Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab. 102. Undangan makan malam


__ADS_3

Hari pertama kerja, setelah akhir pekan. Seperti biasa, kesibukan dimulai dari rumah, jalan raya, hingga sampai di perkantoran. Dave sudah siap untuk kembali bekerja, menjalankan kewajibnnya, sebagai pemimpin perusahaan.


"Tunduk sedikit."


Dave menunduk, karena sang istri kesulitan, memasang dasi untuknya.


Cup, cup.


Bibirnya sibuk, saat tangan sang istri, memasang dasi.


"Apa yang kamu inginkan hari ini?"


"Aku akan membaca buku ditaman."


Ya, hari minggu kemarin. Dave memberikan kejutan dengan taman bunga yang sudah tertata rapi. Ada gazebo, yang dibuat dibawah pohon yang rindang. Untuk duduk menikmati bunga yang bermekaran.


"Jika kamu butuh sesuatu telpon aku. Cup."


Kecupan terakhir sebelum, mereka turun ke lantai bawah untuk sarapan.


"Pagi, Ma, Pa," sapa keduanya.


"Pagi, ayo kita sarapan."


Dave yang sudah berubah, lebih perhatian kepada sang istri. Memindahkan lauk dipiring, hingga memintanya menghabiskan susu. Hal ini tentu, membuat kedua orang tuanya, bernafas lega.


"Shi, hari ini ikut Mama, yah?"


"Kemana, Ma? Istriku sedang hamil, jadi dia tidak boleh lelah."


"Apa sih! Mama mau mengajaknya ke rumah Mama. Hari ini, Papa dan Mama, akan pulang ke rumah."


"Baiklah, aku akan menjemputnya pulang sore nanti."


Dave dan Arshila masuk dalam mobil yang berbeda. Mereka berpisah dihalaman rumah. Dave mengendarai sendiri, sementara sekretaris Tian, harus mengantar keluarga Alehandra.


Arshila sangat menikmati perjalanan, apalagi Mama yang terus mengajaknya bercengkrama. Ia sudah lama tidak keluar rumah.


"Tian, langsung ke rumah sakit dulu."


"Baik, Nyonya."


Rachel sengaja tidak memberitahu, putranya jika akan ke rumah sakit. Lebih baik, mereka pergi berdua dengan menantunya.


Rachel dan Arshila, sudah masuk dalam ruang pemeriksaan. Sementara, Tian dan Liam, menunggu didepan.


"Kau sudah menyelidiki tentang Alexa?"


"Sudah, Tuan."


"Lalu?"


"Dia anak pertama tuan Bagas, dari pernikahan terdahulunya. Setelah menikah kembali, istrinya menghapus nona Alexa dari kartu keluarga dan mengumumkan kematiannya. Hingga, Clarissa menjadi anak satu-satunya."


"Apa pria itu, mengetahuinya?"


"Iya, Tuan. Dia tidak ingin dituduh berselingkuh dengan sekretarisnya. Makanya, ia menghapus semua jejak anak dan istri pertamanya, seolah mereka sudah meninggal dunia."


"Ck, tidak disangka ia seperti itu. Ternyata, ia sangat mencintai, istri barunya."

__ADS_1


"Tapi, sepertinya nona Alexa sudah mengambil kembali hak miliknya."


"Maksudnya?"


"Para pemegang saham, CEO dan pengacara, telah mengalihkan saham milik ibu tirinya dan Clarissa, kepadanya. Begitu juga, properti yang dimiliki keduanya, sudah berpindah tangan. Dan sepertinya, tuan Bagas mengetahuinya, tapi ia berpura-pura tidak tahu."


"Tentu saja, dia mengetahuinya. Mungkin, itu adalah caranya ia meminta maaf kepada mereka."


"Apa yang Anda akan lakukan, Tuan? Selama ini, Anda merasa ditipu?"


"Tidak perlu, melakukan apa-apa. Biar anak kandungnya, sendiri yang membalas."


Pintu ruangan terbuka. Rachel tampak senyum-senyum, dengan tangan menggandeng sang menantu.


"Bagaimana?"


"Sehat, Pak. Mama sudah tidak sabar, Pa."


"Hahahaha, kamu ini!"


"Lihat, Pa." Rachel menunjukkan foto USG.


"Cucu kita, Ma."


Dua orang yang sudah tidak sabar, terus memandangi foto janin, yang masih berusia 6 minggu.


Mereka kembali pulang, Tian menurunkan mereka dikediaman tuan besar. Karena, dia harus kembai bekerja, sebagai sekretaris Dave.


"Ayo, masuk, sayang. Ini rumah Mama, nanti kalau kamu sudah melahirkan, Mama akan pindah ke rumah kalian."


Arshila dapat melihat dengan jelas, bagaimana ibu mertuanya, yang sudah tidak sabar, akan kelahiran cucunya.


"Selamat pagi, Nona."


"Pagi, manajer Grace. Sudah lama sekali kita tidak bertemu."


"Iya, Nona."


Rachel mengantar Arshila, menuju kamar yang sudah disiapkan. Sebuah kamar, yang didominasi, warna coklat dan hitam, yang terkesan manly.


"Ini kamar Dave, dulu. Kamu bisa beristirahat disini."


"Baik, Ma."


"Mama tinggal dulu, jika butuh sesuatu panggil pelayan."


Arshila menatap sekeliling, bangkit mencari sesuatu didalam lemari dan laci nakas. Ada sebuah album foto.


Foto anak kecil yang tampan, dengan baju sekolahnya. Balik lagi, masih foto yang sama dengan baju yang berbeda.


Arshila meletakkannya kembali, bangkit menuju lemari yang sepertinya, khusus untuk menaruh piala dan penghargaan.


"Dia memiliki banyak piala dari sekolah."


Merasa bosan. Arshila memilih keluar kamar. Mencari kesibukan, yang bisa menghabiskan waktu."


"Boleh aku bantu?" tanyanya ada seorang pelayan yang sedang memotong buah.


"Tidak perlu, Nona. Apa Anda butuh sesuatu?"

__ADS_1


"Aku sedang bosan. Biar aku membantumu."


Arshila tidak peduli dengan penolakan pelayan itu. Ia sudah mengambil pisau dan mengupas buah. Ini adalah hal mudah, mengingat dulu, ia bekerja seperti robot, yang tidak pernah lelah.


Drt, drt, drt.


"Halo."


"Halo, kak. Aku Arsya. Kakak ada dimana?"


"Dirumah. Ada apa?"


"Malam ini, ibu memintamu datang makan malam. Ajak juga suamimu."


"Baiklah, aku akan datang."


Sambungan terputus. Arshila segera mengirim pesan pada sang suami. Ia bersemangat, untuk menemui orang tua adiknya. Meski, ia pernah bertemu dengan ibunya, tapi kini situasinya berbeda.


Ibu yang yang sangat energik, menciumi dan memanggilnya menantu. Lucu juga, jika kembali mengingatnya.


"Nona. Nyonya besar, memanggil Anda."


Arshila mengangguk, lalu segera bangkit. Mengikuti langkah, Grace.


"Sini, duduk. Coba ini!" Sebuah gaun malam, berwarna biru tua. Panjang selutut, tanpa. lengan. "Mama sudah lama, menyiapkannya. Tapi, belum sempat memberikannya padamu."


Arshila.mengambil, tapi tidak langsung memaikainya.


"Ma, adikku mengajakku makan malam. Katanya, orang tuanya ingin bertemu denganku."


"Benarkah? Mama, ikut, yah?" Rachel memelas. Ini adalah kesempatan untuk bertemu Malvin.


Arshila tentu saja, tidak bisa menolak. Meski, sang adik hanya mengundangnya dan Dave.


"Pa, sini. Ada, hal penting." Rachel melambai memanggil sang suami, yang baru keluar kamar.


"Hal penting, apa?"


"Malam ini, kita akan makan malam di rumah Malvin. Pasti dia, shock melihat kita." Rachel terkikik, sepertinya hal lucu akan terjadi malam ini.


"Siapa yang ngundang, Ma?"


"Adik Arshila, mengundang kita sekeluarga."


Padahal, cuma kakaknya yamg diundang. Tapi, ibu satu ini, ngaku-ngaku dengan pedenya.


"Baiklah, kita berangkat jam tujuh. Biar Dave yang menyetir." Liam meninggalkan mereka, menuju ruang kerja.


"Sayang, malam ini, pakai gaun, yang Mama berikan tadi."


"Iya, Ma."


"Mama, akan meminta Grace, mendadanimu. Hihihi, pasti lucu, jika kami bertemu." Kembali terkikik, karena pikirannya sudah penuh dengan imajinasi.


"Mama mengenal orang tua adikku?" tanya Arshila, sedari tadi ia merasa aneh dengan tingkah Rachel.


"Ayahnya adalah teman kuliah kami dulu. Ia bersahabat dengan papa, tapi menghilang setelah lulus. Kami sangat dekat dulu. Jadi, mendengar dia adalah ayah angkat adikmu, membuat kami terkejut."


Arshila ikut terkejut, mendengar fakta itu. Ya, akan ada sesuatu yang menarik malam ini. Bukan hanya tentang Arshila dan adiknya, melainkan hubungan, antara orang tua sang adik dengan kedua mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2