Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 103. Reuni


__ADS_3

Tepat jam tujuh malam, keluarga Alehandra tiba dikediaman Ellino. Arshila menggunakan gaun, yang sudah disiapkan Rachel. Make up natural dengan rambut yang disanggul. Dave sendiri menggunakan kemeja putih lengan panjang, tapi pria itu memilih untuk menggulungnya sampai dibawah siku.


Pasangan yang tidak mau ketinggalan, Rachel dan Liam yang menggunakan pakaian dengan warna senada.


Dihalaman rumah, mereka disambut Ellino dan kedua orang tuanya. Siang tadi, Arshila sudah menyampaikan perihal sang mertua yang akan ikut. Katanya, ingin bertemu Ellino sebagai alasan.


"Selamat malam." Ibu Ellino langsung memeluk Arshila. "Putriku, sangat cantik."


Semuanya tersenyum bahagia, apalagi Ellino yang merasa memiliki keluarga yang sangat lengkap.


"Selamat malam Tuan Liam." Malvin mengulurkan tangan, yang disambut Liam. Keduanya, membisu setelahnya, saling menatap.


"Jangan bilang, kau lupa padaku, Vin!"


Pria didepannya, masih menatap intens. Seolah, mengingat dimana ia pernah melihat wajah ini.


"Kau Liam? Si culun, kutu buku, rambut berponi dengan kaca mata tebal?"


Liam menghela napas, sebelum menganggukkan kepala. Kenapa juga, si playboy, mengingat tampilannya dulu.


"Hahahaha..... Liam." Keduanya berpelukan, membuat orang disekitar mereka bingung, kecuali Rachel. "Bukannya dulu kau gendut dan jelek? Hahahaha...." Malvin kembali tertawa lebar.


"Kau mau mati, ya? Jangan membuka rahasia didepan anak dan menantuku," bisik Liam.


Malvin masih tertawa kecil, bahkan sempat memutar-mutar tubuh Liam. Ia masih tidak percaya, sahabatnya sekarang menjadi pria yang sangat tampan. Pandangannya bergeser, pada wanita yang menggandeng tangan Liam. Wanita dengan wajah yang tidak asing.


"Dia istrimu?"


"Iya, kenalkan dia Rachel."


Rachel mengulurkan tangan, dengan wajah menahan tawa.


"Rachel?" Malvin menyambut uluran tangan Rachel. "Tunggu! Rachel si bunga kampus? Hahahaha..... Kalian menikah? Bukannya dulu kamu sangat membenci Liam?"


"Siapa bilang aku membencinya?" Rachel agak kesal, niatnya untuk menghina Malvin, justru keadaan jadi terbalik.


"Hei, satu kampus juga tahu, kamu membencinya. Malvin yang selalu mengejarmu dan menyatakan cinta setiap hari. Hahahha.... kamu yang sok cuek dan dingin, ternyata malu-malu kucing."


Thak!


Rachel menginjak kaki Malvin, saking kesalnya. Pria playboy ini, sama sekali tidak berubah. Sementara, Malvin meringis kesakitan dengan mengangkat satu kakinya.


Ibu Ellino yang sedari tadi. Memperhatikan mereka, ikut tertawa. Tidak disangka, keluarga adik Ellino adalah sahabat suaminya.


"Ayo, masuk!" ajak ibu Ellino.


Rachel melengos masuk, berjalan sendiri. Ia melupakan niatnya datang ke tempat ini. Karena belum apa-apa, ia malah sudah mendapatkan serangan dari Malvin.

__ADS_1


Didalam rumah, mereka semua berkumpul di ruang tengah. Semua duduk bersebelahan, dengan pasangan masing-masing. Kecuali, Ellino yang harus duduk sendirian.


"Jadi, kamu adik dari menantuku?" Rachel baru sempat menyapa Ellino.


"Iya, Tante." Ellino tersenyum.


"Kau lebih tampan dari ayahmu," sindir Rachel, tapi sayangnya Malvin sedang sibuk sendiri, dengan Liam.


Ibu Ellino tertawa kecil, melihat sorot mata Rachel yang tajam kepada sang suami. Tapi, tidak digubris.


"Ibu, terima kasih, sudah menjaga adik saya selama ini," ujar Arshila tulus, "Jujur saja, saya sangat putus asa, saat itu. Bahkan, setelah kehilangan Ellino. Saya berpikir tidak akan bertemu dengannya lagi."


"Kenapa harus berterima kasih. Kita sekarang adalah keluarga. Aku adalah ibumu. Jadi, aku harap sering-sering kemari dan jangan merasa sungkan."


"Terima kasih, bu."


Dave yang mendengar itu, merasa bahagia untuk sang istri. Ia mengenggam tangan Arshila dengan erat.


Pelayan sudah menyajikan teh hangat dan cemilan diatas meja. Melengkapi, suasana terkumpulnya dua keluarga, yang sedang saling mengenal dan mengenang masa lalu.


Yah, dua pria yang dulu bersahabat, sedang membicarakan, kehidupan mereka sendiri. Dari saat kuliah, yang membuat keduanya tertawa. Hingga, sekarang yang tiba-tiba, membuat keduanya membisu.


"Kamu sedang hamil, sayang?"


"Iya, Bu. Doakan untuk anak kami." Dave yang menjawab.


"Hahaha..... tentu saja. Ibu berharap segera memiliki cucu. Tapi sayang, adikmu belum juga punya pacar."


"Kamu sibuk tiap hari, kapan bisa punya istri? Jangan bilang, kamu belum bisa melupakan Clarissa."


Deg.


Arshila menunduk, saat nama itu kembali mencuat. Dave menatap Ellino, isyarat agar ibunya tidak membicarakan wanita itu. Mereka sudah sepekat untuk melupakan semuanya dan memulai hidup baru.


"Ibu, aku akan membawanya, jika sudah punya pacar."


"Kamu selalu begitu."


Rachel yang paham akan situasi, ikut menyela. Ia takut sang menantu akan kembali terbebani dengan pikiran.


"Oh, iya, jeng. Apa kalian sudah lama tinggal disini?"


"Belum lama. Kami selama ini menetap diluar negeri dan kembali beberapa bulan yang lalu."


"Hahahaha......"


Suara tawa dari pria yang duduk disebelah mereka. Ibu dan Rachel melotot, tapi kedua pria itu terlalu sibuk, dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Apa sih, yang mereka bicarakan? Malvin dan Liam, bahkan meneteskan air mata. Terpingkal-pingkal, dengan sesuatu yang sangat lucu, entah apa.


Rachel menggeser posisi, mendekat pada sang suami. Membicarakanku? Awas kalian! Batinnya.


Pembicaraan mereka masih seputar masa lalu. Tidak ada, habisnya mereka tertawa. Rachel kembali ke posisinya, karena ternyata dua lelaki itu, sibuk dengan kenangan mereka.


"Nyonya, sudah siap."


Ibu mengangguk, saat seorang pelayan, menghampiri.


"Baiklah, ayo, kita makan malam."


Mereka semua bangkit, kecuali Malvin dan Liam, yang sepertinya tidak.mendengar, ucapan ibu Ellino.


Plak.


Rachel memukul bahu sang suami.


"Pa, makan malam."


"Ah, iya."


Ikut bangkit, tapi justru berjalan bersama Malvin, bukan sang istri. Rachel hanya menghela napas.


Diatas meja, sudah banyak hidangan tersaji. Tapi, hanya satu yang membuat Arshila tergiur. Asinan sayur, yang sudah sangat lama tidak dinikmatinya.


Dave yang mengetahui, kemana sorot mata sang istri. Segera, memindahkannya diatas piring.


"Terima kasih."


"Makanlah, aku tahu, kamu pasti jatuh cinta dengan makanan ini."


Arshila merasa malu, ternyata wajahnya dengan mudah bisa ditebak, apa maunya.


Ellino yang melihat mereka, ikut bahagia. Dave yang tulus dan sudah berubah, membuatnya bernafas lega. Mudah-mudahan keputusannya, untuk memberi Dave kesempatan, benar. Semua orang pernah berbuat salah, dan banyak dari mereka untuk sadar. Tinggal memberi kesempatan, agar semuanya bisa membaik dan luka dalam hati, segera pulih.


Yah, Ellino sudah memberikan Dave keputusannya. Pria itu, berubah pikiran dengan cepat, saat Dave memohon padanya, dirumah orang tua Ellino.


"Aku mohon. Bantu aku!"


"Tidak. Aku sudah tahu, apa yang terjadi padanya. Kamu pikir, aku akan membiarkanmu menyiksanya lagi."


"Itu masa lalu dan aku ingin berubah."


"Masa lalu, bisa dijadikan pembelajaran, Dave. Kakakku akan tinggal bersamaku. Aku akan mengurus perceraian kalian."


"Ellino, beri aku kesempatan. Kamu dan aku pernah melakukan kesalahan. Aku terhadap Arshila dan kamu pada Clarissa."

__ADS_1


"Jangan mengungkitnya. Karena itu, berbeda."


"Kita sama!" tegas Dave. "Hanya saja, Tuhan masih memberiku kesempatan, untuk menebus kesalahanku. Tolong, bantu aku."


__ADS_2