
Arshila duduk merenung di balkon kamar. Memandang langit, ada bulan sabit disana. Bintang-bintang, terus berkelap kelip, tidak ingin kalah dengan cahaya bulan. Arshila hanya menatap kosong, dengan pikiran yang berkeliaran dimana-mana.
Dave sudah pergi sore tadi, pak Yus memberitahu saat ia turun dilantai bawah. Sang ibu mertua, juga belum pulang. Katanya, ia kembali di kediaman pribadinya, karena ada urusan.
Arshila merasa sangat kesepian, hanya udara malam yang memeluknya dan bulan sebagai teman bicara. Ia mencurahkan segala beban, dengan berbicara seorang diri sambil menatap langit. Terkadang ia menangis, tanpa sebab. Hatinya berkecamuk tanpa alasan.
Aku hanya ingin pulang!
Kalimat yang sedang tertancap dalam hati dan pikirannya. Ia hanya ingin pulang, entah dimana, ia juga tidak tahu. Tidak memiliki rumah dan keluarga yang menunggu kedatangannya. Tapi. Ia ingin pulang, ke tempat dimana ia bisa tersenyum.
Air matanya kembali meluncur, menangis dalam diam, dengan hati yang terasa hancur. Penyesalan yang datang menghujam berkali-kali tanpa henti. Berandai-andai, jika waktu bisa kembali mundur. Tapi, ....
***
Di bandar udara international.
Gadis dengan potongan rambut pendek, menggunakan kaca mata hitam, berjalan dengan tas ransel dipunggungnya.
Ia melihat jam tangannya, masih pukul tujuh pagi.
"Nona."
Alexa menoleh, supir sang pengacara yang menjemputnya.
"Anda mau kemana?"
"Turunkan aku, di butik Yurika."
"Baik."
Alexa menatap jalan raya, yang mulai padat. Kesibukan orang-orang yang bekerja dan beraktivitas di pagi hari. Ia menyandarakan kepalanya, pada salah satu tangannya yang tertekuk di jendela mobil.
Arshila, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja?
"Kita sudah sampai, Nona."
"Terima kasih, Bapak pulang saja."
"Baik, Nona."
Alexa turun dari mobil, menatap ruko berlantai tiga yang masih tertutup. Ia mengedarkan pandangan dan melihat kedai kopi yang sudah buka.
Mungkin, aku harus sarapan sambil menunggu, gumamnya lalu berjalan. Ia duduk dengan pandangan menghadap ruko. Memesan secangkir kopi dan roti lapis.
Ia memainkan ponsel, memberi kabar pada sahabat-sahabatnya yang masih terlelap disana. Tak lama, pelayan meletakkan pesanannya diatas meja, tersenyum sebelum kembali ditempatnya.
Kunyah-kunyah, sembari menunggu balasan pesannya. Tapi, ternyata nihil, perbedaan waktu membuat mereka yang nun jauh disana masih terbuai dalam mimpi.
Roti lapis sudah habis, kopi masih menyisakan setengah cangkir. Ia memperhatikan pintu ruko sudah terbuka, beberapa karyawan terlihat membersihkan halaman didepan.
__ADS_1
Alexa segera bangkit, membayar di meja kasir lalu berlari ke arah toko.
"Apa tante Yuri sudah datang?" Alexa langsung to the point, tidak ingin berbasa basi dengan menyapa.
"Belum, ia biasanya datang agak siang." Gadis muda menjawabnya, yang tengah membersihkan debu pada kaca jendela.
"Apa kamu sudah lama bekerja disini? Apa kamu mengenal Arshila?"
"Oh, tentu. Aku mengenalnya. Ia sudah lama mengundurkan diri, katanya ingin membuka usaha baru."
"Kamu tahu dimana?"
"Kalau itu. Aku tidak tahu. Kenapa tidak mencari di tempat tinggalnya? Aku dengar, dia mengontrak disekitar sini!"
Ah, benar juga!
"Terima kasih."
Meninggalkan toko, Alexa berlari menuju kontrakkan Arshila yang memang tidak jauh. Dulu, tante Nessa yang mencarikan tempat tinggal untuknya.
Alexa tiba dengan napas tersengal, ia membungkuk dengan memegang kedua lututnya. Ia seperti sedang berolahraga pagi, bedanya, ia berlari dengan tas yang menempel dipungungnya.
"Selamat pagi, Adik mencari rumah?" Wanita paruh baya menghampiri dengan sapu lidi ditangannya.
Alexa mengatur napas, lalu berdiri tegak.
Wanita itu terdiam, tampak berpikir, mengingat-ngingat nama yang sepertinya pernah terdengar.
"Saya ingat, dia wanita yang diusir warga."
Deg. Jantung Alexa berdegup dengan tiba-tiba, firasat buruk menghantui pikirannya.
"Maksud ibu?"
"Sebenarnya, dia wanita baik-baik. Tapi, saat tinggal disini, ia beberapa kali mendapat teror. Hingga, membuat warga sekitar resah. Ia diusir karena kekasihnya datang untuk menyelamatkannya, membuat warga salah paham."
"Kekasih?" Alexa mengeluarkan ponselnya. Pikirannya tertuju pada satu pria yang menjadi kekasih Arshila. Karena sepengetahuannya, wanita itu tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. "Apa ini, orangnya?"
"Iya, benar. Dia kekasih yang membawanya pergi malam itu."
Dasar brengsek! Aku terlambat.
"Baiklah, Bu. Saya permisi."
Alexa berjalan tidak tahu arah, pikirannya berkecamuk dengan hal-hal mengerikan. Apa yang sudah terjadi pada Arshila? Dugaannya benar, pria itu, pasti akan membalas dendam, mengingat bagaimana ia mencintai saudarinya.
Alexa duduk berjongkok ditepi jalan, masih berpikir. Ia harus menemukan Arshila, tapi dimana? Dave pasti menyembunyikannya dan tidak ada seorang pun yang bisa membantunya. Kekuasaan pria itu terlalu besar, hingga tidak ada seorang pun yang berani berurusan dengannya.
Alexa menghentikan sebuah taksi yang lewat. Duduk, setelah memberi tahu supir akan tujuannya. Ia meremas jari-jarinya, perjalanan yang terasa sangat lama. Beberapa kali, menatap lalu lintas didepannya, lalu mengumpat dalam hati. Entah mengapa, mobil ini melaju seperti kura-kura.
__ADS_1
"Nona, kita sudah sampai."
"Terima kasih, Pak. Ambil saja kembaliannya."
"Terima kasih banyak, Nona."
Taksi pun pergi, meninggalkan Alexa didepan gerbang, dengan pagar yang menjulang tinggi. Di samping gerbang, ada pos penjagaan.
"Anda mencari siapa?"
"Saya Alexa Vander Santara, saya ingin bertemu dengan Dave."
"Maaf, Nona. Tuan muda sedang berada diluar negeri."
"Kalau begitu, saya ingin bertemu Arshila!"
Petugas keamanan itu, belum menjawab. Ia memperhatikan Alexa dengan cermat.
"Maaf, Nona. Tidak ada nama, gadis itu disini."
"Hei, Pak. Anda mempermainkan saya, Dave sendiri yang memberi tahu. Tolong buka gerbangnya, biarkan saya masuk dan bertemu dengannya."
"Maaf, Nona. Kami benar-benar tidak mengenal nama wanita itu. Tolong. Silahkan pergi!"
Dasar, sial! Kemana Dave membawa Arshila pergi? Atau mereka sedang berpura-pura? Tapi, tidak mungkin, aku sudah menggunakan nama laki-laki brengsek itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana aku harus mencarimu, Arshila?
Dengan terpaksa, Alexa meninggalkan tempat itu. Ia berjalan, sambil berpikir kemana tujuan selanjutnya. Petunjuk yang didapatkannya, membawa jalan buntu. Ia tidak tahu, harus bertanya kepada siapa lagi.
Ia kembali menghentikkan taksi, yang akan membawanya pulang di rumah tante Nessa. Mungkin ia harus menyusun strategi, sebelum bertindak.
Setelah membayar, Alexa turun dari taksi disambut oleh bibik yang sudah lama menunggunya.
"Non, Alex. Kok, baru datang? Bukannya tadi pagi udah nyampe?"
"Iya, bik. Aku ada urusan. Aku mau istirahat dulu."
"Iya, Non, silahkan."
Alexa naik dilantai dua, tempat kamarnya berada. Saat memegang handle pintu, ia menatap kamar Arshila, kamar yang terpisahkan oleh kamar lainnya.
Sebaiknya, aku memeriksanya. Siapa tahu, ada petunjuk.
Alexa langsung membuka lemari, memperhatikan ada beberapa pakaian yang masih menggantung. Lalu, ada sebuah tas yang tampak usang disudut.
Hanya ada dokumen penting, kunci rumah serta surat yang diberikannya dulu. Tidak ada apa-apa lagi.
Alexa frustasi, membayangkan nasib Arshila saat ini. Apa dia baik-baik saja atau tidak? Apa sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya? Ia bersandar ditepi tempat tidur, memijit pelipisnya yang berdenyut.
Kau tidak memberiku pilihan Dave, mungkin sudah saatnya aku membuka mulut. Persetan dengan janjiku pada Clarissa!
__ADS_1