Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 52. Cemburu


__ADS_3

Siang ini, Arshila sudah menyelesaikan kelas memasaknya. Hari ini, ia belajar memotong daging, untuk berbagai jenis hidangan. Sangat menyenangkan, menurut Arshila. Belajar, membuatnya melupakan sejenak masalah yang tidak kunjung berakhir.


Hari masih siang, matahari sudah berada diatas kepala. Sangat terik, hingga membuat beberapa orang mencari perlindungan dibawah pohon atau didalam bangunan.


Arshila mampir disebuah toko buku, ia berencana mencari buku resep dan beberapa buku novel.


"Ibu Lin, lihat ini!" Arshila menunjukkan sebuah buku resep.


"Bagus, Nona. Saya berharap bisa mencicipi masakan Anda nanti."


"Hahaha, terima kasih. Aku berharap, masakanku lebih enak dari koki di rumah."


Arshila pindah pada rak buku khusus novel. Ada banyak novel disana dari judul dan penulis yang berbeda. Arshila membaca sinopsis cerita terlebih dahulu, sebelum membelinya.


"Nona Shi?"


Arshila menoleh, ternyata Ellino yang menghampirinya. Pria itu tersenyum, dengan sebuah buku di tangannya.


"Tuan Ellino, apa kabar?"


"Baik, Nona." Ellino menyambut uluran tangan Arshila.


"Jangan panggil aku seperti itu, panggil aku Shi atau Shila, seperti biasa."


"Baiklah, Shi. Aku akan memanggil dengan singkat."


Keduanya tertawa lepas, sementara Ibu Lin tengah dilanda kecemasan. Bagaimana cara membuat pria itu pergi? Batinnya bergejolak, dengan sejuta pertanyaan, yang pada dasarnya bermuara pada hal yang sama.


"Kamu membeli buku apa?"


"Aku masih mencari, El. Kamu bisa merekomendasikan buku apa, yang bagus untukku."


"Tentu saja, kamu menyukai genre seperti apa?"


"Aku lebih menyukai horor."


"Wah, kau senang hal yang menakutkan. Baiklah, ikut aku."


Arshila mengikuti langkah, Ellino didepannya. Begitu juga, ibu Lin yang tidak mengendurkan pengawasannya.


"Ini." Tiga buah buku, mendarat di tangan Arshila. "Ini sangat menakutkan, aku memberi saran agar kamu tidak tidur sendirian."


Arshila kembali tertawa, menerima buku itu, lalu berterima kasih. Ketiganya, menuju meja kasir. Dan akhirnya, Ellino membayar buku Arshila, meski telah menolak.

__ADS_1


"Terima kasih, El."


"Sama-sama. Apa kamu sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Disekitar sini ada rumah makan baru, aku merekomendasikan makanan pedas. Kamu mau mencobanya?"


"Benarkah? Aku sudah lama tidak makan makanan pedas."


"Nona." Ibu Lin mencegah dengan cepat, dia bisa digantung, jika membiarkan Arshila makan siang dengan pria lain. "Kita harus kembali dengan cepat, sudah ada tutor yang menunggu. Anda bisa makan siang di rumah."


"Benarkah?" Arshila menatap Ellino dengan penuh penyesalan karena harus menolak.


"Ayolah, ibu Lin. Kami tidak mungkin makan sampai berjam-jam. Cukup setengah jam saja, bagaimana?"


"Maaf, Tuan. Tapi, saya hanya menjalankan perintah."


"Ibu Lin, kali ini saja. Aku mohon. Sudah lama aku tidak menikmati makanan pedas. Sekali ini saja, yah?"


Akhirnya, ibu Lin tidak bisa menolak permintaan Arshila. Dengan gontai, ia mengikuti langkah keduanya. Masuk di sebuah rumah makan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari toko buku.


"Pesanlah. Hari ini, aku yang teraktir."


Arshila memesan lele goreng, ayam goreng dengan aneka sambal dan lalapan. Tak lupa, tumis kangkung dan terong bakar, yang sudah lama tidak dinikmatinya. Sementara, Ellino memesan bebek goreng, sate ayam dan gulai kambing. Ibu Lin yang perasaannya tengah gundah, hanya mengikuti pesanan mereka. Bagaimana ia bisa makan, jika perasaanya saat ini, seperti tengah dihantui oleh sesuatu.


Saat makanan tersaji, Arshila menelan air liurnya yang hampir menetes. Ia bertepuk tangan dengan mata berbinar. Berterima kasih, dengan sendok yang sudah siap masuk dalam mulutnya


"Bagaimana kamu menyukainya?"


"Baguslah, aku senang jika kamu menyukainya."


Mereka makan dengan lahap, kecuali ibu Lin yang merasakan makanan itu terasa sangat hambar di lidahnya. Tatapan mata Ellino yang tidak berkedip, membuat ibu Lin merasa hidupnya berada diujung tanduk.


Semoga, Tuan tidak mengirim seseorang untuk mengawasi, nona.


Dan ternyata, permohonan ibu Lin sepertinya tidak terkabul. Karena saat ini, Dave sudah mengetahuinya.


Satu jam yang lalu, saat rapat baru saja dimulai. Dave menerima pesan masuk dalam ponselnya. Beberapa foto dengan tempat yang berbeda. Dua orang yang saling berpandangan, tersenyum dan tawa yang selalu terukir.


Dave meremas dokumen didepannya, membuat para direktur merasa ketakutan. Apa yang salah dengan laporan mereka? Padahal, mereka sudah memperbaikinya jauh-jauh hari. Bahkan, sekretaris Tian sudah memberikan respon positif.


Mereka hanya membisu, memperhatikan sang presdir dengan raut wajah yang sudah berubah. Helaan napas yang terdengar berat dan kepalan tangan yang berada diatas meja.


Tian yang mengetahui suasana hati Dave sedang buruk, memerintahkan mereka untuk bubar.


Dave menyambar jas, berjalan dengan cepat meninggalkan ruang rapat. Tian sedikit berlari, menyamahi langkah presdir yang sudah jauh didepannya.

__ADS_1


""Kita akan kemana, Tuan?"


"Jemput istriku!"


Tian mengangguk, lalu mulai berkendara. Jadi, ternyata nona muda yang membuat suasana hati Dave berubah dengan cepat. Memang, apa yang sudah terjadi? Tian bergumam, sembari melirik Dave melalui kaca spion.


Pria itu, duduk membisu, tapi sorot mata sangat tajam. Rahang Dave mengeras, menahan sesuatu yang seperti akan meledak.


Mereka tiba lebih cepat, karena Tian berkendara dengan kecepatan tinggi. Dave sudah turun lebih dulu, lalu disusul Tian.


Pandangan Dave terkunci pada dua orang yang duduk saling berhadapan. Sang pria yang terus menatap, membuat Dave tersulut emosi. Sementara, Arshila terus tersenyum menanggapi, Ellino. Entah apa yang sedang bicarakan, hingga membuat sang istri terus menebar senyuman, yang tidak pernah dilihatnya di rumah.


Brak!!


Semua orang yang berada ditempat itu terlonjak, tak terkecuali tiga orang yang tengah duduk menikmati makan.


"Tu ... tuan." Ibu Lin ketakutan.


"Keluar!" desisnya pada ibu Lin.


Dave menarik tangan istrinya, untuk segera pergi. Ia masih menahan emosi untuk tidak memukul Ellino. Tapi, ternyata, emosinya meledak juga, saat Ellino dengan berani menarik tangan Arshila.


"Lepaskan, dia!" Nada menantang, keluar dari bibir Ellino.


Bugh!!


Jeritan para pengunjung tak terbendung, saat Ellino hampir tumbang, karena mendapat serangan tiba-tiba. Begitu, juga Arshila yang memekik, sambil menutup mulutnya.


"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan mendekati istriku. Kau menganggap ucapanku hanya omong kosong, begitu!"


Dave kembali memukul, tapi serangannya kali ini dapat dihindari Ellino.


"Istri?" Ellino menyeringai. "Aku sudah tahu segalanya. Mengikatnya dengan status, kau pikir, aku tidak bisa merebutnya."


Darah Dave serasa mendidih, napasnya memburu, tangannya terkepal sempurna.


Merebut? Ingin merebut milikku, mungkin kau harus mati, sebelum memikirkannya.


"Hentikan." Arshila berdiri tepat ditengah mereka. Ia tahu, semarah apa Dave sekarang. "Aku mohon, tolong hentikan!"


"Kau melindunginya?"


Arshila menggeleng disela isak tangisnya. Dia memang melindungi Ellino, dia tidak ingin teman yang selalu menghiburnya terluka karena dirinya.

__ADS_1


Dave hanya mengepalkan tangannya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sementara, Arshila mengikuti langkah Tian.


Melindungi pria lain didepanku! Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan, Arshila.


__ADS_2