
Hujan tiba-tiba saja turun, saat lampu-lampu jalanan baru saja menyala. Cukup deras dan berangin, hingga siapapun akan sulit berkendara karena jarak pandang, yang terganggu.
Seseorang, yang masih menunggu disebuah gedung apartemen, dengan emosi yang benar-benar meledak. Matanya memerah dan berkilat-kilat. Pikirannya sudah dipenuhi dengan adegan panas sang istri, didalam sana. Ia sudah memukul kemudi berkali-kali, hingga tangannya memerah.
Kesabarannya sudah habis. Ia berulang kali masuk dalam apartemen. Mencari tempat tinggal si sekretaris sialan itu. Naik dilantai 10 dan mengetuk semua pintu apartemen. Ia pun menemukannya, tapi tidak berani menggerakkan tangannya untuk memencet bel..
Ia terlalu pengecut, meski kemarahannya sudah membara, ia masih tidak memiliki keberanian. Pikirannya masih mempertimbangkan resiko, yang harus ditanggungnya nanti.
Ya, nasibnya diperusahaan. Meski, Tian bukanlah pimpinan tertinggi. Tapi, pengaruhnya sangat kuat. Ia bisa dengan mudah, memecatnya.
Tapi, didalam sana sang istri sedang berselingkuh. Harga dirinya sebagai seorang suami, benar-benar hancur. Seolah, ia tidak memuaskan sang istri. Hingga mencari, pelampiasan diluar.
Dimas masih berdiri didepan pintu apartemen. Napasnya baik turun, tangannya menggantung diudara. Hatinya berperang dengan akal sehatnya. Tangan yang menggantung, terpaksa hanya bisa terkepal erat.
Ia tidak bisa melakukannya. Wajah sang ibu dan kedua adiknya, terpaksa membuat ia menurunkan tangan.
Dimas kembali, ditempat mobilnya terparkir. Ia akan menyelesaikan masalahnya, dengan sang istri terlebih dahulu. Menanyakan alasan, kenapa ia begitu tega mengkhianati pernikahan mereka?
Mesin mobil sudah dinyalakan. Sebelum, meninggalkan tempat. Ia berpikir untuk menelpon sang istri. Ingin mendengar alasan yang akan dikatakannya.
Tersambung, tapi belum juga diangkat. Dimas kembali mengulanginya, tersambung, detik berikutnya panggilan ditolak.
Emosinya membuncah, ia menggeram marah. Ponselnya dibanting dengan keras, membentur dashboard mobil.
"Kau sungguh bersenang-senang, Nadia. Hingga, tidak ingin diganggu."
Dimas memukul kemudi, berulang kali sambil berteriak dan mengumpat bersamaan.
"Sial, sial!" Bug, bug, bug. Tangannya memerah. "Seharusnya, dari awal aku tahu, kamu adalah wanita murahan, yang datang menawarkan diri padaku."
Dimas melajukan kendaraanya, dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan, saat hujan deras menerpa. Emosinya masih berkobar, tidak mereda sama sekali. Seperti, halilintar yang berkilat-kilat diatas langit, yang ingin menyambar seseorang.
"Aku akan menunggumu pulang, dengan sejuta alasan yang ingin aku dengar."
Brak. Dimas membanting pintu mobil, saat dihalaman. Ia mengabaikan hujan, yang langsung membasahi tubuhnya.
"Kenapa kamu begitu lama?" Ibu langsung menyambutnya diteras rumah. "Mana pesanan ibu?" Ibu memperhatikan putranya, yang datang dengan tangan kosong.
Dimas tidak menjawab, matanya memicing. Ia sedang marah sekarang dan amarahnya sudah seperti ingin meledak. Ia langsung masuk, mengabaikan ibunya yang terus bertanya tanpa henti.
__ADS_1
"Diam," bentak Dimas, dengan rahangnya yang mengeras. "Jangan menggangguku, ibu!"
Brak. Pintu kamar terbanting, didepan ibunya. Wanita tua itu, mengelus dada karena tersentak. Ia sedikit takut, karena wajah anaknya, yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Padahal, saat meninggalkan rumah, Dimas masih baik-baik saja. Bahkan, saat menelponnya, ia juga masih menjawab dengan sopan.
"Kenapa dia?"
Ibu masuk dalam kamar. Untung saja, cuaca sedang tidak bersahabat. Jadi, teman-temannya tidak jadi datang. Padahal, mereka berjanji datang sore hari. Ibu yang menunggu dengan cemas karena tidak mempersiapkan apa-apa, merasa lega.
Didalam kamar, Dimas membongkar lemari pakaian. Ia mencari sesuatu yang bisa ia jadikan bukti, perselingkuhan sang istri.
Pakaian yang terlipat rapi, kini berhamburan diatas lantai dan tempat tidur.
Dimas mengambil sebuah tas, yang biasa digunakan Nadia, untuk menyimpan dokumen penting.
Nihil. Hanya ada, berkas pribadi Dimas, milik Nadia tidak ada sama sekali. Hanya ada, buku nikah disana.
Sepertinya, sang istri menyimpan semua dokumen penting miliknya, di rumah orang tuanya.
Dimas semakin gusar. Ia menendang pakaian, yang berada dibawah kakinya.
Nadia yang sedang duduk dihadapannya, menikmati makan malam. Hanya mengerutkan alisnya. Apa yang lucu? Nadia bergumam.
Sekretaris Tian, tidak langsung mengantar Nadia pulang. Mereka mampir untuk makan malam, disebuah restoran.
"Sebaiknya, kamu bersiap menghadapi suamimu." Tian kembali tertawa.
"Memangnya, dia kenapa?"
Tian kembali tertawa, sebelum menjawab.
"Kamu akan tahu, saat pulang. Tapi, ingatlah. Jangan pernah menceritakan, apa yang kamu lakukan selama ini." Tian masih tersenyum, tapi kalimatnya sudah mengumbar ancaman.
Nadia melanjutkan makan. Ia juga menyuapi putrinya. Tidak peduli dengan sekretaris Tian. Memangnya, apa yang akan terjadi saat dia pulang? Toh, dia sudah minta izin pada sang suami, kalau akan menginap di rumah orang tuanya.
Makan malam sudah selesai. Hujan juga sudah reda, meski masih rintik-rintik. Jalanan cukup macet, karena adanya genangan air dijalanan.
Nadia memutuskan pulang, di rumah orang tua Dimas. Karena, harus mengambil perlengkapan putrinya, yang akan dibawanya besok. Mengenai alasan, ia belum memikirkannya. Karena, ucapan sang presdir yang akan membuat sang suami sibuk esok hari. Meski, ia tidak tahu masalah apa, yang akan diberikan Dave ada suaminya.
__ADS_1
Nadia sendiri, masih bimbang akan perasaannya. Meski cintanya begitu besar, tapi masa depannya lebih penting. Lagipula, kenyataan Dimas yang mengorbankan Arshila demi keselamatannya, membuat Nadia berpikir keras. Mungkin, dia akan mengalami hal yang sama.
Jadi, sebenarnya Nadia sudah membuat keputusan, jauh-jauh hari. Saat semua kejahatan suaminya terbongkar. Ia tidak bisa hidup dengan pria yang mementingkan diri sendiri. Melepas tanggung jawab, dan melimpahkan pada mantan istrinya. Apalagi, membuat Arshila, seperti seorang wanita yang memiliki banyak kesalahan.
"Kita sudah sampai."
Nadia tersadar akan lamunannya. Ia memeluk putrinya yang sudah tertidur.
"Lihat, dia sudah menunggumu!" Sorot mata Tian tertuju pada Dimas, yang ternyata menunggu kedatangan mereka. Nadia ikut memperhatikan suaminya.
Tian turun lebih dulu, senyum mengejek pada pria didepannya. Dimas terlihat ingin menghajarnya.
Nadia sudah turun, menggendong sang putri yang terlelap. Sementara, Tian membawa tas ransel berwarna pink.
"Dari mana saja, kau?" hardik Dimas. Ia sudah maju beberapa langkah. Berdiri tepat dihadapan sang istri.
Nadia tersentak, ia tidak langsung menjawab. Bingung dengan sikap sang suami. Bukankah ia sudah memberitahu, kemana ia akan pergi?
Dari dalam rumah, bibik pengasuh datang. Ia langsung mengambil Nadin dari pelukan ibunya.
"Apa begini sikapmu pada istrimu yang baru pulang bekerja?" sinis Tian.
Dada Dimas bergemuruh. Amarahnya yang sudah siap menyambar, tidak mampu ia tahan lagi. Akal sehatnya sudah tertutupi, rasa cemburu dan imajinasinya tentang sang istri dan pria didepannya.
Tangan yang sudah terkepal, langsung melayang. Tapi, tertahan oleh Tian, yang mudah menangkapnya.
"Kamu mau apa, Pak Dimas?" Tian menyeringai
Nadia yang tadi menjerit karena terkejut dengan sikap sang suami, membuat orang-orang dalam rumah berhamburan keluar.
"Jangan berpura-pura, Pak sekretaris. Aku tahu, apa yang sudah kamu lakukan pada istriku?" Dimas menatap tajam. Saat tangannya, digenggam erat.
"Lalu, kamu mau apa?" jawab Tian dengan santainya, menantang keberanian Dimas. Ia melepaskan tangan Dimas.
"Mas, kamu kenapa?"
"Kamu masih bertanya?"
Plak.
__ADS_1