Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 18 Sadar, Arshila!


__ADS_3

Rumah sakit.


Arshila sudah mendapatkan perawatan. Ia masih belum siuman dan terbaring dengan jarum infus yang menancap.


Sementara Dave, berada dilantai atap rumah sakit. Lima orang suruhannya, berdiri tegak.


"Aku sudah bilang, jangan menyentuhnya."


Bugh!


"Maaf, Tuan. Kami hanya ingin menakutinya."


"Dengan memukul dan membuatnya terluka?" Dave menendang kakinya. "Bahkan, membuka pakaiannya. Kalian ingin melakukan apa? Bukankah menghancurkan barang-barangnya sudah cukup."


Bugh!


"Maafkan, kami Tuan. Kami melakukan kesalahan, tolong maafkan kami."


Salah satu dari mereka meringis kesakitan.


"Tian, urus mereka."


Dave tidak menjawab, ia berjalan pergi, menyerahkan semuanya kepada sekretarisnya. Ia Kembali, menuju ruang perawatan Arshila.


Ceklek, pintu terbuka. Dilihatnya, wanita itu masih terbaring dengan mata yang masih terpejam.


Ia duduk di sofa, meraih ponsel dalam saku.


"Carikan aku, pakaian wanita."


"Baik, Tuan. Ukuran?"


"Ukuran?" Menatap Arshila. "Aku tidak tahu."


Dave memutuskan sambungan telepon, mencari posisi tidur yang nyaman. Tapi, bagaimana pun, sofa tidak pas untuk tubuhnya. Kakinya yang panjang, menjuntai keluar.


"Hah!" Menghela napas, lalu menatap hospital bed tempat Arshila terbaring.


Tanpa berpikir panjang, ia naik. Tidur memeluk, yang entah mengapa rasa dendam dalam hatinya seperti menguap atau mungkin terlupakan olehnya.


Pagi sudah menjelang, Arshila mengerjapkan mata, pandangannya terkunci sosok wajah Dave, yang tidur satu bantal dengannya.


Hanya beberapa inci saja, bibir pria itu menyentuh wajahnya.


Arshila kembali menutup mata, saat pintu kamar terbuka.


Sekretaris Tian, membawa paper bag, meletakkan diatas meja tanpa bersuara. Lalu, kembali keluar ruangan.


Arshila membuka mata, masih tidak berani bergerak karena dapat membangunkan pria disampingnya yang masih terlelap. Ia menatap wajah yang sangat tampan, tertidur dengan dengkuran halus yang terdengar.


Arshila mengalihkan pandangannya, memejamkan mata saat air matanya jatuh. Ia teringat akan sang mantan suami. Pelukan hangat yang tidak dapat dirasakannya lagi. Hatinya semakin sakit, saat pikirannya menerawang. Bagaimana wanita lain tidur diatas tempat tidur mereka.


Aku membencimu, Mas


Ia kembali menangis tanpa bersuara, hanya air mata, yang terus menetes jatuh dari sudut matanya.


Dave terbangun, saat wajahnya terasa basah. Ia menatap air mata Arshila menetes jatuh, wanita itu menangis, tanpa bersuara.


Kau menangis? Bahkan, itu belum seberapa.


Berpura-pura tidur, Dave meraih tubuh Arshila memeluknya dengan erat. Entah mengapa, Arshila begitu nyaman. Mungkin karena terbawa suasana atau mungkin merindukan pelukan seseorang.


Pintu ruangan kembali dibuka, sekretaris Tian masuk, masih tidak bersuara, ia meletakkan kotak makan diatas meja. Duduk menunggu, sambil memainkan ponselnya. Pandangannya sama sekali tidak melirik kearah pasien.

__ADS_1


Dave masih posisi pura-pura tidur, sementara Arshila sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Tian. Ia memegang tangan Dave, yang melingkar dipinggangnya.


"Emm..."


"Tuan," cicit Arshila.


"Hmm."


"Aku mau ke kamar mandi."


Dave membuka mata, menopang kepalanya dengan tangan kanan.


"Selamat pagi, cup."


Arshila membelalak, kecupan hangat mendarat di pipi. Apa yang dia lakukan? Begitulah arti tatapannya saat ini. Arshila langsung bangkit, mendorong tiang infus, masuk dalam kamar mandi.


"Kamu sudah mengurus mereka?"


Duduk menghampiri sekretarisnya, meraih botol air dan meneguknya.


"Sudah, Tuan. Saya membawa pakaian Anda ke kantor hari ini dan pakaian wanita."


"Hmm." Meletakkan botol air. "Apa informasi dari wanita itu?"


"Tidak ada, Tuan. Masih sama, saat mereka belum menikah."


"Katakan padanya, untuk tidak melupakan tugas, hanya karena ia menikahi mantan kekasihnya."


"Baik."


"Tunggu, aku diparkiran. Aku akan bersiap."


Tian menundukkan kepala, sebelum pergi. Saat bersamaan, Arshila keluar dari kamar mandi.


"Tuan, tidak sarapan?"


Dave berjalan mendekat. "Apa kamu masih belum terbiasa memanggil namaku?"


"Maaf, aku akan mencobanya."


Dave kembali mendaratkan kecupan, yang membuat Arshila tersentak dengan serangan yang tiba-tiba. Pria itu, masuk dalam kamar mandi.


Hey, jangan berdetak seperti itu.


Ia memegang dadanya, kembali berbaring dengan perasaan tidak karuan.


"Ingat, Shi. Jangan percaya pada siapa pun."


Memorinya masih dipenuhi pesan tante Nessa. Pesan yang membuatnya harus berhati-hati pada siapapum, termaksud Dave.


"Kamu sudah sarapan?"


Hanya menggunakan handuk yang dililit pada pinggang. Badannya masih basah dan air masih jatuh menetes dari rambut.


Arshila tidak menjawab, kedua matanya terlalu sibuk menatap ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.


"Kamu tidak apa-apa?"


Secara tiba-tiba, wajah Dave sudah berada beberapa inci darinya. Air yang masih basah dari rambutnya jatuh menetes di tangan Arshila.


"I .. Iya."


Dave menyeringai licik, tanpa aba-aba, ******* bibir Arshila.

__ADS_1


"Emm..."


Keduanya larut dalam nafsu, Arshila yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan, ikut menikmati.


"Tuan,"


"Panggil namaku, sayang."


Kecupan itu, kini turun di leher. Tangan Dave sudah masuk dibalik baju yang digunakan Arshila.


"Dave, ah!" Ia mendesah "Tolong hentikan."


Bibir Arshila berucap, tapi tubuhnya berkata lain. Ia meminta lebih.


Dave masih sadar, apa yang sedang ia lakukan. Menghentikan ciumannya, lalu berdiri perlahan.


"Maaf," ujarnya.


Arshila mengangguk, mengalihkan pandangan karena merasa malu.


"Sarapanlah." Memberikan kotak makan padanya, lalu kembali masuk dalam kamar mandi.


Arshila mengelus bibirnya, yang masih basah. Jantungnya semakin berdegup kencang. Ia tidak bisa menyangkal, kalau ia menikmatinya.


Sadarlah, Shi. Sadar, ingat statusmu.


Begitulah, ia menampar dirinya dengan kenyataan. Fakta ia seorang mantan narapidana dan seorang wanita yang sudah pernah menikah. Ia tidak berhak, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi, dari yang bisa ia gapai.


Pintu kamar mandi terbuka, Dave sudah mengenakan setelan jas, berjalan mendekat sambil tersenyum.


"Aku akan kembali, saat jam makan siang."


"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa sendiri."


Arshila kembali mengalihkan pandangan, pria didepannya terlalu sulit untuk di tolak, meski ia berusaha menyadarkan diri.


"Baiklah, telpon aku, jika butuh sesuatu."


Dave kembali mendaratkan ciuman di dahi Arshila tanpa aba-aba.


Pria itu, berjalan pergi, menutup pintu sebelum akhirnya menghilang.


Arshila menghela napas lega, mulai menikmati sarapan dengan pikiran tidak menentu.


Tidak boleh, aku harus menghindarinya. Kembali mengingatkan diri.


Arshila masih belum melupakan mantan suaminya, ia juga belum siap untuk menjalin hubungan baru.


Dave memang orang baik, pikirnya. Tapi, ia tetaplah orang asing, yang baru beberapa hari dikenalnya. Selain itu, status Dave sepertinya bukan orang sembarang. Terlihat dari cara berpakaian, barang mewah yang melekat pada tubuhnya, tak lupa seorang pria yang selalu mengikutinya.


Sarapannya sudah habis, seiring dengan pikirannya yang terus berkelana. Ia meletakkan kotak makan, meraih botol air.


Tok ... Tok ... Tok ...


Seorang wanita, yang tampaknya sudah berumur seperti tante Nesa. Masuk dengan senyum, ditangannya membawa kantong plastik, entah apa isinya.


Ia menundukkan kepala, memberi hormat dan Arshila melakukan hal yang sama.


"Selamat pagi, Nona. Kenalkan, nama saya Grace. Saya akan menemani Nona, sampai tuan muda kembali."


Deg.


Benar dugaanku. Ia bukan orang biasa.

__ADS_1


__ADS_2