Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 7 Tangis Arshila


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Ruangan yang hanya berukuran 3x3 meter, dihuni sebanyak lima orang. Terdapat ranjang susun, alas tikar seadanya dan sebuah meja kecil.


Kandungan Arshila sudah memasuki bulan kesembilan. Tinggal seminggu lagi, hari persalinan, menurut perhitungan dokter. Ia semakin susah bergerak, untung saja para penghuni lapas begitu peduli padanya. Memperlakukannya dengan istimewa.


Sebut saja, Alexa wanita tomboi yang berperan seperti seorang suami. Mengandalkan koneksi keluarganya diluar sana, sering membawakan mereka makanan, buah dan susu ibu hamil.


Begitu juga dengan tante Nessa, wanita yang berumur 40 tahun, menjadi ibu bagi mereka. Wanita ini di hukum penjara selama dua tahun, karena penganiyayaan terhadap istri kedua suaminya yang mengakibatkan cacat pada wajahnya.


Dua orang lainnya, Yessi dan Jian, dua remaja yang di hukum selama satu tahun karena perkelahian dan penganiyayaan di klub malam.


"Kak, ayo makan buahnya."


Yessi menyodorkan piring, berisi potongan buah.


"Terima kasih."


"Kak, jangan bersedih terus. Kami akan membantu merawat keponakan kami dipenjara."


"Iya, Shila. Setelah, Tante keluar dari sini, kami akan membantumu memberi pelajaran pada mertua dan suami durhakamu itu."


Arshila tersenyum, meski dalam ruang sempit dan terkurung, setidaknya di tempat ini masih lebih baik dari pada di rumah mertuanya. Di tempat ini, ia menjadi seorang anak, kakak dan seorang adik.


Ia memang berbagi cerita tentang kisah hidupnya, saat baru menginjakkan kaki ditempat ini. Seperti menjadi kewajiban untuk setiap tahanan baru.


"Apa suamimu sudah berkunjung?"


Alexa duduk bersila diatas tikar, mengunyah buah yang di kupas Yessi.


"Belum. Dia berkunjung saat aku baru seminggu disini."


"Dasar laki-laki brengsek. Aku tidak keberatan masuk penjara sekali lagi, asal manusia seperti dia musnah dari muka bumi."


Tante Nessa tampak geram, mengepalkan tangannya, seolah pria itu ada didepannya.


Air mata Arshila hanya bisa menetes. Janji manis Dimas yang akan sering berkunjung tinggallah janji. Pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan sekedar mengirimkan dia makanan. Tapi sekali lagi, Arshila selalu berpikir positif tentang suaminya.


"Mungkin dia masih sibuk. Saat berkunjung, dia mengatakan kalau dia sudah naik jabatan."


Cih! Ke empatnya berdecis, merasa kesal.


"Sesibuk apapun, dia tetap harus mengunjungimu. Bukankah dia memiliki hari libur. Lagi pula, berkatmu dia naik jabatan, menikmati hari-harinya. Sedangkan, kamu terkurung disini dengan kondisi hamil."


Arshila membisu, tidak ada lagi sanggahan dari bibirnya. Cukup air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


"Aaaaaa... Sakit!!"


"Ada apa?" tanya tante Nessa dengan panik.


"Sakit," ujar Arshila sembari memegang perutnya


"Tarik napas," perintah tante Nessa, lalu menoleh pada tiga orang gadis dibelakangnya. "panggil petugas."


Ketiga orang gadis tersebut, langsung berteriak dengan suara lantang, dari balik jeruji.


"Kenapa kalian ribut sekali?"


Tiga orang sipir wanita mendekat.


"Tolong, teman kami mau melahirkan!"


"Apa?" paniknya. Lalu memberi arahan pada salah satu anggotanya, untuk memanggil bantuan. "kalian, mundur." perintahnya lagi.

__ADS_1


"Bertahanlah, kami akan membawamu ke rumah sakit."


Tak lama, beberapa petugas sipir datang dan seorang dokter.


"Bagaimana dokter?"


"Dia akan melahirkan, kita harus ke rumah sakit. Tekanan darahnya naik."


"Baik."


Tante Nessa dan lainnya tampak cemas. Menatap Arshila yang menahan rasa sakit dengan wajah memerah.


Mobil ambulans melaju, menuju rumah sakit terdekat.


"Bu, tolong telpon suami saya. Saya mohon," pinta Arshila.


"Bersabarlah, kami sudah menghubungi keluargamu."


Tak lama mereka pun tiba di rumah sakit, Arshila terbaring diatas brankar, lalu dibawah masuk dalam ruang tindakan.


"Masih pembukaan dua," terang dokter yang baru saja melakukan pemeriksaan.


Arshila mulai tenang, rasa sakit yang melilit perlahan berkurang.


"Bu, tolong hubungi suami saya?" pinta Arshila sekali lagi.


"Kami sudah menghubunginya, sebentar lagi akan datang."


Arshila menangis sesegukan, menumpahkan segala kekecewaan yang tersimpan dalam hatinya.


"Aku melakukannya untukmu. Mana janjimu?" ujarnya, yang sudah tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya.


Aaaaa...!!


"Sabar, bu. Bertahanlah!"


Mas aku mohon, tolong datanglah. Jangan membuatku semakin kecewa dan membencimu.


Terdengar langkah kaki mendekat, tirai terbuka. Tampak ibu Dimas datang, raut wajah cemas dan sedih.


"Bagaimana keadaanmu, Nak? Maafkan ibu, terlambat datang."


Ibu Dimas, ikut memijit pinggang menantunya dan sesekali membelai rambutnya.


"Mana Dimas, bu? Saya butuh mas Dimas."


"Dimas, lagi tugas luar kota. Ibu sudah memintanya datang. Kamu sabar, butuh berapa jam baru bisa sampai kesini."


Tidak. Aku tidak akan, kalian bertemu. Aku hanya datang mengambil cucuku dan memperlihatkan kebaikanku, pada semua orang.


Rasa sakit semakin menjadi, Arshila meringis kesakitan dengan wajahnya yang dipenuhi keringat.


"Dokter, tolong, sepertinya bayiku mau keluar."


Aaaa...!!


"Oke, ibu sekarang pembukaannya sudah lengkap. Tarik napas dan berkuatlah."


Dokter mengarahkan Arshila dibantu beberapa bidan dan perawat. Disampingnya, ibu Dimas mengelus rambut menantunya.


"Sedikit lagi, bu."


Arshila kembali berkuat, meski tenaganya mulai berkurang. Sampai akhirnya, tangis bayi mewarnai ruangan.

__ADS_1


"Selamat ibu, bayinya perempuan."


Dokter membersihkan bayinya, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan.


"Ini dia." Dokter memberikan bayi itu pada ibunya, yang disambut dengan haru.


"Anakku." Arshila memberikan kecupan.


"Ibu, lihat, dia mirip dengan Mas Dimas."


"Kamu benar sayang. Dia mirip dengan ayahnya."


Ibu menggendong cucu pertamanya, memicingkan mata, pada Arshila.


Lihatlah, anakmu dengan baik. Setelah ini, kalian tidak akan pernah bertemu.


"Ibu, bayinya disusui dulu, sebelum kami memindahkannya di ruangan berbeda," ujar seorang bidan.


"Kenapa tidak bersamaku saja, sus?"


"Maaf ibu, untuk bayi yang baru lahir memiliki ruangan yang steril. Ibu tenang saja, disana aman. Ibu bisa bertemu, saat akan disusui dan dibawa pulang."


"Baiklah, Sus. Terima kasih."


Ibu Dimas membaringkan cucunya, mengarahkan Arshila cara menyusui. Meski ASI yang keluar baru sedikit, tapi cukup membuat putri kecilnya langsung terlelap.


"Baiklah, Ibu. Saya akan membawanya."


Kini tinggallah Ibu Dimas dan tiga orang sipir wanita.


"Ibu, jam berapa Dimas akan datang?"


"Tunggu sebentar lagi, mungkin dia sudah diperjalanan."


Bagaimana ini? Aku tidak ingin mereka bertemu.


"Ibu, apa bisa menelponnya?" pinta Arshila.


Ibu Dimas tampak menahan emosi, ingin rasanya ia memaki menantunya. Tapi, saat ini, ia harus berperan menjadi mertua penyayang.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Ibu Dimas mengaduk tasnya mencari ponsel.


"Ini, telponlah sendiri. Katakan padanya, putrinya sudah lahir.


Arshila menerima ponsel ibu, lalu mencari kontak suaminya.


"Halo."


DEG! Suara wanita.


"Saya mencari mas Dimas."


"Maaf, bisa Anda menelpon kembali nanti. Saat ini, Mas Dimas sedang berada di kamar mandi."


"Ka ... kamar mandi?"


Arshila langsung mematikan sambungan telepon. Air matanya jatuh, ia mengelus dadanya yang terasa sakit.


"Hiks ... hiks ..." tangisnya.


Kau tega, Mas! Kenapa kau melakukan ini padaku.

__ADS_1


__ADS_2