Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 8 Tangis Arshila (2)


__ADS_3

Dimas menatap pantulannya pada cermin. Sekilas ingatan tentang kejadian panas yang baru dilakukannya dengan Nadia, mantan kekasihnya.


Pertemuan yang tidak terduga, disebuah restoran kota XX. Berawal hanya saling bertanya kabar dan berakhir di sebuah kamar hotel.


Dimas yang sudah lama tidak menyalurkan hasratnya, tergoda dengan kecantikan mantan kekasihnya itu. Hingga, melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi.


Dimas mengguyur tubuhnya dengan pancuran air dingin. Kesalahan besar telah dilakukannya dan dalam keadaan sadar. Kini, ia hanya bisa menyesali perbuatannya.


Hanya dengan melilitkan handuk dipinggang, Dimas keluar dari kamar mandi. Dilihatnya, Nadia duduk bersandar diatas tempat tidur, dengan tubuh tertutup selimut.


"Mas, tadi ada yang menelpon?"


"Siapa?"


"Ibumu." Nadia melihat nama kontak pada ponsel Dimas, sebelum mengangkatnya. "Tapi, kenapa suaranya terdengar seperti wanita muda.


"Ibuku memang masih muda," kilah Dimas yang lalu memunguti pakaiannya yang berserakan diatas lantai. "Ibuku mengatakan apa?" tanyanya sembari mengancing kemejanya.


"Tidak ada, dia hanya ingin bicara padamu. Tapi, aku memintanya menelpon kembali nanti."


Nadia bangkit, memeluk Dimas dari belakang. Mendaratkan kecupan dipunggung belakang.


"Kamu mau kemana, Mas?"


"Aku harus pulang. Ibu menelpon, mungkin ada sesuatu yang penting."


"Lalu, bagaimana denganku?"


"Selesaikan pekerjaanmu disini, setelah itu kita bertemu saat kamu sudah kembali." Dimas memutar tubuhnya. "Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu." Membalas pelukan Nadia.


"Baiklah."


Cukup lama keduanya, saling memeluk seolah tidak ingin berpisah.


Menempuh perjalanan selama empat jam, Dimas tiba di rumah. Melangkah masuk, diruang tamu adiknya Mira sedang memainkan ponsel.


"Mir, ibu mana?"


"Sedang keluar, sebentar lagi pulang."


Dimas melanjutkan langkahnya, masuk dalam kamar. Mengganti pakaian, lalu merebahkan tubuhnya.


"Shila, maaf. Tapi, aku membutuhkan Nadia. Aku akan menceraikannya setelah kamu bebas."


Dimas mengusap bibirnya, teringat pada Nadia yang memuaskannya. Gadis dengan paras yang lebih menggoda dari istrinya.


Tok ... Tok ... Tok...


"Masuk," jawab Dimas tanpa menoleh ke arah pintu.


"Dimas."


Ibu langsung duduk disamping putranya, yang masih membaringkan tubuhnya.


"Ada apa, bu?" Dimas bangkit. "Semalam ibu menelpon, ada apa?"


"Dimas, dengarkan Ibu. Arshila sudah melahirkan semalam dan ibu ingin kita kerumah sakit mengambil putrimu."


"Apa?" Dimas tersentak. "Kenapa ibu tidak memberitahuku?"

__ADS_1


"Semalam, istrimu sudah menelpon. Tapi, ia mematikan sambungan telepon begitu saja, sambil menangis. Bahkan, tidak memberitahu ibu apa-apa."


DEG!


Jadi, yang menelpon adalah shila.


"I ... itu ...." Dimas terbata.


"Dimas, jawab ibu. Sebenarnya ada apa?"


"Semalam Dimas bersama Nadia."


"Nadia? Siapa dia?"


"Dia mantan Dimas saat kuliah. Kami tidak sengaja bertemu kemarin. Dan kami ..." Dimas terdiam tidak ingin melanjutkan kalimatnya.


Ibu yang sudah mengerti, maksud Dimas. Langsung tersenyum suringah. Tidak perlu bersusah payah, membuat mereka bercerai. Ternyata, putranya sudah mendapatkan wanita pengganti Arshila.


"Dia kerja dimana?"


"Dia seorang sekretaris di perusahaan Antara Group."


"Benarkah?" Mata ibu langsung berbinar. "Bagaimana dengan keluarganya? Apa dia berasal dari keluarga berada?"


"Ibu." Suara Dimas terdengar sedikit geram.


Ibu Dimas tersadar, langsung mengubah topik pembicaraan.


"Siang ini, kita ke rumah sakit mengambil anakmu. Ibu tidak mau, Arshila ikut membawanya ke penjara."


"Aku mengerti. Tapi, bagaimana keadaan Shila, Bu?"


"Baiklah, kalau begitu kita langsung berangkat sekarang. Kita harus mampir, membeli perlengkapan bayi, sebelum membawanya pulang."


"Tidak usah. Ibu sudah membelinya pagi ini, Kita bisa membelinya nanti."


"Baiklah."


Dimas menyambar kunci mobil, langkah kakinya diikuti ibu dari belakang.


"Mira, kamu bersihkan kamar kakakmu. Sebentar lagi, ponakan kamu datang."


Ibu langsung pergi tanpa menunggu jawaban anaknya.


Di rumah sakit.


Dimas langsung menuju ruang dokter yang menangani persalinan istrinya. Mengutarakan niatnya, untuk membawa pulang putrinya.


"Jadi, Bapak ingin membawa pulang bayinya.?"


"Iya, dok. Saya tidak mungkin membiarkan dia bersama ibunya di dalam penjara."


"Kalau begitu, Bapak. Saya harus memastikan dulu dokumen Bapak sebagai suami sah pasien."


Dimas menyerahkan KTP dan kartu keluarganya.


"Baiklah, Bapak bayinya boleh dibawa pulang. Sebagai dokter saya merekomendasikan beberapa merk susu yang bisa dipilih. Karena, sebenarnya, bayi Bapak masih membutuhkan ASI dari ibunya."


"Saya mengerti, dokter. Terima kasih."

__ADS_1


Dimas kemudian berjalan menuju ruang bayi bersama ibu dan dokter yang baru saja ditemuinya.


"Silahkan, Pak."


Dimas menatap bayi mungilnya, yang masih terlelap.


"Ini, Papa sayang. Mari kita pulang."


Dokter menghampiri Dimas memberikan sebuah dokumen untuk ditandatangani.


"Terima kasih, dokter. Kalau begitu, kami pamit."


"Sama-sama ,Pak. Tapi, apa Bapak tidak menengok dan memberitahu istri Bapak."


"Lain kali, saja dokter. Saya sedang terburu-buru."


Dimas berpikir menghindari Arshila saat ini adalah jalan terbaik. Ia tidak ingin berdebat dan menjelaskan perihal kebersamaannya dengan Nadia.


Di ruang perawatan, Arshila duduk mencoba menghabiskan makanannya. Wajahnya masih terlihat pucat, tubuhnya juga masih lemah. Bukan hanya karena, kehabisan tenaga saat melahirkan. Tapi, karena pikirannya yang lebih banyak menguras energi.


"Bu, tolong habiskan. Karena, ibu masih harus minum obat."


Arshila membisu, ia masih mengaduk makanannya.


Mas Dimas, apa kau sudah menghianatiku. Setelah apa yang sudah aku alami.


Air matanya menetes jatuh diatas piringnya. Perasaan terkhianati lebih menyakitkan daripada keadaanya saat ini.


"Suster, aku ingin melihat bayiku. Bisa Anda membawanya kemari?"


"Saya akan membawanya kemari. Tapi, saya harap sarapannya sudah habis."


Arshila mengangguk. Lalu, mulai menyendok makanannya.


Tak lama, suster itu kembali dengan tangan kosong. Arshila menatap dengan tanda tanya.


"Mana bayi saya, Sus?"


"Maaf, Bu. Bayinya sudah dibawa pulang suami Anda."


Arshila menjatuhkan sendoknya,.


"Maksud suster, apa?


Dokter yang merawat Arshila masuk ke ruangan, setelah perawat tadi menemuinya diruang bayi.


"Ibu, kondisi ibu masih lemah. Masalah bayinya, suami Ibu sudah membawanya pulang. Karena, beliau berpikir keadaan ibu tidak memungkinkan untuk mengasuhnya."


"Tapi, kenapa tidak memberitahu saya dokter. Paling tidak, saya bisa mencium dan memeluknya."


"Maaf, ibu. Saya sudah menyampaikan kepada suami Anda. Tapi, beliau mengatakan sedang terburu-buru dan akan datang lain kali."


Sekali lagi, air matanya jatuh. Ia memang tidak bisa mengasuh bayinya. Paling tidak, ia ingin memeluk dan menciummya. Karena, masih butuh waktu lama untuknya agar dapat menghirup udara bebas.


Terisak, Arshila membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Kini rasa sakitnya menjadi dua kali lipat, pikirannya yang sedari tadi hanya menduga-duga, kini perlahan mulai menemukan titik terang.


Apa kau berniat membuangku, Mas. Mana janjimu untuk menebusnya. Apa setelah mengambil anak kita, kau akan menceraikanku.


Dua orang petugas sipir, hanya menatapnya. Begitu, juga dokter dan perawat yang langsung pergi. Sementara, Arshila masih tenggelam dalam tangisannya, mengabaikan pandangan orang terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2