Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 42. Katakan, apa bukan kau??


__ADS_3

Arshila kini duduk bersandar di ruang perawatan, membaca beberapa buku yang diberikan Ellino padanya. Pria itu berpamitan, karena harus mengambil beberapa barang titipan sang ibu.


Ibu Lin masih setia menemani, meski diminta pulang beberapa kali, wanita paruh baya itu menolak keras. Alasan tidak tega dan sudah menjadi tugasnya, menjadi senjata ampuh untuk mendiamkan sang nona.


"Nona, suka membaca buku apa?" Ibu Lin ikut mengambil buku, membaca judul disampulnya.


"Aku suka baca novel, dan majalah tentang penjelajahan yang berisi foto-foto pemandangan alam diluar sana. Dulu aku bermimpi bisa jalan-jalan untuk liburan." Arshila tersenyum, lalu kembali membaca novel ditangannya.


Suara pintu ruangan terbuka, seseorang berjalan masuk tanpa permisi bahkan tidak mengetuk pintu sebelumnya. Arshila menengadah, wanita dengan paras campuran indo dan barat. Rambut berombak kekuningan, tergerai jatuh.


"Selamat sore, Nyonya."


Mendegar suara ibu Lin yang menyapa dan memberi hormat, Arshila menduga wanita didepannya adalah ibu Dave, meski wajahnya terlihat masih muda dan energik.


"Siapa namamu?"


Tanpa basa basi, Rachel memperhatikan Arshila dari bawah sampai atas.


"Saya Arshila, Nyonya." Arshila meletakkan buku didekatnya.


"Aku ibu Dave dan ibu mertuamu. Panggil aku mama!" Suara tegas dan mengintimidasi.


Arshila sedikit tersentak, menatap Rachel, lalu menatap ibu Lin yang berada dibelakang nyonya besar, yang tengah menganggukkan kepala kepadanya.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak pantas, lagi pula Dave tidak pernah menganggap saya istrinya."


Ada raut kesedihan, saat kalimat itu meluncur, tapi itulah kenyataannya. Dave tidak pernah menganggapnya istri.


"Hah!" Rachel menghela napas, duduk di sofa yang jaraknya agak jauh dari tempat tidur pasien. "Kau terlalu lemah dan aku tidak menyukainya. Sebelumnya, Clarissa sama denganmu. Tapi, dia sangat manja dan membosankan." Rachel menyesap teh yang masih beruap, buatan ibu Lin. "Aku ingin punya menantu yang bisa mengigit dan membantuku membasmi pelakor. Bukan hanya menangis dan memilih bunuh diri."


Arshila membisu, hatinya tersentil dengan ucapan menohok sang mertua. Benar, ia memang hanya bisa menangis dan mengambil jalan pintas, untuk mengakhiri hidupnya. Semua dilakukan, karena tidak memiliki pilhan lain dan tidak memiliki apa-apa untuk melawan.


"Aku memang seperti ini, Nyonya. Lagi pula, aku tidak punya kekuatan untuk melawan."


"Kau punya kekuatan sayang, tapi tidak menggunakannya." Rachel membalas tatapan Arshila yang sedang bingung. "Gunakan wajah dan tubuhmu serta otakmu."


Lagi-lagi jawaban menohok, yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Entah, bagaimana menggambarkan sifat wanita ini, bermulut tajam, tapi Arshila merasa nyaman dengan ucapannya.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak secantik wanita yang berada didalam foto rumah Dave. Lagi pula, saya hanya ingin bebas darinya."

__ADS_1


Menggunakan wajah dan tubuhnya, cih! Arshila malu sendiri dengan ucapan itu. Wajah kusam dan dipenuhi jerawat kecil, tubuh kurus seperti papan, mungkin akan terbang jika tertiup angin yang lewat.


Rachel bangkit, berdiri disisi ranjang. Menyentuh wajah menantunya dengan telunjuk, seolah menelisik semua kekurangan yang ada.


"Apa kau mencintai putraku?" ujarnya setengah berbisik.


"Tidak lagi, Nyonya. Aku ingin bebas dan bercerai darinya."


Jika ditanya masalah perasaan, Arshila akan menjawab dengan pasti. Semua cinta dan perasaaan untuk pria itu, sudah benar-benar lenyap, tidak tersisa sedikit pun, kecuali kebencian.


"Aku tidak ingin ikut campur masalah putraku. Setelah, suamiku pulang, aku akan membawamu di kediamanku."


"Tapi, Nyonya ...."


"Tidak ada, tapi-tapi, kau menantuku. Jika Dave menceraikanmu maka, aku akan melepasmu."


Arshila menelan kekecewaan, secercah harapan yang dibawa ibu Dave pupus sudah. Wanita itu, tidak ingin ikut campur dan membawanya semakin tenggelam.


"Ibu Lin." Rachel berjalan, menyambar tas diatas sofa. "Aku sudah meminta pak Yus kembali. Jadi, tugasmu sekarang menjadi asisten menantuku."


"Baik, Nyonya."


Rachel berjalan keluar, dengan wajah juteknya.


Arshila hanya menarik napas, tanpa bisa berkata-kata lagi. Setelah, keluar dari kandang harimau, ia berpindah kandang entah dimana. Apa singa betina atau macan tutul yang akan menyambutnya, di kediaman orang tua Dave?


"Nona, makanlah." Ibu Lin memberikan piring yang berisi buah yang sudah dipotong. "Apa Anda ingin makan sesuatu?"


"Tidak, terima kasih."


"Nona, jangan khawatir. Nyonya orangnya baik, meski ia sedikit tegas dan jutek. Dia pasti memperlakukan Anda dengan baik."


"Bukan itu, yang aku harapkan. Aku hanya ingin bebas seperti dulu. Bekerja tanpa melibatkan diri dalam suatu hubungan. Apa gunanya, aku tinggal bersama mereka. Semua tidak akan mengubah apa-apa, termaksud perasaan aku dan Dave. Ia membenciku, aku juga demikian. Apa yang mereka harapkan dari pernikahan ini?"


Arshila menatap keluar, tampak beberapa pohon berayun karena hembusan angin. Ia ingin berada disana, duduk tanpa beban dan menikmati hidupnya.


Suara ketukan pintu terdengar, ibu Lin mempersilahkan mereka masuk, setelah menjawab dari balik pintu.


Grace muncul sambil tersenyum, dibelakangnya ada tiga orang wanita dengan balutan kemeja putih dan rok span hitam pendek. Mereka menunduk memberi hormat.

__ADS_1


"Selamat sore, Nona."


"Selamat sore, manajer Grace."


"Saya diperintah nyonya, untuk menyiapkan Anda pakaian di kediaman nanti. Tapi, saya perlu mengukur tubuh Anda."


"Tidak perlu, manajer. Saya masih memiliki banyak pakaian." Arshila menolak dengan halus.


"Maafkan, saya nona. Tapi, beliau berkata, jika Anda menjawab seperti itu, maka dia akan meminta tuan muda untuk melakukannya."


Mendengar kalimat angker itu, Arshila langsung bangkit. Berdiri disisi ranjang dengan patuh. Nama Dave menjadi momok menakutkan baginya, seperti hantu yang terus meneror tanpa mau berhenti.


Tiga orang wanita, dibelakang Grace dengan cepat melakukan tugasnya. Sementara dua wanita yang terpaut umur setahun, saling melempar senyum. Ucapan Grace ternyata bisa membuat Arshila patuh tanpa bertanya atau menolak lagi.


"Kalian tunggu didepan!" perintah Grace pada tiga wanita tadi.


"Bagaimana dengan lukanya?" Pertanyaan ditujukan untuk ibu Lin.


"Sedang masa penyembuhan, karena sempat infeksi. Ada apa?"


"Nyonya memintaku, untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh Nona. Tapi, karena.lukanya belum sembuh, aku akan menundanya."


"Apa? Perawatan? Untukku? Kenapa?" Rentetan pertanyaan dengan cepat meluncur dari mulut Arshila, bahkan melebarkan bola matanya karena terkejut.


"Saya hanya melakukan perintah," jawab Grace.


"Manager Grace, ini terlalu berlebihan. Anda tahu, seperti apa hubungan saya dengan Dave. Saya tidak perlu mendapatkan hal seperti itu, karena saya bukanlah istri yang dicintai suaminya."


"Nona, Nyonya hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Lagi pula ada cinta atau tidak, Anda adalah menantu keluarga Alehandra. Sudah sepantasnya, mendapatkan hal istimewa."


Arshila bungkam, bukan karena kehabisan kata-kata, tapi semua ucapannya sia-sia. Dua orang wanita didepannya, pasti memiliki banyak stock untuk menjawab pertanyaannya.


Brak!


Suara pintu terbuka dengan keras, semua terlonjak dan menoleh ke arah yang sama. Pria dengan balutan jas, wajah memerah dan sorot mata tajam menatap wanita yang tengah duduk bersandar diatas ranjang pasien.


Ia melangkah cepat dengan helaan napas naik turun. Duduk tepat didepan Arshila, ia mencengkam bahu, tapi sorot mata berubah.


"Katakan! Apa bukan kau orangnya? KATAKAN!!!"

__ADS_1


__ADS_2