Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 121. Hari bahagia


__ADS_3

Polesan make up natural, dengan pewarna bibir, peach. Gaun putih klasik berkilau, model ball gown, dengan lengan sampai siku. Penampilan Arshila tampak sempurna dengan perhiasan yang menempel ditubuhnya.


Ruangan pengantin tampak, penuh dengan keluarga yang ingin melihatnya. Ibu Ellino dan Rachel, tampak menitikkan air mata. Keduanya, memberikan pelukan dan momen ini, di abadi kan dalam kamera.


Yessi, Jian, Alexa dan tante Nessa, tidak mau ketinggalan. Mereka berpose, dan mengabadikannya.


Suasana menjadi haru, bercampur bahagia. Arshila berusaha menahan cairan bening, yang akan jatuh sebentar lagi. Ucapan selamat dan pelukan, membuatnya seperti dalam mimpi. Cincin berlian yang melingkar, dijari manis, terus dipandanginya.


Apa ini adalah balasan atas kesabarannya? Semua seperti mimpi indah, yang membuatnya tenggelam dan tidak ingin bangun.


Acara pun, segera dimulai. Malvel menggandeng tangan putrinya, menuju pelaminan. Disana, Dave sudah menunggu dengan tidak sabar.


Para tamu, serentak bangkit, saat pengantin wanita memasuki ruangan. Decak kagum dan pujian, terdengar dipendengaran Arshila. Dari kejauhan, tampak Dave mematung memperhatikannya, tanpa berkedip.


Arshila tersenyum, dengan menundukkan kepala. Jantungnya berdebar, ia gugup saat sorot mata tertuju padanya.


"Cantik," puji Dave, yang belum mengedipkan mata. "Istriku, sangat cantik!"


Satu kecupan mendarat dikening Arshila. Para tamu, bersorak dan bertepuk tangan. Momen haru dan bahagia, untuk semua keluarga dan sahabat yang mengetahui kisah mereka berdua.


Lantunan musik mulai terdengar, tamu undangan mulai berdatangan, memberikan ucapan selamat. Kedua pengantin, tak henti-hentinya tersenyum bahagia.


Yessi, Jian, Alexa dan tante Nessa, duduk satu meja. Menikmati hidangan dengan sorot mata, yang masih tertuju pada sahabat mereka.


"Aku bahagia, melihat kak Shi," ujar Yessi.


"Aku juga. Aku masih ingat, dia dulu sering menangis," timpal Jian.


"Maka dari itu, dia pantas mendapatkan semua ini," tambah tante Nessa.


"Kamu memberinya kado, apa?" Pertanyaan Jian yang ditujukan ada sepupunya.


"Rahasia."


"Tidak adil. Padahal, kemarin aku menunjukkan kado yang akan diberikan."


"Ya, tapi kan, aku tidak minta, kamu memperlihatkannya."


Keduanya berdebat kecil, sampai akhirnya, seorang pria, mendekati meja mereka. Yessi dan Jian, terdiam. Melebarkan senyum malu-malu.


"Hei, Kak, si tampan datang!" Jian menyikut tangan Alexa.


"Aku mencarimu!" ujar Ellino pada Alexa.


Yessi dan Jian, tampak kaget. Si tampan, adik Arshila mengenal Alexa.


"Aku berada dikamar pengantin. Ada apa?" Alexa tampak biasa-biasa saja. Beda dengan, dua gadis disebelahnya, yang mulai gelisah, senyum-senyum, malu-malu, seperti kucing.


"Tunggu, aku. Saat acara sudah selesai."

__ADS_1


Ellino langsung pergi, tapi sebelumnya ia tersenyum pada mereka semua.


"Kak, kamu mengenalnya? Kapan? Dimana? Kenapa tidak memberitahu kami?" cerosos Yessi.


"Nanti saja, aku cerita." Alexa meneguk minumannya.


"Lama, Kak. Tunggu! Kalian pacaran?"


Alexa tersedak. Ia batuk-batuk, dengan mata memelototi Jian.


Tante Nessa, menggelengkan kepala, dengan tingkah para gadis didepannya.


"Yessi, Jian, kalian bukannya suka sama anak Tante."


"Suka, Tante. Dia tampan, tapi terlalu diam. Auranya menakutkan, bahkan saat melihatku, bulu kudukku merinding semua."


"Tidak, kok. Nathan orangnya baik, walau jarang senyum."


"Kalau begitu, mau tidak Tante comblangin."


Yessi mengangguk malu, Jian sudah membulatkan mata, menatap sepupunya.


"Tante, yakin. Mau jodohin Yessi sama Nathan," tanya Jian dengan mimik serius. "Yessi, otaknya sedikit miring, loh, Tan."


Plak.


Apaan sih! Bukannya, memberikan dukungan, sepupu kampret ini, justru menjatuhkannya didepan calon mertua.


"Justru itu, anak Tante juga rada miring, otaknya. Jadi, cocoklah sama Yessi."


"Gimana sih, Tan. Kalau mereka sama-sama miring, yang ada longsor, nantinya."


Alexa ikut tertawa, mendengar penuturan Jian, yang seolah tidak terima perjodohan itu.


"Kamu cemburu, Ji?" tanya Alexa, masih mode menertawakannya.


"Cemburu apanya, Kak. Aku tuh kasian sama mereka berdua. Bayangin saja, yang satu kulkas, yang satu termos air panas, jadinya apaan nanti."


Suara tawa, Yessi, Alexa dan tante Nessa, menyaingi suara lantunan musik.


Para tamu undangan, semakin banyak berdatangan. Dave sedang dalam mode waspada, khawatir jika sang istri kelelahan. Padahal, jika diperhatikan Arshila, tampak biasa saja. Ia terus tersenyum, mendapat ucapan selamat dan kado pernikahan.


"Kamu tidak lelah, kan, sayang?" tanya Dave, dengan posisi menoleh menatap sang istri.


Padahal, keduanya baru duduk, tiga puluh menit yang lalu.


"Aku tidak lelah. Aku bahagia dan terharu, sekarang."


Keduanya, kembali bangkit. Menyalami tamu.

__ADS_1


Di kursi pendamping mempelai wanita. Rachel menyalami teman-teman sosialitanya. Ia akan pamer hari ini, sedikit sombong dan meninggi.


"Terima kasih, jeng, sudah mau hadir."


"Sama-sama. Aku penasaran sama menantumu. Rupanya, dia putri dari Elf Group. Dia cantik, cocok sama putramu."


"Hahahaha." Rachel sudah tertawa, dengan besar kepala. "Ia sedang mengandung cucuku."


Kembali pamer, padahal tidak ada yang bertanya.


"Apaan sih, Ma. Mereka, kan tidak bertanya."


"Diam, deh, Pa. Jangan, rusak suasana hati Mama."


Di kursi pendamping, sisi Dave. Ibu Ellino juga menyalami tamu dari rekan bisnis besannya, tapi rupanya juga mengenal mereka.


"Jadi, ini putrimu?"


"Iya, dia putriku. Terima kasih, sudah mau hadir."


"Tentu saja. Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini, untuk bertemu dengan para pebisnis."


Tak terasa, sudah tiga jam berlalu. Ruangan yang tadi penuh sesak, kini perlahan mulai kosong. Hanya terlihat, para pelayan yang masih lalu lalang, membereskan piring.


Arshila dan Dave, sudah berada dalam kamar untuk beristirahat. Dave memijat kaki Arshila, yang tidur terlentang, dengan gaun pengantin yang belum dibuka. Ia kelelahan dan tidak sempat mengganti baju.


Dave masuk dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu. Ia merasa gerah dan kurang nyaman.


Tak lama, ia keluar dengan wajah yang lebih segar. Ia memakain bku dengan cepat. Karena ingin membantu sang istri, melepaskan gaun.


Satu persatu, perhiasan yang menempel, dilepaskan Dave. Ia memiringkan tubuh sang istri dengan perlahan, mencari resleting dipunggungnya.


Sudah terbuka. Ia menarik gaun pengantin dari arah kaki. Dave kesusahan, karena gaun yang berat dan panjang. Ia juga takut, Arshila akan terbangun.


"Bantu aku," ujarnya pada ibu Lin dan Grace yang berdiri didepan pintu luar.


Berkat mereka, gaun itu terlepas. Dan Arshila, bergerak dengan leluasa. Ibu Lin dn Grace, membersihkan wajah Arshila dari make up. Entah karena kelelahan atau sangat mengantuk. Arshila tidak merasakan apa-apa. Ia masih tertidur dengan lelap.


"Sayang, makan dulu."


Membelai pipi, lalu naik ke rambut, lalu kembali turun kebawah. Mode membangunkan, dengan tangan yang liar kesana kemari.


"Aku masih mengantuk," jawab Arshila dengan mata terpejam."


"Sedikit saja. Nanti aku suap, yah."


Arshila berusaha bangun, bersandar ke belakang. Mulutnya terbuka, saat satu sendok makanan menyentuh bibirnya.


Kunyah-kunyah, sampai tersisa setengah. Dave tidak memaksa lagi, karena kedua mata Arshila sudah terpejam rapat. Ia memberikan segelas susu, yang langsung dihabiskan Arshila dalan dua kali tegukan.

__ADS_1


"Besok pagi, aku akan memberikan mu hukuman. Cup, cup!"


Ikut terlelap dengan memeluk erat sang istri.


__ADS_2