
Masih digedung PT. Deval Power.
Meski sudah diusir dari ruangan presdir, Dimas tidak langsung meninggalkan lantai gedung, tempatnya berada. Ia kembali duduk, dikursi tunggu.
Aku harus bagaimana, sekarang? Apa aku menemui presdir Dave, meminta penjelasan? Ah, sial. Itu sama saja, datang menyerahkan nyawaku. Tidak, aku harus menemui Arshila, lebih dulu. Aku tidak bisa tinggal diam, Dimas terus bergumam.
"Otakmu, pasti sibuk berpikir!" Suara sinis dan nada yang terdengar sedang mengejek.
Dimas mendongak, wajah sekretaris Tian sedang tersenyum padanya. Senyuman, yang diartikan sebagai hinaan untuknya.
"Ini semua, pasti ulahmu. Iya, kan?" Dimas mencengkram kerah kemeja Tian.
"Kenapa aku harus melakukannya?" Dengan mudah, menghempaskan kedua tangan Dimas. "Jangan berpura-pura. Kau pikir, aku tidak tahu? Katakan, sudah sejauh mana, kau berhubungan dengan istriku?"
"Sejauh dalam pikiranmu." Tian tertawa dengan dibuat-buat, sengaja memancing emosi.
Tangan Dimas terkepal, tanpa berpikir panjang. Ia mengayunkannya. Lagi-lagi sekretaris Tian, dengan mudah menangkap genggaman tangannya.
Bugh.
"Kau harus berlatih lebih keras lagi!"
Dimas menghapus darah disudut bibirnya. Tidak terima, ia kembali maju, untuk membalas. Tapi, ia malah tersungkur, saat baru akan memulai. Karena tendangan, Tian lebih dulu mendarat dikakinya.
"Aku akan membunuhmu!!" teriak Dimas, dengan napas naik turun.
Ia marah, sangat marah. Ia ingin membalas pria itu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dimas babak belur, bahkan tidak berhasil mendaratkan pukulannya, biar sekali.
"Kau seharusnya, mengkhawatirkan masa depanmu. Bukannya emosi tidak jelas!!"
"Aku akan menuntutmu dan perusahaan. Aku tidak melakukan kesalahan, tapi kalian memecatku tanpa alasan."
"Alasan? Kau butuh alasan?" Tian mendekat. "Kejadian, setahun yang lalu. Apa kau masih mengingatnya dengan jelas?"
Deg.
Wajah Dimas memucat. Amarahnya berubah menjadi rasa takut, yang menjalar perlahan disekujur tubuhnya. Tentu saja, dia mengingatnya dengan jelas. Sampai mati pun, ia akan terus mengingatnya.
"Aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan?" Dimas membuang wajah.
"Tidak mengerti atau berpura-pura tidak mengerti?" Tian menekan kalimatnya, suaranya bergetar menekan amarah.
"Aku tidak mengerti. Yang aku tahu, kalian mencari-cari alasan untuk memecatku. Terutama kau!" Dimas menunjuk nunjuk dada Tian.
"Kau terlalu tidak tahu malu dan tidak sadar diri. Teruslah, seperti itu!"
Sekretaris Tian, pergi begitu saja. Tidak ingin, meladeni Dimas, yang membuat emosinya terpancing.
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang, semua sudah jelas. Dave sudah mengetahui semuanya. Dan Arshila, menjadi satu-satunya orang, yang terpikirkan Dimas. Diantara mereka bertiga, ibunya adalah seseorang yang tidak mungkin, melakukannya.
Pasti dia! Tidak salah, lagi. Apa kau sudah lelah tutup mulut, Arshila? Sudah setahun, untuk apa kau membuka mulutmu, sekarang? Dimas menggeram kesal. Jika saja, wanita itu ada didepannya. Mungkin, ia akan meluapkan kekesalannya.
Tidak bisa berbuat banyak. Dimas turun dilantai ruangan, tempatnya bekerja. Barang-barangnya, sudah dimasukkan dalam boks.
__ADS_1
"Pak Dimas, mereka memberikan ini." Salah satu karyawannya, memberikan sebuah amplop.
Dimas meraihnya, membacanya dengan cermat.
Apa?? Keterlaluan! Bergumam, lalu meremas secarik kertas itu. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Ingin berteriak, melampiaskan amarahnya yang sudah berada diubun-ubun.
Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dimas frustasi, pikirannya buntu. Dalam semalam, hidupnya berubah, merosot seperti terjun bebas kedalam jurang.
Para karyawan, mulai saling berbisik satu sama lain. Tidak ada angin atau hujan, atasan mereka langsung dipecat tanpa alasan.
Dimas segera pergi, dengan membawa boksnya.
Diparkiran, sudah ada taksi online yang menunggunya Ia terpaksa harus memesan taksi, karena mobil yang digunakannya, harus dikembalikan diperusahaan.
"Tahu, begini. Aku seharusnya, membeli mobil baru waktu itu!" Brak, pintu mobil dibanting dengan kerasnya.
Dimas menjual mobil lamanya, setelah naik jabatan. Perusahaan memberikannya fasilitas mobil dan apartemen. Tapi, ia hanya menggunakan kendaraan saja.
Dalam perjalanan pulang, Dimas memijit pelipisnya yang berdenyut. Otaknya bekerja keras, mencari jalan keluar.
Taksi yang ditumpanginya, berhenti disebuah rumah, sesuai permintaan Dimas sebelumnya.
"Pak tunggu sebentar!"
Dimas berlari menuju dalam halaman rumah. Tanpa mengucapkan salam, ia segera masuk.
"Nadia, Nadia," teriaknya, berulang kali.
"Dimas. Ada apa, teriak-teriak?" Suara ibu Nadia meninggi, tersentak dengan kehadiran sang menantu yang berbuat tidak sopan didalam rumahnya.
"Bukannya, dia tinggal bersamamu?" Ibu mertua malah kembali bertanya.
"Nadia pergi dari rumah, membawa putriku. Ibu jangan berpura-pura dan menyembunyikannya."
"Apa??" Ibu kaget. "Pergi dari rumah? Apa kalian bertengkar?"
Dimas menatap ibu mertuanya, kesal. Bukannya menjawab, wanita ini malah balik bertanya.
"Jadi, Nadia tidak pulang kesini?"
"Tidak." Ibu menggeleng. "Memangnya, kalian kenapa? Apa kalian bertengkar?" Ibu mengulangi pertanyaannya, karena belum juga mendapat jawaban.
"Baiklah. Aku pulang dulu. Aku akan memberitahu ibu nanti."
Dimas pergi, mengabaikan ibu mertua yang masih memanggilnya meminta jawaban.
Taksi kembali meluncur, membelah lalu lintas. Dimas membisu, dengan pandangan lurus ke depan. Kamu sembunyi dimana, Nadia? Apa yang sudah kamu lakukan? Terlalu banyak, hal yang perlu Dimas pikirkan. Sang istri yang pergi dengan alasan menumpuk di kepalanya. Apakah dia pergi karena berselingkuh? Atau dia pergi, karena merasa ditipu olehnya? Ah, sial!! Dimas mengumpat.
Tanpa terasa, ia sudah tiba didepan rumah. Ada dua buah mobil terparkir. Dimas memperhatikan, sebelum kakinya turun dari taksi.
Siapa? Apakah Nadia? Dimas membayar taksi, lalu berjalan masuk pekarangan.
"Dimas."
__ADS_1
Dimas meletakkan boksnya asal. Menatap ibunya berurai air mata. Tiga orang, duduk bersama sang ibu.
"Ada apa ini?"
"Kenalkan, kami tim pengacara Dave Alehandra." Dua orang, memperkenalkan diri.
"Saya pengacara, ibu Nadia." Wanita itu mengulurkan tangannya, tapi tak disambut. Dimas shock.
Ibu menghampiri putranya, yang mematung. Dimas membisu, memperhatikan mereka bertiga. Ada apa, lagi ini? Apa yang diinginkan presdir dariku? Apa aku akan masuk penjara? Dimas bergumam, panggilan ibunya sama sekali tidak terdengar.
"Dimas, Dimas." Ibu menggoyang bahu putranya agar tersadar.
Dimas mengikuti ibunya, duduk diatas sofa berhadapan dengan tiga pengacara, yang datang dengan kepentingan berbeda.
"Tuan Dave, meminta agar ibu Anda, mengembalikan uang hadiah yang pernah diberikannya. Jumlahnya satu miliar dan harus dikembalikan minggu depan," jelas pengacara itu.
Dimas membelalak, lalu kembali menatap ibunya. Katakan, ibu. Uangnya masih ada, kan? Itulah arti, sorot mata Dimas pada ibunya.
"Jika dalam waktu satu minggu, kalian tidak mengembalikannya, kami terpaksa akan menyita rumah ini."
"Apa?" Dimas bangkit dengan tangan terkepal.
"Anda tahu, bahkan rumah ini harganya tidak sampai dua ratus juta. Jadi, meski rumah ini disita. Kalian masih harus, manambahkan sisanya."
Tidak bisa! Asap mengepul dikepala Dimas. Amarahnya sudah tak tertahan lagi. Ia bisa gila, jika seperti ini.
"Kalian tidak punya hak, menyita rumah ini!" hardik Dimas, "Beritahu, Dave Alehandra, aku akan mengembalikan uangnya!"
Para pengacara, saling berpandangan. Urusan mereka sudah selesai, jadi saatnya untuk pergi.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar dari Anda. Sampai jumpa, minggu depan!"
Dua pengacara, keluar dari rumah. Setelah, urusan mereka selesai.
"Anda sendiri, ada urusan apa?" Dimas bertanya pada pengacara wanita didepannya.
"Saya mewakili klien, agar anda mau menandatangani surat perceraian!"
Duaarr!!
Dimas merasa sangat sesak. Masalah datang bertubu-tubi, seperti ombak yang menghantam. Tubuhnya goyah untuk sesaat. Wajah Nadia terlintas dalam ingatannya. Kenapa? Kenapa? Dimas bertanya sendiri dalam batinnya.
"Aku tidak akan menandatanganinya. Tidak ada perceraian diantara kami!"
"Kalau begitu. Kita akan bertemu dipengadilan. Nona Nadia juga meminta hak asuh anak, diberikan padanya."
Ibu meradang. Bagaimana bisa, Nadia meminta itu? Begitu juga Dimas, yang tidak habis pikir dengan keputusan sang istri.
"Ibu pengacara. Nadia bukanlah, ibu kandung putriku. Jadi, dia tidak berhak atas anakku."
"Tapi, secara hukum, Nona Nadia adalah ibunya."
Aaaaaa!!!!
__ADS_1
Dimas frustasi. Ia mengamburkan cangkir yang masih berisi teh. Serpihan kristal bening, berserakan diatas lantai bercampur air.
Sang pengacara, masih duduk dengan tenang. Tidak terganggu sedikit pun dengan sikap Dimas.