Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 95. Keluarga yang lain


__ADS_3

Dave memapah sang istri, meninggalkan perkuburan. Wanita itu, masih menangis dalam kebisuan. Yah, diarea makam, Arshila terus menangis tanpa mengatakan apa-apa. Hingga, ia hampir pingsan. Dan Dave, memaksanya untuk pulang. Apalagi, langit mulai gelap, tidak baik untuk Arshila berlama-lama, ditempat seperti itu.


Didalam mobil, Arshila masih membisu, dengan tangis yang belum reda sepenuhnya. Ia membiarkan sang suami memeluk dan mengelus punggungnya.


Arsya, apa kamu sudah kembali, adikku sayang? Apa kamu dirumah orang tua kita? Tunggu aku!


Akhirnya, langit benar-benar gelap. Suasana malam, yang sangat berbeda dipedesaan. Tidak ada, lampu jalanan sebagai penerang. Hanya ada, lampu dari rumah-rumah warga.


Arshila tertidur dalam pelukan Dave. Ia kelelahan karena menangis.


"Tian, dimana penginapannya?"


"Kita sudah tiba, Tuan."


Mobil sudah masuk dihalaman sebuah penginapan yang tampak sederhana dan seperti rumah pada umumnya.


"Lalu, dimana rumah orang tua, Arshila?"


"Masih sekitar satu kilo. Apa, Tuan mau kesana dulu?"


"Tidak. Besok saja."


Pak Yus, sudah keluar membuka pintu mobil. Sementara, para pengawal sudah berlarian masuk, mengecek keamanan disekitar.


Diikuti, Tian dan pak Yus yang membawa barang-barang. Dave menggendong Arshila, masuk dalam penginapan.


"Silahkan, Tuan."


Seorang wanita paruh baya, berjalan menunjukkan kamar mereka.


Dave membaringkan Arshila dengan hati-hati. Sementara, Tian mengecek keadaan semua kamar dan pak Yus meletakkan barang-barang.


"Tuan, saya sudah meletakkan susu dan obat, nona muda, diatas meja."


"Baiklah, terima kasih. Kalian istirahatlah. Bangunkan aku, jika saatnya makan malam."


"Baik, Tuan."


Keduanya berjalan pergi, dan menutup pintu kamar. Tapi, para pengawal masih bersiaga, didepan pintu kamar, majikan mereka.


"Tidurlah, sayang. Aku harus mandi."


Menyelimuti Arshila, sebelum melangkah menuju kamar mandi.


Di kamar berbeda, Tian tidak terlihat ingin beristirahat. Ia menelpon presdir terlebih dahulu. Memberitahukan tentang perjalanan mereka yang sangat lancar.


"Bagaimana dengan menantuku?"


Pertanyaan pertama, yang terdengar ditelinga Tian.


"Dia baik-baik saja, Tuan. Nona muda sempat menangis, dimakam orang tuanya. Tapi, Tuan muda dapat menanganinya."


"Bagusah. Jaga mereka, Tian! Terutama menantuku. Dia sedang mengandung penerusku. Jadi, aku tidak mau hal buruk, terjadi padanya."


"Saya berjanji, Tuan."

__ADS_1


Sambungan terputus. Tian bernafas lega. Prioritas utama mereka saat ini adalah nona muda. Jadi, keamanan disekitar Arshila diperketat dari biasanya.


Di kamar lainnya.


"Bagaimana menantuku, pak Yus?"


"Nona, baik-baik saja. Nona sempat menangis dimakam orang tuanya. Tapi, tuan muda dengan cepat bisa menenangkannya."


"Kamu tidak sedang membohongiku, kan?"


"Tidak, Nyonya. Tuan muda, memperlakukan nona dengan baik. Ia tidak marah, apalagi membentak nona muda."


"Baiklah, aku percaya padamu. Bagaimana dengan obatnya?"


"Nona baru meminumnya siang tadi. Untuk malam ini, kami belum makan malam."


"Ya, sudah. Jaga menantuku, baik-baik!"


"Iya, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir."


Sambungan terputus. Pak Yus bernafas lega. Nyonya besar, hanya mengkhawatirkan nona muda, bukan putranya.


Meletakkan ponselnya. Pak Yus, memilih untuk membersihkan tubuhnya. Ia harus segera, mengecek makan malam, yang disiapkan oleh pihak penginapan. Jika tidak sesuai selera tuan dan nona muda. Maka, ia harus turun tangan untuk menyiapkannya.


Pintu dua kamar, yang bersebelahan terbuka bersamaan. Tian dan pak Yus saling menatap, karena kaget.


"Tuan sekretaris, Anda mau kemana?"


"Saya harus menyelidiki sesuatu, Pak. Anda sendiri?"


"Saya harus mengecek makan malam."


Tian memanggil salah satu anak buahnya, untuk ikut. Sementara, pak Yus sudah menghilang entah kemana.


Sejak pergi dari pemakaman, pikiran Tian sudah dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Mengenai bunga-bunga yang bertaburan, sebelum kedatangan mereka. Ia hanya mencari tahu, letak kampung halaman nona muda. Ia tidak menyelidiki detail tentang masa lalu majikannya, karena tidak ada yang ganjil. Kedua orang tuanya, sudah meninggal. Ia juga sudah bercerai dari mantan suaminya. Lalu, siapa lagi yang harus, ia cari tahu?


Anak buahnya, duduk dikemudi, sementara Tian duduk disebelahnya.


"Kita mau kemana, Tuan?"


"Ke rumah kepala desa."


Mesin mobil sudah dihidupkan dan perlahan keluar dari halaman penginapan. Sekitar satu kilo, mereka sudah tiba. Rumah kepala desa yang jaraknya, beberapa meter lagi dari rumah orang tua Arshila.


"Tunggu saja, disini!"


"Baik, Tuan."


Sekretaris Tian, sudah melangkah keluar. Menghampiri sebuah rumah, yang cukup besar.


Tok, tok, tok.


Pintu terbuka.


"Cari siapa, Tuan?"

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya dari kota, ingin menanyakan sesuatu tentang salah satu warga Anda."


"Silahkan masuk."


Secangkir teh dan stoples kue, terhidang diatas meja. Tian merasa kikuk, dengan tradisi ditempat ini.


"Anda, mau menanyakan, apa?"


"Pak desa, punya warga bernama Arshila Syarenna. Dia pernah tinggal didesa ini."


Pak kepala desa, tidak langsung manjawab. Ia sedang berpikir keras. Ia sudah lama menjabat, tapi tidak mungkin ia bisa mengingat nama warganya, yang sudah lama meninggalkan kampung halaman mereka.


"Orang tuanya bernama, Yudi Ahmat dan Tuti."


"Oohh, iya, iya. Saya ingat. Dia yatim piatu, setiap panen, kami selalu memberikan jatah sekarung beras. Dia sudah lama pergi ke kota, untuk bekerja. Rumah orang tua mereka juga sudah dijual."


"Apa dia punya keluarga lain, di desa ini?"


"Seingat saya dulu, dia punya adik laki-laki, yang menghilang. Tapi, sepertinya, dia sudah kembali."


"Sudah kembali?"


"Benar. Dia sudah membeli tumah orang tua mereka dulu dan memperbaiki makam orang tuanya. Anak itu, sangat beruntung. Karena hidupnya menjadi begitu baik, saat menghilang."


"Siapa namanya?"


"Arsya Ahmat. Dia bekerja dikota. Tapi, kadang-kadang, datang kesini. Orangnya sangat baik dan sering memberi santunan, untuk orang-orang kampung."


"Baiklah, terima kasih."


Tian langsung meneguk habis tehnya, yang mulai sedikit mendingin.


"Kamu bisa bertemu dirumah orang tuanya, karena, ia datang pagi tadi."


"Terima kasih banyak, Pak."


Tian pamit undur diri dan tergesa-gesa, masuk dalam mobil.


Jadi, nona punya saudara laki-laki? Kenapa aku baru tahu, sekarang. Pasti, dia yang menabur bunga. Baguslah, nona pasti bahagia bertemu saudaranya yang lama menghilang. Dan tuan muda, bisa segera mendapatkan maaf.


"Kita kerumah orang tua, nona muda."


Mobil kembali melaju, dengan jarak yang sangat dekat.


Tian, tidak turun. Ia masih mengamati keadaan rumah Arshila. Rumah yang tampak sederhana, tapi desain minimalis. Sepertinya, rumah ini sudah pernah diperbaiki. Dihalaman, tampak mobil mewah parkir didepannya.


Tian belum juga turun, ia masih memperhatikan pintu rumah, yang terbuka lebar. Berharap, seseorang keluar dari sana.


Sepertinya, dia bukan orang biasa. Mobil ini, aku pernah melihatnya. Tapi, dimana?


Tian masih menunggu, tapi belum jug ada tanda-tanda seseorang akan keluar.


"Bagaimana, Tuan?"


"Kita pulang. Sebentar lagi, makan malam. Tuan muda pasti mencari kita."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Mobil pun, memutar haluan. Tian masih menoleh kebelakang, dengan harapan yang sama. Sampai, akhirnya, rumah itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


__ADS_2