
Percikan air hujan, mengenai jendela kaca, akibat hujan yang mengguyur deras. Awan yang menghitam, membuat pandangan menjadi gelap, padahal waktu sudah pukul delapan pagi.
Suasana dingin, membuat banyak orang meringkuk dibawah selimut. Ada juga yang sudah terbangun, dengan ditemani secangkir teh untuk menghangatkan tubuh.
Berbeda dengan, Arshila. Suasana hujan membuat perasaannya lebih sensitif. Ia berdiri menghadap kaca jendela, penampilannya acak-acakkan karena lelah menangis. Esok adalah hari terakhir, ia bersama janin dalam rahimnya. Ia frustasi karena belum mendapatkan jalan keluar. Sang ibu mertua yang sebagai dewi pelindung, ternyata belum mengaktifkan ponselnya, karena masih diperjalanan, yang membutuhkan waktu lama.
Didalam ruangan sudah ada manajer Grace, yang membantu ibu Lin. Meskipun, ia tidak membutuhkan mereka berdua, untuk mengurus dirinya. Ia sudah bisa bangun, tanpa rasa pusing, seperti sebuah palu yang memukul kepalanya.
Arshila mengelus perutnya yang masih rata, mengatakan pada bayinya, semua akan baik-baik saja, ibu akan melindungimu. Ia akan bertahan, bagaimana pun caranya.
"Nona, dokter sudah datang?"
Arshila menoleh, tersenyum sekilas. Naik diatas brankar, tanpa diminta. Membiarkan dokter melakukan tugasnya, seperti biasa.
"Bagaimana bayiku? Dia baik-baik saja, kan?"
"Iya, Nona. Anda jangan khawatir. Sekarang, saya perlu sampel darah lagi, untuk cek laboratorium."
Arshila mengangguk, menyerahkan tangannya untuk diambil darahnya.
"Sudah selesai." Petugas lab. memberikan hansaplast pada tangan Arshila. Lalu, undur diri terlebih dahulu.
"Setelah hasilnya keluar, saya akan kembali memberitahu, Nona." Dokter muda menundukkan kepala, berpamitan pergi.
"Dokter," panggil Arshila, yang dikemudian dijawab 'iya' oleh sang dokter. "Apakah bisa membantuku? Aku ingin pulang hari ini."
"Tapi, Nona. Keadaan Anda belum membaik." Sebenarnya, dokter sedang berusaha menahan Arshila, agar tinggal lebih lama. Membuat Arshila, terlihat sakit parah, hingga bisa menunda permintaan gila sang presdir.
"Kalau begitu, bantu aku keluar dari sini!"
Ya, satu-satunya cara adalah pergi dari sini. Ia tidak bisa berdiam diri dan pasrah begitu saja. Apalagi, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan sang suami. Kabur adalah pilihan terbaik saat ini.
"Saya akan membantu, Nona. Tapi, tunggu instruksi dari saya."
"Terima kasih." Arshila meraih tangannya, tampak cairan bening menggenang dipelupuk matanya.
Grace keluar ruangan, memperhatikan banyaknya pengawal yang menjaga depan pintu mereka. Sementara, ibu Lin kembali membereskan barang-barang pribadi nona muda.
Sembari menunggu, Arshila menghabiskan potongan buah diatas piring. Memikirkan arah yang akan dituju, setelah pergi dari sini.
Ia berencana pergi seorang diri, tanpa dua orang wanita yang selalu menjaganya. Ia tidak mau melibatkan mereka dalam pelariannya.
__ADS_1
Tapi, kemana??
Yah, kemana dia akan pergi? Sekarang ini, ia tidak hanya memikirkan dirinya, tapi ada anak yang menjadi tanggung jawabnya. Dia bersedia hidup susah, tapi pertanyaannya, apa dia sanggup membesarkan bayinya seorang diri?
Arshila menghalau pikirannya, itu tidak penting sekarang. Ia perlu bebas, terlebih dahulu. Tempat yang dituju, hanya terpikir, kampung halaman orang tuanya. Mungkin, Dave tidak akan pernah menemukannya disana. Mungkin.
Dokter sudah kembali, dengan sebuah kertas ditangannya.
"Hasil laboratorium sudah keluar dan hemoglobin Anda sudah normal, tapi tetap harus diwaspadai. Anda harus lebih sering ke dokter untuk cek up."
Arshila hanya mengatakan terima kasih, karena tidak mengerti tentang istilah medis. Mendengar kata normal saja, ia sudah bernafas lega.
"Apa Anda sudah siap?" Dokter bertanya dengan ragu. "Jika sudah, saya akan mengantar untuk USG. Dokter sofia akan membantu Anda keluar."
Arshila didorong menggunakan kursi roda oleh Grace. Sementara, ibu Lin membawa tas selempang milik Arshila.
Para pengawal, ikut berjalan mengawasi mereka. Mengikuti langkah yang tak lengah, sedikitpun.
"Jaga ruangan, Nona. Ada barang penting didalam. Kami akan ke ruangan lain untuk USG," perintah ibu Lin.
Ternyata hanya dua pengawal saja, yang tinggal didepan pintu. Empat orang lainnya, masih mengikuti mereka.
Arshila tampak cemas, apakah dia akan pergi dengan mudah? Atau dia akan kembali kalah, sebelum memulai.
Lift yang membawa mereka tiba dilantai satu. Melewati beberapa ruangan pemeriksaan. Tampak banyak pasien duduk menunggu, dijejeran kursi yang sudah disediakan. Mereka mengantri sesuai nomor panggilan.
Mereka sudah tiba, saat pintu dibuka, sosok Dave duduk dihadapan dokter. Seolah sudah tahu, akan kedatangan sang istri.
Mereka terkesiap, menatap sosok yang sedang membalas tatapan mereka.
"Nona, silahkan. Kita akan mengecek keadaan janinnya."
Dokter sofia memecah keheningan, ia sadar situasi sekarang diluar prediksi. Karena, ia juga kalang kabut, saat Dave tiba-tiba datang diruangan, tanpa ada pemberitahuan.
Arshila pasrah, mungkin keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Ia terbaring, menatap layar dan mendengarkan penjelasan dokter, tentang keadaan bayinya yang masih dalam bentuk gumpalan.
Pria yang duduk disana, sibuk sendiri dengan ponselnya. Ia tidak peduli dengan keadaan janin dalam rahim istrinya. Itu bukan miliknya dan sebentar lagi, ia akan melenyapkannya.
"Bagaimana?" tanya Dave masih dalam posisi duduk.
"Bayinya, se ...."
__ADS_1
"Bukan itu!" Ia memotong dengan cepat, karena anak itu bukan urusannya. "Keadaan istriku, bagaimana?"
"Keadaan Nona sudah membaik, hasil pemeriksaan lab, juga bagus. Hanya saja, masih perlu diwasapadai."
"Kalau begitu, la ...."
"Aku ingin pulang." Arshila menyela.
Dave bangkit, menatap tidak suka pada istrinya.
"Kalian keluar!!" ujarnya dengan nada rendah tapi terdengar menakutkan.
Pintu tertutup dan diruangan tinggal mereka berdua.
"Kau tidak akan pulang, sebelum anak ini keluar."
"Dave. Apa kau tidak pernah berpikir kalau anak ini milikmu?"
Arshila bangkit, memelas agar dikasihani.
"Dia bukan milikku!"
"Bagaimana jika, iya? Aku mohon, pikirkanlah. Kau pernah menyentuhku, dimalam ulang tahun Clarissa."
Dave langsung bungkam, ia mundur selangkah. Otaknya bekerja cepat, mengingat kejadian malam itu.
Tidak ada, yang terjadi!! Sekuat apapun ia berusaha mengingatnya. Ia berteriak frustasi, takut jika ucapan Arshila adalah fakta yang sebenarnya.
"Dave, aku mohon. Ini anakmu, anak kita. Kau bisa tes DNA, setelah dia lahir."
Arshila bersimpuh di kaki suaminya. Ia akan memohon dan bersujud demi bayi dalam kandungannya.
Pria itu, masih bungkam. Ia masih berpikir dan mencerna ucapan sang istri.
Bagaimana jika itu anakku? Aku sudah pernah kehilangan bayiku dan aku tidak mau kehilangan lagi. Tapi, kenapa aku sama sekali tidak ingat jika pernah menyentuhnya.?
Jangan dengarkan dia. Bagaimana jika itu anak orang lain? Istrimu pasti sedang menertawakanmu. Kau mau membesarkan anak orang lain?
Batin dan hati Dave berperang. Pikirannya berkecamuk.
"Apa benar yang kamu katakan?" Dave meraih tubuh istrinya untuk bangkit.
__ADS_1
Arshila mengangguk dengan linangan air mata. Bagaimana mungkin, ia melupakan malam itu?