Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 99. Pembicaraan dua lelaki


__ADS_3

Masih di kampung halaman Arshila.


Siang yang penuh ketegangan. Dave memaksa pulang sang istri dan Ellino yang mempertahankan kakaknya untuk tetap tinggal.


"Aku akan mengantarnya pulang ke kota."


"Tidak, istriku harus pulang bersamaku."


Istri? Kata itu membuat Ellino muak dan ingin menghajarnya. Ia tahu betul bagaimana Dave memperlakukan saudarinya saat awal menikah.


"Aku masih ingin tinggal. Bukankah, kamu mengatakan kita akan dua hari disini." Arshila menengahi, ia masih rindu dengan suasana disini. Apalagi, setelah bertemu dengan Arsya, ia tidak memiliki niat untuk kembali.


"Kalau begitu, kita ke penginapan, sayang!"


Sangat keras kepala, Ellino mendengus. Tangannya terkepal, untuk menghajar kakak iparnya.


"Kakakku akan tetap disini! Ini rumahnya! Kenapa kau tidak kembali sendiri saja?"


Kesabaran Dave semakin menipis. Ia bersusah payah menekan amarahnya, yang sudah ingin meledak.


Tahan, tahan, Dave. Jangan bodoh! Istrimu ada didepan dan sedang hamil! Dave membatin, hatinya terus memperingatkan seperti alarm.


"Sayang, kamu sedang hamil. Kamu perlu istirahat, ayo ikut denganku!" Dave mengulurkan tangannya.


Ellino membeliak, mengalihkan tatapannya ada Arshila. Ia belum mengetahui kehamilan kakaknya. Sejak tadi, mereka hanya membahas masa lalu, yang tidak ada habisnya.


"Kak Shi, kamu sedang mengandung?"


Arshila hanya mengangguk, ia terlalu lelah sekarang, untuk berbicara panjang lebar lagi. Ia bahkan tidak menerima uluran tangan sang suami. Ia memilih duduk disofa.


"Kau lihat! Dia tidak mau, sekarang pergilah!"


Dave membuang napas kasar. Ellino membuatnya perlahan hilang kewarasan. Ingin dihajarnya dan membuatnya menghilang saat itu juga.


"Baiklah, kami akan menginap disini!"

__ADS_1


Tanpa basa basi, Dave menggandeng tangan sang istri masuk dalam kamar.


Ellino? Jangan tanya lagi, kepalanya sudah berasap. Jika saja, waktu itu, ia mengetahui Arshila adalah kakak kandungnya. Sudah lama, ia membawanya pergi jauh, dari jangkauan pria brengsek itu.


"Tuan, kami kembali ke penginapan," pamit pak Yus, kepada Ellino.


Pria itu, hanya mengibaskan tangannya. Ia bukan majikan mereka, kenapa juga harus berpamitan padanya. Ia tidak peduli, dengan rombongan yang dibawa Dave.


Para pengawal, tetap berjaga di rumah Ellino. Karena tuan dan nona muda, berada disini.


Ellino menuju ruang tengah, pintu kamar Arshila terbuka lebar. Didepannya, Dave sedang menyelimuti Arshila, yang sepertinya akan tidur.


Cih, seperti seorang suami yang penuh kasih sayang. Ellino berdecih dan muak, dengan sikap Dave yang seolah sangat menyayagi kakaknya.


Ellino tidak bergerak dari tempatnya, sorot matanya tidak lepas dari kakak iparnya. Ia menunggu, laki-laki itu, keluar dari kamar.


Merasa diperhatikan. Dave menoleh, tatapan mata elang yang seperti akan membunuhnya. Ia menyeringai, mengejek Ellino, dengan mendaratkan kecupan di kepala Arshla.


Sialan! Dia sengaja, membuatku panas. Akan aku buat, kau menangis darah!


Setelah memastikan Arshila tidur, Dave keluar menemui adik iparnya. Ia mengikuti langkah Ellino didepannya.


"Kau sedang berperan menjadi suami yang baik, Dave? Sungguh menggelikkan!" sindir Ellino.


"Dia istriku, tentu saja aku harus menjadi suami yang baik untunya."


"Omong kosong!" teriak Ellino, dengan wajah yang sudah memerah. "Kamu pikir, aku tidak tahu, apa yang sudah terjadi padanya? Kau memperlakukanya seperti tidak ada harganya."


"Ellino." Dave masih berusaha bersabar. "Itu masa lalu dan aku sedang merubah segalanya."


"Semudah itu? Luka dalam hati, tidak ada obatnya, Dave. Jadi, jangan pernah berpikir, semua akan baik-baik saja."


"Aku tidak peduli. Aku akan melakukan segalanya, agar dia tetap disisiku."


Wah, percaya sekali dia. Ellino mengulas senyum. Duduk dibangku kayu, yang dibuatnya sendiri.

__ADS_1


"Waktu itu, kamu mengatakan, agar aku tidak ikut campur. Karena, aku bukan siapa-siapa. Sekarang, aku memiliki hak untuk mengambil keputusan."


Dave tertawa hambar, sudah bisa menebak, apa keinginan adik iparnya.


"Aku suaminya. Aku yang berhak atas istriku, sekalipun kau saudaranya," tegas Dave, dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.


Ayolah! Ellino sangat muak mendengarnya, seolah pria didepannya, tidak memiliki kesalahan besar. Suami, suami, suami, kata-kata ini, sangat mengganggu pendengarannya.


"Kau tahu, aku tidak pernah menganggapmu musuh. Kau yang hadir, diantara aku dan Clarissa. Kau yang merebutnya dariku. Tapi kau bertindak, seolah-olah aku yang mengganggu hubungan kalian."


Dave ikut duduk, dibangku kayu sebelah Ellino. Sepertinya, pembicaraan mereka akan kembali ke masa lalu.


"Aku tidak tahu, hubungan kalian seperti itu." Dave memang tidak tahu, ia hanya mendengarkan ucapan dari satu pihak saja, saat itu. "Ibunya mengatakan, kau adalah laki-laki yang dibenci putrinya. Laki-laki yang adalah mantan kekasih, tapi masih memaksa untuk bersama. Kau mengajaknya kabur, bahkan setelah mengetahui, ia akan bertunangan sebentar lagi."


Ellino tersentak. Ia tidak pernah melakukan hal semacam itu. Masalah kabur bersama, itu adalah ide Clarissa. Ia bahkan sudah menunggu, tapi Clarissa tidak pernah muncul.


"Ibunya?" Ellino memastikan. "Clarissa jelas-jelas menolak perjodohan kalian. Ia terus menangis dan memintaku membawanya pergi jauh. Sekarang, kau berkata aku adalah penjahatnya?" Ellino tidak terima, jika ia dianggap seperti itu.


"Hei, aku hanya mendengar dari ibunya. Mana aku, tahu kisah kalian serumit itu," balas Dave santai.


Ketegangan diantara mereka, mulai hilang. Kini mereka mengobrol seperti sahabat, yang sedang curhat satu sama lain.


"Jadi, kau benar-benar tidak tahu?" tanya Ellino, yang masih tidak percaya.


"Kamu pikir, aku mau memaksa seorang gadis hidup bersamaku. Padahal, hati dan pikirannya memikirkan pria lain."


"Apa Clarissa tidak pernah memberitahumu?"


"Tidak. Sebenarnya, kami jarang berdua." Dave kembali menguak fakta baru. "Setiap bertemu, ibunya selalu berada disampingnya. Jadi, aku menganggap saat itu, dia anak mama dan sangat manja."


Mereka kini terdiam, tapi saling menghindar untuk bertatapan. Sudah jelas, siapa sumber masalahnya. Tapi, semua sudah berlalu, tidak berguna lagi, untuk mengungkitnya sekarang. Lagi pula, Clarissa sudah tenang dan damai disana.


"Ellino, tolong maafkan aku atas segalanya!" lirih Dave. Ia bersungguh-sungguh, ingin memulai semuanya dari awal. Ingin memperbaiki semua kesalahannya, dimasa lalu. "Aku sangat mencintai Arshila, demi apapun, aku melakukan semua untukknya. Tolong, restui kami!"


Ellino terhenyak. Apa benar, pria sombong dan pemarah adalah Dave? Apa kepalanya pernah tertimpa sesuatu? Ia sedang meminta restu padanya, dengan cara tak biasa.

__ADS_1


"Aku belum melihat, kesungguhanmu. Berusahalah!" jawab Ellino, lalu bangkit lebih dulu.


Ia tidak mau secepat itu, memaafkan Dave. Apalagi, ia belum mendengar keseluruhan ceritanya dari Arshila. Ia masih harus memastikan sendiri, kebahagiaan sang kakak. Mereka sudah lama terpisah, apalagi Arshila menjalani hidup tidak seperti dirinya yang beruntung. Jadi, ia masih harus memastikan bnyak hal dari kakak iparnya. Setulus apa dia? Semenyesal apa dia?


__ADS_2