Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 77. Hukuman


__ADS_3

Di kediaman Dave.


Rumah ini tampak sangat sepi, seperti tidak berpenghuni. Padahal, para pelayan masih bekerja dengan sibuk setiap harinya. Semenjak, Arshila masuk rumah sakit, rumah ini tampak tenang dan damai. Tidak ada lagi, suara tangis dan tidak ada suara menggelegar. Karena, pertengkaran pasangan itu.


Kini para pelayan, bisa bekerja dengan leluasa, tanpa tertekan.


Dari halaman depan, sebuah mobil mewah baru saja terparkir. Ibu Lin membukakan pintu, untuk penumpang kendaraan itu.


"Mana menantuku?" Pertanyaan pertama, yang meluncur dari mulut Rachel. Wajah wanita itu, sedang tidak ramah.


"Dia masih di rumah sakit, Nyonya. Dia belum sadarkan diri."


"Kamu dengar itu?" ujarnya, menoleh pada sang suami.


"Aku dengar. Ayo, masuk dulu. Kamu perlu istirahat, setelah itu kita ke rumah sakit."


Liam menarik tangan istrinya, yang sudah menampung amarah sejak mengunjunginya.


Wanita itu, menelpon bukan untuk minta dijemput. Melainkan, meminta dirinya bersiap pulang mengikutinya. Padahal, sang istri baru saja mendarat.


Sang istri terus mengumpat dan memaki putranya. Emosinya, membuncah saat menerima telepon dari ibu Lin. Menantunya, bunuh diri. Padahal, ia baru saja membaca pesan yang membahagiakan. Arshila mengandung cucunya.


"Ma. Ayo, berbaring dulu. Kamu belum beristirahat dengan benar. Bahkan, hanya makan sedikit."


"Bagaimana aku bisa tidur dan makan, jika menantuku masih belum bangun? Cucuku, cucu kita, dalam bahaya, jika Arshila masih tidak sadarkan diri."


Liam merengkuh, tubuh istrinya. Menenangkan, wanita yang sudah 20 tahun menemaninya.


Ia tahu dengan pasti rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan istrinya itu. Ia juga, merasakan yang sama, saat Rachel menceritakan semua yang dilakukan putranya.


Bagaimana bisa putranya berubah menjadi pria kejam? Tidak berperasaan?


"Mama, tenanglah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa."


"Lalu, Papa mau membiarkannya saja? Bagaimana dengan Dave? Mama harus menghukumnya."


"Papa akan menghukumnya. Untuk sementara, perusahaan, papa akan ambil alih. Papa akan mengadakan pertemuan dengan dewan komisaris dan para pemegang saham."


"Bagus. Biarkan, dia merawat istrinya sampai sadar. Ah, tidak, sampai Arshila memaafkannya. Meskipun. Menantu kita sadar, dia pasti meminta cerai. Mama tidak mau kehilangan cucu."


"Papa, mengerti. Biarkan Dave, mengambil pelajaran dari kejadian ini. Sekarang, kita berbaring dulu."


Rachel menurut, ia membaringkan tubuhnya disamping sang suami. Wajahnya masih cemberut.

__ADS_1


"Senyum dong, Ma."


"Aku tidak senyum, Pa. Jangan memaksaku. Aku sedang ingin memakan orang."


Liam tertawa, kemarahan sang istri terlihat gemas dan lucu dimatanya.


"Papa, tumggu disini. Aku mau menemui ibu Lin."


"Ma, istirahat dulu."


"Aku tidak bisa. Papa aja, yang tidur."


Rachel kembali bangkit, berjalan keluar kamar mencari ibu Lin. Ada banyak hal, yang perlu ditanyakan padanya.


"Bagaimana keadaanya?"


"Kata dokter, nona baik-baik saja. Kandungannya juga selamat."


"Lalu, kenapa dia belum bangun?" gusar Rachel.


"Saya juga tidak tahu, Nyonya."


Rachel semakin kesal, amarahnya bertambah setiap detiknya.


"Pak Yus, masih menemani tuan muda. Sedangkan, Grace kembali dikediaman Anda."


"Cih, apa yang dilakukannya disana? Padahal, aku tinggal disini." Mengomel tidak jelas, seolah semua orang salah dimatanya.


"Dia harus tetap, memastikan keadaan rumah."


"Ya, sudah. Bersihkan kamar Clarissa. Buang semua barang-barang miliknya. Jangan ada yang tersisa satu pun. Ganti semua perabotnya. Kamar itu, akan menjadi milik cucuku."


"Baik, Nyonya."


Rachel kembali masuk kamar. Disana, suaminya duduk ditepi tempat tidur, menunggunya.


"Kenapa masih menungguku?" Rachel duduk disebelah suaminya. Meraih pinggang dan menjatuhkan kepalanya, dilengan sang suami.


"Papa sedang berpikir, bagaimana cara kita menebus kesalahan Dave pada istrinya?"


"Jangan khawatir, Mama punya seribu cara untuk menghajar anak itu."


"Bukan itu, Ma." Liam menatap istrinya. "Seperti, kata Mama, jika menantu kita akan meminta cerai. Papa berpikir, biarkan Dave melepaskan istrinya dan memulai dari awal."

__ADS_1


"Apa?" Rachel melotot, posisinya langsung bangkit. "Apa papa gila? Cucu kita ada diperjalanan. Bagaimana mungkin, mengijinkan mereka bercerai? Aku tidak rela cucuku dibesarkan pria lain."


"Bukan itu, maksudku. Dari awal, pernikahan mereka sudah salah. Dave tidak mencintainya, putra kita hanya ingin balas dendam. Jika Mama jadi, Arshila apa yang akan mama lakukan? Papa yakin, Mama pasti ingin berpisah."


Rachel terdiam. Jika ia diposisi menantunya, tentu saja dia akan meminta berpisah. Siapa yang akan menahan penderitaan, terlebih lagi jika suaminya tidak mencintainya.


"Tapi, Pa. Bagaimana jika Dave sudah mencintai menantu kita?"


"Biarkan dia berjuang, dari awal, untuk mengejar cinta wanita itu. Jika dia sudah jatuh cinta, ini bisa menjadi hukuman terberat untuknya."


"Tapi, Arshila sedang hamil. Apa mereka bisa bercerai? Dave pasti tidak akan melakukannya."


"Biar, Papa yang membujuknya. Jika tidak, Arshila akan melakukannya sendiri dan itu akan membuat nama baik keluarga kita hancur."


Rachel mendadak lemas. Ia kembali duduk. Bayangan akan menantunya pergi membawa cucunya, sungguh membuatnya frustasi. Ia sudah lama mendambakan, kehadiran penerus keluarga mereka. Kini, impiannya menjadi nyata, tapi harus kembali menelan pil pahit.


"Bagaimana jika, Dave tidak berhasil membujuk istrinya? Mama takut, mereka akan berpisah selamanya."


"Biar takdir, yang menjawabnya. Papa yakin, Dave bisa melakukannya. Ia harus melepaskannya, agar bisa memulai dari awal. Jika tidak, sampai kapanpun Arshila tidak akan pernah memaafkannya, apalagi mencintainya."


Rachel menjatuhkan kepalanya diatas bantal. Pikirannya kalut, dengan masalah yang tidak ada habis-habisnya. Ucapan suaminya, memang sangat benar. Tapi, sungguh ia tidak rela, jika menantunya pergi.


Apa ia mengikuti menantunya saja? Ah, benar. Aku tinggal mengatakan, kalau dia sekaramg putriku. Jadi, aku bisa mengikutinya kemana pun dan menjaganya dari para buaya darat.


"Jangan, lakukan itu!"


Rachel mendongak, apa sekarang suaminya bisa membaca pikirannya.


"Papa tahu, apa yang Mama pikirkan. Tapi, sebaikanya kita jangan ikut campur nanti."


Rachel mengerucutkan bibirnya. Kesal bercampur senang, karena sang suami yang bisa membaca pikirannya. Padahal, itu hanya kebetulan.


"Oh, iya. Pa. Nanti, panggil sekretaris Tian, kemari. Kita perlu menginterogasinya. Dia terlalu banyak menyembunyikan sesuatu, tentang putra kita."


"Untuk apa lagi, Ma? Bukannya, semua sudah jelas!"


"Mama ingin tahu, tentang Clarissa. Si akar masalah ini, yang katanya mengandung cucuku. Aku harus.mengetahuinya dengan jelas."


Benar juga, Liam bergumam. Calon menantunya dulu, jika diingat mungkin hanya dua kali, mereka bertemu. Keduanya, lebih banyak menemui ibu Clarissa, yang kala itu selalu mengatakan putrinya sakit atau sedang sibuk.


Bahkan, jika dipikir-pikir, calon menantu biasanya akan sering mencari muka, pada orang tua pasangannya. Tapi, yang justru terjadi, sang besan yang lebih sering mengunjungi mereka, dengan alasan ini itu. Meski, tidak penting.


Seolah, pernikahan putranya dulu, hanya diinginkan ibu wanita itu saja.

__ADS_1


__ADS_2