Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 23 Welcome, my queen


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Dave melindungi Arshila dibelakang tubuhnya.


"Hei, Tuan. Sebaiknya bawa kekasihmu pergi dari sini. Jangan mengotori lingkungan kami dengan perbuatan kalian."


"Kami tidak melakukan apa-apa."


"Jangan berbohong kamu. Kamu pikir kami disini tidak punya mata. Kalian cepat pergi, sebelum kami menyeret kalian keluar."


Arshila terisak, kemana ia harus pergi. Kontrakkan ini, tante Nessa yang menyewa untuknya. Ia bahkan, baru seminggu lebih menempatinya.


"Ayo, kita pergi. Aku akan mencarikanmu tempat tinggal baru."


"Aku harus kemana. Rumah ini sangat dekat, dengan tempat aku bekerja."


"Shi, dengarkan aku. Aku bisa memberikanmu tempat tinggal yang lebih baik dari tempat ini. Sebaiknya kita pergi, sebelum mereka melakukan kekerasan."


Arshila akhirnya mengangguk. Ia menghapus air mata, lalu berjalan menuju rumah, mengambil semua barang miliknya.


Para warga disekitar, masih memperhatikan mereka. Menunggu didepan rumah, sambil berteriak agar keduanya bergegas pergi.


Barang-barang sudah masuk dalam mobil, Dave menemani Arshila menemui pemilik kontrakkan.


"Silahkan ambil. Saya mengembalikan biaya sewa yang sudah dibayar selama dua tahun."


"Terima kasih, Pak. Maafkan saya, karena membuat keributan."


"Tidak apa-apa, mereka juga bersalah. Saya percaya, kamu orang yang tidak seperti itu."


Arshila kembali mengucapkan terima kasih, lalu berjalan masuk dalam mobil.


"Kita akan kemana Dave? Ini sudah malam."


"Rumahku."


"Apa?" Arshila terkejut, memperhatikan Dave menyalakan mesin mobil. "Kenapa harus kesana?"


"Ini sudah malam sayang. Besok aku akan mencarikanmu tempat tinggal yang baru. Kamu tidak usah takut, di rumah aku tinggal sendirian dan beberapa pelayan."


Mobil perlahan mulai melaju, meninggalkan kontrakkan Arshila.


Wanita itu duduk, sambil menatap kesibukan jalan raya. Sebenarnya, ia masih memiliki pertanyaan mengenai keluarga Dave. Tapi, ia mengurungkan niatnya, karena hubungan mereka, membuatnya tidak pantas untuk bertanya hal yang lebih.


Malam hari, jalanan cukup lancar, tidak ada kemacetan yang biasa terjadi saat matahari terbit.


Dave menghentikan mobil saat dilampu merah. Arshila leluasa memperhatikan pemandangan di malam hari.


Sepanjang jalan, terlihat lampu-lampu yang menerangi setiap sudut jalan. Gedung-gedung pencakar langit, yang terlihat indah dengan cahayanya sendiri. Dari jalan raya, terdengar suara deru mesin dan klakson mobil yang saling bersahutan, memecah keheningan.


"Aku baru tahu, ternyata saat malam, pemandangannya lebih indah."


"Apa kamu tidak pernah keluar rumah saat malam?"


Dave melajukan kendaraannya, saat lampu lalu lintas berubah hijau.


"Tidak, aku tidak pernah memiliki kesempatan itu."

__ADS_1


"Kenapa?"


Arshila terdiam sesaat, ingatannya mundur kebelakang, bagaimana ibu Dimas memperlakukannya dulu. Jangankan untuk menikmati pemandangan malam seperti saat ini, melihat bulan di halaman rumah saja, terlalu mustahil baginya. Semua waktunya, hanya berada di dapur, melakukan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.


"Mungkin, dulu aku terlalu naif. Aku berpikir, jika aku menjadi istri dan menantu yang baik, mereka akan memperlakukanku dengan sama."


Arshila tersenyum getir, sementara Dave mencerna kalimat Arshila, yang bertentangan dengan fakta yang diketahuinya.


"Jadi, alasan itu kamu menolakku?"


Dave masih fokus dengan jalanan didepannya, tidak melirik Arshila yang tengah menatapnya bingung.


"Apa karena statusmu yang pernah menikah, kamu menolakku?"


Kini, Arshila mengerti. Ia memang belum memberitahu Dave tentang statusnya. Ia hanya pernah mengatakan, kalau ia seorang mantan narapidana.


"Benar. Aku tidak pantas, untuk menerima perasaanmu. Aku tidak ingin mencoreng nama keluargamu dengan kehadiranku."


Mobil berdecit, Dave mengerem mendadak. Ia menatap Arshila.


Kamu terlalu munafik, sayang.


"Dave, kita masih dijalan raya."


"Shi, aku tidak peduli dengan statusmu. Aku mencintaimu, aku yang memutuskan pantas atau tidaknya dirimu, bukan orang lain."


Terdengar, suara klakson mobil dibelakang mereka. Dave masih tidak, bergeming, meski suara klakson dibelakang sudah berulang kali berbunyi.


"Dave, kita membuat kemacetan."


Arshila panik, ia terus menengok kebelakang.


"Dave, kita bisa membicarakannya di rumah."


Arshila semakin panik, saat suara klakson semakin memekakkan telinga, apalagi ditambah teriakan dari pengemudi dibelakang.


"Tidak, aku butuh jawaban sekarang!"


"Dave, jangan keras kepala!"


Pria itu, tidak bergeming, bahkan sudah mematikan mesin mobilnya. Arshila tidak memiliki pilihan, selain menjawabnya


"A ... Aku memang mencintaimu, aku memang memiliki perasaan padamu. Tapi, ...."


Emmm ....!!


Kalimat Arshila terhenti, saat Dave langsung melahap bibirnya.


"Aku tidak ingin mendengar yang lain."


Dave kembali menyalakan mesin mobil, setelah melakukan adegan ciuman. Disebelahnya, Arshila tampak malu, dengan terus membuang pandangannya ke arah lain.


Mobil Dave masuk dalam sebuah halaman rumah, yang menurut Arshila seperti lapangan bola. Didepan, beberapa pelayan keluar menyambut mereka.


"Dave."


"Jangan takut, mereka pelayan di rumahku." Ayo, turun."

__ADS_1


Arshila mengangguk, meski ia ragu apakah harus masuk ke dalam rumah atau tidak.


"Ambil barangnya dan antar ke dalam kamar."


"Baik, Tuan muda."


Dave menggandeng tangan Arshila masuk dalam rumah. Wanita itu, terus menunduk karena merasa tidak nyaman, dengan tatapan yang diberikan para pelayan rumah.


Arshila sedikit mengangkat kepalanya, saat tiba diruang tengah. Ruangan yang sepuluh kali besar dari rumah kontrakkannya. Terdapat sofa, tv berukuran besar dan hiasan yang menempel di dinding.


"Dave, siapa dia?"


Arshila menunjuk sebuah foto berukuran besar, terpajang di dinding. Foto seorang gadis dengan rambut teruai, wajah cantik peripurna, gemerlap tiada tandingan.


"Dia adikku."


Dave mengepalkan tangan saat menjawabnya.


"Dia sangat cantik."


Arshila masih terus menatapnya, tanpa berkedip.


"Benarkah?" Dave menahan emosi, dengan tangannya yang sudah terkepal sempurna.


"Iya, dia sangat cantik. Aku belum pernah melihat wanita dengan kecantikan yang terlihat sempurna."


Wanita sialan! Kau tidak mengenalnya! Dia sudah. bersujud di kakimu dan sekarang kau berkata tidak.mengenalnya.


Nafas Dave baik turun, tangannya yang sudah terkepal ingin mendarat. Aku akan membuatmu mengingatnya, dengan perlahan. Aku akan membuatmu, merangkak di bawah kakiku, Dave terus bergumam dengan menatap Arshila dengan tajam. Sementara, wanita didepannya tidak menyadari, saat ini ia sudah masuk dalam neraka yang menunggunya untuk mati.


Pak yus, kepala pelayan rumah menghampiri mereka.


"Tuan muda, kamarnya sudah siap."


"Baiklah."


Dave meraih tangan Arshila, setelah menyetel wajah dan menekan emosinya yang hampir membakar seisi rumah.


"Kita ke kamar dan istirahat."


"Kita naik lift?"


Arshila tidak percaya, ternyata dalam rumah juga memiliki lift. Sepengetahuannya, lift hanya berada pada gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan saja.


"Iya, aku sengaja membuat lift dalam rumah, untuk istriku nanti "


Istri dalam pikiran Dave tentu saja, pada wanita yang berbeda. Bukan wanita, yang saat ini mengenggam tangannya.


Pintu lift terbuka, Dave masuk dalam sebuah kamar yang tepat berada disamping kamarnya.


"Malam ini, kamu istirahat disini. Besok, aku akan membantumu mencari kontrakkan baru."


"Terima kasih, maaf aku sudah merepotkanmu."


Dave tersenyum, memeluk Arshila dengan erat. Ia mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu.


"Selamat datang, ratuku."

__ADS_1


Menyeringai licik dibalik pelukan. Ia mendaratkan kecupan, sebelum keluar kamar.


__ADS_2