
Sudah dua hari berlalu, Arshila benar-benar terkurung dalam rumah. Semua kegiatannya diluar sana, dialihkan dalam rumah. Mulai dari kelas memasak, les bahasa asing, les komputer, les fashion, kelas yoga, senam, hingga perawatan wajah dan tubuhnya.
Perpustakaan yang tidak pernah dikunjunginya, kini masuk dalam daftar kegiatan hariannya. Ia harus membaca buku disana setiap harinya, dengan jam berbeda.
Pagi ini, seperti biasa ia sudah bangun lebih awal. Melipat selimut dan merapikan bantal, lalu menyusunnya diatas sofa. Ia masuk dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuh.
Diatas tempat tidur, Dave masih terlelap dengan memeluk guling. Karena ini akhir pekan, Dave pasti bermalas-malasan, setelah bangun. Jadi, Arshila berinisiatif untuk keluar kamar tanpa menunggunya bangun.
Dilantai bawah, ibu Lin sudah menunggu. Pagi ini ada kelas yoga, jadi Arshila harus sarapan terlebih dahulu, sebelum instruktur yoga datang.
Arshila memakan bubur ayam, yang menjadi favoritnya. Meminum segelas susu, yang menjadi hal wajib baginya. Padahal, ia sama sekali tidak menyukai rasa itu. Tapi, agar urusan tidak berkepanjangan, ia hanya bisa menurut.
Rachel sudah duduk bergabung di meja makan. Ia juga akan mengikuti kelas yoga, untuk menemani menantunya.
Setelah, instruktur datang, mereka naik ke lantai tiga.
Didalam kamar, Dave baru saja terbangun. Dan lagi-lagi, mendapati selimut dan bantal yang sudah disusun rapi diatas sofa. Ia menyibak selimut lalu, berjalan masuk dalam kamar mandi.
"Selamat pagi, Tuan."
Pak Yus menarik kursi, untuk Dave di meja makan.
"Mana istriku?" tanyanya, sembari mengambil sandwich.
"Nona, ada di lantai tiga bersama nyonya besar. Pagi ini, ada kelas yoga."
"Panggil beberapa orang untuk mengeluarkan sofa dari dalam kamarku."
"Baik, Tuan."
Setelah, sarapan Dave kembali ke kamar, untuk melihat kondisi kamar setelah sofa itu dibawa keluar.
"Ganti dengan kursi kayu dan meja. Tambahkan, rak buku disampingnya."
"Baik, Tuan."
Semua sudah sesuai dengan keinginan Dave. Pak Yus juga sudah mengisi rak, dengan buku yang dari perpustakaan. Buku yang tentu saja, harus selera Arshila, meski sebenarnya buku-buku itu, Dave yang memilihnya.
Pukul sepuluh pagi, Arshila dan Rachel sudah selesai yoga. Mereka duduk diruang tengah, menikmati segelas jus yang sudah hampir habis.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, Shi? Apa sudah lebih baik?"
"Iya Ma."
"Baguslah, pergilah ke kamar bersihkan tubuhmu. Hari ini, kamu libur, jadi gunakan waktumu untuk istirahat."
"Baiklah, Ma. Aku ke kamar dulu."
Arshila sudah membuka pintu, berjalan langsung ke kamar mandi. Ia tidak memperhatikan keadaan kamar yang sudah berubah. Dave yang duduk ditepi ranjang, hanya ditatapnya sekilas.
Arshila berendam dalam bathtub, hal yang paling disukainya. Ia bisa memejamkan mata, saat tubuhnya merasa rileks. Setelah cukup lama, ia bangkit, melilitkan handuk di tubuhnya dan handuk lainnya digunakan untuk membungkus rambutnya yang basah.
Saat membuka pintu, ia hampir terjungkal karena kaget. Dave berdiri tegap, dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Apa kau tidur didalam?"
"Maaf." Arshila mundur perlahan, hingga kembali masuk.
"Setelah menemukan rumah baru, kau semakin berani, Arshila." Tangan Dave mencengkram dagu istrinya, tidak peduli dengan wajah Arshila yang meringis.
"Aku tidak mengerti."
"Aku tidak pernah memberikan nomor ponselku. Aku bersumpah!" Kaki Arshila gemetar, bola mata sang suami dipenuhi amarah, dipenglihatannya.
"Kau pikir aku, percaya! Pantas kau sangat melindunginya. Kau tidak berpikir sikapmu, melukai harga diriku. Aku suamimu, tapi kau melindunginya didepan orang banyak!" Dave setengah berteriak, menarik tangan Asrhila keluar dari kamar mandi, menghempaskannya keatas tempat tidur.
"Aku tidak berniat melakukannya. Dia temanku, aku tidak ingin dia terluka!"
Bukannya mereda, justru jawaban Arshila membuat sang suami semakin terbakar amarah.
Hebat sekali! Melindungi kekasihmu, didepanku!! Dave membatin. Ia membuka pakaian, hingga menyisakan yang menutupi area bawah saja.
"Kau mau apa?" Arshila semakin gemetar, ia mundur hingga membentur sudut tempat tidur.
"Tentu saja, membuktikan ucapanmu. Layani aku!" Dave sudah naik diatas tempat tidur, membuka paksa handuk yang melilit ditubuh istrinya, lalu membuangnya entah kemana.
Arshila pasrah, membiarkan Dave berada diatas tubuhnya, menciummi dengan kasar. Ia hanya menutup mata, dengan ujung mata yang sudah meneteskan bulir-bulir kristal bening.
"Kau menangis?" Dave menghentikkan aksinya. "Kau tidak suka aku menyentuhmu, katakan!!"
__ADS_1
Arshila menggeleng, tapi air matanya yang jatuh membuktikan ucapan Dave.
"Dasar sial!!" Dave bangkit, kembali mencengkram mulut istrinya. "Apa kau sudah tidur dengannya? Jawab!!"
Arshila kembali menggeleng, air matanya semakin deras, begitu juga tubuhnya yang gemetar ketakutan. Suara Dave yang berteriak dan membentak, membuatnya bibirnya kelu untuk menjawab.
Plak!! Bukan hanya tamparan, Dave memaksa istrinya untuk bangun, dengan rambut yang dijambak, lalu dihempaskan diatas lantai hingga tersungkur.
"Perempuan murahan!"
Dave menggunakan kembali pakaiannya, membanting pintu dengan keras, saat keluar kamar.
"Hiks ... hiks ...." Arshila memeluk kedua kakinya, dengan tubuh tanpa sehelai benang. Rambutnya yang belum mengering, berantakan dan beberapa helai berada diatas lantai.
Aku pikir, dia sudah berubah. Aku pikir, semua akan baik-baik saja, setelah foto Clarissa lenyap. Dia pernah bertanya, apa aku, bukan orangnya? Sesaat hatiku merasa lega, tapi pada akhirnya kembali tertusuk pisau.
Arshila terus menerus menangis, bahkan menutup mulutnya, agar suaranya tidak terdengar.
"Hiks ... hiks ... ibu, ayah. Hiks ... hiks ...."
Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, sambil berusaha mengambil napas. Hidungnya tersumbat, ia hanya bisa bernapas melaui mulut yang bercampur tangisnya.
Arshila memungut handuk, kembali melilitkan di tubuhnya. Ia menghapus air matanya, dengan tangis belum reda.
Dengan tenaga yang masih tersisa, ia berusaha untuk bangkit. Menarik kedua kakinya, untuk berjalan. Ia harus mencari pakaian, sebelum ada yang masuk dalam kamarnya.
Arshila melihat sekeliling kamar, mencari sesuatu yang begitu penting dalam kamar ini. Ia mencari sofa yang menjadi tempatnya untuk tidur. Tapi, disana, hanya ada kursi kayu dan meja kecil. Lalu, kemana perginya sofa itu?
Arshila menatap tempat tidur milik Dave, yang berukuran king zise. Ia tidak berani naik diatas sana, memikirkannya pun tidak. Mungkin ia akan berakhir, dengan tubuh yang berguling-guling diatas lantai.
Tidak ingin mengambil resiko, Arshila memilih tidur diatas lantai. Menggunakan selimut sebagai alas, lalu membaringkan tubuhnya. Ia sudah seperti seorang pengemis yang tidak memiliki tempat tinggal.
Arshila belum memejamkan mata, rupanya ia masih menangis. Sisa-sisa kesedihannya, belum hilang. Tamparan Dave dan ucapan kasarnya, masih menari dalam kepalanya.
Matilah, matilah, matilah!
Dasar perempuan murahan!
Sampai sekarang, kata itu belum juga hilang dari ingatannya dan kini bertambah lagi.
__ADS_1
Terus menerawang, hingga akhirnya ia tertidur dengan wajah yang sembab dan tubuh kedinginan.