saja!"


"Baik, Nyonya. Tapi, kami akan langsung ke rumah sakit."

__ADS_1


"Memangnya, dia sakit apa?"


"Kata dokter, tuan muda mengalami gejala maag. Dia terus muntah-muntah dan tidak mau makan."


"Baiklah. Kalian pulanglah."


Sambungan terputus.


"Pak Yus," panggil Rachel.


"Iya, Nyonya."


"Telpon pihak rumah sakit, agar bersiap. Putraku akan kesana, malam ini dan beritahu koki, untuk memasak bubur."


"Baik, Nyonya."


Rachel kembali meminum tehnya, sembari berpikir. Aneh sekali, dia sakit maag. Padahal, Dave makan dengan pola teratur.


Dari anak tangga, Arshila turun dengan wajah sumringah. Ia sudah mandi, terlihat dari kepalanya yang masih terbungkus handuk.


"Selamat malam, Ma."


"Selamat malam, sayang. Kamu baru mandi?"


"Iya, Ma." Arshila mengambil duduk di sofa panjang.


"Lalu, kenapa tidak membuka handuk diatas kepalamu dan mengeringkan rambutmu?"


"Oh, ini." Arshila memegang handuk itu. "Aku menyukainya, modelnya lucu."


Rachel hampir saja tersedak, apa yang lucu, dari handuk yang menempel diatas kepala! Rachel kembali memperhatikan penampilan menantunya. Make up tipis, dengan lipgloss dibibirnya, wangi parfum aroma buah, menyeruak. Biasanya, Arshila tidak pernah berdandan di rumah, menantunya hanya biasa menggunakan krim wajah saja.


"Tidak, Ma. Ini sudah malam, memangnya, aku mau kemana malam-malam begini."


Aneh, ada apa dengannya? Biasanya, ia tidak pernah lancar menjawabku.


Rachel masih terus memperhatikan Arshila, yang duduk ikut menikmati secangkir teh, yang baru saja mendarat diatas meja. Biasanya, menantunya akan turun dilantai bawah, jika dipanggil. Jika duduk bergabung di meja makan, wajahnya pasti sembab karena terus menangis.


"Pak Yus," panggil Arshila, saat kepala pelayan itu melintas didepannya.


"Ada apa, Nona?"


"Malam ini, aku makan kerang." Arshila menatap Rachel. "Mama mau makan apa?"


Apa kita sedang ada direstorant?


"Aku sesuai menu saja, pak."


"Baik, Nyonya."


Bertambah lagi, keanehan Arshila di mata sang ibu mertua. Menu makanan, sudah diatur untuk sebulan. Sudah sesuai dengan selera, masing-masing, termaksud selera Arshila yang juga diperhitungkan.


"Shi, apa kamu sakit atau muntah-muntah gitu, kalau pagi?"


"Tidak, Ma." Arshila menggeleng.


Berarti dia tidak hamil, tapi kok aneh gitu! Bikin pusing aja.

__ADS_1


Teh dalam cangkir sudah habis, Rachel dan Arshila mengobrol ringan. Rachel belum memberitahu, tentang Dave, takut membuat suasana hati sang menantu berubah. Ia tahu betul, Arshila sangat takut pada putranya, karena kekerasan yang dialaminya. Rachel mencoba yang terbaik, agar sang menantu tetap mau tinggal bersama mereka.


"Besok, Mama akan mengajak kamu jalan-jalan."


"Benarkah?" Arshila sudah antusias.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau makan di restorant jepang, aku juga mau mencoba es krim yang lagi viral."


"Baiklah."


Sebaiknya, aku harus ke dokter besok. Arshila sepertinya, sedang depresi, Rachel bergumam. Ia masih mendengarkan permintaan Arshila, yang lebih banyak tertuju pada makanan. Tidak biasanya, ia mau diajak jalan, apalagi mintanya, cuma mau makan saja.


Pak yus datang menghampiri, memberi tahu, jika makan malam sudah siap. Rachel segera bangkit, begitu juga Arshila yang mengikuti langkah ibu mertuanya.


Diatas meja, sudah tersaji kerang saos padang, tumis brokoli, ayam goreng dan tempura. Arshila sudah menyendok kerang dan nasi. Begitu juga, Rachel yang ikut menikmati kerang, pesanan Arshila. Keduanya, makan tanpa bersuara.


Makanan diatas meja, masih bersisa. Rachel sudah bangkit terlebih dahulu. Sedangkan, Arshila masih menghabiskan sisa kerangnya diatas piring.


"Ibu Lin, apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada di rumah?" tanya Rachel yang sudah kembali duduk di ruang tengah.


"Tidak terjadi, apa-apa, Nyonya."


"Lalu, kenapa menantuku bersikap aneh?"


"Kami juga merasa heran, Nyonya. Sejak pagi, nona muda seperti orang berbeda. Ia terus meminta makanan yang berbeda, setiap jamnya. Ia terus mengeluh kelaparan, padahal hampir setiap jam, ia mengunyah.


"Benarkah? Aku juga heran. Aku akan membawanya ke dokter besok."


"Iya, Nyonya. Sebaiknya, begitu. Kami merasa khawatir terhadap nona, yang tiba-tiba berubah drastis."


"Besok kamu temani, aku ke dokter. Kita juga harus menjenguk Dave disana."


"Tuan muda? Tuan muda, sakit?"


"Hahahaha ... Kau pasti bingung, kan? Si manusia batu itu, bisa sakit!"


"Nyonya, tuan muda sakit, apa?"


"Entahlah, katanya dia muntah-muntah dan tidak mau makan. Seperti orang mengidam saja."


Deg.


"Nyonya, bagaimana jika nona muda sedang hamil?"


"Hamil?"


"Iya, Nyonya. Tuan muda mungkin mengalami kehamilan simpatik, yang artinya tuan muda seperti orang mengidam, yang seharusnya dirasakan sang istri."


"Jadi, maksudmu dia kena karma?" Ibu Lin belum sempat menjawab, rachel sudah tertawa lebih dulu. "Hahahahaha .... Dasar anak durhaka. Rasakan!!"


"Nyonya!"


"Apa? Memang benar, kan. Dia kena karma!" Rachel kembali tergelak. "Tapi, apa ada hal seperti itu?" Kembali bertanya, dengan serius.


"Untuk, membuktikannya, kita harus ke dokter."

__ADS_1


"Baiklah. Oohhh, cucuku, sudah diperjalanan." Rachel gemes sendiri, lalu berjalan menuju ruang makan. "Arshila, sayaaanggg!" panggilnya.


Ibu Lin geleng-geleng kepala, sembari tersenyum. Mudah-mudahan, dugaannya benar. Dan jika itu terjadi, ia berharap, tuan muda akan kembali seperti dulu dn mau mencintai istrinya dengan tulus.


__ADS_2