Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 48. Sebuah nama


__ADS_3

Pagi hari, matahari sudah merangkak naik. Dalam dekapan seorang pria, seorang wanita terbaring dengan berlinangan air mata.


"Cla, aku merindukanmu."


Sakit rasanya, pria itu menyentuhnya dengan paksa, tapi menyebut nama wanita lain. Berulang kali, Arshila mendoktrin perasaannya agar mengabaikan semua. Sulit sangat sulit, sebuah ikatan yang diawali dengan cinta pikirnya, ternyata hanya sebuah hukuman.


Arshila melepaskan pelukan Dave, menahan isak tangis dan sakit pada sekujur tubuhnya. Entah berapa kali, Dave melakukannya karena tubuh Arshila serasa remuk saat ini.


Guyuran air hangat, membasahi seluruh tubuh. Air mata masih terus jatuh, bersama dengan tetesan air diatas lantai.


Setiap menit, aku semakin membencimu. Hubungan naas ini, kapan akan berakhir?


Arshila menatap wajahnya dalam cermin. Sungguh menyedihkan, bagaimana wajah Dave tersenyum padanya semalam, mencium dengan lembut, dan meminta maaf dengan tulus.


Tapi,


"Maafkan aku. Aku minta maaf." Mengecup kening. "Aku sangat mencintaimu, Clarissa!"


Sebuah nama yang entah mengapa, sangat sulit dihapuskan dari ingatan pria itu. Sebuah nama, dengan lembut diucapkan, seperti menusuk jantungnya sampai kedalam.


Sampai akhir, nama itu masih terucap. Dimana Dave mengecup keningnya, lalu tertidur pulas sambil memeluknya dengat erat.


Arshila sudah membersihkan tubuhnya, keluar menggunakan handuk. Sementara, Dave masih tertidur pulas.


Kembali duduk didepan cermin, dengan wajah sembab. Ia mengeringkan rambutnya, lalu segera menggunakan pakaian.


Tidak ada gunanya, menangisi hal yang sudah terlanjur terjadi. Ia hanya bisa menerima dan menganggap semua baik-baik saja.


"Selamat pagi. Ma." Arshila menarik kursi, duduk berhadapan dengan Rachel di meja makan.


"Selamat pagi. Kenapa dengan wajahmu? Apa kau menangis?"


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik, saja."


"Jangan menyembunyikan apapun, Shi. Aku sudah pernah mengatakannya, beritahu padaku, apa yang terjadi?"


"Sungguh, Ma. Tidak terjadi apa-apa. Aku memang menangis semalam, tapi bukan karena Dave. Aku hanya memikirkan putriku." Arshila berkilah.


"Jika kamu menginginkan putrimu. Mama bisa membantumu mendapatkan hak asuh."


"Tidak perlu, Ma. Aku bisa mengatasi ini."


Arshila berusaha tegar, bagaimana bisa ia mengajak putrinya tinggal bersamanya? Sementara, kehidupannya sekarang ini berada ditepi jurang. Satu langkah, bisa membuatnya jatuh hingga ke dasar. Lagi pula, Nadin tidak mengenalinya sebagai ibu. Dia hanya orang asing, yang akan membuat putrinya ketakutan.


Setelah, sarapan. Arshila bersama ibu Lin meninggalkan rumah menuju salon kecantikan. Ditempat ini, mereka menghabiskan banyak waktu. Perawatan bukan hanya untuk wajah, tapi dari ujung rambut hingga kakinya.


"Ini sudah siang, ibu Lin. Kita harus kemana lagi?"


"Kita akan pulang, Nona. Di rumah sudah ada tutor yang menunggu."


Arshila berjalan lebih dulu, keluar dari salon. Tanpa sengaja, seseorang menyenggolnya, hingga hampir terjatuh.


"Apa kau tidak punya mata?" Wanita paruh baya itu, membentak dengan tatapan dengan sinis.

__ADS_1


"Nyonya. Anda yang lebih dulu." Ibu Lin menyela.


"Kau bilang apa?" Maju satu langkah. "Aku bisa membuat kalian mendekap dalam penjara. Sekarang, minta maaf."


"Kami tidak akan melakukannya dan kami sama sekali tidak mengenali Anda." Ibu Lin memberikan jalan untuk Arshila, untuk segera pergi. Tapi, sepertinya wanita paruh baya itu sengaja mencari masalah.


Plak.


Tamparan mendarat diwajah ibu Lin, membuat Arshila tersentak. Tapi detik berikutnya, Ibu Lin membalas dengan lebih keras, bahkan membuat tubuh wanita itu, goyah dari posisinya.


"Kau, pelayan sialan! Lihat, aku akan membalasmu."


"Silahkan, Nyonya. Saya tidak takut, ini nomor ponsel saya, silahkan hubungi."


Ibu Lin masih sempat-sempatnya untuk tersenyum, seolah sengaja memancing amarah wanita itu.


"Ibu Lin, kamu baik-baik saja? Maafkan aku."


"Anda tidak bersalah, Nona. Ini menjadi tugas saya untuk melindungi Anda."


"Aku minta maaf, karena selalu merepotkanmu dan pelayan lainnya."


Arshila merasa sangat rendah diri, dihadapan siapapun. Meski, statusnya diakui sebagai menantu Alehandra, tapi itu tidak cukup baginya, selama Dave sendiri tidak mengakui pernikahan mereka. Begitu juga dirinya, yang sudah tidak memiliki rasa.


"Selamat datang, Nona."


Ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh pak Yus dan pelayan.


"Terima kasih, tapi sebaiknya kalian tidak perlu melakukannya." Tersenyum, lalu ikut melangkah masuk dalam rumah.


Keduanya, saling mengulurkan tangan dan menyebutkan nama.


"Kalian bisa mulai, aku harus menyelesaikan beberapa hal."


Rachel berjalan meninggalkan mereka, berjalan menuju ruang kerja Dave, dimana ibu Lin sudah menunggu.


"Apa yang terjadi hari ini?"


"Semua berjalan dengan baik, Nyonya. Sepertinya, nona muda menyukai perawatan ini. Tapi, sepertinya akan ada masalah yang datang sebentar lagi."


"Masalah apa?"


"Kami bertemu nyonya Fira, di salon. Dia sengaja mencari masalah dengan menyenggol nona muda."


"Haah! Wanita itu, ternyata. Lalu?"


"Sepertinya, dia tidak mengenali nona muda."


"Tentu saja. Kamu pikir dia akan terus menerus berduka. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Wanita itu, terlalu sibuk menghabiskan uang suaminya."


"Lalu, bagaimana jika dia membuat masalah. Akan berbahaya, jika dia mengenali nona."


"Jangan pikirkan itu! Aku yang akan mengurusnya. Kau cukup fokus, pada menantuku."

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."


"Tunggu!"


"Iya, Nyonya."


"Apa kau membalasnya?" Dari tadi, Rachel memperhatikan ibu Lin, ada sesuatu yang tercetak jelas disana. "Wajahmu!"


"Oh." Ibu Lin tersenyum, memegang pipinya "Jangan khawatir, Nyonya. Pukulan saya masih seperti dulu."


"Baguslah. Aku menyukai keganasanmu. Tingkatkan!"


"Terima kasih, Nyonya."


Rachel masih duduk, diruang kerja putranya. Ruangan ini, sudah tampak berbeda, setelah semua foto diturunkan. Bahkan, diatas meja sudah tidak ada. Sepertinya, sang putra sudah bersungguh-sungguh untuk memulai lembaran baru.


Pikirannya kembali, pada ucapan ibu Lin.


"Awas saja, menyentuh menantuku. Aku akan menggundulimu!"


Kesal sendiri, dengan pikiran yang melintas dalam kepalanya.


"Ke ruangan kerja."


"Baik, Nyonya."


Rachel memutus sambungan telepon.


Tok ... tok ....tok....


"Masuk."


Pak Yus sudah duduk, setelah dipersilahkan.


"Kau sudah mengambilnya?"


"Sudah, Nyonya." Pak Yus memberikan sebuah benda, berbentuk kecil.


"Baguslah. Terima kasih. Apa Dave tidak mengatakan sesuatu?"


"Tuan muda hanya bertanya, tentang semalam, apa dia mabuk dan siapa yang mengantarnya dalam kamar?"


"Selain itu, apa yang kau tangkap dari raut wajahnya?"


"Dia terlihat biasa-biasa saja, Nyonya. Mungkin, karena tidak mengingat, apa yang sudah terjadi semalam. Jadi, sepertinya, tidak terjadi apa-apa."


"Aku akan tahu, terjadi sesuatu atau tidak." Rachel menggenggam benda itu. "Jika dia lupa, aku akan memukul kepalanya sampai ia sadar."


"Baik, Nyonya.. Saya permisi dulu."


Dilantai bawah, Arshila mulai belajar sesuai arahan tutor. Kali ini, mereka duduk di meja makan. Berbagai hidangan sudah tersaji, begitu juga alat makan lengkap tanpa terkecuali.


"Nona, hari ini. Anda akan belajar bagaimana cara menggunakan peralatan makan dengan benar dan kapan tepatnya alat itu digunakan. Dalam istilah, dinamakan Table Manner."

__ADS_1


Arshila menarik napas panjang. Sepertinya kali ini, waktu yang dihabiskannya akan lebih lama. Mengapa untuk makan saja, harus punya aturan? Padahal, ia tinggal menggunakan tangan atau sendok, lalu masalah selesai.


Lagi pula, untuk apa ia mempelajari semua ini, jika pernikahannya akan segera berakhir.


__ADS_2