
Setelah makan siang berlalu, kesibukan para pelayan dan koki belum juga usai. Dekorasi ulang tahun sudah rampung, tinggal beberapa pernak pernik balon dan bunga, yang harus diatur. Padahal pesta ini, tidak dihadiri oleh tamu undangan. Hanya Dave yang meniup lilin dan memotong kue ulang tahun. Seperti, tahun sebelumnya. Ia juga akan memutar video kebersamaannya dengan Clarissa. Menonton dengan sebotol wine didepannya. Setelah mabuk, maka pesta selesai dengan sendirinya.
Arshila ikut mendekor ruangan, karena merasa bosan tidak mengerjakan apapun. Meletakkan beberapa bunga, ditempat yang sudah ditentukan dan beberapa bingkisan hadiah diatas meja, yang entah berasal dari siapa.
Didapur, para koki membagi tugas. Ada yang membuat kue ulang tahun, aneka kue untuk cemilan dan hidangan makanan. Mereka membuat banyak hidangan, padahal tidak ada satu pun tamu.
Tahun lalu, para pelayan dan koki, ikut merayakan pesta ulang tahun sebagai tamu. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dan bertepuk tangan saat Dave meniup lilin. Mereka juga menikmati kue ulang tahun dan hidangan yang mereka siapkan sendiri.
Tenggelam dalam kesibukan masing-masing, hingga tidak ada yang menyadari kedatangan Dave. Begitu juga Arshila yang masih sibuk merangkai bunga.
Pria itu, hanya berdiri menatap seorang wanita yang sudah beberapa hari tidak dilihatnya. Wajah tersenyum, dengan kedua tangan merangkai bunga.
Dave masih tidak tahu harus memperlakukan Arshila, seperti apa. Ia masih butuh waktu untuk memperjelas semuanya. Meski, hatinya berkata lain.
Siang tadi di perusahaan,
"Apa yang sudah kamu dapatkan Tian?"
"Saya sudah mengambil CCTV di rumah sakit dan di perusahaan, pada hari yang sama saat kejadian. Tapi, butuh waktu untuk mendapatkan rekaman dari tahun lalu."
"Berapa lama?"
"Sekitar satu minggu."
Dave masih harus bersabar, seminggu lagi. Menunggu sembari menghindari wanita itu, meski tidak mungkin. Karena, sang ibu sudah turun tangan, mencampuri urusan pribadinya.
Seperti sekarang ini, Dave menghela napas, melihat pakaian sang istri, tergeletak diatas sofa. Beberapa, make up di meja rias dan sebuah bingkai foto, seorang anak kecil.
Ia mengabaikannya. Maju tiga langkah, Dave menatap wajah Clarissa, yang selalu tersenyum.
"Selamat ulang tahun, sayang. Maaf, jika hari ini, mungkin ulang tahun terakhir untukmu. Aku minta maaf, tapi aku akan tetap mencari keadilan untukmu." Mendaratkan kecupan, dengan genangan air mata.
Dave memilih untuk membersihkan tubuhnya. Cukup lama, saat keluar, Arshila sudah berada dalam kamar.
Wanita itu menunduk, sementara Dave berjalan melewatinya, tanpa berkata apa-apa. Keduanya, hanya membisu, sampai Dave keluar kamar setelah berpakaian.
Begini lebih baik, menjadi orang asing tanpa saling menyakiti. Arshila menyeka air matanya. Lalu, masuk dalam kamar mandi.
__ADS_1
Pukul tujuh malam, semua persiapan sudah selesai. Kue ulang tahun dan semua hidangan sudah tersaji diatas meja. Para pelayan sudah berkumpul di ruang tengah. Rachel ikut bergabung, bukan untuk merayakan pesta tapi untuk menikmati hidangan, terlihat ia terus mengunyah tanpa henti. Sementara, Arshila hanya menguring diri di kamar.
Dave sudah berdiri dengan lilin yang sudah menyala diatas kue. Ia memejamkan mata, seperti sedang meminta permohonan.
Selamat ulang tahun, sayang. Selamat ulang tahun anakku. Berbahagialah kalian ditempat yang terbaik. Maafkan aku, karena tidak bisa menepati janji padamu dan pada anak kita. Maaf, jika pada akhirnya hatiku ditempati orang lain. Maaf, jika aku harus melepaskanmu sekarang. Berbahagialah dengan anak kita, aku tidak akan melupakan kalian. Seumur hidupku, kalian adalah permataku yang akan terus bersinar.
Air mata Dave mengalir, dengan mata yang masih terpejam. Para pelayan, seakan ikut menangis, meski tidak tahu permohonan apa, yang pria itu minta.
Dave meniup lilin, sembari terisak.
Berbahagialah, sayang. Anak kita bersamamu. Maaf, maafkan aku karena harus melepaskan kalian berdua.
Tes.
Tes.
Tes.
Dave menghapus air matanya, lalu memotong kue. Potongan kue pertama diberikan pada pak Yus, potongan berikutnya diterima ibu Lin. Lalu, akhirnya, mereka semua menikmati hidangan.
Dave tersenyum, menatap wajah Clarissa. Entah mengapa, hatinya merasa tenang dan seolah sebuah batu besar terangkat dari tubuhnya.
Dave menurunkan bingkai foto itu, lalu menyandarkannya ditembok. Para pelayan, saling menatap satu sama lain. Sedangkan, Rachel tersenyum, lalu melangkah memeluk putranya.
"Lepaskan dia, sayang. Dengan, begitu kalian berdua bisa bahagia. Jalani hidupmu, ibu yakin Clarissa sedang tersenyum sekarang melihatmu."
"Hiks .... hiks .... Mama ..." Dave mengeratkan pelukannya.
Momen mengharukan ini, membuat para pelayan menangis bersama. Begitu juga, Arshila yang memperhatikan mereka dari lantai atas. Ia tidak kuat, hingga harus berlari masuk kamar untuk menangis.
Dave melepaskan pelukannya, tersenyum pada semua orang yang telah bekerja keras selama ini untuknya.
"Mulai malam ini, semua foto Clarissa diturunkan. Kamar miliknya juga harus dikosongkan. Semua barang-barang miliknya, aku serahkan pada pak Yus, untuk mengurusnya."
Dave akhirnya meninggalkan mereka. Berjalan menuju ruang kerja, untuk menikmati pesta seorang diri. Diruangan itu, pak Yus sudah menyiapkan wine dan kaset video yang siap diputar.
Dave duduk disofa, menuang wine lalu meneguknya sampai habis. Ia mengambil remot, lalu menyalakan sebuah tv dengan layar lebar.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, sayang."
Suara tepuk tangan yang begitu meriah.
Dave kembali meminum wine, langsung dari botolnya. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Sebuah acara pesta pertunangan yang sangat meriah, sedang berlangsung. Dave menyematkan cincin, yang diiringi tepuk tangan dan tawa bahagia, dari orang-orang yang hadir saat itu.
Glek, glek, glek. Sebotol wine sudah habis. Ia kembali mengambil botol yang masih terisi penuh. Lima botol wine, sudah mendarat diatas meja.
Glek, glek, glek, kembali meminumnya, dengan air mata yang menetes jatuh. Saat layar didepannya, menunjukkan bagaimana Dave mencium kening Clarissa yang tersenyum bahagia dan membalas pelukannya.
"Maafkan aku, sayang. Maaf, karena tidak bisa melindungi kalian." Glek, glek, glek, sebotol wine kembali habis.
"Aku merindukanmu, hiks .... Dasar sial! Aku merindukanmu, pulanglah!" Glek, glek, glek. "Ayo, pulang. Kau sudah terlalu lama pergi."
Dave mulai meracau tidak jelas, menangis hingga berteriak seorang diri. Enam botol wine sudah habis, ia berteriak memanggil pak Yus agar mengambilkannya lagi.
"Tuan, Anda sudah mabuk."
"Aku masih sadar, ambilkan sebotol lagi. Aku masih harus menunggu Clarissa pulang."
Pak Yus memanggil beberapa pelayan pria, untuk membantu, mengantar Dave ke kamar.
"Aku belum mabuk."
Dave masih meracau, saat kedua kakinya dipaksa untuk melangkah.
"Maaf, Nona. Tuan muda mabuk."
Arshila yang tidur diatas sofa, terpaksa bangun karena mendengar suara ketukan pintu.
Para pelayan, membaringkan Dave diatas tempat tidur. Lalu, segera beranjak pergi.
Arshila menyelimutinya, sebuah tangan kekar menarik pinggangnya hingga mendarat diatas tubuh Dave.
"Aku merindukanmu, sayang."
"Lepaskan aku, emmhhhh...."
__ADS_1
Malam panjang, dihabiskan dua sejoli diatas tempat tidur. Meski, penuh dengan penolakan dan perlawanan, tapi pada akhirnya terjadi juga.