Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 36. Matilah


__ADS_3

Tak terasa, waktu terus berputar tanpa henti. Sudah sebulan lamanya, Arshila tinggal bersama Dave dengan status istri tapi hidup seperti pembantu.


Ancaman Dave, waktu itu mau tidak mau, membuat Arshila harus menerima nasibnya. Bekerja tanpa upah dan mendapat perlakuan kasar. Tamparan dan rambut yang dijambak, sudah menjadi makanan sehari-harinya. Pria itu, tidak pernah puas menyiksanya.


Tubuh Arshila mulai mengurus, wajah memucat tanpa polesan make up sedikit pun. Rambut acak-acakan dan tidak terawat. Bahkan, perlahan rambut indahnya dahulu, mulai rontok, akibat tangan yang selalu menariknya dengan kasar.


Setiap malam, ia akan menangisi hidupnya. Meringkuk dalam kamar, seorang diri. Tidak memiliki ponsel, untuk sekedar bertukar kabar dengan para sahabatnya. Mungkin, jauh disana mereka akan bertanya-tanya, karena ia menghilang begitu saja.


Masih gelap, tapi ia harus bangun sepagi mungkin, untuk bekerja. Pekerjaan yang dua kali lipat banyaknya, dari pelayan yang lain.


Membersihkan semua kamar, mengelap kaca, membersihkan lantai. Belum lagi, cucian yang menumpuk.


Arshila sudah membasuh wajahnya, mengikat rambut dengan asal tanpa menyisirnya lebih dulu. Jika diperhatikan, penampilannya sekarang, sudah sangat mirip dengan pembantu. Tapi, mereka masih memiliki gaji untuk membeli keperluan mereka. Tidak sepertinya.


Ia masuk dalam sebuah kamar kosong, membuka tirai dan jendela. Membersihkan semua perabotan dan tempat tidur. Selesai, ia mengelap jendela kaca, lalu beralih membersihkan kamar mandi. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan satu kamar, adalah sekitar 30 menit. Sementara, masih ada enam kamar, termaksud kamar Dave.


Satu persatu kamar, sudah dibersihkannya. Ia akan membersihkan kamar Dave, setelah pria itu pergi bekerja. Ia berusaha untuk menghindarinya, meski ia tahu, pria itu selalu sengaja mencarinya untuk meluapkan kekesalan.


Baru jam delapan pagi, pelayan lainnya mulai melakukan tugas masing-masing. Karena, pria itu masih tidur, Arshila pergi ke ruang cuci untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kak, Shi. Sarapan dulu."


Setiap pagi, Ica akan mengingatkannya untuk sarapan. Jika tidak, ia akan melewatkannya begitu saja.


"Sebentar, lagi."


Arshila membagi beberapa cucian dan memasukkannya dalam mesin, Begitu mesin bekerja, ia berjalan menuju dapur untuk sarapan.


Seperti biasa, para koki akan selalu memasak makanan kesukaannya, entah sarapan atau makan siang dan makan malam.


Di rumah ini, masih ada yang peduli padanya, meski tidak mengatakannya secara langsung.


"Terima kasih," ujarnya pada salah koki yang sedang menatapnya. Ia hanya menundukkan kepala sembari tersenyum.


Arshila mulai makan dengan terburu-buru, karena ia tahu Dave sebentar lagi akan turun. Ia langsung meneguk air putih sampai tandas dan berlari kembali ke ruang cuci.


"Mana dia?" tanya Dave, yang sudah duduk di meja makan.


"Sedang di ruang cuci, Tuan."


"Beritahu untuk membersihkan kamarku dan buka kamar Clarissa, sudah terlalu lama kamar itu terkunci. Biarkan dia membersihkannya."


"Baik, Tuan."


Ibu Lin sudah memberitahu pekerjaan selanjutnya, padahal diruang cuci ia belum selesai. Sembari menunggu mesin cuci bekerja, Arshila sudah berada di kamar Dave untuk membersihkan. Selagi pria itu didalam kamar mandi, ia bergegas menyelesaikannya.


Tangan kekar, menarik pinggang Arshila untuk mendekat. Aroma shampo menyeruak, dari tubuh Dave.


"Kau disini, sayang?"

__ADS_1


Suara lembut, yang dulu pernah didengar dari mulut pria didepannya, kini serasa menakutkan dipendengarannya. Tidak ada debaran jantung, saat kulit mereka sentuhan. Hanya, tersisa rasa trauma dan ketakutan yang menjalar diseluruh tubuhnya.


"Jawab!"


Rambutnya kembali dijambak, hingga hampir terjatuh.


"Ampun, Dave. Sakit!! Tolong, lepaskan!"


"Sakit?" Hah!!"


Aku cuma menarik rambutmu, tapi kau sudah kesakitan. Bagaimana dengan Clarissa yang berlumuran darah didepanmu? Apa kau tahu bagaiamana rasa sakitnya?


Dave mengambil tali pinggang, mendaratkan dipunggung Arshila.


"Aaaa!! Sakit, tolong maafkan aku!"


Arshila meringis kesakitan, bercucuran air mata, memohon untuk diampuni. Tapi, Dave yang gelap mata, sama sekali tidak peduli. Dia harus membalas, rasa sakit yang dialami tunangannya. Sakit karena luka dan pendarahaan karena keguguran.


"Sakit!! Dave, tolong hentikan aku, mohon! Hiks ... hiks...."


"Matilah!" Dave kembali mencambuk.


"Tuan, hentikan!"


Dave menoleh, lalu membuang tali pinggangnya dengan sembarang.


Ibu Lin mendekati Arshila yang sudah tidak sadarkan diri. Bercak darah terlihat dari balik bajunya.


"Jangan memanggilnya seperti itu!" bentak Dave.


"Tuan, kasihanilah dia! Cukup, bebankan dia pekerjaan rumah, jangan menyiksanya seperti ini."


"Diam!! Bawa dia keluar!"


Ibu Lin keluar kamar, memanggil beberapa pelayan untuk membantu, mengangkat Arshila. Tapi, diwaktu yang tepat, Tian muncul.


"Pak sekretaris, tolong!"


Tian tidak mengerti, tapi mengikuti langkah Ibu Lin di kamar Dave.


"Astaga. Dia kenapa?"


Tian membelalak, tubuh Arshila berlumuran darah dan tidak sadarkan diri. Tanpa, bertanya lagi, Tian segera mengangkatnya.


"Panggil dokter."


Para pelayan, membuang muka, tidak tega menatap Arshila yang kini dibopong Tian. Sementara, Ica sudah menangis, bahkan mengikuti langkah Tian menuju kamar Arshila.


"Nona, hiks ... hiks ... sadarlah!"

__ADS_1


"Ica buka pakaiannya, dokter sebentar lagi datang."


Ica masih menangis, perlahan membuka baju Arshila.


"Oh, Tuhan! Nona, hiks ... hiks ..."


Luka dipenuhi darah, membuat tubuh Ica merasa ngilu. Jejak yang dibuat Dave, tercetak jelas dari punggung, lengan dan wajah. Pasti sakit, sangat sakit. Kenapa tuan begitu tega? Ica berlinang air mata, begitu juga ibu Lin.


"Kalian, minggir. Biar dokter yang periksa."


Ica dan Ibu Lin mundur, memberikan ruang bagi dokter untuk memeriksa.


"Aku harus membersihkan lukanya, Bantu aku, melepas semua pakaiannya."


Keduanya mengangguk, lalu membuka semua pakaian, menyisakan dalaman saja.


"Kau mau melakukan apa?"


Teriakkan menggema didepan pintu, suara dengan penuh emosi memenuhi tenggorokan Dave. Ia menarik kasar dokter Heru untuk keluar kamar.


"Tuan, saya hanya ingin membersihkan lukanya."


"Dengan membuka bajunya? Aku tidak mengizinkanmu, menyentuhnya. Sekarang, pergi."


"Tuan, Nona terluka parah. Lukanya harus diobati, sebelum infeksi. Biarkan dokter melakukan tugasnya."


"Diaamm!!" Dave menatap tajam Ibu Lin, pandangan yang dipenuhi nyala api.


"Pergi, dan panggil dokter perempuan."


"Baik, Tuan."


Dokter Heru, pergi dengan kesal, tapi tidak berani menunjukkannya. Ia meraih ponselnya, menelpon seorang dokter wanita.


Didalam kamar, Dave menutupi tubuh Arshila dengan selimut. Ia mengangkat untuk membawa dalam kamar miliknya. Langkahnya disusul Tian, Ica dan Ibu Lin.


"Buang ini!" Dave melempar selimut. "Kenapa kau memberikannya selimut setipis itu?" pertanyaan yang ditujukan untuk Ibu Lin.


"Maaf, Tuan. Saya akan menggantinya."


Ibu Lin hanya bisa meminta maaf, padahal semua yang menyangkut Arshila adalah perintah darinya.


"Tuan, ...."


"Jangan sekarang, Tian!"


"Maaf, Tuan."


Tian ingin memberi nasehat, tapi rupanya pria itu, sudah tahu maksudnya.

__ADS_1


Sementara, Dave mematung dengan amarah yang belum reda. Dasar sial! Umpatnya, yang tidak terima, tubuh istrinya disentuh orang lain. Meski, tidak ada rasa cinta, tapi hanya dia yang berhak menyentuh tubuh Arshila. Entah sentuhan cinta atau siksaan. Hanya, dia seorang yang boleh menyentuh atau menyiksanya.


__ADS_2