
Pukul tujuh malam, lewat beberapa menit. Suara-suara yang terdengar akrab, satu sama lain. Mereka berbagi cerita, kadang tertawa dan melempar kata. Dua pria yang sebaya, menceritakan masa lalu, kenangan saat mereka masih muda. Para istri, mendengarkan sembari tertawa, merajuk dan ekspresi lainnya.
Arshila duduk diantara mereka. Jika ditanya perasaannya saat ini. Sungguh, ia sangat bahagia bercampur haru. Ada dua ibu, dua ayah, seorang adik dan suami yang penuh perhatian kepadanya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya, ia akan memiliki keluarga lengkap.
Ia pernah menikah sekali, dan juga memiliki keluarga. Tapi, Dimas yang dulu, lebih memilih diam dan menutup mata. Meski, ibunya sudah sering memaki dan mengumpatnya. Adik-adik iparnya, juga melakukan hal yang sama. Bahkan, mengikuti sikap ibu mereka.
Terima kasih, Tuhan. Aku sangat berterima kasih, dengan apa yang engkau berikan padaku. Aku benar-benar bersyukur.
Arshila masih memperhatikan mereka. Ayah mertua yang biasa pendiam, lebih banyak bicara saat bertemu Malvel. Rachel yang selalu energik, kini mendapat teman yang satu server. Begitu juga dengan Dave, sifat sang suami yang bicara seperlunya, ia menjadi lebih terbuka pada Ellino.
"Kenapa sayang? Apa ada yang sakit?"
Dave yang menatap sang istri dengan cemas. Karena, dari tadi Arshila hanya membisu memperhatikan mereka.
Arshila tidak langsung menjawab. Ia menggelengkan kepalanya, tersenyum tapi seolah bersedih.
"Aku sangat bahagia," ujarnya dengan suara serak.
Dave meletakkan sendoknya, merangkul sang istri yang menunduk. Ia tahu Arshila sedang menangis, tapi bukan karena bersedih. Arshila tidak tahu, bagaimana harus mengekspresikan kebahagiaannya saat ini.
Seketika mereka membisu dan menoleh ke arah pasangan itu. Mereka cemas, dan menghentikkan kegiatan mereka.
"Ada apa, sayang?" Rachel dan ibu Ellino sudah bangkit. "Kamu baik-baik saja, kan?"
"Kak, kenapa?" cemas Ellino.
Arshila mengangkat wajah, menghapus air mata, sebelum melepaskan pelukan Dave.
"Tidak, apa, Ma, Ibu. Aku hanya terharu dan sangat bahagia. Terima kasih. Aku sangat bersyukur, dengan kehadiran kalian dalam hidupku."
Rachel dan Ibu sudah mendaratkan pelukan kepada Arshila, yang masih duduk di kursi. Ellino merasa lega dan juga merasa terharu. Begitu juga, dengan Liam dan Malvel, yang membisu menatap mereka. Dua pria, yang tidak tahu, bagaimana cara mengekpresikan perasaan.
"Anakku, jangan merasa sedih lagi. Yang sudah selesai, jangan diingat lagi." Ibu Ellino melepaskan pelukannya.
"Shi, ingat, Nak. Sekarang, kami berdua ibumu. Jangan pernah merasa sendiri."
Arshila mengangguk, tersenyum pada mereka berdua.
Setelah makan malam, mereka duduk diruang tengah. Membahas resepsi pernikahan Dua pasangan yang akan menjadi pengantin. Menyerahkan semua pada, dua wanita yang memiliki semangat untuk mengurusnya.
__ADS_1
"Biar, kami yang mengurusnya. Kalian tinggal datang duduk dan menyalami para undangan."
"Ma, tamunya jangan kebanyakan. Istriku sedang hamil, dia tidak boleh kelelahan."
"Iya, iya, tenang saja. Mama cuma undang rekan bisnis dan keluarga besar."
""Bagaimana dengan rekan bisnis kami, Kak? Kami mau mengundangnya juga?" Ibu Ellino, sudah mulai protes.
"Aduh, adik. Kalian cukup jadi pendamping. Untuk apa, mengundang rekan bisnismu?"
"Dia, kan putriku, Kak. Aku harus memberitahu mereka."
"Apa sih? Minta putramu menikah." Rachel menoleh pada Ellino. "El, cepatlah menikah. Ibumu sudah tidak sabar ingin mengundang teman-temannya."
Ellino hanya tertawa sumbang. Tidak tahu, bagaimana harus menanggapinya. Mau menikah dengan siapa? Calon saja tidak punya.
Liam dan Malvel, justru membahas rencana mereka saat liburan. Mereka duduk disamping istri mereka, tapi membicarakan hal yang berbeda. Dengan suara sedikit berbisik, agar tidak terdengar dan mengganggu dua ratu penguasa.
Dave tertawa lebar, untuk pertama kalinya. Mereka menoleh, membuat Dave menutup mulutnya.
"Ada apa?" bisik Arshila.
"Aku akan ceritakan di kamar."
Membahas masalah resepsi pernikahan, sepertinya tidak akan selesai dalam semalam. Buktinya, sudah hampir larut, Rachel dan ibu Ellino masih membicarakannya. Mulai dari WO, gaun, lokasi, perhiasan, undangan dan banyak lagi.
Untungnya, Malvel dan Liam sedang bermain catur. Jadi, keduanya tidak merasa bosan atau mengantuk. Sementara Ellino, sudah masuk dalam kamar tamu, yang disediakan.
Dave masih didapur. Ia sedang membuat susu untuk Arshila.
"Tuan muda, biar saya saja," tawar ibu Lin.
"Tidak perlu. Kalian istirahat saja."
Dave sudah membawa segelas susu, menuju kamar. Melewati para orang tua, dengan kesibukan masing-masing.
Yah, rumah ini tampak lebih hidup, tidak seperti dulu. Ia hanya terus bekerja, meski sudah bertunangan dengan Clarissa. Kedua orang tuanya pun, tidak pernah datang berkunjung untuk sekedar menyapa. Alhasil, di kediamannya sangat sepi, walau dipenuhi banyak pelayan.
Sekarang, lihatlah. Kedua orang tuanya, bahkan menolak pulang di kediaman mereka. Rachel dan Liam, bahkan sudah memutuskan untuk tinggal bersama, di rumahnya.
__ADS_1
Ditambah, keluarga Ellino yang membuat rumah semakin ramai. Liam yang menemukan kawan bermain catur. Sang ibu menemukan teman yang diajaknya berdebat.
Masih tersisa satu anggota keluarga, yakni putri kandung Arshila. Dave berniat, untuk mengembalikan anak itu pada sang istri. Tapi, atas permintaan Arshila, yang tidak mau memisahkan Nadia dan putrinya. Dave mengalah.
Nadia memang bukan ibu kandungnya. Tapi, dialah yang merawatnya selama ini. Lagipula, sang putri, sudah menganggap Nadia adalah ibunya.
"Vitaminya, sudah diminum?" Dave meletakkan segelas susu, di meja nakas. Duduk disamping sang istri, diatas tempat tidur.
"Sudah. Mataku terasa berat, mengantuk tapi pikiranku masih berkeliaran."
"Kamu memikirkan apa, hm?" Membelai rambut dengan lembut.
"Apa semua akan baik-baik saja?" Arshila menyandarkan kepalanya didada sang suami.
"Maksudnya?"
"Resepsi pernikahan." Arshila merasa ragu untuk mengatakannya. "Apa sebaiknya, kita tidak perlu melakukannya?"
Dave mengerutkan alisnya, tapi masih membelai rambut sang istri.
"Apa ada hal yang mengganggumu?"
"Aku hanya tidak ingin mereka menyorotimu dan keluarga kita."
"Hei." Dave mengeratkan pelukannya. "Jangan mengkhawatirkan apapun. Semua akan baik-baik saja. Resepsi pernikahan adalah sebagai bukti aku mengumumkan hubungan kita. Kamu adalah istriku dan semua orang harus tahu. Kelak tidak ada lagi, yang akan mengatakan hal yang tidak-tidak."
"Lalu, jaminan itu? Apa aku bisa membatalkannya? Kamu tidak perlu memberiku jaminan seperti itu. Kamu berubah dan mencintaiku, itu sudah cukup."
"Tidak, kamu sudah tanda tangan dan itu tidak bisa dihapus."
Arshila tertawa, merasa lucu dengan lelucon sang suami. Dave yang mendengar, mencubit pipi kanannya dengan gemas.
"Anakku, kamu sudah tidur? Ayah membuatkanmu susu. Diminum dulu, sebelum tidur." Kedua tangan kekar itu, beralih membelai perut Arshila.
"Terima kasih, ayah. Aku akan menghabiskannya dan tidur dengan lelap."
Arshila tertawa, sebelum akhirnya meminum susu itu, sampai tandas.
"Tapi, ayah mau mengunjungimu. Bagaimana ini?"
__ADS_1
Arshila mematung, menatap sang suami yang sudah merapatkan tubuhnya.
.