
Hujan menerpa dengan derasnya, udara dingin semakin menusuk. Diluar sana, pepohonan berayun, karena angin yang bertiup. Lampu-lampu, ditaman rumah sakit sudah menyala.
Suasana malam yang tampak sepi. Biasanya, jam segini, masih banyak pengunjung yang lalu lalang. Mungkin udara dingin, membuat mereka berdiam dalam ruangan. Hanya ada, petugas kesehatan yang mondar-mandir, tanpa lelah. Mereka mengecek pasien, disetiap ruangan, dengan membawa peralatan medis. Ada juga, petugas kebersihan, yang masih menyelesaikan pekerjaannya.
Dave terduduk disamping brankar, tempat sang istri terbaring. Ia terus menggenggam erat, tangan yang terpasang jarum infus. Sedangkan, tangan satunya, ditutupi perban.
"Tuan muda, tolong makanlah sedikit saja!" pinta pak Yus, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Dave.
Sejak siang tadi, Dave belum makan apapun. Ia terus membisu, wajahnya sembab dan penampilannya berantakan. Kadang, ia menangis tanpa sebab, melihat istrinya terbaring dengan mata terpejam.
Wajah pucat pasi itu, terbaring dengan damai, tidak ada air mata, yang biasa membasahi kedua pipinya. Mungkin, ia sedang bermimpi indah disana, terlihat senyumannya yang sekilas dibibirnya.
Dave mengelus rambut Arshila dengan lembut. Batinnya, terus membangunkan sang istri. Bangunlah! Agar kamu bisa membalasku. Aku mohon, sadarlah! Dave mendongak, mencoba menghalau air matanya, yang terus saja menetes. Ia mengecup tangan yang digenggamnya dan terus membatin.
"Tuan." Ibu Lin menyodorkan sepiring makanan. "Anda harus tetap sehat, agar bisa menjaga Nona muda. Jika Anda sakit, siapa yang membangunkan nona dari mimpinya."
Dave belum mengambil, masih menatap makanan itu. Ia sama sekali, tidak berselera. Hanya, air putih yang bisa diterima oleh tenggorokannya, saat ini.
Tapi,
Dave menerima pemberian ibu Lin. Memaksa mulutnya untuk terbuka. Hambar, sangat hambar. Makanan itu, tidak memiliki rasa di lidahnya. Ia meminum air putih, mendorong makanannya masuk dalam tenggorokan.
Ia memaksakan diri, menghabiskan makanan dalam piring. Ia harus sehat, untuk istri dan bayinya.
"Tian," panggil Dave, tanpa menoleh. "Pulanglah. Selama istriku, belum sadar, aku tidak akan ke perusahaan. Jadi, urus semua!"
"Baik, Tuan." Sekretarisnya menunduk sebagai hormat. Lalu, berpamitan pada pak Yus dan ibu Lin.
Suasana kembali hening. Ruangan ini, seperti tidak berpenghuni. Hanya suara hujan yang terdengar, dari balik jendela kaca. Semuanya sibuk, dengan pikiran masing-masing. Ibu Lin dan pak Yus, duduk di sofa, untuk rehat sejenak. Sementara, Dave tenggelam dalam kesedihan dan penyesalannya.
__ADS_1
Rasa bersalah yang menggunung, seperti sebuah beban berat dalam hati, Dave. Beban, yang entah bagaimana cara meringankannya.
Semua bermula, karena rasa cintanya pada Clarissa dan bayi, yang ia duga miliknya. Membalas dendam, meski Arshila sudah mendapatkan hukumannya. Ia tidak terima, meski wanita itu, jelas tidak sengaja melakukannya.
Hukuman Arshila terlalu ringan dan itu tidak setimpal dengan kematian Clarissa serta janinnya.
Kini, semuanya sia-sia. Clarissa tidak mencintainya dan janin dalam rahim wanita itu, bukan miliknya. Arshila yang menjadi sasaran amarah, menanggung penderitaan, yang membuatnya tidak ingin hidup lagi.
Setelah fakta terkuak, semuanya sudah terlambat. Arshila kini terbaring tidak berdaya. Ditubuhnya, menempel peralatan medis. Ia memilih mati, untuk mengakhiri penderitaannya.
Kata maaf dan air mata, tidak bisa menghapus kesalahan. Bahkan, tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Dave hanya bisa menyesal dan berandai-andai, jika waktu bisa mundur kembali.
"Tuan, istirahatlah. Biar, kami yang menjaganya." Pak yus mendekat, bersama ibu Lin.
"Tidak, perlu. Kalian, pulanglah! Besok pagi, bawakan pakaian untukku dan Arshila."
"Aku mohon, pulanglah. Aku ingin sendiri, bersamanya. Aku akan menelpon jika butuh sesuatu."
Pak Yus tidak langsung, menjawab. Ia menatap ibu Lin, meminta pendapat. Wanita itu, menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Baik, Tuan," jawab pak Yus.
Mereka pun berpamitan pulang, membawa beberapa barang yang tidak digunakan, untuk dibawa pulang.
Dave leluasa untuk menumpahkan kesedihannya. Ia mengelus perut Arshila yang masih rata. Ia mengelus dengan hati-hati, mengingat ada perban, diperut istrinya. Batinnya menangis, mengingat rasa sakit yang dirasakan Arshila. Entah, apa yang dipikirkan wanita itu, sampai begitu nekat.
Yah, mungkin, karena wanita itu sudah tidak sanggup lagi. Dan kesabarannya, habis saat ia memintanya menggugurkan darah dagingnya. Jika hari ini, itu terjadi, entah bagaimana ia akan menghadapi hidup. Penyesalannya terhadap Arshila saja, sudah membuat hidupnya terasa hancur. Bagaimana, jika ditambah kesalahan pada janinnya?
"Sayang, ini ayah. Kamu baik-baik saja, kan? Maafkan ayah. Maaf, karena meragukanmu." Dave terisak. "Tolong, sadarkan ibumu, agar ayah bisa menebus kesalahan padanya."
__ADS_1
Elus elus, lagi, sembari menyeka air matanya. Ia tertunduk dengan air mata yang menetes jatuh. Sakit sungguh sakit, karena tidak bisa berbuat apa-apa, untuk mengurangi beban dalam hatinya. Menyesakkan, karena meski memiliki segalanya, ia tidak tahu, bagaimana cara untuk meminta maaf pada Arshila.
"Maaf, maafkan aku! Tolong, maafkan aku!"
Terus menerus, mengulangi kata yang sama. Meski, Arshila tidak mendengarkan permohonan maafnya.
"Aku akan menebusnya. Aku akan melakukan apapun, agar kamu memaafkanku. Tolong, bangunlah!"
Berbicara seorang diri, meminta maaf dan menyalahkan dirinya. Tidak ada, seorang pun, yang menyahutnya. Hanya ada, suara denting jam dinding.
Hujan diluar sana, mulai reda meski masih rintik-rintik. Waktu sudah pukul 11 malam. Dave masih duduk, tanpa beranjak sedikit pun. Tangannya, masih menggenggam erat. Tatapannya masih setia, pada sang istri. Ia terus menatap lekat, pada wajah pucat pasi itu.
Bayangan akan penderitaan sang istri, membuatnya tak bisa memejamkan mata. Ingatan, ketika tangannya selalu terangkat dan mendarat di wajah istrinya, tanpa belas kasih. Wajah itu, hanya bisa menangis, memohon maaf, meski bukan kesalahannya.
Yah, mengapa Arshila memilih diam, dari pada mengatakan yang sebenarnya? Mengapa ia memilih menanggung semuanya, padahal ia begitu menderita?
Apa yang disembunyikan? Apakah mantan suaminya, mengancamnya? Tapi, apa?
Dave mulai memikirkan Dimas. Ia melupakan pria itu, karena pikirannya terlalu sibuk memikirkan kesalahannya. Dimas!! pria yang menjadikannya iblis.
Tunggu!!
Mata Dave menyipit, ingatannya mundur setahun yang lalu. Seorang wanita tua, yang datang bersujud dan meminta maaf. Wanita itu, memutar balikkan fakta. Menyiksa Arshila, membuat Dave percaya, bahwa wanita itu hidup seperti ratu. Padahal, nyatanya ia seperti pembantu yang dipekerjakan secara gratis.
"Aku akan membalas, kalian berdua." Rahangnya mengeras. "Sudah cukup lama, kalian bersenang-senang dan menertawakan kebodohanku."
Dave kembali membelai rambut Arshila, mendaratkan kecupan, lalu tersenyum.
"Aku akan membalas mereka, sayang. Tolong sadarlah, aku akan menebus kesalahanku dengan membahagiakanmu. Aku akan menuruti semuanya." Kecup lagi, kali ini cukup lama. Ia menghirup aroma tubuh sang istri. Jika saja, Arshila tidak terluka. Ia ingin tidur disampingnya dan memeluk dengan erat.
__ADS_1