
Tiga hari berlalu. Arshila duduk didampingi suami dan kedua mertuanya. Disebelahnya, sang adik dan kedua orang tuanya, turut hadir. Tiga pengacara, duduk berjejer mendampingi keluarga itu.
Hari ini, adalah hari persidangan ulang, untuk kasus yang sama, setelah setahun lebih berlalu. Pengunjung yang hadir bukan hanya dari pihak terkait. Melainkan, dari berbagai media dan stasiun tv.
Dimas dan ibu, duduk tertunduk lesu. Posisi, yang mengingatkan, Arshila saat dulu. Tidak ada keluarga, atau seseorang yang menolongnya. Hanya terdengar makian, umpatan dan hujatan kepadanya. Diam adalah satu-satunya cara, yang bisa ia lakukan saat itu. Membuka mulut pun, percuma, siapa yang akan percaya.
Pihak berwenang, mulai membacakan tentang pengakuan Dimas dan sang ibu. Begitu, juga dengan bukti yang sinkron dengan pengakuan mereka.
Sorot kamera, fokus pada keluarga Alehandra, yang menghadiri sidang dengan personil lengkap. Tapi, siapa wanita yang dipeluk tuan muda Alehandra? Selain itu, ada keluarga Malvinder, yang ikut duduk, disebelah wanita itu. Siapa dia sebenarnya?
Wanita itu tertunduk, kedua matanya menghindari kamera, yang fokus pada dirinya. Ia merasa tidak nyaman.
Arshila menatap, dua orang yang pernah menjadi keluarganya. Dan Dimas, yang pernah menjadi, bagian dari hidupnya. Tanpa sadar air mata Arshila, menetes jatuh. Bukan merasa iba, pada Dimas atau ibunya. Tapi, ia kembali teringat akan masa itu.
Ia pernah duduk, ditempat itu. Melihatnya sekarang, ia merasa miris. Karena, saat itu, ia dalam keadaan hamil.
Dave yang mulai peka, pada sang istri. Memeluknya erat, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Semua sudah selesai, sayang. Jangan lagi, memikirkan yang sudah terlewati. Kamu adalah wanita hebat."
Arshila semakin menenggelamkan tubuhnya. Tangisnya luruh begitu saja. Satu tahun, bukanlah waktu yang singkat untuknya. Satu tahun, ia menjalani hukuman atas perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan.
"Terdakwa. Apa Anda ingin menyampaikan sesuatu?"
Dimas mengangguk, lalu bangkit. Ia memutar tubuhnya, berhadapan dengan pengunjung sidang.
"Aku mau minta maaf, pada mantan istriku, Arshila."
Arshila hanya mendengarkan dalam pelukan Dave. Ia tidak bergerak, sedikit pun.
"Maafkan aku. Maaf, karena aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku, karena aku, hidupmu hancur dan kehilangan segalanya. Tolong, aku mohon padamu. Maafkan aku, Arshila." Dimas tertunduk dengan air mata yang jatuh menetes. Tidak ada kalimat lain, selain minta maaf. Karena, hanya itu, yang bisa ia lakukan, saat ini.
"Hiduplah dengan baik dan berbahagialah."
Dimas kembali duduk. Ia menggenggam tangan sang ibu.
Ibu Dimas sendiri, hanya mendengarkan, sang anak. Ia tidak mampu berkata apa-apa, selain menangis. Ia malu harus menghadapi, mantan menantunya. Ia juga malu kepada anak-anaknya, yang pasti sedang menangisi keadaannya.
Ibu hanya mampu, memohon maaf didalam hati. Tenggorokannya tercekat oleh rasa bersalah, yang menyeruak ke permukaan. Ia terus menunduk, dengan sesekali menghapus air matanya.
"Ibu Dimas, Anda ingin menyampaikan sesuatu?"
Ibu hanya menggeleng lemah dengan kepala tertunduk. Wajahnya sudah basah, karena lelehan air mata.
Hakim kembali melanjutkan. Karena semua bukti sudah jelas, ditambah dengan pengakuan Dimas dan sang ibu. Akhirnya, hakim menjatuhkan vonis saat itu juga.
__ADS_1
Sang hakim juga, mencabut semua tuduhan dan mengembalikan nama baik Arshila.
Putusan itu, diterima dengan suara tepuk tangan, yang memenuhi ruang sidang. Bahkan, reporter yang hadir, menjadi heboh. Saat mereka mengetahui, wanita yang duduk disamping Dave. Sorot kamera pun, tak lepas dari keluarga itu.
Keluarga Clarissa yang hanya dihadiri ayahnya. Menerima putusan hakim dengan suka cita. Ia bahkan tidak percaya, ternyata selama setahun. Mereka menghukum orang yang salah.
Ketuk palu hakim, menandai selesainya sidang. Dimas dan sang ibu, dikawal petugas, untuk keluar.
"Shi, Arshila," teriak Dimas, yang melihat sang mantan istri bersama keluarga barunya.
Arshila hanya menatapnya dingin, tidak berniat untuk menemuinya.
Aku pernah seperti ini, memanggilmu, tapi tidak ada jawaban. Kau membuangku saat itu, dan sekarang giliranku, untuk membuangmu jauh.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Ibu Ellino memeluk Arshila. Ia merasa cemas dengan putrinya, yang menatap dingin Dimas.
"Aku baik-baik saja, Bu."
Petugas keamanan, mencoba mencegah reporter yang mendekat. Mereka tidak mau kehilangan informasi berharga.
Yah, Arshila. Dia wanita yang pernah menjadi terdakwa setahun lalu. Saat ini, statusnya sudah berubah dan nama baiknya sudah kembali. Tapi, bukan itu, yang mereka ingin liput. Melainkan hubungannya, dengan Dave dan keluarga Malvinder.
"Nona, nona," panggil mereka yang berusaha membuka jalan, menemui Arshila yang terhalang banyaknya petugas keamanan. "Apa hubungan Anda dengan Dave Alehandra dan keluarga Malvinder?"
Untuk menghindari, hal yang tidak diinginkan, akhirnya Liam membuka suara.
"Para wartawan. Kami akan segera melakukan konferensi pers. Tolong, biarkan kami pergi!"
"Kapan, Tuan? Apa tentang status wanita itu?"
"Segera. Silahkan, tunggu informasi kami selanjutnya."
Para wartawan, masih mengejar Liam, meski sudah memberi penjelasan. Begitu juga, Dave dan Ellino yang mulai kesulitan membawa Arshila keluar ruangan.
Untungnya, petugas keamanan, membuka jalan untuk mereka. Hingga, akhirnya mereka lolos dan masuk dalam mobil.
"Kak, kamu baik-baik saja?" cemas Ellino, apalagi wajah Arshila tanpak memucat.
Tian memberikan sebotol air dari kursi depan. Sementara, supir sudah melaju, meninggalkan tempat itu.
"Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit?"
"Aku hanya pusing dan lelah," jawab Arshila pelan dengan mata yang mulai menutup.
"Rumah sakit," teriak Dave.
__ADS_1
Sang supir langsung menambah kecepatan.
Elinno dan Dave yang dilanda kepanikan, membangunkan Arshila yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kak, bangun!"
"Sayang, bangun. Aku mohon!"
Tian memberikan mereka minyak kayu putih. Dave dengan cepat menerimanya. Ia mengoleskan di kepala, sambil memijatnya. Ellino mengoleskan dijari telunjuknya, membiarkan Arshila menghirup aromanya.
Mobil langsung masuk diparkiran UGD. Dokter yang sudah mendapat kabar, langsung membuka pintu mobil.
Arshila dibaringkan diatas brankar. Dave dan Ellino ikut mendorong, menuju ruang tindakan.
Dokter dengan cepat melakukan pemeriksaan.
"Nona kelelahan dan kekurangan oksigen."
"Dia baik-baik, saja, kan?"
"Iya, Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Dia hanya perlu istirahat sebentar."
"Aku mau dia dirawat."
"Baik, Tuan. Kami akan memindahkannya diruang perawatan."
Langkah kaki, yang terburu-buru, mendekati Dave dan Ellino.
"Mana menantuku?" tanya Rachel.
"Mana putriku?" tanya ibu Ellino.
"Didalam, Ma. Dia baik-baik saja." Dave yang menjawab dengan perasaan yang masih dipenuhi kecemasan.
Ternyata, bukan hanya mereka yang menyusul ke rumah sakit. Bagas, rupanya mengikuti mereka.
"Oh, Tuan Bagas, Anda disini," ujar Liam yang tampak terkejut.
"Aku mau meminta maaf pada menantumu dan juga pada Dave. Tapi, sepertinya, situasinya sedang tidak baik."
"Dia kelelahan. Sebentar, lagi akan sadar."
"Aku akan datang lain kali, setelah dia membaik. Mengenai istriku, aku meminta maaf pada keluargamu. Aku akan mengurusnya dengan baik."
Liam menatap Bagas, yang sudah pergi. Dia pria yang baik, tapi terjebak oleh nafsu. Hingga, meninggalkan keluarganya.
__ADS_1