
Di kediaman Dave.
Pria dengan jarum infus menancap di tangannya, terlihat murka. Ia duduk tegak diatas tempat tidur, napasnya memburu dengan rahang yang mengeras. Meski lemah, ia masih bisa berteriak dan memaki, para pelayan di rumahnya.
Sudah jam tujuh malam, sang istri belum juga pulang. Tian yang sudah mengerahkan anak buah, belum juga menemukannya.
Amarah Dave, tertuju pada anak buahnya yang tidak becus. Sementara, kegelisahan hatinya, merujuk keadaan sang istri jika bertindak bodoh, seperti yang dulu-dulu. Apalagi, sang ibu terus mengomel menyalahkannya, tanpa henti.
Dave mendorong tiang infus, menuju balkon. Melihat gerbang rumah, dari lantai atas. Ia berharap berkali-kali, Arshila pulang dengan selamat. Ia juga sudah mendoktrin dirinya, ia tidak akan marah, tidak akan!!
Tapi,
Sebuah mobil, berhenti tepat depan gerbang. Cukup lama, sampai seorang wanita turun dari sana. Dave bernapas lega, melihat Arshila pulang dengan selamat. Namun, pria yang sangat dibencinya, hingga ke sumsum tulang, juga ikut turun. Dave mencengkram erat besi pembatas, kemarahannya berkobar.
Mereka berkencan, istriku kabur dan berkencan dengan pria lain, batin Dave mengadu domba. Ia masih memperhatikan mereka, dengan emosi yang sangat sulit ditekannya saat ini. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai begitu lama.
"Ellino Malvinder, kau mengibarkan bendera perang rupanya."
Deru napas memburu dan tidak beraturan, kemarahan Dave saat ini, seperti memergoki sang istri, tengah selingkuh didepan matanya. Jika ada sebuah pistol ditangannya, saat ini, mungkin mereka berdua yang sedang tertawa sudah tergeletak bersimbah darah.
Dave mendorong tiang infusnya, ia akan turun menyambut sang istri, yang sudah masuk dalam halaman rumah.
Tangannya sudah terkepal sangat erat, ia ingin segera mendaratkannya. Pintu lift terbuka, ia berjalan cepat, dengan sorot mata berkilat-kilat. Pandangannya terkunci pada Arshila, yang sudah menapakkan kakinya, diruang tengah.
Plak, plak.
Tamparan beruntun mendarat, membuat tubuh Arshila goyah dan tersungkur dilantai.
Para pelayan menjerit, pak Yus dan ibu Lin segera berlari menyelamatkan nona muda mereka.
"Tuan muda, hentikan!!"
Pak Yus menghadang Dave dengan berdiri diantara mereka. Sementara, ibu Lin membantu Arshila untuk bangkit.
"Minggir!" Nada rendah, dengan pandangan yang belum lepas dari sang istri. "Aku bilang, minggir!!" teriak Dave, dengan napas memburu dan wajah memerah. Ia mendorong pak Yus hingga menepi.
"Kau bersenang-senang? Hah!!"
Arshila yang sudah bangkit, menatapnya tajam. Entah mendapat keberanian dari mana, ia bahkan menarik bibirnya tersenyum, seolah menentang dan mengejek suaminya.
"Aku bukan siapa-siapa. Jadi, jangan ikut campur!"
Dave murka, amarahnya benar-benar meledak. Kecemburuan dan senyum Arshila, seperti membuat pikirannya tertutup oleh awan gelap.
__ADS_1
Ibu Lin segera menarik Arshila untuk menjauh, raut wajah Dave yang menakutkan, seperti akan menelan hidup-hidup istrinya. Dan terbukti, Dave mengangkat tiang infus, dengan kedua tangannya, mengarahkan pada Arshila yang mematung.
"Tuan, Tuan muda!" para pelayan menjerit sambil memanggil Dave, agar tersadar.
Pak yus berlari memasang badan, begitu juga ibu Lin. Para pelayan menutup mata, tak ingin melihat kejadian didepan mereka.
Plak.
Sebuah buku mendarat di kepala Dave dengan kuat, hingga ia menjatuhkan tiang infus dibawah kakinya.
Dave menoleh, dengan mata elang yang ingin mencabik-cabik seseorang, yang berani melempar buku kepadanya.
Plak, plak.
Dave membeku, saat Rachel menampar wajahnya dengan sangat kuat. Ia masih mengepalkan erat tangannya, amarah dalam hatinya belum juga reda. Bahkan, tetesan darah yang keluar dari jarum infusnya, sama sekali tidak terasa. Pikirannya, benar-benar tertutup oleh kegelapan.
"Ibu Lin, bawa Arshila di kamarku!" perintah Rachel.
Dave masih mematung, helaan napasnya masih tidak beraturan, ia masih marah, sangat marah. Bahkan, tatapan yang diberikan kepada ibunya tidak berubah.
Dia berselingkuh dan menertawakanku. Kalian, sudah sejauh mana, Arshila?? Batin Dave masih terus mengadu domba.
Ia masih tenggelam pada kesalahahaman, karena kecemburuan dan kebenciannya pada Ellino. Amarah sang ibu, tidak dianggapnya sama sekali.
"Pak Yus, bawa Dave di kamar dan panggil perawat, untuk memperbaiki infusnya."
Rachel memutar badan, berjalan menuju kamar. Ia tidak ingin meladeni putranya, saat ini. Percuma menasehati seseorang yang sedang gelap mata.
Di dalam kamar, Arshila terbaring dengan tubuh bergetar. Bayangan Dave yang hampir membunuhnya, menari-nari dalam ingatannya.
Ia ketakutan, tapi tidak bisa mundur. Ia bahkan menutup mata, saat kejadian itu.
"Nona, minumlah!" ibu Lin memberikannya segelas air putih, agar Arshila merasa tenang.
Rachel sudah masuk kamar, menatap sang menantu yang wajahnya memucat. Ia langsung mendekat dan memeluknya erat. Tangis Arshila langsung pecah, saat pelukan Rachel terasa hangat dan menenangkannya.
"Mama, hiks, hiks," ujar Arshila disela tangisnya.
"Sudah, sayang. Tenanglah, jangan takut! Mama akan melindungimu!" Rachel mengelus punggung Arshila.
Ibu Lin yang melihat itu, keluar kamar tanpa menimbulkan suara.
"Aku pergi menemui putriku. Aku merindukannya," ujar Arshila yang masih menangis. "Aku ingin bebas dan menikmati hidupku. Aku tidak meminta apapun, hiks, hiks."
__ADS_1
Rachel membiarkan Arshila, bercerita dan menumpahkan kesedihannya. Cukup lama, sampai sang menantu melepaskan pelukannya. Ia masih sesegukan, tapi sudah cukup tenang.
"Malam ini, kamu tidur bersamaku. Apa kamu sudah makan malam?" Arshila mengangguk. "Tidurlah! Biar Dave, mama yang mengurusnya."
Arshila merebahkan tubuhnya, perlahan memejamkan mata, setelah Rachel menyelimutinya.
Di kamar Dave, perawat sudah mengatur ulang posisi infus Dave yang bergeser, karena banyak bergerak. Perawat itu, bekerja dengan membisu, ia takut, setelah melihat adegan diruang tengah.
"Sudah, Tuan."
Dave tidak menjawab, ia masih duduk dengan pikiran yang berlarian, ditambah batinnya yang belum berhenti memprovokasi.
"Pak Yus, ambilkan ponselku!"
Setelah menerima ponselnya, Dave langsung menghubungi Tian.
"Cari, kelemahan perusaahan Elf Corp!"
Sambungan diputuskan begitu saja, setelah jawaban Tian yang selalu mengiyakan.
Sedikit, kemarahan Dave berkurang. Ia mengibaskan tangannya, meminta semua orang keluar dan meninggalkannya seorang diri dan tidak ingin diganggu.
Tapi, sang ibu sebagai ratu penguasa, tidak mempedulikan keinginan putranya.
"Kita harus bicara!" Rachel sudah duduk di kursi kayu yang ditariknya mendekat, di tempat tidur.
"Aku sedang tidak ingin bicara, Ma!"
"Tidak! Kita harus membicarakannya dan beri mama penjelasan. Apa kau tidak sadar, yang sudah kau lakukan?"
"Dia pulang, diantar oleh laki-laki lain." Dave melototi ibunya.
"Lalu, apa yang membuatmu marah sampai ingin membunuhnya?"
"Mama, kamu tidak mengerti! Aku mengkhawatirkannya, tapi ia pulang dengan pria lain. Bahkan, aku tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan."
"Hanya karena itu? Bahkan, kamu belum memastikannya!" teriak Rachel.
"Dia Ellino, mantan kekasih Clarissa. Dia yang merebut Clarissa dariku dan sekarang, ia ingin mengambil Arshila!!" Kalimat yang penuh penekanan, agar sang ibu mengerti kemarahannya saat ini.
"Bukankah, semua berawal dari sikap kamu sendiri! Kamu pikir istri kamu akan betah dengan kekasaranmu, Dave. Dia terkurung dan kesepian. Kamu sendiri yang memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk dekat dengan istrimu. Kamu yang memberikan kesempatan pada Ellno. Semakin kamu kasar, Arshila akan semakin membencimu dan peluang besar bagi pria lain, untuk mengulurkan tangan. Ingat itu!!"
Brak!!
__ADS_1
Rachel keluar kamar setelah, membanting pintu dengan keras.
Sementara, Dave mengusap wajahnya dengan kasar. Ucapan sang ibu, membuat pikirannya terombang ambing.