
"Kamu baik-baik saja?"
Sebuah tangan terulur, untuk membantu. Dia menatap dengan hangat, memberikan sapu tangan.
Arshila meraih tangan itu, masih menangis. Tanpa sadar, mendaratkan tubuhnya di dada bidang Dave.
"Hiks ... hiks ... rasanya, aku ingin mati."
Dave membalas pelukannya, mengusap rambutnya dengan lembut.
"Memangnya, apa yang terjadi?"
"Aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanya berharap ia memanggilku ibu. Tapi, aku seperti orang asing baginya. Hiks ...hiks..."
Dave melepaskan pelukannya, menghapus air mata Arshila dengan sapu tangan.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Dia menurut, sambil terisak. Membiarkan tangan kekar itu, menariknya masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Tuan." Arshila membuka pintu mobil, hendak keluar.
"Hanya itu? Kamu tidak menawariku minum kopi."
"Maaf, Tuan. Jika Anda berkenan, silahkan ikut saya."
Dave ikut turun, masuk dalam kontrakkan. Arshila membuka pintu dengan lebar, agar tetangga disampingnya tidak salah paham. Meski, ia tahu sejak kedatangannya orang-orang disekitar sudah julid padanya. Seorang janda muda, yang harus mereka wasapadai.
Arshila menuju dapur, meletakkan tasnya diatas meja.
"Kamu belum makan siang?"
Dave memperhatikan bahan makanan yang sudah dipotong dan siap untuk dimasak.
"Belum, Tuan. Aku belum sempat, karena terburu-buru. Apa Tuan belum makan siang juga?"
"Belum, aku melewatkannya karena melihat seorang gadis menangis depan restoran."
"Maafkan aku. Tunggulah sebentar."
Arshila mengambil semua bahan makanan yang sudah disiapkannya sebelum pergi. Memasak dengan telaten.
Dibelakang Dave duduk di meja makan, menatap Arshila yang sedang sibuk.
Sangat cocok, jika kau menjadi pembantu di rumahku.
Tidak butuh waktu lama, makanan sudah tersaji diatas meja. Hanya tumis brokoli campur udang dan ikan goreng yang dibumbui. Terlihat sederhana, tapi Dave menelan salivanya.
"Silahkan, Tuan. Maaf, hanya ini saja."
"Tidak apa, ini sudah cukup."
Arshila mengambilkan lauk dan sayur diatas piring, memberikannya pada Dave.
"Hm, enak," ujarnya, saat makanan itu menyentuh lidahnya. "Kamu pandai memasak, rupanya."
"Tidak juga, Tuan. Aku hanya bisa masak seperti ini saja."
Keduanya, menikmati makan siang. Hanya sesekali tersenyum, saat pandangan mereka bertemu.
"Terima kasih, Shi."
"Saya yang seharusnya berterima kasih, karena Tuan sudah membantu saya hari ini."
Dave memberikan secarik kertas, sebelum pergi.
"Telpon aku, jika kamu membutuhkan bantuan. Jangan sungkan, sekarang kita teman."
__ADS_1
Arshila menerimanya, menundukkan kepala saat pria itu melangkah pergi keluar rumah.
"Bagaimana Tuan?" tanya Tian, saat Dave sudah duduk di kursi belakang.
"Lumayan, tapi aku belum puas. Beritahu mereka untuk datang malam ini. Buat dia ketakutan, tapi jangan menyentuhnya."
"Saya mengerti, Tuan."
Pukul delapan malam, Arshila masih di dapur. Membereskan peralatan yang digunakannya setelah memasak dan makan malam. Ia membersihkan seluruh lantai, sebelum ia tidur.
Selesai, arshila mengunci pintu, berjalan menuju kamar, mengganti baju.
"Besok, aku tinggal membuat sarapan dan bekal."
Ia meraih ponselnya, membaca grup obrolan mereka. Seperti biasa, saling menanyakan kabar dan kegiatan yang dilakukan hari ini dan rencana esok hari.
Arshila teringat, nomor telepon Dave yang ditulis pada secarik kertas.
"Dimana aku menyimpannya?"
Cari sana sini, ia belum menemukannya. Ia akhirnya, mencari di dapur dan ruang tamu.
"Ah, ini dia!"
Menekan angka yang tertera, lalu menyimpan kontak dengan nama teman baru.
Tok ... Tok ... Tok...
"Siapa?"
Tidak ada jawaban, tapi suara ketukan semakin kuat hingga membuatnya ketakutan.
"Siapa?" Kembali bertanya dengan posisi siap berlari menuju kamar.
Masih tidak ada jawaban, tapi pintu rumahnya sudah terbuka dengan paksa.
"Kalian siapa?"
Arshila mundur, tanpa sengaja tangannya menekan nomor kontak Dave.
Ia berlari menuju kamar, namun tidak berhasil.
"Sebenarnya, kalian siapa? Lepaskan aku!"
Salah satu dari mereka menjambak rambut dan mengarahkan pisau lipat di wajahnya. Perlahan, pisau itu turun menyentuh seluruh kulitnya, hingga teriris pada lengannya.
"Aaaa..." Arshila meringis kesakitan, darah segar mengalir.
Rambutnya masih dijambak, pria itu mengubah posisi dengan memeluknya dari belakang. Menciummi leher jenjangnya, sementara pria lainnya, menghancurkan barang-barang dalam rumahnya tanpa tersisa.
Arshila memejamkan mata dengan terisak. Pasrah, satu-satunya yang hanya bisa, ia lakukan. Ia tak bisa berbuat apa-apa, saat pisau itu, masih menyentuh kulitnya.
"Tolong, lepaskan aku! Aku mohon, hiks ... hiks ...."
"Buka pakaiannya, saatnya bersenang-senang."
Arshila membelalak, saat mereka berjalan mendekat. Pria dibelakangnya, mulai melepas pakaian tidur miliknya.
"Lepas, lepaskan aku." Ia akhirnya meronta-ronta, tidak peduli lagi dengan pisau yang siap menikam tubuhnya.
Plak, plak,
Tubuhnya dihempaskan dengan kasar hingga tersungkur. Dengan tenaga yang tersisa, ia mencoba melawan kelima pria yang mengerubungi tubuhnya.
Berakhir sudah, pakaiannya sudah berserakan diatas lantai.
"Aku mohon, tolong lepaskan aku. Tolong, jangan sentuh aku."
__ADS_1
Arshila menangis pilu, duduk dengan berusaha menutupi tubuhnya yang tanpa busana.
"Arshila."
Semua menoleh, Dave tiba-tiba muncul entah dari mana. Hanya menggunakan, baju kaos dan celana pendek.
"Kalian siapa?"
Mereka tidak menjawab, semuanya berjalan maju, langsung memberikan serangan. Perkelahian pun, tidak terhindarkan.
Arshila hanya bisa menonton, sambil menangis. Dave seorang diri, dikeroyok lima orang menggunakan pisau. Tidak lama, mereka tersungkur satu persatu, hingga melarikan diri keluar dari rumah.
Dave menatap Arshila sesaat, lalu pergi menuju kamar, mengambil sebuah selimut.
"Kau tidak apa-apa?"
Arshila hanya menggeleng dengan derai air mata. Tubuhnya yang sudah tertutup selimut, memeluk Dave, menangis sepuas-puasnya.
"Hiks ... hiks ..."
"Tenanglah." Mengangkat tubuh Arshila menuju kamar.
"Aku takut, hiks ... hiks ..."
"Jangan takut, aku ada disini."
Meski ucapan Dave berusaha menenangkannya, tapi nyatanya, tubuh Arshila masih bergetar ketakutan, tangisannya juga belum reda. Bayangan yang akan terjadi jika mereka menyentuhnya, membuat Arshila tidak melepaskan Dave yang masih memeluknya.
"Aku akan mengobati lukamu."
"Jangan pergi, aku mohon jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi, oke! Jangan khawatir."
Arshila membisu, tubuhnya semakin gemetar tak karuan. Pandangannya semakin buram, hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
"Shi, Arshila. Kamu kenapa?" paniknya,
"Tian," panggil Dave.
"Ada apa, Tuan?"
"Siapkan mobil."
Jangan mati. Aku belum melakukan apa-apa.
Dave menatap wajah pucat Arshila, yang kini terbaring dalam mobil.
Tian membuka pintu mobil, saat mereka tiba di rumah sakit.
"Periksa dia."
"Baik, Tuan."
Dua orang dokter, membuka selimut yang menutupi tubuh Arshila.
"Stop! Don't touch her."
Dokter itu mundur perlahan, bingung, ingin memeriksa tapi tidak boleh menyentuhnya.
"Bawakan aku, baju pasien."
"Baik, Tuan."
Tirai tertutup, Dave sendiri mengganti baju Arshila. Ia mengusap wajah dengan kasar, saat melihat lengan wanita itu terluka. Masih ada bekas darah yang sudah mengering.
"Sial. Ada apa denganku?"
__ADS_1
Dave bingung, ada perasaan marah dan kasihan menggelitik dalam hatinya. Ia membuka tirai, membiarkan para dokter melakukan tugasnya.