Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 119. Bukan pertama kali


__ADS_3

Sore hari yang mendung. Angin bertiup cukup kencang dan kilatan diatas langit yang gelap. Pepohonan dan tanaman bunga dihalaman rumah, berayun mengikuti arah angin.


Dave baru saja tiba. Ia melangkah dengan cepat, apalagi tampak Arshila menunggunya diteras rumah.


"Kenapa keluar? Angin bertiup kencang diluar." Melepaskan jasnya, memakaikan pada sang istri.


"Aku menunggumu."


Dave menggandeng tangan Arshila, masuk dalam rumah.


"Tunggu, aku dalam rumah sayang. Jangan keluar seperti ini."


"Baiklah."


Seperti tidak nyata, seakan Arshila masih bermimpi. Dave yang berubah lembut dan memperlakukannya dengan kasih sayang. Rasa takut dan trauma pun, berangsur hilang. Biasanya, ia selalu waspada, setiap tangan kekar sang suami menyentuh tubuhnya.


Suara lembut itu, menuntunnya naik diatas tempat tidur. Tanpa aba-aba, sudah melepaskan pakaiannya.


"Aku mau mandi. Tunggu aku."


Apa dia mau melakukannya sekarang? Arshila tampak gugup. Ini memang bukan pertama kalinya. Tapi, ia masih saja gugup. Jantungnya pun berdegup tak beraturan.


Aku harus bagaimana? Berbaring atau duduk saja. Arshila mencari posisi dengan pikiran yang sudah mengarah terlalu jauh. Ia membuka ikatan rambutnya, menyisir hingga tergerai lurus. Menatap pantulan wajahnya, memeriksa, apa yang kurang?


Ia sudah memakai lotion dan krim pada wajahnya, sehabis mandi. Sekarang apa lagi? Ah, parfum. Ia memang jarang menggunakan parfum dalam rumah.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Dave keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit dipinggang.


Seksi, tampan. Padahal, ia sudah sering melihat suaminya seperti itu. Tapi, entah mengapa hari ini tampak berbeda. Ia ingin menyentuh dada bidang itu dan memeluknya erat.


"Kamu pakai parfum, sayang?" Duduk disebelah Arshila, memajukan wajahnya, menghirup aroma parfum dari tubuh sang istri.


"Iya. Biar aku bantu."


Arshila memalingkan wajahnya. Mengambil handuk kecil, mengeringkan rambut Dave.


Deg, deg, deg. Jantung Arshila berdegup tidak karuan. Ia memperhatikan tetesan air yang jatuh, ditengkuk sang suami.


Gila! Aku kenapa?


"Kamu sakit?" Meletakkan tangan kanannya didahi sang istri.


"Tidak. Aku hanya_ Emmmhh."


Tanpa aba-aba, Dave mendaratkan bibirnya. Cukup lama, hingga Arshila seperti kehabisan oksigen.


"Aku mencintaimu," ujar Dave, dengan tangan yang sudah terselip didalam pakaian sang istri. Lalu, kembali ******* bibir Arshila, yang seolah sedang menantangnya.


Suara ******* kecil, keluar dari mulut Arshila. Ia tidak tahan. Dave menyentuhnya penuh kelembutan,


"Sayang," ujar Arshila yang mengigit bibirnya.


Dave tersenyum puas, melihat sang istri yang menginginkannya.


Dari balik kamar, pasangan suami istri, memadu kasih, ditemani cuaca dingin dan hujan deras diluar sana. Yah, suasana yang seolah mendukung kegiatan mereka.

__ADS_1


Dilantai bawah. Rachel sibuk dengan beberapa lembaran kertas diatas meja. Menulis, lalu mencoretnya kembali.


"Tidak. Tamunya jangan kebanyakan. Menantuku nanti kelelahan." Kembali mencoret beberapa nama. "Ah, tapi, aku mau membuat mereka iri dengan pernikahan putraku."


Rachel sedang dilema. Beberapa teman sosialitanya, sering membuatnya naik darah. Memamerkan menantu dan cucu mereka. Sekarang, hal baik ini mendatanginya. Mungkin, ia harus membalas mereka.


"Ah, baiklah. Aku akan mengundang mereka." Kembali menuliskannya.


"Ternyata belum selesai?" Liam mengambil secarik kertas diatas meja.


"Belum. Aku masih harus memeriksa ulang."


"Memangnya, mau mengundang siapa, Ma. Sampai segini banyaknya."


"Mama mau pamer." Rachel merebut kertas dari tangan suaminya.


Liam terkekeh, sampai segitunya sang istri, mau memamerkan putranya yang akan menikah.


"Persiapan lainnya, mau papa bantu?"


"Tidak perlu. Mama sudah tentukan tempat dan WO nya. Ibu Ellino yang bantu cari."


"Terus, papa buat apa dong?"


"Bantu, awasi putramu, agar tidak macam-macam."


"Dave, tidak akan berbuat aneh-aneh lagi. Ma."


"Mama tahu. Awasi saja, dia. Kemarin, hampir buat Mama hipertensi."


Masih menulis, mencoret lalu, mengecek ulang daftar nama yang masuk dalam undangan.


"Tuan muda, katanya akan malam dikamar."


"Hah?" Rachel menatap sang suami. "Kenapa?"


"Saya kurang tahu, Nyonya."


"Ya, sudah. Saya ikut."


"Apa sih, Ma!" Liam sudah menarik tangan istrinya, kembali duduk. "Biarkan saja. Mungkin mereka lagi malas, keluar kamar."


"Bukan itu, Pa. Mama mau mengecek, kalau anakmu berbuat tidak-tidak."


"Mama. Dave sudah berubah. Jangan ganggu, mereka! Mama selesaikan saja, daftar nama undangan ini. Waktunya sudah mepet."


Liam meminta ibu Lin, melanjutkan pekerjaannya. Sementara, Rachel kembali bergelut dengan kertas-kertas diatas meja.


Tok, tok, tok.


"Masuk," teriak Dave dari dalam kamar.


Ibu Lin bersama Ica, meletakkan nampan diatas meja. Mereka sempat melirik nona muda, yang tertidur dengan tubuh terbungkus selimut.


Keduanya tersenyum, lalu berpamitan keluar kamar.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?" Rachel sudah memberondong mereka dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Nona sedang tidur dan tuan muda, sepertinya sedang bekerja."


"Menantuku, baik-baik saja, kan? Tidak ada yang aneh, kan?"


"Semua baik-baik saja, Nyonya."


"Syukurlah."


Liam hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin, Rachel masih merasa takut atau mungkin masih belum mempercayai sepenuhnya, kepada sang putra. Padahal, dia sudah menasehati menantunya untuk percaya pada Dave.


"Mama belum percaya, Dave sudah berubah?"


"Mama percaya, Pa. Hanya, saja Mama masih trauma. Dulu, mama takut skali, jika mendengar Arshila menangis."


Dari lantai atas. Dave sedang bergelut didepan layar laptop. Ia melirik pada sang istri yang masih terlelap, karena kelelahan.


"Apa aku berlebihan?" Merasa cemas tiba-tiba. "Bayiku!" Dave langsung bangkit.


Mengelus pipi Arshila dengan lembut. Menyibak selimut dan merapatkan telinganya diatas perut sang istri.


"Aku tidak dengar apa-apa." Kembali merapatkan telinganya. "Apa sedang tidur?"


Arshila menggeliat. Dave mengangkat kepalanya. Ia mendaratkan kecupan dikepala Arshila sambil membangunkannya.


"Sayang. Bangun, makan malam."


"Jam berapa?"


"Jam tujuh. Ayo, bangun. Nanti makanannya dingin."


Arshila mengerjap, lalu meregangkan tubuhnya.


Sudah ada, dua nampan diatas meja. Nasi putih, tumis daging, sayuran, sup ayam dan pangsit kuah, pesanan Dave untuk sang istri. Tak lupa, jus buah dan potongan buah.


"Kita makan disini saja. Kamu pasti lelah." Menarik kursi untuk Arshila, lalu menarik kursi sebelah untuknya.


"Apa aku boleh tidur lagi?"


"Tentu saja. Tapi, sebelum itu, kamu harus minum susu dan vitaminmu.


Arshila menerima sepiring nasi bercampur lauk, yang diambil Dave untuknya. Kunyah-kunyah, membiarkan sang suami mengikat rambutnya yang berantakan.


"Kamu lelah? Apa aku berlebihan?"


Uhuk, uhuk. Arshila tersedak, mendengarnya. Sekejap, wajahnya sudah memerah. Ia segera meminum segelas air.


"Aku baik-baik saja."


"Hahahahaha...." Dave tertawa lepas. Menggemaskan melihat Arshila, tidak mau menatapnya. Lucunya! Apa dia sedang malu?


"Kamu malu sayang?" kembali menggoda istrinya.


"Ti-tidak," kilahnya.


Dave kembali tertawa, sambil merangkul Arshila.


"Terima kasih, sudah mau memaafkanku." Cup, cup, memberikan kecupan di pucuk kepala.

__ADS_1


"Terima kasih, juga. Karena sudah mau berubah dan menerimaku."


__ADS_2