
Di tempat berbeda, seseorang membelah jalan raya yang mulai sepi. Hanya, ada beberapa kendaraan yang masih lewat. Ia menambah kecepatan, saat penumpang dibelakangnya mengeluh kesakitan.
"Kita sudah dekat, bu."
Mobil perlahan masuk dalam halaman rumah sakit. Nadia turun dengan segera, memapah ibu mertuanya masuk dalam ruang UGD.
Beberapa perawat dan seorang dokter, menghampiri keduanya. Nadia mundur sebentar, memberikan ruang pada mereka untuk melakukan tugasnya.
"Bagaimana dokter?"
"Dia terkena maag dan tekanan darahnya naik. Kami akan memindahkannya diruang perawatan."
"Terima kasih, dokter."
Nadia mendekati ranjang pasien tempat ibu berbaring. Wanita itu, memejamkan mata, tapi tidak tidur.
"Ibu merasa pusing dan jantung ibu berdetak cepat."
"Sabar, bu. Dokter sudah memberikan obat, mungkin belum bereaksi."
"Ibu beruntung, karena punya menantu yang bisa mengendarai mobil. Coba, si wanita sialan itu, ibu pasti sudah mati di rumah."
Makian ibu ditujukkan pada Arshila, rasa sakit pada tubuhnya, membuat bibirnya ceplas ceplos. Sementara, Nadia menangkap satu kalimat yang membuatnya bingung.
"Kenapa ibu, bicara begitu? Dia pasti akan mengantar ibu ke rumah sakit."
"Mengantar? Pakai motor mungkin. Dia tidak bisa membawa mobil."
Ibu kembali menjawab dengan nada kesal, sementara, Nadia merasa terkejut, tapi masih berpura-pura tidak menyadari ucapan sang mertua.
"Ibu bisa jatuh dari motor, jika dia mengantar ibu ke rumah sakit."
"Sudahlah, bu. Istirahat saja, jangan membicarakan dia lagi."
"Baiklah, tekanan darah ibu semakin tinggi jika mengingatnya."
Ibu Dimas mulai dibawa diruang perawatan,. Nadia ikut mendorong brankar, sembari membalas pesan suami yang berada diluar kota.
"Nadia, ibu ingin minum."
"Ibu, tunggu sebentar. Saya ke mini market dulu."
Nadia menyusuri koridor yang tampak sepi. Mungkin, karena malam sudah begitu larut. Tak ada rasa takut dalam benaknya, karena semua pikirannya tertuju pada ucapan sang mertua.
Dia tidak bisa mengendarai mobil, tapi kenapa bisa menabrak tunangan presdir. Apa waktu itu dia sedang belajar. Tapi, tidak mungkin, saat itu sedang hujan deras. Dia tidak mungkin belajar seorang diri, tanpa didampingi.
"Kak Nadia."
Nadia menoleh, adik iparnya datang dengan membawa tas.
__ADS_1
"Mira, kenapa kamu kemari? Aku kan sudah memintamu menjaga rumah."
"Kak Dimas yang minta, katanya biar aku yang jaga ibu. Kak Nadia pulang aja."
"Ya, sudah. Kamu ikut aku beli makanan buat ibu."
Apa aku tanya Mira saja, dia pasti tahu. Tapi, bagaimana kalau dia memberitahu ibu dan mas Dimas. Nadia bergumam matanya melirik Mira yang berjalan disampingnya.
Ah, biarlah! Aku harus tahu dulu yang sebenarnya!
"Mir," panggil Nadia, saat mereka masuk dalam sebuah mini market, yang berada dalam rumah sakit.
"Ada apa, Kak?"
"Dulu, ibu sering sakit kayak gini, yah?" Nadia mengambil keranjang.
"Iya, Kak. Tapi, untungnya, kak Dimas masih sering di rumah. Jadi, dia yang ngantar ibu ke rumah sakit."
"Kalau Arshila bagaimana? Apa dia tidak pernah ngantar ibu, gitu?"
"Kak Shila tidak bisa bawa mobil, Kak. Dia cuma bisa bawa motor."
Mira mengambil buah dan menaruhnya dalam keranjang.
Jadi, benar dia tidak bisa mengendarai mobil. Lalu, mengapa ia bisa menabrak Clarissa. Apa dia hanya berada ditempat kejadian. Atau seseorang menjebaknya. Ah, aku semakin pusing. Bagaimana aku, mengatakannya pada presdir. Tidak, aku harus mencari tahu, biar semuanya jelas.
"Sudah cukup, Kak."
"Ah, ia."
Setelah membayar, keduanya meninggalkan mini market. Berjalan menuju ruang perawatan ibu. Sepanjang koridor, Nadia terus berpikir akan bertanya pada adik iparnya atau tidak.
Semuanya harus jelas malam ini, gumam Nadia
"Mira, kita duduk dulu." Nadia berhenti pada bangku kayu yang terletak di koridor.
"Iya, baiklah."
"Mir, apa aku boleh bertanya tentang rumah tangga kakakmu dengan mantan istrinya?"
"Memang, Kak Nadia mau bertanya tentang apa?"
"Aku akan memberimu uang jajan lebih jika kamu menceritakannya dan tentu saja ini rahasia kita. Apa kamu bisa menutup mulutmu?"
"Tentu saja. Kakak bisa bertanya apapun. Aku akan menjaga rahasia. Lagi pula. Kak Dimas pasti marah padaku, jika aku menceritakannya pada kak Nadia."
Ternyata uang bisa membuat semuanya lancar.
"Apa Arshila suka bersikap kasar pada ibu?"
__ADS_1
"Tidak. Kak Shila sebenarnya orangnya sangat baik dan lembut. Tapi, karena ibu tidak menyukainya, kami jadi ikut-ikutan."
Satu poin penting, kembali didapatkan Nadia.
"Kenapa ibu tidak menyukainya? Apa dia pemalas?" Membuka botol air, lalu memberikannya pada Mira
"Kak Shila bukan orang pemalas." Meneguk perlahan. "Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kadang aku dan Naya kasihan padanya, karena sudah seperti seorang pembantu."
Poin kedua, yang membuat Nadia tercengang. Ucapan Mira berbanding terbalik, dengan ucapan sang ibu mertua. Bahkan, ia menjadi bingung harus percaya kepada siapa.
"Ibu tidak menyukainya, karena kak Shila cuma lulusan SMA. Ibu ingin punya menantu seperti Kak Nadia."
"Lalu, bagaimana dengan Arshila yang di penjara? Apa kamu tahu sesuatu?"
"Kalau itu, aku tidak tahu. Bahkan, aku juga bingung kenapa kak Shila di penjara. Ibu hanya berkata untuk tidak ikut campur dan menyuruh kami menutup mulut. Tapi, saat itu kak Dimas dan ibu sering bertengkar."
Ini artinya, hanya ibu dan mas Dimas yang mengetahuinya.
"Kak, ayo kita pergi. Ibu pasti sudah menunggu."
"Ah, baiklah." Nadia bangkit, mengambil kantong plastik dibawah kursi. "Besok, aku akan memberikanmu uang jajan. Tapi, ingat janjimu."
"Yee." Mira bersorak bahagia. "Pokoknya, Kak Nadia tenang saja. Aku akan menutup mulutku dengan sangat rapat."
Mereka kembali menyusuri koridor rumah sakit.
"Kenapa kamu lama sekali?" ujar ibu Dimas, saat melihat menantunya yang baru masuk dalam ruangan.
"Aku tadi bertemu Mira dan mengajaknya sekalian."
Nadia memberikan botol air mineral, sementara adik iparnya sudah mengambil posisi tidur diatas sofa.
"Bu, aku akan pulang. Besok aku akan datang lagi."
"Baiklah, kamu sebaiknya pulang dan istirahat karena harus bekerja. Biar Mira yang menjaga ibu."
Nadia menyambar tasnya, ia kembali berpamitan pada mertua dan adik iparnya.
Satu teka teki, sudah mulai terjawab. Dan teka teki lainnya, masih seperti kepingan pussel yang perlu disatukan.
Apa aku memberi tahu presdir tentang ini? Nadia menyalakan mesin mobil. Arshila tidak bisa mengendarai mobil. Tapi, ah sial! Nadia memukul kemudi, saat pikirannya menemui jalan buntu.
Tunggu!! Satu-satunya, yang bisa mengendarai mobil mas Dimas, selain Arshila. Hanya, mas Dimas seorang. Ah, tidak mungkin, dia melakukan itu, saat istrinya yang sedang hamil. Nadia menyangkal isi pikirannya sendiri.
Mas Dimas orangnya begitu baik, tidak mungkin melemparkan kesalahannya pada Arshila. Apa mungkin ibu? Karena dia tidak menyukai wanita itu. Dan mas Dimas mengetahuinya, itulah mengapa mereka sering bertengkar.
Aku lupa bertanya, kalau ibu bisa mengendarai mobil atau tidak.
Nadia terus bergumam seorang diri. Ia bahkan sudah duduk begitu lama, dengan mesin mobil yang sudah menyala.
__ADS_1