
Sudah siang, waktunya jam istirahat. Arshila naik dilantai tiga, menuju ruang atasannya. Ia hendak mengutarakan niatnya untuk mengundurkan diri.
Tok ... Tok ... Tok...
"Masuk."
"Selamat siang, bu."
"Ada apa, Shi?"
"Saya ada perlu, bu."
"Duduklah."
Yuri, tampak memperhatikan penampilan Arshila yang begitu berbeda. Pakaian mahal, melekat pada tubuh gadis itu. Tapi, pikirannya pada Nessa, yang mungkin sudah menyiapkan untuk Arshila.
"Bu, saya mau mengundurkan diri." Ragu-ragu, Arshila mengucapkannya.
"Apa kamu ada masalah atau kamu merasa tidak nyaman? Kamu belum sebulan bekerja."
"Bukan itu, bu. Saya mau buka usaha. Kebetulan mantan suami saya, sudah mengirimkan uang kompensasi. Jumlahnya cukup besar, jadi saya pikir untuk membuka usaha sendiri."
"Baguslah. Aku senang mendengarnya. Aku akan memberimu setengah dari gaji sebulan."
"Terima kasih, bu. Saya juga minta maaf, jika saya ada kesalahan saat bekerja disini."
"Sama-sama. Nanti kapan-kapan kamu datang kesini.
"Iya, bu."
Arshila keluar dari ruangan, setelah berbincang cukup lama didalam sana. Ia mengaduk tasnya, mencari ponsel untuk menghubungi Dave.
"Mana ponselku?" terus mengaduk, bahkan menumpahkan isi tasnya diatas lantai.
"Apa aku lupa membawanya?"
Arshila terus mengingat dimana letak ponselnya semalam.
Ah, benar. Karena, terlalu kaget dengan kedatangan para pelayan, di kamarnya. Ia melupakan benda kesayangannya itu.
Tunggu! Dompetnya pun tidak ada, ia kembali melihat isi tasx yang berserakan diatas lantai. Ada pena, buku catatan, kertas-kertas entah apa tulisannya, cas ponselnya dan beberapa make up.
__ADS_1
"Aduh, bagaimana ini?"
Arshila panik, bagaimana ia akan pulang nanti. Ia tidak memiliki uang sepersen pun, gaji setengah yang diberikan ibu yuri sudah terlanjur ditransfer dalam rekeningnya.
Yang membuatnya semakin panik, ia belum makan siang. Tinggal di rumah Dave, ia merasa tidak enak, meminta dibuatkan bekal oleh pelayan.
"Aku harus bagaimana?"
Arshila memasukkan kembali barang-barangnya dalam tas. Ia turun dilantai dua, dimana para karyawan sedang duduk istirahat menikmati makan siang.
"Shi, ayo kemari." Vina melambaikan tangan, mengajak Arshila duduk disebelahnya.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, Mbak."
"Ya, sudah. Kamu makan, aku tadi bawa bekal tapi ternyata pacarku membawakan makan siang."
"Terima kasih, Mbak."
Arshila antusias, menerima kotak makan yang diberikan Vina. Tanpa malu-malu, ia langsung melahapnya.
Mereka terilibat percakapan, dalam suasana seperti ini, Arshila ingin memberitahu mereka, kalau ia sudah mengundurkan diri. Tapi ia bingung, bagaimana jika mereka bertanya tentang lokasi usaha barunya? Sementara, semua itu hanya kebohongan saja. Ia menunggu Dave, untuk memberikan butik untuk dikelolanya sendiri. Tapi, Dave masih merahasiakannya.
Setelah, makan siang mereka kembali bekerja seperti biasa.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Arshila sudah bersiap pulang, bersama karyawan lainnya.
Diluar, cuaca begitu gelap, tiupan angin juga begitu kencang. Pepohonan yang tumbuh didepan gedung, bergoyang mengikuti arah angin. Ranting dan daunnya ikut, jatuh diatas tanah.
"Shi, kami duluan, yah."
Teman-temannya, pergi setelah ada yang menjemput. Ada juga yang berjalan kaki menuju halte bus.
Ia sendiri masih menunggu didepan gedung. Berharap, pria yang baru saja melamarnya hari ini segera menjemput.
Perlahan, titik-titik hujan mulai berjatuhan. Suara menggelegar diatas langit, memekakkan telinga. Arshila mulai gelisah, entah sudah berapa lama ia menunggu. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan menjemputnya.
Hari pun semakin gelap, rintik hujan sudah menjadi sangat deras. Tiupan angin, membuat tubuhnya merasa kedinginan.
Andai saja, aku tidak melupakan ponsel dan dompetku. Atau salah satu dari keduanya, aku pasti bisa pulang dengan cepat. Arshila bergumam seorang diri, menyesal karena telah melupakan benda penting yang harus berada dalam tasnya.
__ADS_1
Kilatan cahaya diatas langit, disusul suara menggelegar. Arshila menutup telinga. Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ia semakin gelisah dan ketakutan, apalagi trauma yang dialaminya belum hilang.
"Kemana dia? Kenapa belum datang? Apa terjadi sesuatu padanya? Jika saja, aku tidak melupakan ponselku." Arshila kembali menyalahkan dirinya.
Padahal, diseberang jalan tepat didepan gedung tempatnya bekerja. Pria itu, sudah lama mengamatinya, memperhatikan semua gerak-geriknya, sambil tersenyum.
Semua sudah direncanakannya, mengambil ponsel dan dompet milik Arshila. Hari ini, ia ingin membuat wanita itu merangkak, dibawah hujan. Seperti yang pernah dilakukannya pada Clarissa.
Gelapnya malam semakin nyata, perlahan hujan mulai reda, meski rintik hujan belum berhenti. Arshila memberanikan diri pergi dari gedung, mengabaikan hujan membasahi tubuhnya, serta tiupan angin yang menusuk tulang.
Aku tidak bisa terus menunggu, gumamnya sambil terus melangkah. Tapi, aku harus bagaimana? Naik bus, aku tidak punya uang, ojek online, aku lupa membawa ponselku. Aku tidak punya pilihan, selain berjalan kaki. Andai aku masih tinggal dikontrakkan, ini akan sangat dekat. Tapi, di rumah Dave, ini sangat jauh. Mungkin, aku akan tiba saat ayam berkokok.
Aku berharap, seseorang melihatku saat melintas dan memberiku tumpangan. Arshila terus bergumam, sampai langkah kakinya tidak terasa, sudah jauh dari gedung.
Hujan yang belum berhenti, ia tidak berjalan seorang diri. Masih banyak orang yang lalu lalang, dengan menggunakan payung atau jas hujan. Tidak sepertinya, yang bermain hujan dengan pakaian minim.
Lampu jalanan, menerangi setiap langkahnya yang entah berakhir dimana. Arshila membuka sepatu high heels yang digunakannya. Bertelanjang kaki dengan pakaian yang sudah basah kuyup. Ia juga sudah mengigil kedinginan.
Bertahanlah, Shi. Sebentar lagi! Bergumam dengan menguatkan hatinya. Padahal, jalan yang ditempuhnya belum setengah perjalanan.
Entah sekarang sudah jam berapa, waktu yang dilaluinya pun tidak ia ketahui. Ia hanya terus berjalan, dengan harapan segera sampai.
Hujan yang tadi mereda, kini mulai turun kembali dengan derasnya. Arshila tidak ingin berteduh, percuma, gumamnya. Ia sudah basah kuyup, untuk apa lagi mencari perlindungan.
Berjalan, terus berjalan, sampai keadaan lalu lintas mulai sepi. Tidak ada lagi, orang yang lalu-lalang. Meski kendaraan, masih banyak yang melintas. Suara klakson dan lampu mobil yang menghiasi jalan, membuat Arshila sedikit jauh dari rasa takut.
Tapi, aku lelah, aku tidak bisa berjalan lagi. Aku kedinginan, aku tidak sanggup. Kaki Arshila sudah terhenti, napasnya terasa sesak. Udara dingin yang semakin menusuk, membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Bibirnya membiru dan terasa membeku. Telapak kakinya pun, terasa perih.
Dari jarak aman, Dave masih memperhatikannya dengan tersenyum puas.
"Nikmatilah! Ini baru hari pertama."
Arshila masih memaksa kedua kakinya untuk melangkah. Ia memeluk tubuhnya, dengan kedua tangan yang sudah gemetar.
"Aku sudah tidak sanggup!" ujarnya pelan, bahkan suaranya hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Beep ... beep.... beep...
Suara klakson, mobil berhenti disampingnya.
"Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Arshila tidak menjawab, tubuhnya terlalu lelah, bahkan sekedar untuk menggangguk atau menggelengkan kepalanya.
Pandangannya yang sudah buram, tidak mengetahui siapa pria yang menyapanya.