
Arshila sudah tiba di lobi rumah sakit. Ia menghapus air matanya, tidak ingin dilihat orang lain.
"Ibu Lin, ambilkan bekalku. Aku ingin makan."
"Maaf, Nona. Aku melupakannya di kamar tuan muda."
"Tolong, ambilkan untukku. Aku akan menunggu dihalaman belakang, dibawah pohon besar waktu itu."
"Tapi, Nona, ...."
"Ibu Lin, tolong!"
"Baiklah, Nona." Ibu Lin terpaksa pergi.
Arshila berjalan menuju halaman belakang rumah sakit. Langkah demi langkah, ia menapak, beriringan dengan air matanya yang menetes jatuh.
Aku bukan siapa-siapa, di matamu. Lalu kenapa memberiku cincin? Jika aku bukan siapa-siapa, kenapa kau masih mempertahankan pernikahan kita.
"Hiks ... hiks ...." Arshila mengepalkan tangannya, berlari secepat mungkin. Ia mengubah arah, berlari menuju halaman depan rumah sakit.
Aku sakit dengan ucapan dan kedua tanganmu. Aku lelah, terbelenggu seperti ini.
Masih terus menangis, ia sudah tidak mempedulikan pandangan orang-orang terhadapnya. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin, entah kemana.
Arshila sudah tiba dijalan raya, bunyi klakson kendaraan dan keramaian lalu lintas, membuatnya berhenti sejenak. Ia masih sesegukan dengan mata berair, matanya memperhatikan sekeliling.
Arshila menghentikan sebuah taksi, duduk setelah memberitahu alamat yang ditujunya. Didalam mobil, ia membenamkan wajahnya, pada kedua telapak tangan. Menangis tersedu-sedu, sementara supir meliriknya dari kaca spion.
Ia telah tiba disebuah rumah bercat abu-abu. Rumah yang pernah menjadi tujuan hidupnya. Arshila melangkah perlahan, masuk dalam halaman rumah.
Suara anak kecil yang sedang tertawa, membuatnya berhenti. Ia mematung, dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Nadin, ibu pulang, Nak. Tuhan, tolong biarkan aku memeluknya sekali saja. Tolong, beri aku kesempatan untuk mendengar suaranya memanggilku ibu.
Dari dalam, Nadin berlari keluar rumah disusul pengasuh yang mengejarnya. Dan seorang gadis, yang sangat dikenalnya.
"Kak Shila." Mira terperanjat.
Arshila mendekat dengan air mata yang belum surut. Pandangannya tertuju pada gadis kecil, dengan rambut terkepang dua.
"Bu, masuk aja didalam dan tolong jangan beritahu apapun kepada ibu dan kakak ipar, jika mereka pulang," pinta Mira.
"Baik, Non."
Si pengasuh sudah masuk rumah, Mira menggendong keponakannya. Pergi mendekati Arshila, yang berdiri menatap mereka.
"Nadin, ini ibumu," ujar Mira.
Arshila langsung memeluknya, tanpa menunggu. Ia menangis dengan pilu, saat Nadin memanggilnya ibu, walaupan terbata.
"Anakku, cup, cup, cup." Arshila mendaratkan kecupan, di wajah putrinya, sambil berderai air mata. "Hiks ... hiks .... terima kasih, Mir. Terima kasih."
Mira ikut menangis, melihat pertemuan ibu dan anak itu. Ia ikut memeluk Arshila, yang pernah menjadi kakak iparnya dulu.
__ADS_1
"Kak Shi, ayo masuk. Di rumah, hanya ada aku dan bibik pengasuh. Ibu Sore baru pulang, begitu juga kak Dimas dan kakak ipar."
Arshila mengangguk, berjalan tanpa melepaskan pelukannya. Nadin yang dipeluk erat hanya terdiam, sambil menatap wajah wanita yang sudah melahirkannya dengan susah payah dan dalam kondisi memprihatinkan.
"Bik, tolong buatkan teh!" pinta Mira dari teras rumah.
Arshila duduk dengan Nadin diatas pangkuannya.
"Kak Shi, baik-baik saja?"
"Aku baik-baik, saja. Terima kasih, sudah mengijinkanku bertemu Nadin."
"Sama-sama, Kak. Jika kakak, mau bertemu dengannya lagi, hubungi aku. Aku pasti akan mempertemukan kalian, tanpa ketahuan."
Arshila tersenyum, meski merasa heran dengan sikap Mira, tapi ia tidak mau memikirkannya.
"Putriku yang sangat cantik, kamu sudah sebesar ini. Maaf, ibu baru menemuimu." Kembali memeluknya.
"Kak Shi, ini nomor ponselku. Telpon aku, jika ingin bertemu Nadin." Mira memberikannya secarik kertas, yang baru saja ditulisnya.
"Terima kasih, maaf jika aku harus merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, Kak. Anggap saja, sebagai permintaan maafku kepadamu, dimasa lalu."
Cukup lama, Arshila mengobrol bersama Mira. Bahkan, Nadin yang dalam pangkuannya sudah terlelap.
"Mir, sebaiknya aku pulang."
"Kak," protes Mira.
"Baiklah." Mira bangkit mengambil Nadin, dari pelukan ibu kandungnya. "Telpon aku, kak. Aku janji akan mempertemukn kalian."
"Terima kasih, Mir."
Arshila mengecup kening putrinya sebelum pergi. Meski, terasa sangat berat, tapi ia harus tetap pergi. Ia memberikan sejumlah uang kepada Mira, meminta untuk membelikan keperluan putrinya. Mira yang menolak terpaksa menerima, karena selama ini, Arshila tidak pernah memberikan apapun pada putrinya.
Arshila kembali berada didalam taksi, ia sekarang sudah tidak memiliki tujuan lagi. Ia akhirnya, memutuskan untuk mampir di taman kota, sebelum pulang ke rumah.
Sebuah taman dengan hamparan rumput berwarna hijau. Pohon-pohon berdiri kokoh dengan daun yang rimbun, sebagai pelindung dari teriknya matahari. Arshila duduk dibangku kayu berwarna putih. Ia menatap dengan kosong, anak-anak yang seumuran putrinya berlarian sembari tertawa bahagia.
Dari jauh, tampak penjual es krim duduk diatas sepeda motornya. Arshila yang mulai lapar, karena belum makan siang, berjalan menghampiri.
"Mas, es krim, satu."
"Mau rasa, apa?"
"Stroberi."
Setelah membayar, Arshila kembali duduk ditempatnya. Menikmati es krim dengan cuaca panas.
Sudah pukul 12 siang, Arshila sangat kelaparan. Ia keluar dari taman, mencari warung makan disekitar. Di seberang jalan, sebuah kedai yang tampak ramai pengunjung.
"Mas, aku pesan sate kambing seporsi sama gulainya. Aku juga mau es teh manis."
__ADS_1
"Baik, kak."
Arshila sudah duduk manis, menunggu pesanannya.
"Wah, kau makan banyak, yah."
Arshila menoleh, pria itu duduk disebelahnya.
"Ellino." Arshila memeluknya tanpa sebab, ia seperti bahagia melihat pria itu. "Apa kabar?"
"Aku baik-baik saja."
"Kamu sendirian? Mana pengawalmu?" Ellino mengedarkan pandangan mencari keberadaan ibu Lin.
"Aku berjalan sendiri, karena merasa bosan."
"Apa kamu sedang kabur?" tebak Ellino, yang tidak percaya dengan jawaban Arshila.
"Hahahaha .... kamu bisa saja." Arshila memukul lengan Ellino. "Kamu selalu makan disini?"
"Ini dekat dengan tempatku bekerja." Ellino menunjuk sebuah gedung yang menjulang tinggi, yang jauhnya sekitar beberapa meter dari tempat mereka.
Pelayan sudah membawa pesanan Arshila. Meletakkan diatas meja, tersenyum sebelum pergi.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Makanlah, aku akan menunggumu."
Arshila menikmati makanannya tanpa ragu. Sementara, Ellino menatapnya, sembari mengabadikan momen ini dalam kamera ponselnya.
"Aku sangat kenyang." Arshila meminum es tehnya, sampai tak tersisa dalam gelas.
"Kamu mau kemana lagi? Aku akan mengantarmu."
Arshila menarik napas, berpikir akan arah tujuannya. Ini kesempatannya, untuk menikmati kebebasan, jadi ia berpikir akan pulang malam nanti.
"Apa kamu punya tempat, yang bisa mengusir kebosanan?"
"Tentu, kau mau ikut."
Arshila mengangguk senang, lalu berjalan menuju kasir. Ternyata, Ellino sudah membayar tagihan miliknya.
"Sepertinya, utangku semakin banyak."
Keduanya, tertawa sembari berjalan menuju mobil yang terparkir didepan.
Hampir setengah jam, mereka tiba di wahana permainan. Mata Arshila berbinar, pandangannya tidak lepas dari keramaian didepannya.
"Bagaimana?"
"Terima kasih, aku menyukai tempat ini."
Di rumah sakit.
__ADS_1
Suasana mencekam bercampur ketegangan, memenuhi ruang perawatan Dave. Rachel yang marah-marah, ditambah napas Dave yang naik turun, memendam emosi yang sudah naik diatas kepalanya.
"Cari dia! Jangan kembali, jika belum menemukan istriku!"