Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 123. Makan bersama


__ADS_3

Semua orang sudah terkumpul. Yang ditunggu-tunggu, pengantin baru juga sudah duduk diruang tengah. Arshila bercengkrama dengan para gadis, dengan memangku putrinya, Nadin. Ia memperkenalkan Nadin pada mereka, bersama Nadia yang duduk disebelahnya.


"Ini putriku dan ini Nadia, ibunya," ujar Arshila.


Mereka bersalaman, sambil mencubit pipi Nadin yang tembem.


"Gemesnya!" ujar Jian.


"Wah, dia sudah sebesar ini. Nadin, sayang. Ini Tante Yessi, yang dulu membelikan susu, saat kamu masih dalam perut. Ingat, kan?"


Plak. Yessi sudah mendapat jitakan dari Jian.


"Apaan sih? Memangnya, dia bakal ingat. Keluar aja, belum."


"Yah, siapa, tahu, Ji?"


Semuanya, tergelak. Diantara mereka, Nadia hanya tertawa canggung. Meski, Arshila tidak membatasi diri, dia merasa tidak enak. Apalagi, para gadis, yang rupanya pernah tinggal bersama Arshila dalam tahanan. Sedikit banyak, mereka pasti tahu, tentangnya yang merebut Dimas.


"Nanti, kita jalan-jalan, ya, Kak!" ajak Jian. "Tapi, ajak sekretaris Tian juga dan Kak Ellino."


"Kenapa mereka harus ikut?" tanya Alexa.


"Yah, supaya ramai, Kak. Dan ada, yang pegangin barang-barang kita."


"Ah, modus!"


Dihalaman samping rumah, para pria sedang berkumpul. Paman Dave dari ayah dan ibu, duduk bermain catur. Liam dan Malvel, di meja terpisah juga bermain catur. Dave dan Ellino, hanya duduk memperhatikan, tanpa berniat untuk bermain.


Para ibu-ibu, duduk terpisah di meja makan. Sepupu jauh dan kerabat Rachel, serta Liam, asyik bercerita. Semuanya, sibuk menceritakan akan-anak mereka. Ada yang sudah menikah, tinggal berjauhan dan ada yang masih sekolah dengan kenakalan, yang membuat mereka stress.


Tante Nessa, Rachel dan Ibu Ellino, juga duduk bergabung. Mendengarkan, berkomentar dan ikut tertawa.


Yah, suasana rumah yang sangat ramai. Dipenuhi suara tawa dan percakapan hangat. Rachel yang paling bahagia saat ini. Setelah sekian lama, kediaman putranya hanya diisi dengan kesunyian, tangis dan teriakan, kini berubah.


"Ah, bahagianya, melihat ini!"


"Aku iri," balas ibu Ellino.


Ibu-ibu, kompak menertawakannya.


"Nyonya, semua sudah siap." Ibu Lin menghampiri.


"Baiklah."


Rachel memperhatikan meja makan yang sudah penuh dengan berbagai hidangan. Pak Yus, menganti meja makan yang panjang dan cukup besar, untuk banyak orang.


"Ya, sudah. Panggil mereka!"


"Baik, Nyonya."


Para ibu, sudah mengambil posisi dengan duduk bersebelahan. Membiarkan, para suami duduk terpisah.


Sesuai dengan kursi yang sudah kosong, semua mengambil posisi. Arshila duduk bersebelahan dengan para wanita. Begitu juga dengan Dave.


Makan siang, yang terlihat seperti berada di restoran karena banyaknya pelanggan. Mereka mengobrol sembari tertawa. Nadin yang masih berceloteh, ikut meramaikan suasana.

__ADS_1


"Ellino," panggil kerabat Rachel. "Ibumu, katanya sudah pengen kamu nikah."


"Iya, Tante. Belum dapat saja."


"Sama anak Tante, mau?"


Uhuk, uhuk. Jian tersedak. Hingga, semua mata tertuju padanya. Yessi memberikan segelas air putih.


"Maaf," ujar Jian.


"Disini, ada tiga gadis jomblo, rupanya. Kenapa kamu tidak pilih saja!"


Uhuk, uhuk, uhuk. Giliran Alexa yang tersedak. Arshila tertawa lebar, melihat para sahabatnya.


"Kamu, Yessi, kan?" tanya ibu Ellino. "Sudah punya pacar?"


"Su ... Sudah, Tante." Yessi menjawab, dengan mata yang sempat melirik Alexa.


"Ah, sayang sekali." Ibu Ellino bergeser menatap Jian.


"Saya juga sudah punya pacar, Tante." Langsung menjawab, padahal ibu Ellino belum bertanya. "Yang jomblo, tinggal Kak Alex."


Jian menepuk bahu Alexa, yang seolah memperkenalkannya.


Sontak Alexa melotot, menendang kaki Jian dibawah meja.


"Apaan, sih, Bu?" Ellino membuka suara, melihat Alexa yang tampak canggung.


"Ibu lagi cari menantu. Dari pada jauh-jauh, mending didepan, saja. Iya, kan, Alexa?" Menoleh dengan cepat pada gadis yang duduk, tepat dihadapannya.


Para pelayan, mengisi gelas-gelas yang sudah kosong. Dan menambah makanan, yang piringnya terihat hampir habis.


Arshila menikmati makan siangnya, dengan iga bakar yang menjadi favoritnya siang ini. Ia menyuapi putrinya, yang duduk diatas pangkuannya.


"Enak? Mau tambah?"


Nadin menunjuk ayam goreng.


"Anak ibu, suka ayam goreng, rupanya."


Para pria, berangsur bangkit dari duduknya, setelah menghabiskan makanan mereka. Berbeda dengan para ibu, yang masih asyik bercerita dengan makanan yang masih menumpuk diatas piring.


Banyak sekali hal yang mereka ceritakan. Mulai dari bicara lantang, sembari tertawa sampai berbisik, tidak terdengar.


Alexa dan lainnya, juga sudah meninggalkan meja makan. Semuanya, duduk diruang tengah.


"Kak, ibu Ellino lagi cari menantu. Kak Alex, gak minat?


"Gak."


"Yakin?"


"Hmm."


"Buat Jian, yah!"

__ADS_1


Plak.


"Kenapa sih, Yessi?" Jian mengusap bahunya.


"Mau jadi pelakor, kamu."


"Pelakor, apanya? Mereka nikah, aja belum. Lagian, Kak Alex, kan, gak mau. Dari pada, disambar orang, mending buat aku."


Arshila duduk bergambung. Ia memberikan putrinya, pada Nadia. Karena, gadis kecil itu, ingin turun.


"Kalian sedang membicarakan apa? Kok rame?"


"Kak Shi, suka calon adik ipar yang seperti apa?"


Arshila tampak berpikir-pikir. Ia menatap tig gadis didepannya, secara bergantian.


"Terserahlah. Yang penting, adikku menyukainya." Arshila langsung bangkit, seolah teringat sesuatu yang penting. "Bantu aku, buka kado, yuk!"


"Mau, mau, kak." Jian sudah bangkit tidak sabar. Membuka kado adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Apalagi, dapat melihat jenis hadiah didalamnya.


"Nad, ayo, ikut," Arshila sudah menggandeng tangan Nadia.


"Tidak, Mbak. Nadin sepertinya, mau tidur."


Arshila menatap putrinya, yang matanya mulai tertutup.


"Baiklah. Bawa di kamar."


Semuanya berjalan menapaki anak tangga. Arshila terlebih dahulu, masuk dalam kamar putrinya yang sudah tersedia. Ia menyelimuti Nadin, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.


"Wah. Kak.".Jian berdecak kagum, dengan foto pernikahan Arshila yang berukuran besar. Terpampang, didepan tempat tidur.


"Ini kadonya?" tanya Jian, dengan tatapan tidak percaya. "Sebanyak ini? Bisa-bisa, kita bermalam."


Alexa mengambil kado, dengan ukuran kecil persegi. Ia membuka perlahan.


"Wah, jam tangan!" Jian mengambil kotak jam tangan dari Alexa. Jam dengan merek terkenal dan tentu harganya selangit.


Yessi dan Jian, sudah bersemangat. Mereka termotivasi dengan hadiah yang dibuka Alexa. Jian mengambil kado, yang ukurannya sama dengan yang tadi.


"Kunci mobil?" Menatap tak percaya. "Ini kunci mobil!" teriaknya lagi.


Arshila menerimanya dari tangan Jian. Siapa orang, yang mau memberinya kado pernikahan dengan sebuah mobil mewah.


Dia akan menanyakan ini pada suaminya. Mungkin saja, orang yang memberinya hadiah pernikahan adalah orang yang salah alamat.


Tiga gadis didepannya, semakin tidak sabar membuka kado yang lain. Arshila melirik bingkisan besar. Ia meminta Alexa untuk membantu, membukanya.


"Lucunya!" ujar Alexa yang membuat Jian da Yessi merapat.


Satu set perlengkapan tidur bayi. Selimut dengan warna putih motif panda. Bantal dan guling dengan motif sama.


Arshila mengambil selimut, membawa dalam pelukannya.


Anakku!!

__ADS_1


__ADS_2